Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Cerai Kamu yang Minta, Mau Rujuk? Nggak Mungkin
Setiap langkah kecil Arya dan Anindya kini bergerak ke arah yang sama.
Karina memilih berdiri tepat di depan jalan mereka.
Pesan undangan datang melalui surel karena semua nomor yang ia pakai sudah diblokir. Isinya singkat: bertemu pukul dua di kafe Mal Cakrawala untuk membahas kehamilan dan sisa pembayaran.
Arya memperlihatkannya kepada Anindya.
"Kita datang," putus Anindya. "Sekalian selesaikan soal kontrak supaya dia tidak mengganggu lagi."
Arya membuka lampiran surel. "Dia meminta datang tanpa pengacara."
"Kita tidak perlu membawa pengacara untuk membaca kontrak yang sudah jelas. Tapi tim hukum akan mendapat salinan rekaman kalau ada ancaman."
"Kita rekam?"
"Dengan pemberitahuan di awal. Aku nggak mau bukti kita dipersoalkan karena cara mendapatkannya."
Arya mengangguk. Anindya tidak menggunakan kekayaan sebagai mantra untuk menyelesaikan masalah. Ia menyiapkan dokumen, batas, dan jejak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebelum berangkat, Pak Darto menyerahkan map tipis berisi salinan kontrak bertanda tangan serta catatan panggilan dari nomor-nomor yang sudah diblokir.
"Tim keamanan hanya akan berjaga di luar, Den Arya," katanya. "Kalau percakapan berubah menjadi gangguan fisik, tekan tombol pada aplikasi ini."
Arya memasang aplikasi tersebut, lalu menyimpan map ke dalam tas. "Saya berharap tidak perlu."
"Persiapan yang baik memang dibuat supaya tidak perlu digunakan," jawab Pak Darto.
Di dalam mobil, Anindya tampak lebih dingin daripada biasanya. Arya menyentuh punggung tangannya.
"Aku yang bicara soal Karina. Kamu cukup jelaskan kontrak."
"Dia akan menyerangmu."
"Biarkan. Aku sudah terlalu lama diam."
Anindya membalik tangan dan menggenggamnya. "Kalau begitu kita hadapi bersama."
Pukul dua kurang lima menit, Lamborghini berhenti di depan mal. Karina dan Sherly sudah menunggu di meja dekat jendela. Keduanya melihat mobil itu dari balik kaca.
"Dia bawa Anindya," gerutu Karina.
Sherly memperhatikan Arya turun dari balik kemudi. Kemejanya pas di bahu, jam mahal terpasang di pergelangan, dan langkahnya tak lagi membungkuk seperti pria yang pernah dilihatnya membawa semua tas Karina.
"Dia kelihatan beda," katanya.
"Cuma baju mahal."
Arya dan Anindya tiba di meja sambil bergandengan tangan. Tidak ada staf atau pengawal di dalam kafe, tetapi seorang petugas keamanan menunggu di luar pintu pada jarak yang tidak mencolok.
"Kita langsung ke inti," kata Arya setelah duduk. "Apa yang mau dibahas?"
Karina menatap tangan mereka. "Lepaskan dulu."
Anindya justru mempererat genggaman. "Kenapa saya harus melepas tangan suami saya?"
"Karena ini urusan gue sama dia."
"Urusan kalian selesai bersama akta cerai."
Karina mengabaikannya dan menatap Arya. "Mas, aku hamil. Papa juga harus operasi. Kalau kamu pulang sekarang, aku anggap semua ucapan kasarmu selesai."
"Aku tidak pulang."
"Jangan mempermalukanku di depan orang lain."
"Kamu yang meminta pertemuan di tempat umum."
Sherly menyela, "Arya, lo jangan besar kepala. Pernikahan lo sama Anindya cuma kontrak. Karina masih memberi kesempatan."
Arya memandangnya datar. "Saya tidak meminta kesempatan."
Karina mengeluarkan hasil pemeriksaan kandungan dan mendorongnya ke meja. "Lihat. Usianya sesuai. Ini anakmu."
Arya tidak menyentuh kertas itu. "Hasil pemeriksaan membuktikan kamu hamil, bukan siapa ayahnya. Aturannya tetap tes DNA setelah lahir."
"Kamu benar-benar tega membuatku menunggu berbulan-bulan?"
"Kehamilan memang perlu waktu. Fakta juga."
Karina menepuk meja. Beberapa pengunjung menoleh.
"Kamu dulu nggak begini!"
