Hari ini adalah ulang tahun Prastyo Bharata Utama. Mikhaila ingin membuat malam ulang tahun Pras berbeda dari biasanya. Ia telah menyiapkan kejutan yang selama ini mereka nantikan: sebuah test pack dengan dua garis merah. Di bungkus hadiah itu dengan rapi, lalu ia mengantarkannya ke kantor karena tak sabar menunggu Pras pulang.
Namun, kenyataan justru menghancurkan kebahagiaannya. Sore itu, Mikha mendapati seorang wanita tengah bermanja-manja di ruang kerja bersama suaminya. Hatinya remuk, bahkan ia tak sanggup mendorong pintu untuk meminta penjelasan. Mikha memilih pergi dan mengubah rencananya. Kali ini, ia ingin membuat Pras jatuh miskin dan hidup dalam penyesalan.
Ayo kita dukung rencana Mikhaila, biar lelaki tukang selingkuh itu jera.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isti arisandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Malam semakin larut ketika Pras akhirnya selesai membereskan meja makan. Kue ulang tahunnya masih tersisa beberapa potong, sementara hadiah yang dijanjikan Mikha sejak pagi belum juga ia dapatkan.
Meski begitu, Pras tidak terlalu mempermasalahkannya. Ia justru merasa penasaran dengan tingkah istrinya yang sejak tadi terlihat aneh.
Biasanya, Mikha akan menjadi orang pertama yang paling bersemangat merayakan ulang tahunnya. Perempuan itu selalu punya cara untuk membuat hari istimewanya terasa berbeda, mulai dari menyiapkan makanan kesukaannya hingga memberikan hadiah kecil yang terkadang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Namun, malam ini, Mikha justru terlihat ingin segera mengakhiri kebersamaan mereka.
Pras menghela napas sambil melirik jam dinding.
Hampir pukul sebelas malam.
Ia pun memutuskan untuk menyusul istrinya ke kamar. Barangkali Mikha memang kelelahan setelah mengurus banyak hal seharian. Ia tidak ingin terlalu banyak berpikir hanya karena istrinya sedikit berbeda dari biasanya.
Setelah memastikan lampu ruang makan sudah dimatikan, Pras melangkah menuju kamar mereka.
Saat membuka pintu, ia mendapati Mikha sudah berbaring membelakanginya. Selimut menutupi hampir seluruh tubuh perempuan itu, sementara lampu tidur di sisi ranjang masih menyala redup.
Pras menutup pintu, kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Sayang, kamu sudah tidur?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Pras tersenyum tipis. Ia mengira istrinya benar-benar tertidur karena terlalu lelah.
Lelaki itu lalu berganti pakaian, membersihkan diri sebentar, dan kembali mendekati ranjang.
Namun, ketika melihat posisi Mikha yang masih sama, Pras mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya.
“Sayang, bangun sebentar, dong.”
Mikha sebenarnya belum tidur. Sejak tadi, ia hanya memejamkan mata sambil berusaha menenangkan pikirannya yang kacau.
Mendengar suara Pras, jantungnya langsung berdegup lebih kencang.
Ia tahu suaminya sudah masuk kamar. Ia bahkan bisa mendengar setiap langkah lelaki itu dengan jelas. Namun, untuk saat ini, ia tidak ingin berbicara ataupun berhadapan langsung dengannya.
Karena itu, Mikha memilih berpura-pura tidur.
“Sayang,” panggil Pras sekali lagi sambil menggoyangkan bahunya perlahan. “Tidurmu cepat banget. Aku belum sempat ngobrol sama kamu.”
Mikha tetap diam.
Pras mendekat, lalu mengecup keningnya.
“Aku kangen, tahu.”
Kalimat sederhana itu justru membuat hati Mikha terasa semakin sakit.
Dulu, mendengar ucapan seperti itu akan membuatnya tersenyum malu. Ia akan berbalik, memeluk Pras, lalu menghabiskan waktu berdua sampai larut malam.
Akan tetapi, malam ini, ia hanya bisa menahan napas agar suaminya tidak menyadari bahwa dirinya masih terjaga.
Pras kemudian berbaring di sampingnya.
Beberapa saat berlalu sebelum lelaki itu kembali membuka suara.
“Sayang, aku mau minta hakku, nih.”
Tubuh Mikha seketika menegang.
Ia tahu betul apa yang dimaksud Pras. Sebagai suami istri, mereka memang terbiasa menghabiskan malam bersama. Pras juga tidak pernah menyembunyikan keinginannya untuk bermesraan dengan sang istri.
Namun, setelah mengetahui rencana perceraian yang sedang disiapkan lelaki itu, Mikha merasa tidak sanggup berpura-pura menikmati kedekatan mereka.
Bagaimana mungkin ia membiarkan Pras memeluknya seolah-olah masih mencintainya, sementara di belakangnya lelaki itu mungkin sedang membangun masa depan bersama perempuan lain?
