Duke Arland.
Seorang Duke yang dingin dan kejam. Selama menikah, dia mengabaikan istrinya yang sangat menyayanginya, hingga sebuah kejadian dimana dirinya harus berpisah dengan istrinya, Violeta.
Setelah kepergian istrinya, dia bertekad akan mencari istrinya, namun hasilnya nihil.
......
Violeta istri yang sangat mencintai suaminya. Selama pernikahannya, ia tidak di anggap ada, hingga sebuah kenyataan yang membuatnya harus pergi dari kediaman Duke.
Kenyataan yang membuatnya hancur berkeping-keping. Violeta yang putus asa pun mencoba bunuh diri, sehingga jiwa asing menemani tubuhnya.
Lima tahun kemudian.
Keduanya di pertemukan kembali dengan kehidupan masing-masing. Dimana keduanya telah memiliki seorang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekaisaran Fictor
Ke esokan harinya.
Seperti hari-hari biasa, Violeta, Alfred dan Aleta sarapan bersama di selangi obrolan hangat. Selama bertahun-tahun hanya ada mereka, tidak ada sosok seorang ayach yang menjaga mereka. Violeta berusaha keras membuat putra dan putrinya tidak pernah kekurangan kasih sayang, tiap akhir pekan. Mereka akan berkumpul bersama, menciptakan sebuah kenangan, duduk di santai beralas kain di atas rumput, memandang hamparan bunga di temani dengan roti dan selai, serta camilan lainnya.
"Ibu, Alfred dan Aleta keluar, kami akan berkunjung ke rumah Viscountess Elica."
"Kalian akan mengunjungi putri Viscountess Ecila."
"Iya,"
"Ya sudah, ibu akan ke toko. Kalian hati-hati ya sayang," Violeta mengucap dahi Aleta dan Alfred. Kemudian keluar di ekori oleh pelayan Mia.
"Kak, apa Duke akan mengejar kita ke sini?"
Alfred menaikkan kedua bahunya. "Mungkin, tapi kita tak perlu takut pada mereka. Sudah cukup penderitaan ibu, apa kamu merindukannya?"
Aleta diam, setiap harinya ia memang merindukan kasih sayang seorang ayah.
"Kakak tidak melarang mu merindukannya, setidaknya kamu melihat penderitaan ibu, dia sudah memiliki seorang putra dan istri."
Alfred mengusap mulutnya dengan sapu tangan di sampingnya. Turun dari kursinya menuju ke luar. Ia tidak mau berdebat dengan Aleta, apa lagi Aletalah yang paling merindukan sosok ayah.
Selama di perjalanan, Aleta dan Alfred tidak seperti biasanya. Alfred ingin Aleta memahami perasaan ibunya, bukan hanya mementingkan perasaannya. Sedangkan Aleta, ia merasa bersalah karena telah mengungkit kembali.
"Maafkan Aleta, kak."
Alfred menoleh, mengelus pucuk kepalanya. Rambutnya hitam berkilau dan bergelombang di biarkan tergerai. Hidung mancung dan bibir semerah strowberry. Sama persis dengan ibunya. "Aku harap kamu mengerti perasaan ibu, Aleta."
Aleta dan Alfred turun dari keretanya, keduanya di sambut oleh salah satu pelayan dan mengantar mereka ke halaman samping, di sana terdapat sebuah rumah kaca.
"Alfred, Aleta. Kalian sudah datang, terima kasih sudah datang."
"Iya," ujar Aleta tersenyum.
"Ayo masuk, o iya di rumah ada putra mahkota. Katanya sih, dia kesini ada keperluan dengan ayah. Aku akan memperkenalkan kalian padanya."
Aleta dan Alfred mengangguk dan tersenyum, keduanya berjalan beriringan dengan Adelin.
Adelin berceloteh kecil, Aleta dan Alfred menanggapinya sekaligus mendengarkan celotehnya itu. Adelin, Aleta dan Alfred telah berteman semenjak Viscountess Elica menjadi pelanggan sang ibu, keduanya sangat sering bertemu dan kadang memutuskan bermain bersama.
"Ya sudah kita ke taman."
Aleta dan Alfred mengikuti Adelin ke taman samping. Ketiga anak itu duduk di bawah pohon dengan alas kain. Ya mereka sangat sering meluangkan waktu di taman itu.
"Alfred, Aleta, ceritakan saat kalian berada di Kota Huderbugh, aku ingin tahu. Pasti kalian sangat menyukai koya itu kan."
"Kakak, aku ke sana dulu, kupu-kupunya sangat indah,"
Aleta langsung pergi dan berlari kecil, hati kecilnya tidak kuat menceritakan sebenarnya. Apa dia akan menceritakan jika ia bertemu dengan ayahnya? mengatakan kalau ayahnya menikah lagi dan memiliki seorang anak. Padahal ia sangat sering memuji sosok ayahnya di depan Adelin, mengatakan ayahnya adalah sosok orang yang sangat baik dan menyayanginya.
Dan
bruk
Aleta terjatuh, air matanya terjun bebas seiring dengan rasa sesak di dadanya.
Di tempat lain.
Langkah kuda itu telah berhenti tepat di depan gerbang istana Kekaisaran Fictor Xander. Duke Aland dan Aronz di sambut baik oleh Kaisar Fictor Xander di sebut Kaisar termuda, karena umurnya yang 20 tahun harus menyandang status sebagai seorang Kaisar. Karena sang ayah telah meninggal dua tahun yang lalu. Kaisar Fictor memiliki lima selir dan satu sebagai seorang Ratu.
"Selamat datang di istana Kekaisaran Xander."
Duke Aland dan Aronz memberikan hormat. "Terima kasih atas sambutannya Baginda dan Ratu."
Kaisar itu mengangguk dan tersenyum, "Sebenarnya kalian memiliki urusan apa di Kekaisaran ku, apa urusan pribadi?"
"Benar, Baginda. Saya mencari seseorang dan saya menemukan informasi bahwa wanita itu ada di Kekaisaran ini."
"Apa wanita itu memiliki salah, saya bisa membantu kalian menemukannya."
"Tidak ada masalah, hanya sebuah kejadian masa lalu. Jika boleh, kami mohon bantuan Baginda."
Kaisar Fictor tersenyum, "Katakan! siapa namanya."
"Violeta, Violeta Aghata."
"Aku akan membantu kalian mencarinya, hari ini juga kalian akan mendapatkan informasi tentang wanita itu. Sebaiknya kalian istirahat lebih dulu, mengingat perjalanan jauh, pasti membuat kalian sangat lelah."
"Terima kasih banyak, Baginda. Terima kasih atas bantuannya."
Kaisar Fictor mengangguk dan tersenyum. Dia penasaran, namun ia tidak ingin menanyakan karena hal itu adalah masalah pribadi Duke Aland.
akoh mampir Thor