NovelToon NovelToon
Merpati Kertas

Merpati Kertas

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Patahhati / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:91.1k
Nilai: 5
Nama Author: Canum Xavier

Kepindahanku yang mendadak ke sekolah yang baru membawa perubahan besar dalam kisah cinta pertamaku. Bertemu Juan dan jatuh cinta padanya adalah hal terbaik selama masa SMAku. Juan mewarnai hariku dengan banyak romansa.

Tetapi datang seorang pria bernama Nandes yang mengaku jatuh cinta padaku saat pandangan pertama. Dengan gayanya yang slengean membuat aku pusing dengan kelakuannya setiap hari. Mengibarkan bendera perang kepada Juan secara terang-terangan.

Apakah mereka musuh lama? Rahasia apa yang Juan dan Nandes sembunyikan dariku? Dan siapa Meggy yang sering Nandes sebut dan membuat Juan seperti kehilangan kesadarannya?
Penuh banyak pertanyaan dan kisah kasih masa remaja yang dipenuhi rasa suka, cemburu dan patah hati, baca terus kelanjutan Merpati Kertas setiap episodenya.

^*^ Terima kasih kepada teman-teman pembaca yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk membaca karyaku. Tolong klik Like, Favorit dan berikan saran yang membangun. ♡♡♡

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canum Xavier, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teman Baru dan Pacar

Sekolah libur keesokan harinya setelah acara  itu, agar para siswa bisa beristirahat setelah melakukan banyak kegiatan selama 1 hari penuh. Tentu saja aku bahagia karena bisa bangun siang. 

Pukul 10 pagi saat aku sedang bermalas-malasan di kamar, bibi menghampiriku mengatakan bahwa ada tamu. Bukan Juan katanya.

Dengan malas aku menyisir rambutku dan berganti dengan baju rumah yang lebih layak, membersihkan kotoran mata dengan jari telunjuk ku, malas untuk ke kamar mandi dan membasuh wajah.

Nandes berdiri didepan pintu rumahku dengan coklat di tangannya. Aku tersenyum padanya, beberapa hari ini selama kesibukanku aku tidak pernah mengingat Nandes dan dia juga tidak datang menggangguku seperti biasanya. Sekarang dia muncul di depan rumahku tanpa peringatan. 

" Hai ", sapa Nandes. 

" Hai juga. Ada apa ni? Tumben main ", tanyaku

" Aku pernah bilang akan berkunjung kan. Sekarang aku datang dan juga aku kangen ", Nandes menjawab jujur. 

Aku tertawa kaku " Kangen kok sama aku, kangen sama pacar kamu dong. Yuk masuk ".

Nandes melangkah masuk " Aku gak punya pacar dan lagi kamu kan gebetan aku". 

Aku tertawa lagi " Mulai ngaco. Kemarin sahabat. Hari ini gebetan".

Nandes tersenyum salah tingkah. 

" Kamu mau minum apa ? kopi?teh? air putih?", tawarku. 

Nandes pura-pura berpikir " kopi susu ada?", tanyanya. 

" Ada sih kayaknya. Mau kopi susu?", tanyaku sambil berdiri. 

" Gak. Kopi aja?".

Aku melihatnya sambil menyipitkan mata sadar bahwa dia sedang mengerjai ku "oke tunggu ya" kataku sambil berjalan ke dapur. 

Aku kembali dengan secangkir kopi di tanganku. "Jadi ada perihal apa bapak datang kemari?", tanyaku setengah bercanda sambil meletakan kopi di depan Nandes. 

" Terima kasih bu. Kan tadi sudah saya jawab, saya kangen sama ibu", jawab Nandes melihatku. 

" Yang serius ah", cicitku. 

" Iya aku serius. Aku kesini mau ketemu kamu. Nih aku nemu di jalan", Nandes menyerahkan sebatang coklat kepadaku. 

Aku menerimanya sambil tersenyum " makasih. Baik deh ", candaku. 

" Iya aku baik cuma sama kamu kok, gak sama cewe lain". 

" Masa? Bohong banget. Minum kopinya. Aku ambil cemilan dulu ya", aku kembali ke dapur mengobrak abrik lemari cemilan.

Bibi tadi pergi ke pasar setelah membangunkan ku. Aku melihat ada sebuah kotak di dalam lemari dapur dan menemukan permainan balok susun di sana. 

" Bisa-bisanya ada di sini. Untung gak rusak ", aku mengangkut banyak cemilan dan juga mainan itu ke ruang tamu. 

" Wah kamu repot-repot banget. Sekalian ya makan siangnya. Aku rencananya bakalan lama disini ", Nandes berkata padaku. 

Aku tertawa " tidak ada yang gratis di dunia ini kawan", aku sarkastik.

