Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Bahan Baku Digital
"Beras? Nduk kamu bawa pulang beras raskin sebanyak ini?"
Suara parau Nenek Warni memecah keheningan siang di gubuk itu. Perempuan tua itu bersandar di dinding anyaman bambu, menatap keranjang bawaan cucunya dengan mata berkaca-kaca.
Danu menurunkan karung goni berisi beras raskin dari pundaknya, lalu meletakkannya di lantai tanah. Bagas masuk menyusul sambil membawa bungkusan kertas berisi ikan asin. Seroja datang paling akhir. Ia meletakkan sebotol minyak curah dan sebotol kecil sirup obat batuk dari puskesmas di atas meja bambu.
Siti berlutut di depan karung goni. Tangannya yang gemetar mengusap serat kasarnya. Air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Selama bertahun-tahun hidup di bawah bayang-bayang Hardiman, ia sering hanya kebagian sisa makanan dari dapur. Kini, putrinya yang baru berusia delapan belas tahun pulang membawa bahan makanan melimpah dari hasil jerih payahnya sendiri.
"Kita bisa makan nasi putih hari ini, Bu," bisik Seroja sambil mengusap punggung ibunya.
Siti langsung memeluk Seroja erat dan menyembunyikan wajahnya di bahu putrinya. Isak tangis haru itu cepat menular. Danu dan Bagas saling berpandangan sambil tersenyum lega, lalu diam-diam mengusap mata yang mulai basah. Hati Seroja terasa hangat. Di kehidupan sebelumnya, gajinya sering habis untuk membeli barang-barang yang tak pernah memberinya kebahagiaan sebesar ini.
"Ibu masak nasinya sekarang. Mas Danu sama Bagas pasti lapar habis dari pasar," kata Siti sambil mengusap air matanya. Ia segera bergegas ke dapur dengan semangat yang baru.
Seroja mengambil botol obat batuk di atas meja. Ia menuangkan cairan kental beraroma mint ke sendok seng, lalu menyuapkannya kepada Nenek Warni.
"Minum dulu, Nek. Ini resep dari mantri puskesmas kecamatan," bujuknya lembut.
Nenek Warni menelan obat itu dengan susah payah. Seroja tetap duduk di sampingnya, menunggu napas sang nenek membaik.
Sepuluh menit berlalu. Harapan itu tak kunjung datang. Keadaan malah semakin buruk. Nenek Warni batuk hebat. Dadanya bergemuruh, napasnya berbunyi nyaring saat berusaha menghirup udara. Tangannya mencengkeram kerah kebaya, sementara wajahnya perlahan berubah pucat kebiruan.
Siti berlari keluar dari dapur hingga kayu bakar di tangannya jatuh ke lantai. Ia memangku kepala ibunya sambil panik mengusap dan memijat dadanya.
"Kok malah makin parah, Nduk? Obatnya salah? Mantri bilang ini obat yang bagus," jerit Siti ketakutan melihat ibunya semakin sulit bernapas.
Danu meraih selembar anyaman bambu, lalu mulai mengipasi Nenek Warni agar lebih mudah bernapas.
"Jangan dikipasi, Mas Danu! Debu dari atapnya malah turun!" seru Seroja sambil menahan tangan sepupunya.
Seroja berdiri. Nalurinya langsung menangkap ada yang tidak beres. Obat dari puskesmas seharusnya cukup untuk meredakan radang saluran napas. Pandangannya menyapu seluruh sudut gubuk. Sinar matahari yang masuk lewat celah dinding memperlihatkan butiran debu halus berjatuhan dari atap bambu yang terguncang.
Tatapan Seroja langsung tertuju pada debu itu. Seketika, layar transparan biru muda muncul di depan matanya, menampilkan hasil analisis.
⚠ PERINGATAN: Udara Terkontaminasi
🔍 Analisis Partikel: Serbuk Gergaji Kayu Jati Beracun (Getah Tua).
Efek: Merusak paru-paru perlahan, memicu asma akut, berisiko fatal pada lansia.
Rahang Seroja menegang. Ini bukan debu biasa. Serbuk kayu beracun menumpuk di sela-sela atap bambu. Setiap kali atap berguncang atau angin bertiup, serbuk itu beterbangan dan mencemari udara yang dihirup keluarganya.
