NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

KEBANGKITAN JIWA TERLARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KJT 12

Deretan pohon pinus berukuran raksasa menyambut kedatangan iring-iringan kereta saat memasuki kaki Pegunungan Canglan. Udara pegunungan yang dingin dan kering bertiup membawa aroma getah kayu, membelai pelataran batu alam yang membentang luas di depan gerbang transit luar. Tempat ini merupakan titik perhentian terakhir, lokasi bertemunya seluruh jalur perjalanan dari berbagai pelosok wilayah sebelum para calon murid mendaki ribuan anak tangga menuju kompleks utama Akademi Canglan.

Kereta kayu yang ditumpangi Shen Jue dan Ruan Xi'er berhenti gemerincing di sudut barat pelataran. Begitu pintu kabin terbuka, Xi'er melompat turun dengan gesit, menghirup dalam-dalam hawa dingin pegunungan yang menyegarkan dada.

"Wah, ramai sekali!" seru Xi'er sambil memutar badannya, mengamati ratusan anak seusianya yang memadati pelataran batu.

Di tengah riuhnya suasana, kelompok-kelompok murid asal kota besar tampak menguasai area-area terbaik. Mereka menduduki paviliun kayu yang teduh dan bangku-bangku batu berukir, memamerkan pakaian jubah sutra mahal serta perhiasan batu giok yang memantulkan sinar matahari sore.

Shen Jue melangkah turun dari kereta dengan tenang, merapikan buntalan kain abu-abunya yang tersampir ringkas di bahu. Matanya yang gelap bergerak mengamati sekeliling dengan cermat. Pengalaman masa lalunya membuat ia serta-merta mengenali dinamika kasta informal yang sedang terbentuk secara alami di pelataran tersebut. Anak-anak dari klan kaya sibuk membangun pengaruh, sementara anak-anak asal desa terpencil cenderung berkerumun canggung di pinggiran.

Saat Shen Jue dan Xi'er berjalan mendekati area sumur batu di sudut paviliun utama, sebuah bentakan keras bergelombang tiba-tiba memecah keriuhan di sekitar mereka.

"Bocah udik, kamu tidak punya telinga ya?!" seru seorang remaja bertubuh tinggi besar berbalut jubah biru kemewahan. "Bangku batu ini sudah dipesan oleh rombongan Tuan Muda Lu Fan! Cepat angkat pantatmu sebelum aku lempar kamu keluar!"

Xi'er menghentikan langkahnya, menoleh penasaran ke arah sumber keributan. "Ada apa di sana?"

Shen Jue ikut menoleh. Di atas sebuah bangku batu panjang dekat sumur, tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun duduk menyendiri. Anak itu bertubuh tegap dengan bahu lebar yang sangat kokoh untuk usianya. Pakaian yang dikenakannya hanyalah rompi linen kasar berwarna kelabu yang sudah agak kusam pada bagian lipatan lengannya. Di samping tubuhnya, bersandar sebilah senjata panjang yang terbungkus rapat oleh kain hitam tebal dari pangkal hingga ke ujungnya.

Anak bertubuh tegap itu memiliki rahang tegas dan alis tebal yang menunduk lurus. Yang menarik perhatian Shen Jue adalah ekspresi wajah anak itu—kaku, datar, dan sama sekali tidak memperlihatkan guncangan emosi sedikit pun meski sedang diintimidasi oleh tiga murid kota sekaligus.

"Bangku ini kosong saat aku duduk," ucap anak ber-linen kelabu itu dengan suara yang berat, dalam, dan tanpa getaran takut. "Ini tempat umum. Siapa cepat, dia yang dapat."

Remaja jubah biru—salah satu pengikut Lu Fan dari Kota Wushan—langsung memerah padam wajahnya mendengar jawaban tersebut. "Kurang ajar! Kamu berani melawan kami?!"

