Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Aturan di Rumah Megah
Pagi hari menyingsing dengan sinar matahari yang lembut menembus celah tirai jendela kamar Anya. Ia terbangun lebih awal dari biasanya, terbiasa dengan kebiasaan bangun pagi sejak kecil. Saat membuka mata, ia masih tertegun sejenak, merasa seperti sedang bermimpi. Ruangan yang luas, kasur yang sangat empuk, dan suasana yang hening — semua ini adalah kenyataan baru yang harus ia jalani mulai hari ini.
Anya bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut dengan rapi. Ia melangkah ke arah jendela, membuka tirai lebar-lebar. Pemandangan yang terlihat membuatnya terpesona: taman hijau yang luas dengan bunga-bunga berwarna-warni tertata rapi, kolam ikan yang airnya jernih, dan pepohonan rindang yang memberikan keteduhan. Suara kicauan burung terdengar merdu, jauh berbeda dengan suasana rumah kecilnya yang selalu riuh dengan suara kendaraan lewat di jalan raya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian yang sederhana namun rapi, Anya keluar dari kamar menuju ruang makan. Ia berjalan perlahan menyusuri lorong yang panjang, sesekali memandangi lukisan-lukisan mahal yang tergantung di dinding. Rasanya masih canggung berada di tempat yang begitu megah ini, seolah ia bukan bagian dari keluarga ini.
Sesampainya di ruang makan, Pak Haris sudah menunggu di sana dengan senyum ramah. “Selamat pagi, Nona Anya. Silakan duduk, sarapannya sudah siap.”
“Selamat pagi, Pak Haris. Terima kasih banyak,” jawab Anya sopan, lalu duduk di kursi yang ditunjuk.
Di atas meja panjang itu tersaji berbagai macam makanan: nasi goreng, roti bakar, telur mata sapi, sosis, buah-buahan segar, dan segelas susu hangat. Semuanya terlihat lezat dan disajikan dengan sangat rapi. Namun sebelum Anya mulai menyantapnya, suara langkah kaki yang tegas terdengar mendekat.
Arga masuk ke ruang makan dengan pakaian kemeja putih rapi dan celana panjang hitam. Wajahnya terlihat segar namun tetap dengan ekspresi dingin yang menjadi ciri khasnya. Ia melirik sekilas ke arah Anya, lalu duduk di ujung meja yang terpisah agak jauh darinya.
“Selamat pagi, Tuan Arga,” sapa Anya dengan suara pelan, kepala sedikit menunduk.
Arga hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, tanpa menoleh. Ia mulai menyantap sarapannya dengan tenang, tidak mengeluarkan suara apa pun. Suasana ruang makan menjadi hening, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring. Anya merasa sedikit canggung, berusaha makan dengan tenang tanpa berani banyak bertanya.
Setelah hampir selesai sarapan, Arga meletakkan peralatannya, lalu menatap lurus ke arah Anya. Tatapan itu membuat jantung Anya berdegup lebih cepat.
“Saya akan sampaikan aturan yang berlaku di rumah ini. Kamu harus mengingatnya baik-baik dan mematuhinya tanpa terkecuali,” ucap Arga dengan nada tegas dan datar.
Anya langsung menegakkan badan, mendengarkan dengan saksama. “Saya siap mendengarkan, Tuan.”
“Pertama, selama saya tidak ada di rumah, kamu bebas beraktivitas di area umum, tapi dilarang keras masuk ke ruang kerja saya, ruang pribadi saya, dan lantai tiga. Itu adalah area yang hanya boleh dimasuki oleh saya sendiri.”
“Kedua, setiap hari pukul tujuh malam, kamu harus sudah ada di rumah. Kecuali ada izin khusus dari saya, kamu tidak boleh keluar malam tanpa alasan yang jelas.”
“Ketiga, saat ada tamu atau acara resmi, kamu harus berpakaian rapi dan sopan, menjaga sikap serta tutur kata. Kamu adalah istri saya di mata orang lain, jadi nama baik keluarga Wijaya harus tetap terjaga.”
“Keempat, jangan pernah bertanya tentang urusan bisnis saya atau kehidupan pribadi saya yang tidak perlu. Kita cukup menjalani peran masing-masing, tidak perlu saling mencampuri urusan.”
Arga berhenti sejenak, menatap Anya dalam-dalam untuk memastikan ia mengerti, lalu melanjutkan: “Dan yang paling penting — jangan pernah berharap saya akan memperlakukanmu seperti istri yang sesungguhnya. Tidak ada kehangatan, tidak ada perhatian lebih, dan tidak ada keintiman apa pun. Ini hanyalah perjanjian bisnis. Kamu mengerti?”
