NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERTEMU BOS AGENSI

Malam semakin larut. Para tamu mulai berpindah ke area utama karena acara inti segera dimulai. Richard dan Margaret menjadi pusat perhatian para tamu saat keduanya memberikan kata sambutan dan ucapan terima kasih untuk semua orang yang telah berhadir.

Setelah acara inti selesai, pesta kembali menkadi lebih santai. Semua orang saling menyapa karena memang para undangan yang datang saling mengenal. Maxime menerima sapaan dari beberapa rekan bisnisnya.

"Maxime Sinclair."

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menghampiri mereka. "Senang bertemu denganmu malam ini."

Maxime menyambutnya dengan jabat tangan.

"Tuan Harrison. Saya juga senang bertemu dengan Anda."

Mereka kemudian berbincang mengenai beberapa agenda perusahaan, termasuk perkembangan investasi yang sedang dikerjakan bersama. Elma berdiri di samping Maxime, sesekali memberikan senyum sopan kepada lawan bicara suaminya. Di tengah percakapan itu, seseorang kembali menghampiri mereka. Elma mengenali pria tersebut. Dia adalah bos agensi tempat Evelyn bernaung. Pria itu tampak sedikit terkejut ketika melihat Maxime berdiri bersama Elma. Namun, ekspresinya segera berubah menjadi senyum ramah.

"Tuan Sinclair. Sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda malam ini."

Maxime mengangguk singkat. "Selamat malam."

Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Elma. "Nona Laurent."

Elma membalas sapaan tersebut dengan sopan.

"Selamat malam, Tuan."

"Nyonya Sinclair" Sela Maxime, ia ingin pria itu memperbaiki panggilan untuk istrinya.

"Oh, ya. Maaf. Nyonya Sinclair" Ucap bos itu kembali.

Elma hanya tersenyum.

"Saya dengar Anda baru saja menyelesaikan sebuah perkara yang cukup merepotkan."

Elma sedikit terkejut. "Perkara yang mana?"

Pria itu tersenyum kecil. "Tentang Evelyn. Saya rasa Anda tentu tahu maksud saya."

"Oh, tentu. Saya memang menangani perkara tersebut."

"Menarik sekali."

Elma tidak memahami maksud dari nada bicaranya. Ia hanya tersenyum sebagaimana seorang profesional ketika bertemu dengan seseorang yang pernah menjadi bagian dari urusan pekerjaannya.

Pria itu kemudian menoleh kepada Maxime.

"Keluarga Sinclair memang selalu memiliki cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan."

Maxime langsung menjawab. "Setiap persoalan memiliki penyelesaiannya masing-masing."

"Benar. Tetapi tidak semua orang memiliki pengaruh sebesar keluarga Sinclair."

Pria itu tertawa kecil sebelum kembali menatap Elma. "Anda beruntung, Nona Laurent. Oh maaf, saya lupa. Nyonya sinclair".

Elma mengangkat pandangannya. "Maaf?"

Pria itu tersenyum semakin lebar. "Anda beruntung bisa masuk ke dalam keluarga Sinclair."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat Elma merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Ia menatap pria tersebut beberapa detik. "Apa maksud Anda?"

"Ah, tidak ada maksud khusus. Saya hanya mengatakan apa yang saya pikirkan." Pria itu kembali tersenyum, seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

Namun, Elma tidak bisa mengabaikan perubahan kecil dalam sikapnya. Ada sesuatu dalam cara pria itu berbicara yang membuatnya merasa bahwa ucapan tersebut bukan sekadar pujian.

Maxime yang berdiri di sampingnya segera menyadari perubahan ekspresi Elma. Ia tahu betul bagaimana istrinya memperhatikan setiap detail dalam sebuah percakapan. Sebagai seorang pengacara, Elma terbiasa membaca maksud tersembunyi di balik perkataan seseorang. Dan pria di hadapan mereka baru saja mengatakan sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya.