“Sayang, bangun, dong.”
Pras menyentuh lengan Mikha lagi.
Mikha sengaja mengeluarkan suara gumaman kecil, seolah sedang terganggu oleh tidurnya.
“Hmm ....”
Kemudian, ia menarik selimut hingga menutupi bahunya dan tetap membelakangi Pras.
Pras terdiam sejenak.
“Kamu benar-benar tidur, ya?”
Mikha tidak menjawab.
Ia bahkan sengaja mengatur napasnya agar terdengar teratur.
Pras akhirnya mengembuskan napas pelan. Ia mengira Mikha memang terlalu mengantuk untuk menanggapi ajakannya.
“Ya sudah. Tidur saja, deh. Besok kita ngobrol lagi.”
Mikha hampir menangis mendengar ucapan itu.
Betapa mudahnya Pras mengalah malam ini. Padahal, jika saja ia tahu alasan sebenarnya, mungkin lelaki itu akan mempertanyakan perubahan sikap istrinya.
Atau mungkin justru tidak peduli sama sekali.
Mikha tidak tahu.
Ia hanya ingin malam itu segera berlalu.
Namun, ketika suasana kamar mulai tenang, sebuah suara tiba-tiba memecah keheningan.
Ponsel Pras berdering.
Lelaki itu langsung meraih benda tersebut dari atas nakas. Begitu melihat layar, ekspresinya berubah sesaat.
Pras terdiam sebelum akhirnya bangkit dari ranjang.
Mikha yang masih berpura-pura tidur merasakan dadanya berdebar hebat.
Siapa yang menelepon suaminya selarut ini?
Ia berusaha mengabaikan rasa curiga yang mulai muncul. Bisa saja telepon itu berasal dari rekan kerja Pras atau seseorang yang memiliki urusan penting dengannya.
Namun, suara Pras berikutnya membuat pikirannya semakin kacau.
“Halo?”
Pras berjalan menjauh dari ranjang, kemudian berdiri dekat jendela.
“Iya, aku sudah di kamar.”
Mikha menelan ludah.
Mengapa Pras harus menjelaskan bahwa dirinya sudah berada di kamar?
Lelaki itu kembali berbicara dengan suara yang lebih pelan.
“Sekarang nggak bisa. Besok saja, ya.”
Hening sejenak.
Pras melirik ke arah ranjang, memastikan Mikha masih terbaring dengan mata terpejam.
Setelah itu, ia melanjutkan percakapannya.
“Jangan begitu. Aku sedang sama istri aku.”
Kalimat itu membuat jantung Mikha seolah berhenti berdetak.
Istri aku.
Pras menyebutnya dengan begitu mudah, seolah status tersebut masih menjadi alasan yang cukup untuk membatasi percakapannya dengan seseorang di ujung telepon.
Lalu, siapa orang yang meneleponnya?
Dan mengapa lelaki itu terdengar begitu berhati-hati?
Mikha ingin sekali bangkit dan menanyakan semuanya. Ia ingin merebut ponsel itu, melihat nama yang tertera di layar, lalu memastikan apakah kecurigaannya selama ini benar.
Namun, ia takut.
Takut jika nama yang muncul di layar ponsel itu benar-benar milik perempuan yang selama ini menjadi alasan di balik rencana perceraian mereka.
“Sudah, nanti aku hubungi lagi,” ujar Pras sebelum mengakhiri panggilan.
Lelaki itu berdiri diam selama beberapa detik, lalu kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
Mikha segera memejamkan mata lebih rapat ketika merasakan Pras kembali mendekati ranjang.
Pras berbaring di sampingnya, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka.
“Dasar,” gumamnya pelan. “Istri sendiri malah tidur duluan.”
Ia terkekeh kecil sebelum akhirnya memeluk Mikha dari belakang.
Tubuh Mikha kembali menegang.
Aroma parfum Pras yang biasanya membuatnya merasa nyaman kini justru mengingatkannya pada kemungkinan bahwa lelaki itu mungkin juga menggunakan parfum yang sama ketika bertemu perempuan lain.
Pikiran itu membuat perutnya terasa mual.
Ia ingin melepaskan pelukan tersebut, tetapi tidak berani bergerak terlalu banyak.
“Selamat tidur, Sayang,” bisik Pras di dekat telinganya.
Mikha menggigit bibir, menahan air mata yang mulai menggenang.
Beberapa menit kemudian, napas Pras terdengar semakin teratur. Lelaki itu akhirnya tertidur, masih dengan satu tangan melingkar di pinggang istrinya.
Sementara itu, Mikha tetap terjaga dalam kegelapan.
Pikirannya terus kembali pada percakapan singkat yang baru saja didengarnya.
Sekarang nggak bisa. Besok saja.
Jangan begitu. Aku sedang sama istri aku.
hari ini 4 bab ya kak
penasaran
menanti pembalasan istri sah
dan penyesalan suaminya 🤭🤭