"Dulu aku juga belum tahu istriku bisa menukar pernikahan dengan uang."
Wajah Karina memerah.
Anindya mengeluarkan tablet. "Kalau pembahasan kehamilan selesai, sekarang kontrak."
Karina langsung menahan emosi. "Bagus. Transfer sisa Rp 1,4 miliar hari ini."
"Tidak ada kewajiban seperti itu."
"Totalnya dua miliar! Enam ratus juta sudah dibayar. Berarti kurang satu koma empat."
Anindya membuka dokumen digital dan memperbesar bagian pembagian kompensasi. "Baca pasal empat."
Karina meraih tablet. Matanya bergerak cepat, lalu berhenti pada tiga angka.
Rp 600 juta sebagai uang muka kepada Karina.
Rp 400 juta setelah masa kewajiban selesai tanpa gangguan.
Rp 1 miliar dicadangkan kepada Arya sebagai pihak yang menjalani pernikahan.
"Ini jebakan," desis Karina.
"Ini draf yang kamu terima, paraf, dan tandatangani di hadapan pengacara," jawab Anindya. "Tidak ada huruf yang diubah."
"Gue pikir dua miliar semuanya buat gue!"
"Kesalahan membaca tidak mengubah kontrak."
Sherly menarik tablet dan ikut memeriksa. "Empat ratus juta juga tetap harus dibayar."
"Setelah kewajiban selesai," kata Anindya. "Salah satunya tidak mengganggu, mengancam, atau memaksa Arya selama masa perjanjian. Semua panggilan dan pesan sudah kami simpan."
Karina membeku. "Lo mau menahan uang gue?"
"Uang yang belum menjadi hakmu tidak bisa ditahan darimu. Kalau pelanggaran berlanjut, tim hukum akan mengirim somasi dan menilai kontrak berdasarkan bukti."
Suara Anindya tetap rendah. Justru karena itu, ancamannya terdengar nyata.
Karina menoleh kepada Arya. "Mas, kamu diam saja melihat dia merampas uang kita?"
"Bukan uang kita."
"Aku melakukan semua ini demi masa depan kita!"
"Masa depanmu," koreksi Arya. "Kamu menjadwalkan perjalanan, memilih hotel, dan merencanakan belanja sebelum akta cerai terbit. Namaku cuma barang di dalam transaksimu."
"Aku bisa berubah."
"Kamu belum berubah. Lima menit lalu kamu masih menyuruhku pulang seperti aku milikmu."
Karina berdiri, kursinya terdorong ke belakang. "Aku hamil anakmu!"
Arya ikut berdiri, tetapi wajahnya tetap tenang. "Kalau hasil DNA membuktikannya, aku bertanggung jawab kepada anak. Bukan kepadamu."
"Jadi kamu memilih dia?" Karina menunjuk Anindya. "Teman gue sendiri?"
Anindya berdiri di sisi Arya. "Aku bukan temanmu lagi kalau kamu menganggap persahabatan sebagai izin menjual suami dan mengambil semua bayarannya."
Sherly mencoba menarik lengan Karina. "Rin, jangan bikin keributan."
Karina menepisnya. "Nin, lo harusnya ada di pihak gue!"
"Saya berada di pihak orang yang kamu rugikan."
Seorang pelayan mendekat dengan ragu dan menanyakan apakah mereka memerlukan bantuan. Anindya meminta tagihan meja dipisah, lalu membayar minumannya dan Arya melalui kode pembayaran.
Karina memandangi transaksi kecil itu seperti penghinaan lain. Anindya bisa menghabiskan puluhan miliar untuk Arya, tetapi menolak memberinya sisa yang selama ini sudah ia belanjakan dalam kepala.
Arya menggandeng Anindya menuju pintu.
"Mas!" teriak Karina. "Dua bulan lagi kamu tetap harus kembali!"
Arya berhenti dan menoleh. Seluruh kafe kini mendengar.
"Perceraian bukan pinjaman, Karina. Kamu yang meminta cerai. Sekarang kamu ingin rujuk? Nggak mungkin."
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Di meja, Karina mencengkeram hasil pemeriksaan sampai kertasnya kusut. Mimpi Rp 1,4 miliar runtuh menjadi satu pasal yang tidak pernah ia baca.
Namun saat melihat punggung Anindya, amarahnya menemukan sasaran baru.
"Nin!" teriaknya. "Jadi sekarang lo benar-benar memilih dia daripada gue?"
Pertanyaan itu menggantung, tetapi pilihan Anindya sudah terlihat dari tangan yang tidak ia lepaskan.