Sequel SALAH NIKAH
Rico menikahi Layyana karena sebuah dendam.
Demi menuntaskan dendam yang sudah lama dia pendam, Riko rela menghabiskan sisa umurnya bersama wanita yang dia benci. Tujuannya satu, membalaskan dendam.
Layyana yang notabene adalah wanita kaya raya dan berpendidikan tinggi, selalu berpenampilan sederhana demi mencari cinta sejati yang mendekatinya bukan karena materi, melainkan karena cinta yang tulus. Sayangnya pria yang mengucap ijab qobul di sisinya pada hari pernikahan bukanlah Rendi, tapi sosok pria asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masuk Perangkap
Aku dan Layyana berpapasan dengan Bunda Dinda, Rara dan Sasha saat hendak memasuki ruangan makan.
“Eh, kalian baru muncul. Bunda sama adik-adik sudah duluan sarapan, loh,” ucap Bunda Dinda dengan gayanya yang aduhai ramah dan santun. “Nak Rico, sarapan gih. Jangan sampai telat makan, nanti sakit maag. Tuh, kayak Layyana kebiasaan telat makan jadinya kena maag.”
Aku mengangguk.
“Layyana. Siapkan bubur untuk suamimu. Bunda mau ke mol sama adik-adik. Ini kan hari libur, biar adik-adikmu refreshing dulu. Sekali-kali,” ucap Bunda dan langsung diangguki oleh Layyana.
Aku mengerti maksud bunda Dinda membawa adik-adik iparku pergi, Bunda memberi waktu kepada pengantin baru untuk menghabiskan waktu berduaan.
Sepeninggalan Bunda Dinda dan adik-adik Layyana, kembali kuikuti langkah gemulai Layyana menuju ruangan makan. Aku menarik satu kursi untuk Layyana, “Duduklah!” titahku menunjuk kursi yang kutarik.
Layyana tersenyum. “Aku ambilkan bubur untukmu dulu.” Layyana dengan cekatan mengambil bubur ke mangkuk dan menaruhnya ke meja depanku.
“Layyana, ini bubur buatanmu?” tanyaku berusaha berbicara dengan nada bersahabat.
“Ya. kenapa?”
Aku menatap bubur bertabur daging serta daun seledri dan bawang goreng. “Aku akan lebih menikmati makanan ini jika diberi sambal. Aku penikmat makanan pedas.”
“O ya?” Layyana tampak senang sekali dnegan keterbukaanku. “Baiklah, akan kubuatkan sambal sebentar. Kamu bersedia menunggu?”
Aku mengangkat alis. “Tapi itu akan membuatmu menjadi sibuk.”
“Nggak masalah.” Layyana menghambur menuju ke dapur. Terdengar bunyi gaduh yang aku juga tidak tahu suara gaduh apa, yang jelas Layyana sedang sibuk emmpersiapkan sambal untukku. Aku tersenyum licik, istri baik, taat kepada suami, selalu berusaha menyenangkan suami, persis seperti yang dipesankan oleh abangnya. Very good!
Tak lama tercium aroma sedap ke pernafasanku, aroma khas sambal. Aku melangkah mengikuti aroma yang tercium, menuju dapur. Tampak Layyana sedang mengaduk-aduk sambal di kuali.
Aku mendekati Layyana, lalu menjulurkan tangan ke arah pinggang gadis itu. Kupeluk Layyana dari belakang. gadis itu terkejut. Lalu tersipu saat mendapati wajahku melewati pundaknya.
“Aromanya berbeda. Aku mencium sambal rasa cinta,” kataku kemudian tertawa lepas.
Dengan gugup, Layyana menjawab, “Jadi kamu tahu kalau di sambal ini udah aku masukin bumbu merek cinta, ya?”
“Bagaimana rasanya memasak sewaktu masih gadis, dan sesudah menikah begini?”
“Apa maksud pertanyaanmu?” Pipi Layyana merona merah. Senyumnya merekah. “Rasanya ya capek.”
“Tapi pasti ada bedanya, kan? Saat gadis, tidak ada orang yang memelukmu begini saat sedang memasak bukan?” bisikku dengan hati mendidih, berharap Layyana secepatnya akan menaruh hati kepadaku. Wanita paling mudah baper saat diberikan sikap romantis dan diperlakukan dengan mesra oleh laki-laki. Tentu Layyana adalah salah satunya. “Apa rasanya memasak sambil dipeluk suami dari belakang?”
“Ngep-ngepan,” jawab Layyana sekenanya. Kemudian tawa renyah wanita itu pun pecah. “Kamu mau kena panas? Ini aku mau turunin sambalnya.”
Aku pun melepas pelukan dan memundurkan tubuh. Kuperhatikan Layyana yang terlihat cekatan saat memindahkan sambal ke mangkuk.
“Kamu tidak sewa asisten rumah tangga? Kamu kerjakan semua pekerjaan rumah sendirian?” tanyaku.
“Sebenarnya ada kok asisten rumah tangga di rumah ini, tapi sedang cuti, pulang kampung.” Layyana membawa mangkuk berisi sambal ke ruangan makan. Aku menyusulnya.
Pagi ini aku dan Layyana sarapan bubur berdua, mengobrol, tertawa dan kurasakan hubunganku dengan Layyana semakin dekat. Misi pertama tercapai. Gadis itu masuk perangkap.
***
TBC
selamat berkarya semoga sukses mencerdaskan anak2 bangsa melalui tulisan
bahaya niih