Sebelum Elma sempat melanjutkan pertanyaan, Maxime mengambil alih pembicaraan. "Tuan Harrison, mengenai pembahasan kita tadi, saya rasa kita bisa melanjutkannya di pertemuan berikutnya."

Pria yang sejak tadi bersama mereka mengangguk. "Tentu. Saya akan menunggu kabar dari tim Anda."

Maxime kemudian menoleh kepada bos agensi Evelyn. "Selamat menikmati malam Anda."

"Anda juga, Tuan Sinclair." Pria itu mengangguk sopan sebelum berpamitan.

Elma masih sempat memperhatikan punggungnya yang menjauh di antara kerumunan tamu. Maxime menyentuh ringan punggung tangan Elma.

"Kita perlu menyapa beberapa tamu lainnya."

Elma menoleh. "Maxime."

"Hm?"

"Apa maksud ucapannya tadi?"

Maxime menatapnya sesaat.

"Ucapan yang mana?"

"Katanya aku beruntung bisa masuk ke dalam keluarga Sinclair."

Maxime terdiam sepersekian detik sebelum menjawab. "Mungkin dia hanya sedang memberikan pujian."

Elma mengernyit. "Menurutmu begitu?"

"Ya. Tidak semua perkataan orang perlu dipikirkan terlalu jauh."

Elma memandang suaminya. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari cara Maxime menjawab. Terlalu cepat, terlalu tenang, seolah-olah ia sengaja tidak ingin membahasnya.

Namun, Elma tidak langsung mendesak. "Baiklah."

Maxime mengulurkan lengannya. "Temani aku menyapa beberapa rekan bisnis Papa."

Elma menerima uluran tersebut. Mereka kembali berjalan menyusuri ruang utama dan menyapa beberapa tamu yang telah menunggu untuk berbincang dengan Maxime. Namun, pikiran Elma belum sepenuhnya kembali pada suasana pesta. Ia teringat kembali pada kasus Evelyn.

Pembatalan tuntutan yang begitu mendadak. Sikap agensi yang berubah tanpa penjelasan memadai. Kemudian ucapan bos agensi yang seolah-olah mengaitkan penyelesaian perkara itu dengan nama besar keluarga Sinclair. Semuanya terasa janggal.

Sebagai seorang pengacara, Elma tahu bahwa sebuah perkara tidak seharusnya berakhir hanya karena seseorang memiliki pengaruh besar. Selalu ada alasan, pertimbangan, atau kesepakatan di balik keputusan hukum. Dan kali ini, ia merasa ada bagian dari cerita yang belum diketahuinya.

Sementara itu, Maxime tetap berjalan di sampingnya dengan ekspresi tenang. Pria itu sesekali memperkenalkan Elma kepada rekan bisnisnya, berbicara mengenai perusahaan, dan menanggapi berbagai pertanyaan dengan sikap berwibawa seperti biasanya. Tidak ada yang terlihat berbeda. Namun, di balik ketenangan tersebut, Maxime tahu bahwa Elma telah menangkap sesuatu. Ia mengenal istrinya dengan cukup baik untuk memahami bahwa pertanyaan yang belum terjawab tidak akan begitu saja hilang dari pikirannya.

Maxime berharap Elma tidak terlalu jauh mencari tahu tentang perkara Evelyn. Sebab, ada hal-hal yang memang tidak harus ia ketahui. Bukan karena Maxime meragukan kemampuan Elma untuk memahaminya, melainkan karena ia tahu bahwa kebenaran di balik pembatalan tuntutan itu jauh lebih rumit daripada yang terlihat. Maxime melirik Elma sekilas, perempuan itu masih tersenyum ketika menyapa seorang tamu, tetapi pikirannya jelas sedang berada di tempat lain. Maxime menarik napas pelan, malam itu seharusnya menjadi malam yang menyenangkan bagi mereka untuk membangun kedekatan. Dan Maxime tidak ingin persoalan apapun merusak kebahagiaan sederhana yang perlahan mulai mereka bangun kembali.

☆

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!