Lu Fan sendiri melangkah maju dari balik kerumunan dengan pergelangan tangan kanan yang masih tampak agak kaku akibat kejadian di pos istirahat sebelumnya. Tatapan mata Lu Fan berkilat benci saat melihat ada anak lain yang berani mengabaikan otoritas klannya.

"Usir dia," perintah Lu Fan dengan nada dingin dan penuh dendam. "Tunjukkan pada bocah tidak berpendidikan ini bagaimana tata krama di kota besar."

Remaja jubah biru itu tersenyum culas. Ia melangkah maju dua tindakan, lalu memanggil energi rohnya. Pendar cahaya perunggu membumbung dari lengannya, membentuk bayangan perisai besi pendek yang mengincar bahu anak bertubuh tegap itu untuk mendorongnya paksa dari bangku.

Banyak murid dari desa lain menahan napas cemas, membayangkan anak ber-linen kelabu itu akan terlempar jatuh dan dipermalukan.

Namun, anak itu sama sekali tidak bergerak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kanannya yang kekar, menggenggam bagian tengah senjata terbungkus kain hitam itu, lalu menghentakkannya pelan namun tegas ke lantai batu di bawahnya.

Thuk!

Sebuah dentuman rendah menggema halus. Lantai batu alam di sekitar bangku bergetar tipis, membuang debu-debu halus ke udara. Walaupun senjata itu masih terbungkus kain rapat, hawa dingin yang teramat tebal dan bobot logam murni menguar mendadak dari sana, menciptakan dinding tekanan tak kasat mata yang menahan dorongan perisai perunggu milik lawan di udara.

Remaja jubah biru itu tertegun, melangkah mundur satu tindakan karena dorongan balik yang keras pada pergelangan tangannya. "A-apa ini?! Senjatanya berat sekali!"

Anak bertubuh tegap itu berdiri perlahan dari bangku batunya. Tinggi badannya melampaui rata-rata anak sebayanya, berdiri tegap bagai pilar besi yang ditancapkan ke dalam bumi. Matanya menatap lurus ke arah Lu Fan dan rombongannya tanpa kejipan.

"Batu ini keras," kata anak itu dengan wajah kaku bagai batu pahatan. "Gigi kalian bisa patah kalau mencoba memindahkanku secara paksa."

"Wah, anak itu kaku sekali!" bisik Xi'er terkagum-kagum di samping Shen Jue. "Tapi nyalinya besar juga! Padahal dia sendirian menghadapi rombongan Kota Wushan."

Shen Jue menyipitkan matanya, mengamati jalinan energi yang terpancar dari balik bungkus kain hitam di tangan anak tersebut. Insting master tempa di dalam dirinya segera mengenali karakteristik unik material senjata tersebut.

"Itu Roh Senjata jenis Tombak Besi Hitam," analisis Shen Jue pelan, suaranya mengalir jernih. "Logamnya sangat padat dan berat alami. Pemiliknya punya kestabilan fisik yang luar biasa untuk menopang bobot seberat itu, tapi gaya bertahannya terlalu kaku dan membuang-buang dorongan pernapasan."

Anak bertubuh tegap itu rupanya memiliki pendengaran yang amat tajam. Begitu mendengar ucapan Shen Jue, matanya yang tadi menatap lurus ke arah musuh mendadak bergulir pelan, menatap lurus ke arah Shen Jue dengan binar keheranan yang samar. Ia tidak menyangka ada orang yang mampu menebak wujud dan jenis roh senjatanya secara tepat hanya dari getaran bungkus kainnya.

Lu Fan yang merasa dipermalukan untuk kedua kalinya dalam sehari semakin hilang kesabaran. "Bocah bodoh! Kamu pikir dengan tombak besi tua kasar itu kamu bisa menang dari kami?!"

Lu Fan mengepalkan tangannya, hendak memaksakan aliran api dari rohnya kembali meski pergelangan tangannya masih terasa nyeri. Dua pengikutnya pun ikut bersiap mencabut senjata mereka.

Situasi di sudut pelataran itu menjadi sangat tegang, siap meledak menjadi perkelahian massal sebelum masuk akademi.

