**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Syarat-Syaratku
Tangan itu belum sempat menyentuh Kirana.
Rangga menangkap pergelangan si pemilik tangan dan menurunkannya.
"Mundur."
Suaranya tidak keras. Namun nada seorang perwira yang terbiasa memberi perintah membuat barisan depan terdiam.
"Saya cuma mau bertanya," protes perempuan itu.
"Bertanya tidak memerlukan sentuhan. Jangan halangi pintu dan jangan lempar apa pun."
Bu Marni menarik Kirana satu langkah ke ambang ruang depan. Dua pengurus wisma yang dipanggilnya datang dari lorong, lalu berdiri di kanan dan kiri anak tangga.
"Semua yang tidak berkepentingan, silakan keluar dari halaman," kata Bu Marni. "Kalau masih memaksa masuk, saya catat nama dan laporkan sebagai gangguan terhadap penghuni."
Ancaman berupa catatan resmi bekerja lebih cepat daripada nasihat. Orang-orang mulai mundur, meski sebagian tetap merekam dari luar pagar.
Rangga melepaskan pergelangan perempuan tadi. "Saya tidak menggunakan pangkat untuk menutup persoalan keluarga. Saya menghentikan orang yang mengganggu keselamatan penghuni. Jangan campurkan keduanya."
Kirana merapikan tali tas di bahunya. Napasnya masih teratur. Tidak ada tangan yang mengenai tubuhnya, tidak ada nyeri di perut. Ia tetap berdiri dekat pintu terbuka.
Bu Marni menyodorkan segelas air dari meja ruang depan. Kirana meminumnya perlahan tanpa meninggalkan ambang. Dingin gelas di telapak tangannya membantu meredakan gemetar kecil yang baru muncul setelah bahaya lewat. Bu Marni menunggu sampai wajahnya kembali tenang sebelum mundur setengah langkah.
Melati mendekat kepada Rangga. "Mas, kita pulang saja. Mereka sudah mempermalukanku cukup lama."
"Kamu datang untuk meluruskan masalah," jawab Rangga tanpa menoleh. "Luruskan."
Wajah Melati menegang.
Rangga menatap Kirana. "Kita bisa membicarakannya di tempat yang lebih tenang. Dengan saksi kalau kamu mau."
"Tidak hari ini." Kirana menunjuk ponsel-ponsel di luar pagar. "Cerita sudah dibuka di depan umum. Kalau kita masuk ke mobilmu, yang beredar nanti hanya gambar aku menerima hadiah dari keluarga Adiningrat."
Sopir yang berdiri dekat bagasi memandang dua parcel besar itu dengan serba salah.
"Bawa kembali semuanya," kata Kirana. "Aku tidak menerima barang yang belum jelas tujuannya."
"Itu tanda niat baik," ujar Melati.
"Niat baik tidak membutuhkan pita emas. Niat baik membutuhkan koreksi."
Rangga menahan pandangan beberapa detik, lalu mengangguk kepada sopir. Kedua parcel dimasukkan kembali ke bagasi. Sejumlah orang di luar pagar berbisik karena adegan penolakan itu ikut terekam.
"Katakan syaratmu," ujar Rangga.
"Bukan syarat untuk membeli diamku. Ini langkah yang harus dilakukan karena namaku sudah dipakai."
Kirana mengangkat satu jari.
"Pertama, Melati menulis koreksi atas hal yang sudah dia akui. Dia pernah membalas pesan memakai namaku tanpa izin. Koreksi itu harus dikirim kepada orang-orang yang menerima pesan tersebut dan kepada keluarga Adiningrat. Isinya tidak boleh dilebihkan seolah dia mengaku membuat pengaduan atau unggahan baru sebelum ada bukti."
Melati tampak hendak menyela, tetapi Rangga mengangkat tangan.
"Lanjutkan."
"Kedua, semua ponsel lama, akun surel, nomor, catatan pengiriman, dan salinan dokumen yang pernah berhubungan denganku harus dipertahankan. Tidak boleh dihapus atau dibuang. Kalau petugas meminta melalui jalur resmi, kalian bekerja sama."
"Kamu ingin menggeledah rumahku?" tanya Melati.
"Tidak. Aku tidak punya hak menggeledah rumah siapa pun. Aku meminta kalian tidak merusak jejak sebelum pemeriksaan selesai."
Rangga memandang istrinya. "Itu wajar."
"Mas, banyak ponsel lama sudah tidak dipakai. Aku tidak tahu masih ada atau tidak."
"Cari."
Satu kata itu membuat bahu Melati kaku.
