NovelToon NovelToon
Milik Sang Iblis Sisilia

Milik Sang Iblis Sisilia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:75
Nilai: 5
Nama Author: Kakamy

Andrea hanya gadis yatim piatu yang hidup menumpang di rumah bibinya, dijadikan pembantu, dihina, dan diajari untuk tidak berharap apa pun. Sampai suatu malam di Catania, tatapan seorang pria mengubah segalanya.

Fabrizio Lutero, Don mafia Sisilia yang dijuluki Sang Iblis, bisa membuat musuhnya memohon mati hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang berani menolak, tidak ada yang berani melawan. Namun di depan gadis kecil bermata ketakutan itu, pria paling dingin di Sisilia justru kehilangan kendali.

Dia menginginkannya. Dia akan menjaganya. Dan siapa pun yang berani menyentuhnya akan menyesal pernah dilahirkan.

Tapi dunia Fabrizio berlumuran darah, penuh pengkhianat, dan musuh yang mengintai dari balik bayang-bayang. Bisakah Andrea bertahan di sisi pria yang memilikinya sepenuhnya, dan menjadi ratu di dunia yang tak kenal ampun?

Posesif. Berbahaya. Panas. Dan tak ada jalan keluar.

"Dia milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kakamy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Fabrizio Lutero

Setelah Pepi menutup telepon dan Guglielmo pergi menjalankan perintahnya, aku terus mengawasi gadis kecilku. Kulihat dia keluar dari bar menuju lantai dansa dan menabrak seorang pria. Pria itu menatapnya seolah sudah mengenalnya, dan itu bukan tatapan biasa, melainkan tatapan penuh hasrat dan lapar. Andrea mengatakan sesuatu padanya, lalu ditarik pergi oleh sahabatnya, Sara. Nanti aku harus berterima kasih pada Sara untuk itu. Pepi, yang ikut memperhatikan semua kejadian itu bersamaku, berkata,

"Aku singkirkan temannya dari jalanmu. Manfaatkan kesempatannya."

Seolah aku butuh orang lain untuk menciptakan kesempatan bagiku. Aku kenal betul sahabatku Pepi. Dia naksir Sara.

"Kesempatan, ya? Aku mengerti..."

Pepi melempar senyum miring padaku lalu turun. Dia melambai pada Sara, dan begitu Sara melihatnya, Pepi memanggilnya. Kulihat Sara mengatakan sesuatu pada Andrea lalu menghampiri Pepi, sementara Andrea menuju toilet. Aku turun tangga dan mengikutinya. Saat mendekat, kulihat seorang perempuan mencengkeram lengannya dengan keras sambil melontarkan hinaan.

"Dengar ya, kamu perempuan jalang gembel, jangan berani-berani dekati Ricardo."

"Siapa?! Ester! Sedang apa kamu di sini?"

"Jangan pura-pura. Aku melihat jelas kamu menggoda Ricardo."

"Kamu gila, aku bahkan tidak tahu apa yang kamu bicarakan."

Saat kulihat dia mengangkat tangan hendak memukul Andrea, aku tidak bisa menahan diri. Kucengkeram lengannya begitu keras sampai pasti meninggalkan bekas. Aku tidak biasa memukul perempuan, kecuali di ranjang, tapi yang satu ini memang pantas dihajar. Kutanya Andrea apakah dia baik-baik saja. Dia menatapku beberapa detik, melempar senyum yang indah, dan berkata,

"Pahlawanku!"

Lalu dia pingsan.

Caranya bicara membuatku geli. Aku tidak bisa menahan diri dan tersenyum lebar. Kulepaskan lengan perempuan yang sudah mulai membuat keributan itu, dan kugendong gadis kecilku.

Malam ini kamu tidur dalam pelukanku.

Kubawa dia ke tempat parkir tempat mobilku berada, kubaringkan di kursi belakang, lalu aku masuk dan melaju ke mansion. Di tengah jalan aku mengirim pesan ke Pepi.

Pesan

*Fabrizio:* Andrea pingsan, kubawa ke rumahku. Cari cara menenangkan Sara, karena dari sini dia tidak akan pernah pergi lagi.

*Pepi:* Oke. Serahkan padaku.

Aku tiba di mansion dengan Andrea dalam gendonganku. Solange sudah menunggu di pintu dengan piyamanya.

"Ya Tuhan, Tuan, apa yang terjadi?!"

"Dia hanya pingsan."

"Mau saya siapkan kamar tamu?"

"Tidak perlu. Dia akan tidur di kamarku."

