Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 — Batu Pengukur yang Retak
Pagi baru saja tiba ketika Wang Dahu membuka matanya.
Setelah merapikan barang-barangnya, ia keluar dari kamar dan mendapati ayahnya sudah menyiapkan sarapan sederhana. Semangkuk bubur hangat dan beberapa potong sayuran tersaji rapi di atas meja.
“Duduklah dan makan dulu,” kata Wang Shun lembut.
Wang Dahu duduk, lalu memandang sang ayah dengan tatapan mantap. “Ayah, aku akan berangkat hari ini. Jika semuanya berjalan lancar, aku akan diterima menjadi murid sekte.”
Wang Shun mengangguk pelan. Meski ada kilat kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan di matanya, ia tidak berusaha menahan langkah putranya.
“Di luar sana, orang-orang tidak akan memperlakukanmu sebaik Ayah,” pesan Wang Shun sungguh-sungguh. “Jangan mudah memercayai siapa pun, dan jangan mencari masalah yang tidak perlu.”
Wang Dahu menyeringai tipis. “Kalau seseorang sengaja mencari masalah denganku?”
“Kalau begitu, gunakan kepalamu sebelum tinjumu.”
“Baik. Kalau kepalaku tidak cukup, baru kugunakan tinju.”
Wang Shun menggelengkan kepala sambil tertawa kecil, menghapus sedikit ketegangan di antara mereka.
Setelah menghabiskan sarapan, Wang Dahu berpamitan. Ia membawa pisau pendek warisan ayahnya, beberapa keping uang tabungan, serta sisa Rumput Tiga Daun Merah yang disimpan dengan sangat hati-hati.
Kali ini, ia tidak lagi pergi sebagai pemuda gemuk yang selalu menundukkan kepala.
Ia melangkah keluar sebagai seorang kultivator yang siap mengubah takdirnya sendiri.
Perjalanan menuju Kota Qingyuan memakan waktu beberapa jam.
Di sepanjang jalan, Wang Dahu memanfaatkannya untuk berlatih. Sesekali ia berhenti sejenak guna mengatur pernapasan dan mengalirkan energi spiritual menuju telapak tangannya.
Namun, hasilnya masih jauh dari sempurna.
Energi yang baru terbentuk itu hanya bertahan dalam beberapa tarikan napas sebelum tercerai-berai.
“Lagi-lagi gagal,” gumamnya kecewa.
Di dalam ruang kesadarannya, suara si iblis kuno mendengus malas. “Kau baru sadar kalau menghirup energi spiritual seperti orang kelaparan tidak otomatis membuatmu paham ilmu kultivasi?”
Wang Dahu mengangkat sebelah alisnya. “Kalau kau begitu hebat, kenapa tidak memberiku petunjuk yang berguna?”
“Aku tidak punya kewajiban mendidikmu!”
“Benar juga. Kau kan cuma penumpang gelap di tubuhku.”
🔌—!”
Wang Dahu tersenyum puas dalam hati, lalu kembali fokus berlatih.
Kali ini ia tidak memaksakan aliran energinya bergerak terburu-buru. Ia menyelaraskan napas, membiarkan energi itu mengalir lembut mengikuti ritme tubuhnya, lalu memusatkannya secara perlahan di telapak tangan.
Wushhh...
Seb lapisan tipis energi akhirnya terbentuk. Meski hanya bertahan beberapa detik, itu adalah sebuah kemajuan nyata.
Wang Dahu mengangguk kecil. Ia mulai memahami bahwa kekuatan sejati bukan sekadar memiliki cadangan energi yang besar, melainkan tahu bagaimana cara mengendalikannya secara presisi.
Menjelang siang, gerbang megah Kota Qingyuan tampak di kejauhan.
Tembok batu raksasa menjulang mengelilingi kota. Para pedagang, pemburu, dan kultivator hilir mudik melewati gerbang utama. Di atas langit kota, tampak beberapa burung spiritual terbang membawa penumpang melintas.
Baru saja Dahu mendekati gerbang, sekelompok pemuda berpakaian mewah melewatinya. Salah seorang dari mereka melirik pakaian sederhananya dengan tatapan merendah.
“Lihatlah, bahkan orang seperti itu berniat mengikuti seleksi sekte?” Pemuda itu terkekeh sinis. “Apakah dia mau jadi murid, atau sekadar mencari kerja sebagai kuli angkut barang?”
Pemuda itu adalah Zhou Tianhe, putra dari salah satu keluarga kultivator terpandang di wilayah sekitar Kota Qingyuan.
Wang Dahu memilih abai dan terus melangkah.
Namun, Zhou Tianhe justru sengaja menghadang jalannya. “Bicaralah saat seseorang bertanya kepadamu!”
Wang Dahu mengangkat pandangannya tenang. “Kau sedang bertanya, atau sekadar ingin mendengar suara cemprengmu sendiri?”
Beberapa pengawal di belakang Zhou Tianhe sontak tertawa tertahan. Wajah Zhou Tianhe berubah masam kemerahan.