Kirana mengangkat jari ketiga.
"Ketiga, kerugian yang bisa dibuktikan dihitung. Biaya administrasi, perjalanan untuk klarifikasi, dan kerugian kerja yang langsung timbul karena penggunaan namaku. Bukan uang tunai yang diselipkan malam ini. Semuanya tertulis, diperiksa, lalu dibayar dengan tanda terima."
"Berapa yang kamu mau?" Melati bertanya cepat, seolah jumlah besar akan membuat Kirana terlihat rakus.
"Aku baru saja mengatakan harus dihitung. Kalau kamu sudah menyiapkan angka sebelum memeriksa kerugian, berarti kamu tidak menawarkan ganti rugi. Kamu menawarkan harga agar aku berhenti bicara."
Suara kecil terdengar dari luar pagar. Beberapa orang yang tadi mengejek kebangkrutan Prawira kini tak lagi berani ikut menyahut.
Rangga menurunkan pandangan ke tanah. "Saya akan meminta penasihat keluarga menyusun berita acara. Kamu boleh membawa pendamping sendiri."
"Bukan penasihat keluarga saja. Harus ada pihak netral."
"Baik."
Melati menggigit bibir. "Lalu Mama Ratna? Kamu tahu dia bersembunyi dari penagih utang. Kami bisa membantu memindahkannya ke Girimulyo. Rumah di sana murah dan jauh dari orang yang mengejar keluarga Prawira."
Kirana tidak segera menjawab.
Nama desa itu pernah terdengar di minibus, lalu muncul lagi bersama tiga puluh topi anyaman di koperasi. Namun memindahkan Ratna melalui tangan Melati berarti menyerahkan alamat ibunya kepada orang yang belum ia percayai.
"Jangan gunakan Mama sebagai tambahan paket," katanya.
"Aku menawarkan keselamatan untuknya."
"Kalau ada rumah sewa yang sah, kirim daftar terbuka melalui Bu Marni atau koperasi. Aku yang memeriksa, Mama yang memilih, dan sewa dibayar dengan perjanjian jelas. Tidak ada pemindahan diam-diam, tidak ada alamat yang hanya kalian kuasai, dan tidak ada bantuan yang ditukar dengan pencabutan pernyataan."
Rangga mengangguk lebih lambat. "Saya bisa mencari melalui pengurus desa, tanpa mencantumkan nama Ratna sebelum dia setuju."
"Itu bisa dipertimbangkan. Bukan janji aku akan menerimanya."
Melati tertawa pendek. "Kamu bicara seperti punya banyak pilihan."
"Aku memang punya hak memilih. Itu berbeda dari punya banyak uang."
Kalimat itu membuat Melati kehilangan senyum.
Rangga berbalik ke arah orang-orang di luar pagar. "Saya sudah memastikan satu hal. Istri saya pernah menggunakan nama Kirana dalam sebagian komunikasi tanpa izin. Untuk itu, harus ada koreksi. Perkara lain masih diperiksa. Siapa pun yang menyebarkan potongan video dengan tuduhan baru bertanggung jawab atas ucapannya sendiri."
Kemudian ia menatap Melati. "Minta maaf untuk hal yang sudah kamu akui. Sekarang."
Mata Melati membesar. "Di sini?"
"Kamu datang ke sini di depan mereka."
Plester di dahinya bergerak ketika rahangnya mengeras. Ia memandang kamera-kamera di balik pagar, lalu Kirana.
"Aku minta maaf karena pernah membalas beberapa pesan tanpa menjelaskan siapa penulisnya," ucapnya. "Aku melakukannya karena keadaan keluarga saat itu rumit."
"Itu alasan, bukan koreksi lengkap," jawab Kirana. "Tuliskan nanti. Cantumkan namaku dipakai tanpa izin dan kepada siapa pesan dikirim."
Melati menunduk. Permintaan maafnya tidak diterima sebagai penutup, hanya dicatat sebagai awal.
Rangga membuka pintu mobil untuknya, tetapi Melati justru mengulurkan tangan ke lengan suaminya. Rangga bergeser untuk mengambil ponsel dari saku, membiarkan tangan itu menggantung sesaat.
"Malam ini kita cari semua perangkat lama dan arsip komunikasi," katanya. "Tidak ada yang dihapus."
"Kalau barangnya sudah rusak?"
"Tetap serahkan."
Kirana melihat warna menghilang dari wajah Melati.
Untuk pertama kalinya hari itu, ketakutan perempuan itu tidak tertuju pada kerumunan.