NovelToon NovelToon
Aldebaran Mencari Cinta

Aldebaran Mencari Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Perjodohan / Nikahkontrak
Popularitas:170.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: ingrid nadya

"Kamu nikah atau Papa batalin semua warisan dan pelantikan kamu?"

Awalnya Aldebaran Maheswara tidak mempedulikan ancaman itu sama sekali. Ia menganggap ancaman itu hanya akal-akalan sang ayah agar ia segera mencari calon istri. Namun, tanpa diduga, dalam dua minggu, ayahnya benar-benar merealisasikan ancamannya tanpa pemberitahuan.

Aldebaran panik, karena selama tiga puluh tiga tahun hidupnya, ia tidak pernah jatuh cinta sama sekali.

Ia tidak rela kehilangan segalanya hanya karena label pernikahan. Ia pun mencoba saran adiknya untuk menemui beberapa wanita yang berpotensi untuk menjadi calon istrinya. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan Airina, teman kampus adiknya, gadis biasa-biasa yang penuh dengan kesederhanaan.

Apakah akan ada yang terjadi antara Aldebaran dan Airina? Apakah Aldebaran akhirnya bisa jatuh cinta? Apakah Airina mau menerima seseorang yang umurnya jauh berbeda dengannya?

Cover obtain from Pexels.com, free to use.
IG : @ingrid.nadya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingrid nadya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

"Oh, hai, Kak!" Ai serba salah. Diam-diam ia mengutuk diri sendiri kenapa bangun kesiangan hari ini. Coba saja tadi ia sempat mandi!

Sejurus kemudian, ia tersadar.

Kenapa pula ia mempermasalahkan hal ini? Ia kan hanya bertemu abang dari sahabatnya. Kenapa tampil seadanya jadi masalah sekarang ini?

Konyol! Sejak kapan Ai bertingkah konyol seperti ini di depan laki-laki?

Tantri dapat merasakan kemelut di hati Ai. Ia sampai harus menahan senyumnya sendiri karena baru kali ini melihat kepanikan di wajah Ai saat bertemu dengan pelanggan. Banyak sekali pelanggan laki-laki dengan wajah di atas rata-rata datang ke tempat ini. Bahkan pernah ada satu orang laki-laki yang sudah menjadi pelanggan mereka sejak dulu. Berambut ikal dengan wajah ganteng luar biasa. Ada aura tengil yang menggoda di eskpresinya. Tapi bahkan dengan sosok seperti itu saja, Ai tetap bergeming, tidak tergoda.

Sekarang?

Tantri bahjan bisa menangkap kegelisahan yang menggemaskan di dalam diri Ai. Ia ingin turut senang dan menjadi saksi bagi sejarah ini. Ternyata laki-laki yang dapat menggetarkan hati bosnya itu harus yang seperti ini! Well, wajar sih. Ai kan memang wanita yang sangat cantik. Sangat pantas bersanding dengan laki-laki seperti abang dari Shaletta ini.

Namun, tiba-tiba Ai menoleh pada Tantri. Ia pun langsung tersadar bahwa bosnya itu akan segera menyerahkan tanggung jawab melayani pelanggan potensial itu pada dirinya. Dan ia tidak mau merusak takdir yang sudah dirancang oleh semesta ini! Biarlah ia tidak menjadi saksi dari salah satu bentuk keajaiban dunia ini, asalkan ia tidak menjadi penghalang bagi mereka!

"Ai, gue kebelet nih! Izin bentar ya!" Tantri langsung cepat-cepat ngibrit ke dalam toilet toko.

Ai semakin mengutuk diri sendiri.

'Gimana nih, gimana nih.' Kepalanya tidak berhenti meneriakkan kalimat ini. Apalagi saat Al berjalan semakin mendekat, hatinya semakin ketar-ketir.

'Norak amat lo, Ai. Norak sumpah.' Ai masih sibuk memaki diri sendiri.

Dan dalam sekejap, Al sudah berdiri di hadapannya. Jarak mereka hanya terpisah satu meja kasir saja.

"Ma-mau pesan apa, Kak?" tanya Ai, tanpa sadar, menyelipkan beberapa helai rambutnya sendiri ke balik telinganya. Gesture kecil jika ia sedang merasa gugup.

"Gado-gado pedes dikaretin dua ya."

Ai langsung terpelongo mendengar jawaban Al. Laki-laki itu jadi malu sendiri. Niat hati ingin bercanda dengan Ai, apa daya selera humor mereka mungkin terhalang usia.