Saat itu Andrea melingkarkan lengannya di leherku dan meringkuk di dadaku. Aku menatapnya dengan senyum bodoh. Solange hanya mengamati, tidak berkata apa-apa. Aku menyadari tatapan Solange, berdeham, lalu naik tangga dengan Andrea di gendonganku. Kubaringkan dia di ranjangku dengan hati-hati dan mencoba melepaskan lengannya dari leherku. Dia malah makin erat memeluk leherku sehingga aku terpaksa ikut berbaring, lalu menyelipkan satu kakinya di atas kakiku, dan aku terkunci olehnya. Kusingkirkan beberapa helai rambut dari wajahnya dan kupandangi kecantikannya.

Bagaimana mungkin dia lebih cantik lagi saat tidur.

Aku membelai rambutnya, dan tidak lama kemudian aku pun tertidur dengan dia dalam pelukanku.

Sementara itu, masih di klub

Aku menghampiri pria yang memanggilku. Cowok ganteng sekali.

"Selamat malam, Putri. Namaku Simon Smith, tapi panggil saja Pepi."

"Senang bertemu denganmu, Pepi. Namaku Sara Montessori."

"Senang bertemu denganmu, Sara. Kamu minum apa?"

"Tequila."

"Pelayan, satu wiski lagi, dan satu tequila untuknya."

Sambil mengobrol, aku mengamatinya dari atas sampai bawah. Kulitnya putih, tingginya 1,80 meter, rambut pirangnya disisir ke belakang, matanya biru. Dia memakai celana panjang hitam formal dan kemeja putih ketat yang memperlihatkan seluruh tubuhnya, dan aku bisa melihat dia sangat kekar.

"Jadi, Sara, bagaimana menurutmu klub baru ini?"

"Bagus sekali. Suasana dan musiknya enak, orang-orangnya cantik. Hanya saja desainnya agak basi dan ruangnya kurang terencana. Kalau menurutmu bagaimana?"

"Nah, mengingat akulah yang mengatur desain dan merencanakan ruangnya, aku agak tersinggung."

Sara langsung memerah, dan Pepi geli melihatnya.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyinggung atau meremehkan pekerjaanmu. Aku lulusan arsitektur dan desain, jadi aku jadi memperhatikan struktur seperti ini dan kebanyakan bicara."

"Tidak apa-apa. Nanti beri aku saran bagaimana memperbaiki tempat ini, dan kita impas."

Ponsel Pepi berbunyi. Pesan dari Fabrizio, mengabarkan dia membawa Andrea pulang dan menyuruh Pepi menenangkan Sara. Pepi membalas "Oke" dan menyimpan ponselnya di saku.

"Jadi, Sara, bagaimana kalau kita ke lantai dansa?"

"Tunggu sebentar. Kita tunggu temanku kembali dari toilet."

"Baiklah, terserah kamu."

Pepi melihat empat pria masuk ke klub, dan dia mengenali salah satunya dari mafia saingan. Naluri bertahan hidupnya langsung siaga, tapi dia tidak bisa memulai baku tembak dan mengambil risiko Sara terluka. Jadi dia menarik lengan Sara, memberi isyarat pada para penjaga, lalu menuju pintu darurat.

"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku."

Saat itu Sara mendengar suara tembakan dan menunduk. Pepi melihat Sara syok, jadi dia memanggulnya di bahu dan pergi secepat mungkin, sementara para penjaga memberi perlindungan.

Di dalam mobil, jauh dari tempat itu, Sara sadar kembali dan berteriak,

"HENTIKAN MOBILNYA! KITA HARUS KEMBALI, TEMANKU MASIH DI SANA!"

"Tenang, Andrea aman. Yang kukhawatirkan sekarang keselamatanmu."

"Aku tidak ingat pernah menyebut nama Andrea."

"Memang tidak."

"Lalu bagaimana kamu tahu namanya?"

"Nanti kujelaskan. Aku hanya minta kamu percaya padaku."

Anehnya, Sara percaya pada Pepi dan merasa nyaman di sampingnya, begitu nyaman sampai tertidur di mobilnya.

Pepi memutari kota beberapa kali untuk memastikan mereka tidak diikuti, baru setelah itu membawanya ke rumahnya. Sampai di rumah, Pepi membawa Sara ke kamar tamu, melepas sandal dan gaunnya, memakaikan kaus miliknya, lalu keluar. Beberapa detik kemudian dia kembali dengan segelas wiski di tangan, duduk di kursi berlengan di kamar itu, mengambil ponselnya, dan mengirim pesan ke Fabrizio.

Pesan

*Pepi:* Klub diserbu dan aku ditembaki. Aku berhasil keluar tanpa luka. Sara aman di rumahku.

Kurang dari tiga menit, ponsel Pepi berbunyi, ada pesan masuk.

*Fabrizio:* Kamu sempat lihat siapa mereka?

*Pepi:* Aku mengenali Matheus. Dia kelihatan mencarimu.

*Fabrizio:* Ada korban?

*Pepi:* Aku menunggu laporan Roger.

*Fabrizio:* Oke, kabari aku terus.

*Pepi:* Siap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!