Seroja memaksa dirinya tetap tenang. Yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan neneknya sebelum saluran napasnya benar-benar tertutup.
Ia kembali menatap antarmuka sistem dan membuka menu Dapur Jamu.
🍵 Formula Jamu Penawar Racun Serbuk | ⏱ 20 menit | 📦 Botol Formula Penawar
Sistem meminta tiga bahan: jahe merah, daun teh, dan madu liar. Jahe merah sudah tersedia di Gudang setelah riset virtual pertamanya. Ia hanya perlu mencari dua bahan sisanya.
Seroja berlari ke keranjang belanjaan Bagas. Ia membongkar bungkusan kertas, lalu mengambil sebungkus teh tubruk dan sebotol kecil madu liar yang tadi dibeli dari pedagang keliling di pasar.
Ia membawa kedua bahan itu ke halaman belakang, menjauh dari keluarganya yang masih panik. Seroja memanggil fitur Kotak Pengiriman. Pusaran cahaya redup sebesar kotak sepatu muncul melayang di udara. Ia memasukkan teh dan madu ke dalamnya. Dalam sekejap, cahaya itu menyerap kedua benda tersebut dan mengubahnya menjadi bahan baku digital di dalam sistem.
Seroja menekan tombol mulai pada antarmuka Dapur Jamu. Penghitung waktu dua puluh menit pun mulai berjalan.
Sambil menunggu, ia segera menyalakan tungku dan merebus sepanci air. Waktu terasa berjalan begitu lambat, seolah berlomba dengan batuk Nenek Warni yang semakin keras dari ruang depan. Seroja memaksa dirinya tetap tenang sambil mengaduk air rebusan agar lebih cepat mendidih.
Sebuah dering pelan terdengar di kepalanya. Riset selesai.
Seroja membuka Gudang virtual dan memilih opsi ekstrak. Udara berdesir. Sesaat kemudian, botol kaca kecil berisi cairan merah pekat beraroma rempah muncul di tangannya. Ia menuangkannya ke dalam cangkir seng berisi air hangat, lalu mengaduknya perlahan.
Seroja berlari kembali ke ruang depan dan berlutut di samping Siti.
"Pegang kepala Nenek, Bu. Seroja punya ramuan penawar," katanya tegas.
Siti langsung menuruti. Seroja menempelkan bibir cangkir ke mulut Nenek Warni, lalu perlahan menuangkan ramuan itu ke tenggorokannya.
Detik demi detik terasa menegangkan. Formula dari Dapur Jamu mulai meluruhkan racun yang menyumbat saluran pernapasan Nenek Warni. Dadanya tak lagi bergemuruh. Napasnya berangsur panjang dan teratur. Warna pucat di bibirnya perlahan menghilang, berganti merah alami. Karena kelelahan, Nenek Warni memejamkan mata dan tertidur lelap dalam pelukan Siti.
Siti terisak sambil berkali-kali mencium kening ibunya. Seroja meletakkan cangkir kosong di lantai. Tatapannya kemudian beralih ke anyaman bambu di atas kepala mereka.
Terdengar derit pintu depan. Pakde Prasetyo masuk sambil memanggul cangkul tua sepulang dari ladang. Langkahnya langsung terhenti saat melihat Siti menangis memeluk ibunya di atas tikar.
"Ada apa ini, Ti? Kenapa Ibu tidur di lantai?" tanya Prasetyo panik sambil buru-buru meletakkan cangkulnya.
Seroja berdiri sambil menepuk debu yang menempel di kain luriknya. Ia lalu menghampiri pamannya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya begitu dingin hingga membuat Prasetyo ikut tegang.
"Pakde, Seroja mau tanya," katanya lugas dengan suara rendah. "Siapa yang memasang anyaman bambu di atap gubuk ini?"
Prasetyo mengerutkan dahi. Ia mendongak menatap atap, lalu kembali memandang keponakannya dengan bingung.
"Dua hari lalu, sebelum kalian diusir dari rumah utama, anak buah Supri datang menemuiku," jawabnya jujur. "Mereka bawa sisa anyaman bambu dari proyek perbaikan balai desa. Kata Supri, itu sumbangan buat kita karena atap gubuk ini banyak yang bocor. Jadi Pakde yang memasangnya sehari sebelum kalian pindah ke sini. Memangnya kenapa, Nduk?"