Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Menamparku?
POV Sekar
Tanganku melayang menampar wajahnya. "Aku bukan pelacur, dan tidak pernah jadi pelacur, dasar bodoh!" Begitu kalimat itu selesai kuucapkan, aku sadar apa yang baru kulakukan dan langsung menyesal. Sekarang aku benar-benar akan jadi karung tinju.
POV Hendra
Jadi benar, dia menamparku? pikirku.
Aku buta oleh amarah, tapi tak bisa membalas karena dia perempuan. Dalam satu gerakan cepat kucengkeram pinggangnya dan kutekan dia ke dinding.
POV Sekar
"Maaf, Tuan, aku tidak bermaksud..."
POV Hendra
"Diam. Kalau kamu berani mengulanginya, aku sewa perempuan untuk menghajarmu. Dan aku tidak peduli kamu pelacur atau bukan, aku tidak membelimu untuk kutiduri, paham?" Kulepaskan dia.
POV Sekar
"Lalu kenapa?"
POV Hendra
"Ibuku... Dia panik waktu melihatmu di lelang itu dan memohon agar aku membelimu." Kutekan dia lagi ke dinding sambil menatap matanya.
"Aku tidak perlu membeli bocah ingusan untuk memuaskan diri. Di klub malamku dan di mana pun, perempuan mana saja yang kumau akan merangkak di kakiku, bahkan rela kutiduri gratis." Kulepaskan dia.
POV Sekar
"Lalu apa yang akan Anda lakukan padaku?"
POV Hendra
"Kamu akan jadi pembantu pribadiku. Beti memang butuh bantuan. Kamu mengurus keperluanku dan membantu Beti mengerjakan urusan rumah."
POV Sekar
"Anda tidak akan meniduriku, atau melemparku ke salah satu rumah bordil Anda?"
POV Hendra
"Tidak. Sekarang keluar." Ia pergi sambil setengah tersenyum, setengah berlari. Astaga, ibuku memang selalu menjerumuskanku ke situasi seperti ini, dan sekarang aku malah kena tampar juga. Tapi serius, apa yang kupikirkan ini benar? Bocah itu menolakku, lalu senang karena TIDAK tidur denganku? Makhluk dari mana dia, yang tidak mau naik ke ranjang Hendra Wirakusuma? pikirku kesal, lalu aku turun untuk sarapan.
POV Sekar
Fiuh... kupikir aku bakal dipukuli habis-habisan tadi. Tapi syukurlah tidak, dan lebih baik lagi, aku tak akan dijamah banyak pria seperti yang mereka katakan. Sekarang aku lega. Lebih baik jadi pembantu daripada pelacur. Aku tersenyum.
POV Beti
"Kok wajahnya senang begitu, Nak?"
POV Sekar
"Nanti kalau Tuan Hendra sudah berangkat aku ceritakan."
POV Hendra
"Selamat pagi..." Semua orang membalas sapaanku, dan aku mulai sarapan.
"Beti, mulai hari ini dia membantumu. Semua tugas yang berkaitan denganku serahkan padanya, dan untuk pekerjaan rumah, dia membantumu setelah selesai melayaniku."
POV Beti
"Baik, Tuan."
POV Hendra
"Aku tidak pulang makan siang, tapi akan pulang lebih awal."
POV Beti
"Baik, Tuan, semoga harinya menyenangkan." Ia pergi. "Nah, sekarang cerita, Nak. Apa yang terjadi di antara kalian?"
POV Sekar
"Aduh, Bu Beti..." Aku mulai menangis, dan sambil terisak kuceritakan semuanya, setiap detail yang menimpaku. Ia terkejut, lalu ikut menangis bersamaku.
POV Beti
"Nak, Tuan Hendra tidak akan dan tidak pernah melakukan hal itu padamu, jangan khawatir. Sikapnya memang keras, tapi hatinya baik, lebih baik dari yang dia sendiri sadari. Tapi tetap hati-hati, dia juga bisa kejam kalau sedang mau."
POV Sekar
"Terima kasih, Bu Beti. Aku akan berhati-hati, aku tak mau menderita lagi. Ibu percaya tidak, aku sampai menampar dia?"
POV Beti
"Kamu sudah gila, ya, Nak? Ya ampun."
POV Sekar
"Dia menyebutku pelacur, Bu."
POV Beti
"Nak, memangnya apa yang kamu harapkan dia pikirkan? Dia kan tidak tahu ceritamu. Dia hidup dikelilingi perempuan macam itu, justru di tempat-tempat seperti itu."
POV Sekar
"Ibu benar... Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Aku akan bekerja dan melanjutkan hidup."