"Saya bercanda, Ai." Al menjelaskan, dengan wajah memerah.

'Menggemaskan,' pikir Ai dalam hati. Namun, ia langsung mengutuk diri sendiri lagi. Ia harus cepat-cepat sadar dari pesona laki-laki di hadapannya. Tidak boleh begini terus!

"Hehehe. Iya, Kak. Saya tahu. Saya cuma nggak nyangka kakak bisa bercanda juga." Ai terkekeh.

"Oh, syukurlah. Saya kira kamu anggap saya penyuka jokes bapak-bapak." Al masih tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.

"Dikit sih," jawab Ai, kurang ajar.

"Hey!" Al protes.

"Hahaha. Mau pesan apa, Kak? Disini cuma ada bunga, nggak ada gado-gado." Ai menggoda Al, lagi.

Al hanya bisa tertawa.

"Iya, Ai. Saya mau pesan bunga. Tapi saya nggak tahu mau pesan apa, soalnya saya nggak ngerti."

"Buat siapa, Kak?" tanya Ai, tidak bisa menghentikan rasa penasarannya.

Al menggaruk kepalanya.

"Ada. Perempuan."

Ai tertawa lagi, "Iya, Kak, saya tahu perempuan. Masa laki-laki?"

Ingin rasanya Al menunjukkan muka cemberutnya pada Ai. Bahkan bercandaan ini ternyata bisa menyakiti hatinya! Bagaimana mungkin Ai bercanda tentang sesuatu yang dituduhkan sang ayah padanya?

Melihat Al tidak menjawab, Ai mencoba menjelaskan maksudnya.

"Tapi boleh lebih spesifik perempuan yang gimana, Kak? Siapa tahu saya bisa pilihkan bunga yang cocok."

Al menggedikkan bahu.

"Perempuan. Usia dua puluh delapan tahun. Pekerjaannya fashion designer." Ia malah menyebutkan biodata Isyana.

Ai sampai harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa lagi. Abang dari Shaletta ini sungguh-sungguh tidak bisa ditebak! Disuruh mendeskripsikan teman kencan, kok malah seperti mengisi biodata diri di aplikasi pencari kencan daring?

"Mawar?" Ai mengusulkan.

Al langsung menggeleng. Seperti yang ia tangkap dari beberapa film, mawar bersifat terlalu personal, terlalu romantis. Dan ia tidak merasakan hal itu cocok untuk diberikan keada Isyana.

"Selain itu?"

"Lili putih? Cantik. Artinya juga bagus."

"Bunga lili itu yang kayak gimana?" tanya Al, penasaran.

"Sini, Kak, biar saya tunjukin." Ai berjalan menuju etalase tokonya. Al pun mengikuti dari belakang.

"Ini, Kak." Ai menunjuk beberapa tangkai bunga lili putih di dalam vas.

Al mengangguk, "Tadi kamu bilang bunga lili ini artinya bagus. Emang bunga itu ada artinya ya?"

"Ada dong, Kak. Mawar itu melambangkan ungkapan cinta. Lavender itu kesetiaan. Edelweiss itu keabadian. Dan lili putih..."

Ai berhenti sejenak sebelum menjelaskan bunga favoritnya ini.

"Artinya kesucian."

Al mengangguk.

"Lili putih pasti bunga favorit kamu ya?" Ia tersenyum pada Ai.

Ai terkekeh, tidak menyangka Al bisa membacanya. Namun, ia tidak merasa perlu menjawab pertanyaan itu, jadi ia hanya diam saja, menunggu Al memutuskan untuk membeli bunga yang mana.

Sementara itu, Al menatap bunga lili putih itu lama-lama. Entah kenapa, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, ia tidak rela memberikan bunga kesayangan Ai tersebut pada orang lain. Kenapa? Well, Al juga tidak tahu! Jadi, jangan tanya kenapa!

Matanya kembali menjelajah ke seluruh ruangan.

"Kalau bunga untuk dikasih ke orang yang sakit, cocoknya apa ya?" tanya Al.

"Ah, pacarnya lagi sakit toh..." Ai bergumam pelan, sendiri. Sepertinya tanpa sadar.

Al tersenyum-senyum saja mendengarnya.

"Bunga matahari aja, Kak. Biar orangnya cepat sembuh, cepat ceria lagi."

Al menimbang sejenak. Sebenarnya tidak terlalu peduli apa yang akan diberikan pada Isyana, asal bukan bunga lili putih.

"Oke," kata Al, akhirnya.