Rasa perih terasa di dada Anya mendengar kata-kata itu, namun ia menekan perasaannya. Ia tahu dari awal bahwa ini akan terjadi, jadi tidak ada gunanya merasa kecewa. Ia mengangkat wajah dengan pandangan yang tetap tenang.
“Saya mengerti semuanya, Tuan. Saya akan mematuhi setiap aturan yang Bapak sampaikan. Saya tahu posisi saya, dan tidak akan melampaui batas yang sudah ditentukan,” jawabnya mantap.
Mendengar jawaban itu, Arga mengangguk sedikit. “Bagus. Kalau begitu, hari ini kamu bisa beristirahat atau berkeliling mengenal lingkungan rumah. Asisten saya akan mengantar ibumu ke sini nanti siang, rumah yang sudah disiapkan untuknya berada di sisi timur halaman ini, terpisah tapi tetap satu kompleks. Ia bisa tinggal di sana dengan tenang.”
Mendengar kabar itu, mata Anya berbinar. Ia sangat lega mendengar ibunya akan tinggal di tempat yang aman dan nyaman. “Terima kasih banyak, Tuan Arga. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan ini.”
“Jangan berterima kasih. Semua ini sudah tercantum dalam perjanjian. Saya hanya menjalankan kewajiban saya seperti halnya kamu harus menjalankan kewajibanmu,” jawab Arga dingin. Ia berdiri, mengambil tas kerjanya, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.
Begitu Arga keluar, Anya baru bisa menghela napas panjang yang terasa tertahan. Rasanya seperti sedang bernapas kembali setelah ditahan lama. Ia menatap sisa makanan di piringnya, merasa perutnya kenyang meski suasana tadi terasa menekan.
Pak Haris yang masih ada di sana mendekat dengan senyum lembut. “Jangan terlalu memikirkan sikap Tuan Arga, Nona. Memang begitulah sifatnya sejak muda. Ia terlihat dingin dan keras, tapi selama aturan dipatuhi, ia tidak akan menyakiti siapa pun. Kamu akan terbiasa seiring berjalannya waktu.”
Anya tersenyum tipis, mencoba menenangkan diri. “Terima kasih atas nasihatnya, Pak Haris. Saya mengerti, dan saya akan berusaha menyesuaikan diri.”
Siang harinya, seperti yang dikatakan Arga, sebuah mobil datang membawa Bu Lina. Begitu melihat ibunya turun dari mobil, Anya langsung berlari menghampiri dan memeluk wanita itu erat-erat. Rasa rindu dan kekhawatiran semalam seolah hilang seketika.
“Bu, akhirnya Ibu datang juga. Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Anya sambil menatap wajah ibunya dengan cemas.
Bu Lina membalas pelukan putrinya, lalu mengusap punggungnya lembut. “Ibu baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir. Tempat ini jauh lebih tenang dan aman daripada yang Ibu bayangkan.”
Mereka berdua berjalan menuju rumah kecil yang disiapkan untuk Bu Lina. Rumah itu tidak sebesar rumah utama, tapi tetap nyaman, bersih, dan lengkap perabotannya. Berada di lingkungan yang sama, Anya bisa mengunjungi ibunya kapan saja di waktu luangnya, selama tidak mengganggu jadwalnya.
Sepanjang hari itu, Anya menghabiskan waktunya untuk mengenali setiap sudut rumah dan berbicara dengan ibunya. Ia menceritakan semua aturan yang disampaikan Arga, dan Bu Lina pun mengingatkannya untuk tetap sabar dan menjaga diri.
“Cuma satu tahun saja, Nak. Waktu akan berlalu dengan cepat. Setelah itu kita bebas lagi,” ujar Bu Lina menenangkan.
Malam harinya, saat matahari mulai terbenam, Anya kembali ke kamar di rumah utama. Ia berdiri di balkon, memandang langit yang berwarna jingga keunguan. Di dalam hatinya, ia berjanji akan menjalani masa satu tahun ini dengan sebaik mungkin, tanpa melupakan harga dirinya sendiri.
Ia sadar, perjalanan ini tidak akan mudah. Hidup berdampingan dengan pria sedingin Arga Wijaya pasti akan membawa banyak tantangan. Namun demi masa depan ibunya, ia siap menghadapi apa pun yang datang.
Di kejauhan, sebuah mobil hitam mewah memasuki halaman rumah. Itu tandanya Arga sudah pulang dari kantor. Anya menarik napas panjang, menyiapkan diri untuk menghadapi malam pertama tinggal serumah dengan pria yang kini tercatat sebagai suaminya di atas kertas.
Bersambung....