NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Lonceng ketiga berbunyi di atas lapangan latihan, dan dari balik rumpun semak di belakang tribun kayu, Yu Tian bisa mendengar riuh ratusan orang yang berdesakan mencari tempat.

Murid-murid lama berteriak memanggil teman, penjual kacang rebus menyusuri barisan sambil menawarkan dagangannya, dan sesekali tawa pecah dari barisan murid dalam di teras timur.

Yu Tian berjongkok di antara ranting-ranting berduri dengan kantong kain di pangkuan, dan jemarinya menghitung sisa inti monster yang masih hangat. Sembilan belas butir. Ia mengambil empat dan menyusunnya membentuk lingkaran kecil di atas tanah gembur, lalu duduk bersila di tengahnya.

'Sepuluh inti kemarin sudah membawa Qi-ku sampai di ujung tahap Pengumpulan Qi. Empat ini harus cukup untuk menabrak dindingnya. Kalau tidak, aku akan naik panggung dengan Qi yang nanggung.' Ia menarik napas panjang dan menurunkan hawa ke bawah pusar dengan cara yang sudah ia sempurnakan.

Inti pertama retak menjadi serbuk, dan Qi yang keluar langsung menyedot masuk ke perutnya tanpa perlawanan. Inti kedua menyusul, lalu ketiga, dan tubuhnya berdenyut hangat dari ubun-ubun sampai telapak kaki. Dantiannya bergolak, dan Qi yang tadinya bening mulai memadat, menggumpal, berputar lebih lambat tetapi jauh lebih berat. Dinding di depannya menahan sebentar, tipis dan liat, lalu Yu Tian menekannya dengan seluruh inti keempat.

Krak.

Bunyi itu hanya terdengar di dalam tubuhnya. Sesuatu di bawah pusarnya pecah, dan dari retakan itu mengalir gelombang Qi yang lebih pekat dari apa pun yang pernah ia rasakan di tubuh ini. Tulang punggungnya bergemeretak berurutan dari bawah ke atas, dan kulit lengannya berdenyut panas. Ia membuka mata dan menghembuskan napas panjang, dan embusan itu membuat daun semak di depannya bergetar. Seluruh prosesnya tidak sampai selama waktu menyeduh teh.

Yu Tian berdiri pelan, menepuk lutut dan bahu dari debu, lalu mengepalkan tangannya. Udara di sekitar kepalan itu berdesis pelan.

'Fondasi Roh tingkat awal. Hanya dalam beberapa hari.' Ia tidak tersenyum. Ia menatap telapak tangannya lama, merasakan setiap aliran Qi yang menjalar tanpa hambatan di meridian yang rapi. 'Tubuh Suci ini benar-benar keterlaluan. Seandainya aku memilikinya di kehidupan pertamaku, Kaisar Dao sudah kulewati sebelum aku sempat bosan.'

Dari lapangan, suara Gu Chen menggema, dan namanya terbawa angin. "Pertarungan semi final berikutnya. Yu Tian, nomor dua ratus empat belas, melawan Lan Shuang!"

Yu Tian menyelinap keluar dari semak, membersihkan daun kering dari bahunya, dan berjalan menuju panggung dengan tangan di dalam lengan jubah.

Murid-murid yang berdesakan di depan tali merah membuka jalan tanpa ia minta, dan bisikan mereka terdengar di sela-sela langkahnya.

"Itu dia, yang mengalahkan Han Bo."

"Kali iniLan Shuang yang dia lawan. Habislah dia."

"Lan Shuang itu jenius, kan? Katanya Tetua dalam sudah dua kali menawarinya naik jadi murid dalam, tapi dia menolak mentah-mentah."

"Mungkin dia cuma ingin pamer," sahut suara lain di belakangnya. "Menang di depan semua murid luar supaya semua orang tahu dia pantas lebih tinggi."

Di ujung panggung, seorang gadis berdiri dengan punggung tegak. Jubah birunya yang berpotongan sederhana jatuh sampai ke mata kaki, rambut hitamnya diikat tinggi dengan pita putih, dan wajahnya yang pucat tidak bergerak sedikit pun ketika Yu Tian melompat naik.

Udara di sekeliling tubuhnya berembun, dan genangan kecil di dekat kakinya membeku tipis di tepian. Tangannya terlipat di depan perut dan matanya yang jernih menatap lurus ke depan tanpa berkedip.

Sebelum Gu Chen sempat menurunkan tangan tanda mulai, bisikan di tribun mendadak berubah. Seorang murid lama menunjuk ke arah Yu Tian dengan jari gemetar. "Tunggu. Qi-nya... bukankah kemarin dia masih Pengumpulan Qi?"

Murid di sebelahnya menyipitkan mata, lalu wajahnya memucat. "Itu hawa Fondasi Roh. Dia baru beberapa hari di sekte!"

Dengung kaget menyebar dari tribun ke seluruh lapangan. Yu Tian mengabaikannya dan berhenti tiga langkah dari gadis itu, dan di tribun atas, Tetua Shen meletakkan cangkirnya perlahan tanpa bunyi.

Mata gadis itu akhirnya bergerak. Tatapannya turun dari wajah Yu Tian ke telapak tangannya, lalu naik lagi, dan bibirnya yang tipis terbuka sedikit.

"Aku Lan Shuang." Suaranya jernih dan dingin, tanpa naik turun sedikit pun. "Kau punya bakat, itu kuakui. Tapi aku sudah di Fondasi Roh tingkat enam dan tidak ingin melukaimu. Lebih baik kau menyerah."

Yu Tian tersenyum, dan senyum itu jauh lebih tenang daripada yang diharapkan orang. "Bagus. Karena kamu memang tidak bisa melukaiku."

Alis gadis itu berkedut sekali. Ia mengangkat tangan kanan, dan genangan air di sekeliling kakinya naik ke udara, berputar, lalu menyatu menjadi sebilah tombak air sepanjang lengan yang menghunjam lurus ke dada Yu Tian.

Yu Tian memiringkan badan, dan tombak itu menyapu tempat jantungnya tadi berada. Tombak kedua menyusul ke bahu, lalu ketiga ke pinggang, dan ia menghindari semuanya dengan langkah-langkah kecil, tanpa mengangkat tangan.

Ia berhenti di tepi panggung, menepuk lengan bajunya yang basah oleh percikan, dan memiringkan kepala ke arah Lan Shuang. "Sudah?"

1
🌸athy🌸
semangat nulisnya author....
🌸athy🌸
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
🌸athy🌸
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!