Zeya diam terpaku ketika melihat suaminya sedang jalan bergandengan tangan dengan wanita yang tak Zeya kenal.
Ryan yang kebetulan juga melihat Zeya melengos tanpa mau menyapa istrinya tersebut, malah Ia bergegas meninggalkan Zeya.
Menikah dengan Ryan keputusan hidup yang Zeya sesali, manis di awal ternyata hanya kedok belaka, agar bisa menikah dengan mantan kekasihnya.
Zeya menerima perceraian itu dan melanjutkan hidupnya dengan pindah ke kota besar.
Akankan Zeya menemukan kebahagiaannya sendiri, atau Zeya terus di bayang bayangi oleh masa lalunya.
Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Ryan setelah menikah dengan mantan kekasihnya itu?, Kenapa dia kembali mengejar cinta nya Zeya?
Pergulatan batin Zeya dimulai di saat tuan Gatra ingin menikahinya sedangkan mantan istri Gatra ingin kembali rujuk dengan Gatra, ditambah lagi dengan Ryan yang kembali membayangi hidupnya…
Akankan keputusan Zeya akan merubah semuanya..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mande Qita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Ajakan Liburan dari Gatra
Dan sekarang mereka berempat sudah berada di dalam mobil, menuju tempat tinggal Zea dan Tari.
“Ada berita bagus yang harus aku sampaikan pada kalian berdua” ungkap Barra ketika dia sudah menjalankan mobil keluar dari tempat hiburan malam tersebut.
“Berita apa tuan Barra?” Zea penasaran dengan apa yang dikatakan Barra, karena dari tadi dia melihat keakraban Barra dan Tari.
“Tari tadi minta tolong sama saya untuk dicarikan calon suami, syaratnya yang kaya dan tampan, umurnya boleh 70 tahun ha ha ha..” Barra benar benar iseng banget malam ini pada Tari
“Ha ha ha…” tawa mereka berempat pecah ketika Barra menggoda Tari.
“Jangan begitu tuan Barra, saya nggak minta yang umur 70 tahun ya, saya serius minta dicariin jodoh!” ucap Tari dengan wajah cemberut.
“Saya juga serius Tari, tanya Gatra deh! saya paling ahli dalam bidang itu” Barra makin semangat untuk menggoda Tari.
“Ya , saya akan tanya pada tuan Gatra”
“Silahkan..” sahut Barra sambil menahan tawanya.
“Tuan Gatra, apa tuan Barra playboy?” tanya Tari membuat Gatra tergelak kencang, hal yang jarang di lakukannya selama ini, tertawa terbahak hanya karena pertanyaan nyeleneh dari seseorang.
“Kalau kamu ingin dekat dengan Barra mending dibatalkan!”
“Kenapa tuan Gatra?” tanya Tari sambil menoleh ke arah bangku belakang dimana Gatra dan Zea duduk di sana, sedangkan dia dan Barra duduk di depan.
“akan banyak wanita yang akan menemui kamu nantinya Tari, paling tidak akan memusuhimu” jawab Gatra tanpa ampun.
“Oh astaga, baiklah saya nggak jadi suka deh sama tuan Barra..” seloroh Tari
“Pilihan yang tepat Tari…” Gatra mendukung keisengan Tari pada Barra.
“Jangan fitnah gue Gatra!” tegur Barra
“Gue nggak fitnah Barra, gue hanya membantu Zea untuk mengurangi pekerjaannya” sahut Gatra
“Maksud Lo apa? kita lagi bicara soal Tari terus kenapa harus Zea yang di bantu, nggak mudeng!” tegur Barra, kali ini Ia benar benar tak mengerti dengan apa yang Gatra katakan.
“Kalau Tari patah hati gara gara Lo, yang repot kan Zea, dia harus membujuk dan menjadi pendengar yang baik bagi keluh kesah sahabatnya, jadi gue mendukung Tari untuk membatalkan rencananya”
ungkapan Gatra di sambut gelak tawa oleh Tari, sedangkan Zea tersenyum lebar mendengar kelakar mereka bertiga.
“Gue nggak seburuk itu ya, jangan percaya Tari…” imbuh Barra
“Tapi saya kok lebih percaya tuan Gatra ya ha ha ha..” Tari makin iseng karena mendapat bantuan dari Gatra.
“Yah…dia percaya sama duda keren ini, memang sulit bersaing dengan papanya Arsen” ledek Barra.
Gatra hanya tertawa kecil mendengar ledekan Barra, mereka berempat benar benar menikmati akhir pekan mereka, yang tidak terduga, di mulai dari pertemuan di pusat perbelanjaan lalu berlanjut untuk bersantai mendengarkan live musik di sebuah cafe.
“Kita sudah sampai…” ucap Tari ketika mereka sudah tiba di parkiran apartemen yang Zea dan Tari tempati.