"Mau berapa tangkai?"

"Terserah kamu, Ai. Asalkan jangan sampai segede bunga untuk ibu saya aja."

Ai tergelak. Lalu, mengambil beberapa tangkai bunga matahari itu untuk Al. Ia pun membungkus bunga tersebut dengan kertas yang cantik.

"Mau sekaligus kartu ucapannya, Kak?" tanya Ai.

"Nggak usah."

"Pake dong, Kak. Biar pacarnya kakak seneng. Dikasih bunga aja seneng, makin seneng kalau tambah kartu ucapan!" Ai berusaha meyakinkan.

Al menahan senyumnya. Baru kali ini, ia merasa ingin menjahili ucapan seorang perempuan.

"Memangnya wanita pasti senang ya kalau saya kasih bunga?" tanyanya.

Ai membalas tatapan Al, sadar betul abang dari Shaletta itu sedang mencoba menjahilinya. Well, Al memang belum mengenal Ai!

"Nggak adil kalau tanya saya, Kak. Karena pasti jawaban saya iya. Saya kan penjual bunga. Masa saya mau hancurin salah satu hal yang jadi teknik marketing kita selama ini?"

Al tertawa.

Ia puas dengan jawaban Ai.

Tidak ada jawaban menye-menye.

Ia malah dibalas dengan telak.

"Jadi, kartu ucapannya mau?" tanya Ai.

"Terserah kamu, Ai, terserah kamu."

"Mau nulis sendiri atau gimana, Kak?"

"Kamu aja yang tulis."

"Isinya?"

"Get well soon..."

"Terus?"

"Udah."

"Gitu aja?"

"Iya, gitu aja."

"Nggak asyik."

Al tertawa, lagi.

"Totalnya berapa?" tanyanya.

"Bentar ya..." Ai bergumam, lalu mulai menghitung dengan mesin kasirnya.

Al sempat melihat wajah speechless dari Ai.

"Ai?" panggil Al.

Ai tersadar, lalu memandanginya, "Semuanya lima ratus ribu, Kak."

Tidak kurang, tidak lebih.

Cukup.

Pas.

Sesuai kebutuhannya.

Ai terpukau. Ia memang selalu terpukau dengan bagaimana cara semesta bekerja.

Al sendiri sudah mengambil kartu debit dan menyerahkannya pada Ai. Seusai membayar, ia pun menerima bunga tersebut.

"Thank you, Ai."

Ai tersenyum, mengangguk.

Lalu, ia pun membiarkan Al berbalik memunggunginya. Sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, Ai sempat bergumam, "Terima kasih juga, Kak Al."

***

Duh Abang sama Ai gemesin banget sih.

Geregetan aku tuh.

Anywaaaay, jangan lupa dukungannya ya, teman-teman 😊

IG : @ingrid.nadya

1
Salsabilla Putry Ilham
Kecewa
Salsabilla Putry Ilham
Buruk
Sofie Adisa
Kecewa
Sofie Adisa
Buruk
Susanti
kak Ingrid, kapan up lagi udah lama lho kak, ayo semangat
kholid ganteng
ka.. semangat up nya
kholid ganteng
aku masih disini ka
kholid ganteng
ayo ka. up terus ya
kholid ganteng
semangat ka
kholid ganteng
masih ka. aku baru mulai baca /Facepalm/
Lilis Suryani
dh lama ga up, apa dh selesai y ceritanya
Baby sakinem
ceritanya bisa bikin ngakak teruss😭
Diaz Nayla Az Zahra
seneng nyaaa... Abang nongol lg, tapi ya gitu berasa kaya yg pendek banget baca nya, kurang puas ngobatin rindu karna lama ga nongol...tapi makasih kak inggrit udah up lg,di tunggu kelanjutannya ☺️☺️
Hani: terima kasih kak. sukses selalu yaa
total 3 replies
martini tjong
kak jgn lama2 update nya 😊
Anik Iswati
akhirnya nongol jg abang Al ../Angry//Angry/
mamaqe
mencurigakan ni kata2
Rindhiani Ririn
jadi sebenernya Al naksir Rene gitu ya ,, begitu jg sebaliknya , tapi terhalang sahabat
Esther
akhirnya bang Al muncul lagi.
baru up karena Al sibuk siap2 utk kembali ke kantor ya thor😄.
Sunny
sampe sini kapan lanjut lagi..dah bela2in baca ulang dari awal loooh
Sunny
malangnya nasibmu AL/Facepalm/punya emak bapak pikirannya negatif mulu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!