Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Revano Dharmawangsa.
Nama itu adalah pusat dari seluruh cerita—tokoh utama selain ashilla di novel Mini Love Garden, sebuah sosok yang selalu digambarkan tegas, dewasa sebelum waktunya, dan menyimpan sesuatu di balik sorot matanya. Di dalam novel, sudut pandang Revano pada adiknya, Alvian Dharmawangsa, tidak pernah benar-benar dijelaskan. Yang pembaca tahu hanya satu: setelah kematian Vian, Revano menjadi sosok yang jauh lebih protektif, terutama pada Ashilla—adik tiri mereka. Protektif sampai terkadang terasa obsesif, seolah ia takut kehilangan sekali lagi.
Dan kini, di dunia yang baru ditarik oleh narasi, Revano versi hidup dan berdaging berdiri di depannya.
Ia menatap lelaki itu dengan gugup. Bahkan jantungnya terasa berdetak tidak beraturan, seperti menabrak-nabrak tulang rusuknya tanpa jeda.
Revano lebih tinggi daripada yang pernah Vian bayangkan saat membaca atau menulis. Bahunya lebar, tubuhnya keras oleh otot yang terbentuk bukan dari gaya hidup, melainkan kebiasaan disiplin. Kulit Tan yang mengingatkan pada sang ayah, rambut ikal sedikit kemerahan yang memantulkan cahaya lampu ruangan, membuatnya tampak hangat sekaligus berbahaya.
Seolah dia adalah seseorang yang bisa merangkul Vian sampai remuk atau melindunginya sampai dunia tidak mampu menyentuh.
"Vian?" Suara itu dalam, berat, dan entah kenapa terdengar seperti suara yang sudah sangat lama ingin memanggil namanya.
Vian tersentak kecil tetapi mencoba tersenyum, meski bibirnya terasa kaku. “I… iya.”
Revano tidak bergerak mendekat, namun keberadaannya saja sudah menekan udara ruangan. Dari dekat, Vian bisa melihat detail yang tidak pernah ada dalam paragraf novel: garis rahang yang tegas, bulu mata lentik yang kontras dengan sorot mata tajam itu, dan yang paling mengganggu—tatapan itu. Tatapan yang menyimpan kehangatan aneh. Hangat, tapi nyaris menyakitkan.
“Heyy boys, kenapa masih di sini?” tanya Rangga, Daddy dari kedua saudara itu, sambil berjalan mendekat.
Vian dan Revano masih berdiri di pintu masuk, menunggu kedua orang tua mereka yang sedang menyiapkan kebutuhan Vian untuk dipindahkan kembali ke mansion.
Kedua saudara itu menoleh bersamaan. Rangga sudah siap dengan tas besar di satu tangan, sementara Diana datang di belakangnya, membawa tas kecil berisi obat-obatan yang harus diminum Vian. Melihat pemandangan anak-anaknya berdiri berdampingan seperti itu, pasangan itu tersenyum. ada kehangatan sederhana yang membuat hati mereka terasa penuh.
“Anak Daddy kenapa pada malu-malu kucing sih… kamu lagi, Bang? Nggak biasanya kamu canggung gini,” goda Rangga sambil mengacak rambut Revano dengan gemas.
Vian hanya melihat interaksi itu dalam diam, dan hatinya berdenyut aneh. Ia merasa… ingin diperhatikan. Ingin disentuh. Ingin diperlakukan seperti itu juga.
Karena di kehidupannya yang dulu, kasih sayang orang tua hanyalah ilusi. Mereka hidup, tetapi tidak untuknya. Tatapan asing itu satu-satunya yang ia ingat. Tatapan yang membuatnya memutuskan hidup sendiri, tanpa aturan, tanpa rumah, tanpa ikatan yang bisa menyakitinya.
“Sayang, ayo masuk,” panggil Rangga lembut.
Vian tersenyum kecil dan mengikuti dari belakang. Ia menatap setiap sudut ruangan—elegan, mewah, dan luas. Pot bunga besar tersebar di sudut-sudut ruangan, begitu rapi dan indah. Tangga putih melingkar ke lantai atas, kursi-kursi empuk tersusun tanpa cacat.
Vian tertegun, mulutnya terbuka kecil. Semua terlihat begitu… sempurna.
Di tengah kekagumannya, matanya menangkap sosok gadis kecil di ujung tangga. Gadis itu membeku, menatap Vian dengan mata yang melebar—campuran terkejut, bingung, dan sesuatu yang tak dapat ia pahami.
Vian tersenyum, berusaha menyapa. Namun gadis itu hanya diam, tatapannya tetap rumit.
Tangan kecilnya tiba-tiba digenggam oleh seseorang dari belakang. Revano muncul, menatap Vian tanpa kata, hanya dengan senyum kecil sebelum mengajaknya masuk ke ruang tamu.
Mereka duduk. Vian di samping Revano, sementara Rangga duduk di kursi single di depan mereka.
“Vian pasti asing ya sama rumah ini?” tanya Rangga dengan tatapan teduh.
Vian tidak tau harus menjawab apa.
“…Maaf.”
Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Kesunyian buyar ketika dua sosok wanita turun bersamaan, tangan mereka saling menggenggam. Diana tersenyum hangat sementara Ashilla berdiri di sampingnya dengan ekspresi manis—sangat berbeda dari ekspresi kosong yang Vian lihat sebelumnya.
“Sayang mommy, nungguin ya?” ucap Diana sambil mengusap lembut rambut anak-anaknya.
Ia duduk di samping Rangga dengan Ashilla di sisi lain.
“Vian, ini Ashilla. Kakak yang mommy ceritain kemarin.”
Ashilla mengangkat tangan kecilnya, melambai lembut.
“Hai, Vian,” sapanya manis.
“Hai, kak Shil,” jawab Vian, tersenyum.
Namun hatinya berdesir—senyum itu terasa aneh. Seolah ada yang ia sembunyikan.
“Vian mau sekolah homeschooling atau sekolah biasa bareng Bang Vano sama Kak Shilla?” tanya Rangga.
Vian mengingat kehidupan lamanya—sekolah di rumah, sakit, suntikan, ruang rumah sakit.
Mungkin kali ini, sekolah biasa akan berbeda.
Mungkin ia bisa punya teman… sosok yang ia rindukan.
“Dad… Vian mau sekolah biasa saja.”
Rangga tersenyum; ia sudah menduga.
“Baik. Daddy atur supaya kamu sekelas Kak Shilla.”
Vian terdiam. Ia melirik Ashilla. Di balik wajah cantiknya, Vian melihat kekhawatiran samar yang tidak disadari siapa pun.
“Gimana, Shilla? Jaga adik ya,” kata Rangga.
Ashilla tersenyum. Namun matanya kosong. Hanya Vian yang menangkap itu.
“Kak… are you okay?” tanya Vian.
Semua menoleh padanya, lalu ke arah Ashilla. Gadis itu tersenyum lagi, tapi giginya menggigit bibir—menahan sesuatu yang ingin meledak dari dalam dadanya.
“Mungkin Shilla capek. Shilla istirahat dulu ya,” ucap Diana.
Ashilla tidak menolak. Ia bangkit, berjalan menuju kamarnya.
Begitu pintu tertutup, langkahnya melemah. Air matanya turun, membasahi wajahnya. Sesekali terdengar isakan yang ia tahan.
“Pada akhirnya… posisiku benar-benar hilang di keluarga ini.”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan karena hanya di kamarnya, ia diizinkan menangis.