“Berani sekali kau!” Ia mengayunkan tangan, berniat mendorong dada Dahu.
Namun sebelum tangan itu menyentuh sasaran, Dahu bergeser selangkah dan memutar tubuhnya tipis. Dorongan itu meleset jauh. Karena kehilangan tumpuan, Zhou Tianhe terhuyung ke depan dan nyaris tersungkur jika temannya tidak sigap menahan lengannya.
Wang Dahu merapikan lengan bajunya yang kusut. “Kalau mau menghalangi jalan orang, pastikan dulu kakimu cukup kokoh untuk berdiri.”
Selepas berkata demikian, ia melangkah pergi melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun.
Zhou Tianhe mengepalkan tinjunya erat-erat, amarahnya membuncah hebat di hadapan publik. “, ya? Aku akan mengingat wajahmu itu!”
Sayangnya, Dahu sudah berjalan terlalu jauh untuk mendengarnya. Atau mungkin ia mendengarnya, namun sama sekali tidak peduli.
Kota Qingyuan jauh lebih riuh dan besar dari bayangan Wang Dahu.
Di sepanjang jalan utama berjajar toko pil obat, paviliun senjata, kios material spiritual, hingga rumah lelang dagang. Para kultivator tampak berlalu-lalang mendiskusikan teknik bela diri hingga lokasi sarang monster.
Dahu tidak menghamburkan uangnya untuk hal yang belum mendesak. Dari informasi yang ia kumpulkan di jalan, pendaftaran resmi calon murid sekte baru akan dimulai esok pagi.
Karena perutnya mulai keroncongan, ia memutuskan masuk ke sebuah rumah makan besar bernama Kedai Angin Musim Semi.
Suasana di dalam kedai sangat padat. Puluhan meja terisi penuh oleh pedagang, petualang, dan banyak pemuda seusianya yang mengenakan pakaian calon peserta seleksi.
Wang Dahu memilih meja kosong di sudut ruangan. “Pelayan, satu porsi daging rebus dan semangkuk nasi.”
Tak lama berselang, pesanannya tiba. Namun baru saja ia mengangkat sumpit, sebuah bayangan tubuh menutupi meja makannya.
“Hei, anak desa. Meja ini kami ambil.”
Dahu mendongak. Di hadapannya berdiri pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di pipi, didampingi dua pengikut di belakangnya. Dari auranya, pria itu berada di tingkat Pengumpulan Qi yang lebih tinggi dari Dahu.
“Aku tidak melihat namamu tertulis di atas meja ini,” jawab Dahu santai.
Pria itu menyeringai dingin. “Mulutmu tajam sekali untuk ukuran orang yang bahkan belum tentu lolos seleksi.” Ia menepuk meja keras-keras hingga mangkuk Dahu bergetar. “Serahkan makananmu dan enyah dari sini. Anggap itu biaya sewa karena kau sudah berani mengusik kami.”
Suasana kedai seketika meredup. Para pengunjung melirik tanpa berniat mencampuri urusan itu.
“Bukankah itu Guo Mang? Kudengar dia sudah mencapai tingkat keempat Pengumpulan Qi.”
“Pemuda di sudut itu cuma tingkat pertama. Cari mati namanya melawan Guo Mang.”
Dahu menatap mangkuk nasinya. Makanan itu dibelinya dengan keringatnya sendiri, namun ada orang arogan yang ingin merampasnya hanya karena merasa lebih kuat.
Ia menghela napas malas. “Kalau kau lapar, pesan sendiri. Jangan jadi pengemis yang merebut makanan orang lain.”
Wajah Guo Mang mengeras geram. “Sepertinya kau butuh pelajaran cara menghormati senior!”
Tangannya bergerak cepat mencengkeram kerah baju Dahu.
Namun Dahu bergerak lebih tangkas. Tangan kirinya mengangkat mangkuk untuk menyelamatkan makanannya, sementara tangan kanannya menekan pergelangan Guo Mang sambil melangkah kecil ke samping.
Gerakan itu sangat sederhana, namun dieksekusi tepat saat Guo Mang memindahkan titik tumpuan tubuhnya ke depan.
Guo Mang kehilangan keseimbangan. Tubuh kekarnya terhuyung keras melewati meja. Dahu sempat menepuk bahu pria itu seolah menolong, namun dorongan kecil itu justru membuat Guo Mang semakin kehilangan kendali hingga menabrak meja di belakangnya.
BRAK!
Mangkuk dan sumpit beterbangan. Kedai yang tadinya tegang sontak meledakkan tawa tertahan.
Guo Mang membeku, wajahnya merah padam menahan malu. “Kau... berani mempermainkanku?!” Ia melayangkan tinju bertenaga penuh.
Dahu menyambutnya dengan tenang. Ia mundur setengah langkah, membiarkan kepalan itu melintas tipis di samping bahunya, lalu memutar siku untuk menyenggol lengan Guo Mang.
Pukulan itu telak menghantam tiang kayu kedai.
DUK!