Nandes menyambutnya dengan tawa. Aku membuka kotak itu dan menuangkan semua isinya ke lantai. Bukan hanya balok susun tetapi kartu gaple pun ada di sana. 

" Kamu tau main ini ?", Nandes bertanya. 

" Taulah. Masa balok susun aja gak tau", aku berkata sombong. 

" Ayo main. Yang kalah enaknya di apain ya ", Nandes bertanya padaku. 

" Jidatnya di sentil", aku nyeletuk. 

" Okee.. ",Nandes menyanggupi. 

Nandes memenangkan 4 putaran pertama permainan. Rasa ingin menang di dalam diriku menggelora. Saking ingin menangnya aku berbuat curang berapa kali.

" Hei... Hei... Embun.... kamu curang... kemenangan ini gak di hitung", Nandes kesal dan dia langsung menyentil keningku pelan memberi peringatan. Aku manyun.

" Oke main yang adil sekarang. kalau aku menang, akan aku manfaatkan sebaik-baiknya kesempatan itu", aku bertekad.

Nandes tertawa kencang " Yaa.. cobalah... berusaha semampumu.... KALAU BISA", Nandes mengejek.

Persaingan yang makin memanas itu membuatku sangat berhati-hati dalam menarik setiap balok. Dan... usaha tidak mengkhianati hasil, aku menang di putaran ke 7. Saking senangnya aku bertepuk tangan dengan keras. 

Plok ... plok... plok...

" Sini… jidat…. Cepat…", aku memanggil Nandes dengan jari telunjukku. 

Nandes memajukan kepalanya ke arahku dengan malas. Penuh dendam karena kalah berturut turut, aku menyentil kening Nandes dengan keras.

Ctaak… Bunyi yang keras membuatku kaget sendiri. Nandes menundukkan kepalanya ke meja, sepertinya kesakitan. Aku cemas, tidak enak hati. Aku merasa menjadi cewek paling kasar sedunia.

" Nandes, sakit ya? Maaf aku terlalu semangat", aku memegang lengan Nandes.

" Ck… ", Nandes mengangkat wajahnya, sambil memegang kening dia meringis. Warna merah di keningnya benar-benar membekas dengan nyata.

Secara refleks karena rasa bersalah aku memajukan badanku meniup keningnya pelan. Nandes diam beberapa detik lalu memalingkan wajahnya. Aku kaget, aku ingat tadi aku belum sikat gigi, apa karena mulutku bau ya?.

Duh malu banget, Ngapain sih tadi batinku.

" Jangan begitu, nanti aku salah paham sama kamu ", kata Nandes pelan. Telinganya merah. 

Sepersekian detik baru aku paham mungkin Nandes marah padaku " iya, maaf ya", kataku. 

" Iya gak apa-apa.. aku pulang dulu ya. Nanti aku ke sini lagi", Nandes berdiri cepat-cepat mengambil jaketnya. Telinga Nandes masih terlihat merah.

Aku tidak enak hati. Apa terlalu sakit sampai dia pulang. " kamu gak jadi makan siang di sini?", aku bertanya dengan basa basi, mendeteksi kemarahan pada suara Nandes.

" Makasih ya. Nanti lain kali aku makan di sini. Aku pulang dulu ya", Nandes mengacak-acak rambutku pelan lalu memakai helm dan pergi dengan motornya.

" Wah… Embun… tangan nakal …", aku memarahi tanganku.

" Duh kalau dia dendam gimana ya", aku mondar mandir di ruang tamu gelisah. 

" Ah bodo ah… ", aku cepat-cepat merapikan semua mainan di meja itu. 

***

Gantian menjelang sore Juan datang ke rumahku. Aku menunggunya di teras, dia memarkirkan motornya lalu melepaskan helm.

" Hai cantik.. ", sapanya. 

Aku tersenyum, mengulurkan sebelah tanganku. Dia menyambutnya. " Aku bawa martabak untuk bibi", kata Juan. 

" Untuk aku mana?", aku bertanya. 

" Aku … aku datang untuk kamu… ", Juan tersenyum. 

Aku cemberut.. dia tertawa renyah. " Ini untuk kamu", Juan menyerahkan sebuah bungkusan berisi sekotak ice cream dan 3 merpati kertas.

Aku sumringah. Lalu kami berjalan masuk bersama ke ruang tamu " tadi Nandes ke sini", aku memberitahu Juan. 

Aku melihat wajah Juan sedikit tidak senang. " Lalu?", Juan bertanya. 

" Emm.. dia hanya bertamu dan sempat ngopi sebentar lalu pergi", aku menjelaskan berharap Juan tidak marah.