Namun, anak bertombak itu tidak menggentar sedikit pun. Ia memindahkan pegangan tangannya ke pangkal tombak, bersiap membuka ikatan kainnya dengan gerakan tenang. "Kalau kalian memang mau bertarung, ayo. Tapi ingat, sekali tombakku keluar dari kain, aku tidak tahu cara menahan bobotnya untuk tidak mematahkan tulang kalian."

Keteguhan yang begitu polos namun mematikan dalam suara anak itu berhasil menghentikan langkah para pengikut Lu Fan. Mereka bisa merasakan bahwa anak ini bukan sedang menggertak, melainkan benar-benar terlalu keras kepala untuk memikirkan risiko atau mundur selangkah pun.

Sebelum bentrokan fisik pecah, dentang lonceng perunggu berukuran raksasa bergaung nyaring dari arah puncakan tangga batu pegunungan.

Denggg! Denggg!

Suara lonceng itu bergema membelah udara dingin pegunungan, disusul oleh suara lantang Instruktur Lin Dong yang berdiri di atas panggung tinggi pelataran.

"Seluruh calon murid baru! Segera berkumpul sesuai nomor rombongan kalian!" seru Instruktur Lin Dong berwibawa. "Pemeriksaan berkas dan pembagian kelompok asrama akan segera dimulai!"

Lu Fan menghentakkan kakinya gusar ke lantai batu, melempar pandangan penuh dendam bergantian ke arah anak bertombak dan Shen Jue. "Sialan! Awas kalian begitu kita masuk ke dalam akademi nanti!"

Rombongan anak-anak kota itu akhirnya berbalik dan melangkah pergi menuju barisan pemeriksaan dengan canggung.

Pelataran kembali tenang. Anak bertubuh tegap itu menghembuskan napas panjang, lalu perlahan mengikat kembali tali kain hitam yang membungkus tombaknya dengan telaten. Ia menyandarkan kembali tombak berat itu ke bahunya, lalu melangkah berjalan melewati tempat Shen Jue dan Xi'er berdiri.

"Tombak Besi Hitam adalah senjata yang bagus," kata Shen Jue datar saat anak itu melintas di sampingnya. "Tapi kalau kau terlalu kaku menahan bobotnya dengan otot bahu, tebasan pertamamu akan selalu terlambat sepersekian detik."

Anak bertubuh tegap itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh lurus menatap Shen Jue, matanya yang tegas meneliti wajah pemuda berkerudung linen abu-abu di depannya.

"Namaku Gongsun Zhi," ucap anak itu dengan suara berat dan jujur. "Tombakku memang Besi Hitam. Dan kau... bagaimana kau bisa tahu bahuku kaku?"

Xi'er tertawa renyah, melangkah mendekat dengan ramah. "Shen Jue ini pintar sekali! Dia bisa tahu kelemahan orang cuma dengan melihat pergerakannya sedikit. Namaku Ruan Xi'er!"

Gongsun Zhi menatap Xi'er sejenak, lalu mengangguk kaku. "Gongsun Zhi. Salam kenal."

Shen Jue menatap anak di depannya dengan sudut bibir terangkat tipis. Di balik sifatnya yang teramat kaku dan keras kepala seperti batu karang, Shen Jue dapat merasakan kejujuran murni serta potensi tempur yang luar biasa dari Gongsun Zhi.

"Aku Shen Jue," pungkasi Shen Jue singkat sambil menunjuk ke arah barisan pemeriksaan yang mulai bergerak naik. "Ayo berjalan bersama. Jalur tangga menuju gerbang akademi masih sangat panjang."

Gongsun Zhi mengangguk pelan tanpa banyak bicara lagi, melangkah di samping Shen Jue dan Xi'er menaiki anak tangga batu pertama menuju Akademi Canglan. Tiga anak dari latar belakang yang berbeda itu kini mulai berjalan bersama, menyongsong takdir baru yang menanti di balik gerbang akademi.

1
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor.........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ..........
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ....,......
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!