“Kalian tinggal berdua?” tanya Gatra pada Zea
“Iya tuan Gatra, lebih tepatnya saya menumpang di apartemennya Tari” sahut Zea, mengatakan situasi sebenarnya pada Gatra.
“Lebih enak tinggal berdua Ze..” imbuh Gatra
“tapi nggak terlalu jauh dari sekolahnya Arsen” ucap Barra.
“Iya tuan Barra, nggak jauh juga dari kantornya Tari…” sahut Zea, kemudian Zea dan lainnya membuka pintu dan keluar dari mobil Gatra.
“Ayo Ze, terima kasih sudah mengantarkan kami berdua tuan Gatra, tuan Barra….” Tari mengajak Zea untuk masuk ke apartemen mereka, dan berpamitan pada Gatra dan Barra
“Oh iya, terima kasih tuan Gatra, tuan Barra, maaf kami nggak mengajak tuan berdua untuk mampir, karena hari sudah malam” Zea pun berpamitan pada kedua pria yang berpengaruh di kota ini.
“Nggak apa apa Ze, kami mengerti” sahut Gatra dengan cepat.
“It’s oke Zea…” imbuh Barra.
“Terima kasih untuk hari ini tuan Barra, tuan Gatra..” ucap Tari lagi.
“Jadi gimana nih Tari, jadi dibantuin nggak, cariin jodoh yang oke” goda Barra
“Nggak jadi deh tuan Barra, terima kasih! mending saya cari sendiri saja” sahut Tari dengan cepat.
“Ha ha ha..” mereka kembali tertawa terbahak-bahak.
Kemudian Gatra dan Barra berpamitan pada Zea dan Tari, setelah mobil Gatra keluar dari parkiran Apartemen, Zea dan Tari pun berjalan masuk ke dalam Apartemen mereka.
***
Sesampai di dalam apartemen Zea dan Tari segera membersihkan badannya dan setelah itu mereka berbaring di ranjang yang ada di kamar tersebut, Zea dan Tari merasa cukup lelah karena seharian pergi main dan juga bersenang senang dengan Gara dan Barra.
“Zea…aku merasa tuan Gatra sangat tampan dan baik” ungkap Tari sambil tertawa kecil.
“Apa hubungannya wajah tampan dan sikap nya Tari?” seloroh Zea
“Ya pasti ada hubungannya cantik..”
“Apa coba hubungannya?” tanya Zea
“Hubungannya adalah, menurut orang banyak yang pernah bertemu dengan tuan Gatra dan tuan Barra mereka berdua adalah dua orang pria yang sulit untuk didekati, tapi tadi mereka sangat bersahabat sekali”
Ungkap Tari, memang selama ini dia hanya tahu sikap dingin dan angkuh kedai pria tersebut, makanya tadi saat pertama bertemu Tari agak canggung dan juga cemas, tapi setelah bicara banyak, ternyata mereka berdua tuan Gatra dan tuan Barra pribadi yang menyenangkan.
“Mungkin karena kita dekat dengan Arsen putra nya tuan Gatra, jadi mereka lebih gampang berbaur dengan kita berdua” ungkap Zea.
“Kamu kali Ze yang dekat dengan Arsen, bukan aku” goda Tari
“He he he iya, aku lupa, sorry..” Zea terkekeh ketika tari menggodanya barusan.
“Tuan Gatra sepertinya mempunyai perhatian lebih padamu Ze, apa kamu tak merasakan hal itu?” tanya Tari
“Ya seperti yang aku bilang tadi, mungkin karena Arsen…” imbuh Zea
“Tapi aku nggak percaya hanya karena Arsen..”
“Jangan berpikiran aneh aneh Tari..” tegur Zea, dia paham ke arah mana pembicaraan Tari mengenai tuan Gatra.
“Biasanya apa yang aku pikirkan jarang meleset loh Ze”
“Oh iya Tari, akhir pekan tuan Gatra mau ajak kita ke suatu tempat bareng sama Arsen, sekalian berlibur dan mengajak kita untuk pergi belanja, katanya ada tempat yang menggiurkan berburu diskon barang barang perempuan”
Zea tiba tiba ingat apa yang dibicarakan dengan Gatra tadi, rencana mereka untuk pergi bersama.
“Yang benar Zea, tuan Gatra mengajakmu pergi belanja dan liburan?” Tari segera duduk di ranjang dan menatap ke arah Zea dengan tatapan tak percaya, kalau tuan Gatra akan mengajak Zea pergi.
“Iya Tati, Ia mengajak kamu, tuan Barra dan juga Arsen serta pengasuh Arsen pastinya, perginya hari Jumat sore, kamu bisa kan cantik” jelas Zea, Ia ingin memastikan Tari akan ikut bersamanya.
“Ya pasti ikut dong, kapan lagi pergi dengan pria tampan dan kaya itu, satunya duda keren satunya playboy tampan ha ha ha..” Tari malah terkekeh sehabis mengatakan kalau Barra pria tampan playboy.