Sebelum Guo Mang sempat menarik lengannya, Dahu menyapu bagian belakang lutut pria itu dengan kakinya. Keseimbangan Guo Mang runtuh total hingga ia jatuh berlutut tepat di hadapan meja Dahu.
Dahu meletakkan kembali mangkuk nasinya. “Sudah. Sekarang kau boleh makan kalau memang selapar itu.”
Tawa penonton pecah tak tertahankan.
Di lantai dua kedai, tiga gadis muda berseragam sekte tengah memantau kejadian itu dari atas balkon.
“Pemuda itu baru tingkat pertama, tapi insting bertarungnya luar biasa,” komentar gadis berambut panjang dengan mata tajam. “Dia tidak adu tenaga, tapi memanfaatkan momentum lawan.”
Gadis ketiga yang duduk di sebelah mereka menutup mulutnya, menahan tawa geli melihat Guo Mang yang berlutut di bawah. “Lihat ekspresi wajah orang bertubuh kekar itu!” tawanya berderai jernih bagaikan lonceng perak.
“Kau sepertinya tertarik padanya?” goda rekannya.
“Mana ada,” sangkal gadis itu tersenyum manis. “Aku hanya penasaran apa yang akan dia lakukan besok.”
Di lantai bawah, Dahu menghabiskan makanannya tanpa memedulikan tatapan orang-orang, membayar tagihan, lalu melangkah keluar kedai.
Di dalam kepalanya, si iblis mendengus. “Gerakanmu tadi lumayan. Setidaknya kau tidak sebodoh kelihatannya.”
“Itu pujian?”
“Jangan mimpi!”
Dahu tersenyum tipis. Hari pertamanya di Kota Qingyuan berjalan jauh lebih menarik dari perkiraannya.
Malam tiba. Di sebuah tanah lapang sepi di luar kota, Dahu kembali menempa diri.
Ia melatih gerak kaki, sirkulasi pernapasan, dan memusatkan energi spiritual ke telapak tangannya. Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, lapisan energi di tangannya kini mampu bertahan jauh lebih lama.
Ia mulai mengerti bahwa teknik paling sederhana pun bisa menjadi senjata mematikan jika dieksekusi di detik yang tepat.
Tanpa ia sadari, di dalam ruang kesadarannya, salah satu rune kuno pada gerbang segel hitam mendadak berpendar samar sebelum kembali padam. Si iblis yang melihatnya tertegun heran, namun Dahu tidak ambil pusing. Ia menatap kerlip lampu kota di kejauhan dengan tekad membaja.
Esok adalah hari penentuan.
Keesokan paginya, lapangan seleksi dipenuhi ratusan pemuda berambisi.
Di barisan depan, para penguji berdiri mengawasi di samping sebuah batu hitam legam pengukur energi spiritual setinggi dada orang dewasa.
“Seleksi pertama menguji kapasitas dasar kalian!” umum seorang penguji senior tegas. “Jangan sombong hanya karena kalian sudah mencapai tingkat Pengumpulan Qi!”
Satu per satu peserta maju diuji. Ketika Zhou Tianhe meletakkan telapak tangannya di atas batu, pendar cahaya terang langsung menyebar ke seluruh permukaannya.
“Bagus. Lolos!” seru penguji.
Zhou Tianhe mengangkat dagunya bangga, lalu melirik tajam ke arah Dahu dengan seringai meremehkan.
Tibalah giliran Wang Dahu.
Ia melangkah maju dan menempelkan telapak tangannya di atas permukaan batu hitam tersebut.
Sesaat kemudian, hanya pendar cahaya yang redup yang muncul.
Beberapa peserta langsung tertawa mengejek.
“Hanya seterang itu?”
“Mental anak desa, lebih baik pulang saja!”
Dahu hendak menarik tangannya ketika batu hitam itu tiba-tiba bergetar keras.
Pendaran redup tadi mendadak berkedip liar, dan seketika—
KRAK!
Sebuah garis retakan tipis membelah bagian tengah batu hitam tersebut!
Senyum mengejek di wajah para peserta seketika membeku. Penguji senior di sampingnya melonjak bangkit dari kursinya dengan mata membelalak tak percaya.
“Apa yang kau lakukan?!” bentak penguji terkejut.
Dahu menarik tangannya perlahan. Cahaya padam, batu kembali tenang, namun retakan tipis itu tetap nyata terpampang di sana.
Penguji itu menatap Dahu lekat-lekat penuh selidik. “Siapa namamu?”
“Wang Dahu.”
Sang penguji terdiam sejenak sebelum menunjuk sisi kanan lapangan. “Kau... jangan pergi. Tetap berdiri di barisan khusus itu sampai seleksi selesai.”
Di kerumunan, Zhou Tianhe menyipitkan matanya penuh kedengkian.
Dan di dalam alam bawah sadar Dahu, rune pada gerbang segel hitam mendadak menyala jauh lebih terang daripada sebelumnya. Si iblis kuno terpaku menatapnya dengan rasa ngeri dan takjub yang bercampur aduk.
“Mustahil... Sebenarnya monster macam apa yang bersemayam di dalam raga bocah ini?!”