Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Tubuh Mala seolah terhipnotis, ia tak terpikir menolak segala sentuhan itu. Ini terlalu memabukkan. Ia benar benar terlena untuk kedua kalinya. Rasa yang belum pernah dirasakannya membuat tubuhnya memerintah otak untuk berhenti berpikir logis sejenak.
Hingga tak sadar saat lelaki itu menuntunnya ke arah ranjang, merebahkannya dengan pelan dan lembut. Tangan kekar itu kian bergerilya, menyentuh titik titik sensitif yang membuat gadis itu hanya mempu memejamkan matanya, menahan suaranya agar tak keluar dan semakin memanaskan suasana.
Danzel sudah tidak tahan, gairahnyaa sudah memuncak dan ingin dituntaskan. Bahkan bagian penting dari seorang laki laki itu sudah bangkit dari tadi. Ia tak habis pikir, kenapa gairah nya bisa memuncak secepat ini padahal keduanya masih sama sama memakai busana. Gadis ini berbeda, ia memancarkan auranya sendiri.
Saat tangan suaminya bersiap melucuti pakaiannya, kesadaran Mala kembali pulih. Ia menahan tangan itu dan menggelang pelan.
"Kita tidak bisa," Lirihnya.
Danzel mendekatkan wajahnya, tepat di samping telinga perempuan cantik itu. "Kenapa tidak bisa?" Bisikan itu begitu lembut, membuat telinga Mala geli karena udara yang berhembus disana.
Bukannya berhenti, ia malah melanjutkan aksinya. Tangannya kembali liar.
"Karena aku tidak mau Danzel," Jawab Mala cepat dan lirih seraya menggenggam tangan Danzel yang tepat diatas dadanya. Entahlah, hanya kalimat itu yang ada di kepalanya. Tak mau ambil resiko melakukan hal ini dengan Danzel, ia hanya ragu dan takut. Sebab dari awal pernikahan mereka bukan pernikahan normal layaknya pasangan yang saling mencintai. Ia sendiri tak tahu apa arti pernikahan mereka di mata Danzel. Bagaimana kalau suatu saat dia hamil lalu Danzel meninggalkannya begitu saja? Menilik dari sifat laki laki itu yang terlalu menggampangkan suatu masalah.
Mendapat penolakan mentah mentah seperti itu, Danzel langsung bangkit. Membebaskan Mala dari kungkungannya.
Siaal! Bagaimana bisa ada seorang gadis yang menolaknya? Selama ini Danzel selalu dipuja karena ketampanan dan kekayaan yang ia miliki. Semua perempuan berusaha keras agar bisa kencan dengannya. Tapi kini, dia ditolak oleh istrinya sendiri?! Ini benar benar melukai harga diri Danzel.
Lelaki itu bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi. Menutup pintu dengan keras. Dia mengusap wajahnya seraya memerhatikan wajahnya diatas cermin. Lalu melirik pusat didihnya dibawah sana yang berdiri gagah bagai tombak. Siap bertempur, tapi lawannya tidak ada. Bahkan menolaknya.
Siaal! Siall! Sialan!
Tak henti hentinya dia mengumpat dalam hati, entah ditujukan pada siapa. Danzel benar benar malu saat ini. Bagaimana dia akan menatap wajah gadis itu besok. Kenapa juga ia termakan hasrat dan tidak bisa mengontrol diri tadi? Seakan ia begitu menginginkan perempuan itu.
Belum lagi sesuatu yang amat berharga dalam dirinya masih meronta ronta dibawah sana. Minta dipuaskan.
"Shitt! Awas nanti kamu nenek tua, nanti kubalas perbuatanmu!" Danzel bergumam kesal seraya sambil menuntaskan hasratnya seorang diri. Ini memalukan, Danzel Anderson terpaksa bersolo karir karena ditolak oleh istrinya sendiri.
***
Setelah kejadian semalam, Danzel belum bicara lagi dengannya. Raut wajahnya datar dan sulit dibaca, entah dia marah atau kenapa. Mala tidak tahu. Bahkan saat perjalanan pulang ke apartemen mereka tidak saling mengucap kata sekalipun.
Ah, masa bodoh dengan lelaki itu. Mala hanya ingin merebahkan tubuhnya sejenak di kasur ini. Hari masih pagi, baru pukul tujuh. Tadi mereka check out dari hotel pagi buta. Setiap Mala memejamkan matanya, yang ada di benaknya adalah bayang bayang kejadian semalam. Bagaimana suaminya itu menyentuhnya, hingga menghasilkan getaran tersendiri. Tubuhnya rasanya tersengat aliran listrik. Dia masih ingat betul tatapan mata yang berkabut gairah itu.
Gadis itu kembali duduk bersila diatas ranjang. Kenapa sulit sekali tertidur, bayangan nakal itu selalu berseliweran di kepalanya.
"Kayaknya otak mesum Danzel benar benar sudah menular ke aku. " Gumamnya pelan. Menatap pintu kamar. Berharap seseorang masuk kesana. Setelah kepulangan mereka, Mala langsung masuk kamar. Sedangkan suaminya itu entah kemana, apakah masih di ruang depan atau keluar lagi menemui teman temannya.
Ting tong! Bel apartemen berbunyi.
Danzel yang sedang asik dengan ponselnya di ruang tamu menoleh ke arah pintu. Ia mendesah pelan, siapa yang bertamu pagi pagi begini. Jangan jangan teman temannya yang suka mengacaukan suasana itu.