Juan mengangguk sambil membelai rambutku dia berkata " Gak apa-apa. Dia temanmu juga. Tapi kalau nanti dia kurang ajar sama kamu, tolong bilang ke aku. Biar aku hajar dia".

Aku melihat Juan lalu tersenyum " Iya. Sebelum kamu hajar pasti aku pukul duluan".

" Emang kamu bisa mukul orang?", Juan menggodaku. 

" Bisa dong. Mau coba ? ", aku mengancamnya. 

Juan mengangkat sebelah alisnya pura-pura menantang. Aku dengan cepat memukul dadanya. 

Juan melihat ke arahku sambil menyipitkan mata. "Kamu lagi mukul atau mijit?".

" Ihh…aku mukul tau", aku ngambek. 

Juan tertawa puas. Dia menarik ku dalam pelukannya yang hangat. Wangi kayu manis bercampur citrus tercium olehku dan aku akan mengingatnya di sepanjang hidupku nanti. 

" Nanti aku ajarin caranya memukul Nandes yang benar", Juan berbicara padaku yang terlena karena pelukan kuat lengannya. 

" Tapi Nandes baik kok, sopan lagi, gak pernah kurang ajar", aku menjawab dari dalam pelukan Juan. 

" Iya dia memang anak baik hanya saja dia agak kurang waras ", Juan nyeletuk. 

Aku melepaskan pelukan Juan " Jadi kenapa kalian bermusuhan?" ,aku penasaran. 

Juan melihatku " emm… karena kepribadian dia ganda…", Juan tersenyum penuh arti. 

" Kamu bohong ya", aku menuduh. 

" Iya pokoknya… masalahnya rumit. Selagi dia baik sama kamu gak masalah. Tapi jangan terlalu dekat juga, aku kurang suka", Juan berkata jujur padaku. Aku mengangguk.

Kami bercerita tentang ini dan itu. Juan membuatku sering tertawa. Lalu aku bercerita padanya bagaimana aku bisa sampai datang ke daerah ini. Juan mendengarkan ku tanpa menyela sedikitpun. Kadang dia mengelus rambutku penuh sayang.

" Sekarang kamu betah?", Juan bertanya.

" Ya.. aku betah karena kamu", kataku.

Juan menatapku dengan tatapan yang sedikit sedih " Kalau aku lulus sekolah nanti gimana?",Juan bertanya.

" Hmm gak apa"... kan kita tetap komunikasi. Itu namanya LDR, nanti aku pergi ke tempat kamu pergi. Ke tempat kamu kuliah", kataku sambil menguraikan genggaman tangan kami.

Juan masih menatapku cukup lama lalu dia menjawab "Oke, kamu harus betah di sini ya. Mau makan nasi goreng?", Juan berdiri.

" Ya.. harus betah. Kan aku sekolah di sini", Aku bingung dengan pernyataan juan barusan. " Mau beli keluar?", tanyaku.

" Tidak, kita masak saja. oke", Juan menarik tanganku berdiri.

" Ck.. argh... kirain mau jalan", aku mengeluh malas.

" Udah malam. Nanti minggu kita jalan".

" Janji?", aku mengangkat kelingkingku pada Juan.

" Janji", Juan menautkan kelingkingnya di kelingkingku.

****

1
Diana
👍👍👍
Diana
🤣🤣oalah mak...🤭💆
Diana
juan gak asyik ah...
Diana
e..e .. jeni mau kau apakan, juan?😱
Diana
aamiin...
Diana
pingin monica di bikin novel tersendiri, thor
Diana
gak usah tunangan, nandes, lgsg nikah aja. nanti ilang lg. sebelum janur melengkung masih milik umum. hmmm
Diana
kau jahat thor, bikin aku gak bisa berhenti baca sampek dini hari dan batre tinggal 2%.💆 hidungku mampet kebanyakan nangis 😭😭 semoga ujian embun cepat berakhit
Diana
kayaknya monica tuh pawang si nandes🤣🤣
Diana
semoga embun lekas bahagia...kasihan menderita terus gara² garangan😤
Diana
nggak ngerti harus komen apa😖
Diana
suka semua visualnya. artis lokal krn tokoh yg di ceritakan memang org indonesia.👍👍
Diana
kenapa jd begini😭😭😭
Diana
serba salah ya, embun? dah, juan utkku sj. mau aku jadikan mantu🤭 lumayan ganteng, kaya, smart beuhh...😝
Diana
mau ngapain ya berdua?🤔💆
Diana
jangan² juan kembali
Diana
serba salah ya mbun?
Diana
🤣🤣🤣
Diana
😂😂😂jd ngeri² sedep melihat pertemanan mereka.💆
Diana
mulutmu saa .. suka bener😂😤👊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!