"Mami!" Ia terperanjak memandang maminya yang sudah rapi dengan dress putih dengan motif bunga. Wanita yang telah melahirkannya itu tersenyum. Tangan kirinya menggandeng seseorang yang Danzel kenali.
"Sedang apa mami ada disini?" Tanya Danzel.
"Bagaimana kabarmu Danzel, sudah lebih baik?" Mami Aisha berkata lembut. Dari tebakan Danzel, ibunya itu akan membujuknya agar bertemu Daddy dan mendamaikan keduanya.
"Aku tidak mau bertemu Daddy ataupun dia mami." Menjawab dengan nada datar.
Wajah mami Aisha langsung berubah. "Memangnya siapa yang mau mengajakmu bertemu Daddy, mami kesini mau bertemu menantuku. Dimana dia?" Wanita itu berlalu dari hadapan Danzel dan masuk kedalam, menggandeng Ely disebelah kirinya.
"Mami!" Senyuman di wajah Mala terbit. Ia menuruni tangga dengan hati hati.
"Hai Ely!" Sapanya pada si kecil yang langsung memeluknya erat itu.
"Aku akan tinggal bersama kakak!" Serunya senang.
Mala menatap ibu mertuanya.
"Iya sayang, kamu tidak keberatan kan kalau Ely menginap disini beberapa hari selama orang tuanya pergi, mami tidak bisa menjaganya karena ada beberapa pekerjaan disini sebelum kembali ke Amerika. Lagipula sekolah Ely tidak terlalu jauh dari apartemen kalian." Ucap wanita itu. Baru saja Mala akan menyahut, suaminya itu sudah buka suara.
"Mami, aku akan repot nanti. Bagaimana kalau teman temanku datang, mami tahu kan mereka seperti apa? Tidak baik kalau dilihat anak kecil." Masalahnya mereka sering mengadakan pesta minum di apartemen Danzel. Dia bahkan sudah merencanakan akan mengadakannya malam ini untuk melepas penatnya. Tapi bagaimana bisa kalau ada anak kecil?
"Danzel, jangan katakan itu di depan Ely!" Tegur Mala mendekap adik sepupu Danzel yang sudah berkaca kaca.
"Kalau begitu mudah saja, jangan biarkan teman temanmu kemari. Lagipula sekarang kau bukan bujangan lagi Danzel, kamu sudah punya istri yang cantik seperti dia."
"Mana bisa mami," Danzel menolak sekali lagi dengan halus. Tak mungkin ia bisa menggunakan nada tinggi pada wanita yang sangat dicintainya itu.
"Bisa! Tidak usah berkumpul dulu dengan mereka sementara waktu, habiskan waktu kalian berdua. Kalian kan pengantin baru, kalau perlu pergi berbulan madu, ajak istrimu jalan jalan." Omel wanita itu yang tahu kelakuan putranya selama tinggal disini yang ternyata masih sama. Suka menghabiskan waktu untuk hal tidak berguna bersama teman temannya.
Danzel tidak menyahut, ia selalu kalah beradu mulut kalau lawannya adalah ibunya sendiri.
"Jangan khawatir mami, aku akan menjaga Ely dengan baik selama disini." Ucap Mala yang masih menggendong Ely.
"Mami percaya padamu, tapi tidak padanya!" Ia menatap putranya galak. "Kalau sampai Danzel tidak membantumu, kamu telfon mami saja ya. Sekarang mami ada meeting penting setengah jam lagi."
Setelah mami Aisha berpamitan dan pergi meninggalkan apartemen mereka, Mala membawa Ely bermain di ruang tamu. Ia memilih membereskan koper Ely nanti saja, ia ingin bermain berdua bersamanya. Setidaknya hal itu mengalihkan pikirannya dari bayang bayang semalam.
"Aku mau pergi sebentar," Mala mendongak dan menatap sumber suara. Lelaki itu memakai jaket kulit warna hitam dipadukan jeans, tangan kanannya menenteng helm. Ia tebak, Danzel akan pergi bersenang senang bersama temannya.
Saat suaminya itu sudah melangkah mendekati pintu, Mala mengucapkan hal yang membuat Danzel berhenti di tempat.
"Kamu nggak ingat pesan mami? Untuk sementara waktu tidak boleh kumpul dengan teman temanmu itu?"
Danzel membalikan badannya.
"Bilang saja, tadi itu cuma ancama palsu mami nggak akan marah!" Danzel berniat melanjutkan langkahnya.
"Oke, Ely kita telpon mami Aisha ya. Nanti Ely yang bilang kalau kak Danzel nggak mau jagain kamu dan meninggalkan kita sendiri." Gadis itu mulai memprovokasi, sedangkan Ely malah mengangguk antusias.
"Iya, kak Danzel nggak mau jagain, nanti aunty Aisha akan marah."
Baru saja dia akan menekan nomor mertuanya, namun ponsel tersebut sudah berpindah tangan.
"Oke fine! Aku nggak jadi pergi." Danzel kesal dan mendesah pelan. Menatap dua perempuan menjengkelkan di depannya.
"Sekarang kalian mau apa?!" Sambungnya lagi.
"Kak Danzel harus main sama kita, iya kan Ely?" Mala tertawa dan melakukan tos dengan adik sepupunya itu.
"Iya, ayo kak main sama kita..." Gadis kecil itu yang paling antusias, menarik tangan Danzel agar bergabung dengan mereka.
"Kita main kuda kudaan ya, kak Danzel jadi kudanya, kak Mala jadi penunggangnya, oke?" Pinta Ely dengan senyum merekah.