Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 02
PRIA BERMATA LAUTAN
New York — Mansion Marcano
Asap cerutu melayang perlahan di udara yang hening, menciptakan kabut tipis di ruangan yang luas itu. Vincenzo Marcano, pria berusia 60 tahun yang wajahnya terukir garis-garis tegas pengalaman dan kekuasaan, duduk di kursi berlapis kulit.
Ia merokok perlahan, tenang, seakan dunia di luar tembok tebal itu tidak berputar dengan cepat. Di seberangnya, di sofa lain yang berwarna gelap, duduk Alessandra — adik perempuannya, usianya tak jauh berbeda, wajahnya dingin, matanya menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai tebal.
Kesunyian itu berlangsung cukup lama, seakan masing-masing menimbang kata yang akan diucapkan. Hingga akhirnya Sandra memecah keheningan dengan suara yang datar namun berisi ketidaksetujuan yang mendalam.
"Pesan dari Irlandia sudah sampai," ucapnya, nada bicaranya dingin dan tajam. "McManaman menyetujui pernikahan itu. Damai antara dua keluarga."
Vincenzo mengembuskan asap panjang, tidak langsung menanggapi. “Jadi?”
"Kau percaya pada para bajingan itu?" tanya Sandra lagi, menoleh ke arah kakaknya. "Kieran McManaman dan semua orang di sisinya itu tidak bisa dipercaya, kakak. Mereka licik. Mereka menunggu celah untuk menghancurkan kita dari belakang."
Vincenzo meletakkan cerutunya di pinggiran piringan perak, suaranya berat, serak, khas pria yang sudah lama memegang kendali atas banyak hal.
"Apa pun rencana tersembunyi yang mereka simpan di kepala mereka, pernikahan itu akan tetap berlangsung, Sandra" ucapnya mantap. "Jika mereka berniat melanggar janji yang telah disepakati, maka hanya satu jalan yang akan menyelesaikannya." Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke depan.
"Kematian."
Sandra mengerutkan kening, namun tidak menyangkalnya. "Lalu bagaimana dengan Killian? Apakah ia setuju? Kita tahu sendiri sifatnya. Dia bukan pria yang mudah diatur, apalagi ditaklukkan begitu saja."
Vincenzo tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Killian sudah setuju. Atas perintahku dan dia akan selalu mematuhinya."
Sandra menyeringai kecil, seakan ada sesuatu yang tersirat di balik ekspresi itu. Ia tidak berkata apa-apa lagi, hanya menunduk, membiarkan keheningan kembali menyelimuti ruangan.
.
.
.
Sementara itu di Irlandia di kamar yang pintunya tertutup rapat dan dikunci dari luar.
Laura duduk di tepi tempat tidur, menatap lurus ke arah lantai. Ia dikurung di sana, tidak boleh keluar, tidak boleh bertanya, tidak boleh menghubungi siapa pun. Pikirannya kembali berputar pada wajah ayah dan ibunya di layar itu, lalu pada adiknya yang entah berada di mana.
Cklek!
Suara pintu terbuka membuatnya mendongak tajam. Seorang pelayan masuk membawa nampan berisi makanan, dan di belakangnya, menyelinap keluar dengan langkah kecil yang hati-hati, Bobby. Anak itu menatapnya dengan mata bulat yang jernih, tersenyum malu-malu.
"Nyonya Eleanor menyuruh membawakan makanan ini," ucap pelayan itu meletakkan nampan di meja kecil dekat jendela. "Kau diminta menghabiskannya."
Laura tidak menjawab. Ia menatap makanan itu tanpa minat, lalu menatap pelayan itu dengan pandangan yang dingin dan terluka. Sementara pelayan itu menatap balik dengan tatapan iba namun terpaksa.
Bobby melangkah maju perlahan, mendekat hingga ia berdiri tepat di samping meja. Ia merogoh satu butir buah anggur dari piring, lalu menyodorkannya ke arah Laura.
"Kau harus makan ya," ucap anak itu dengan suara lembut yang lugu. "Kalau tidak makan, kau akan sakit."
Laura menatap anak itu. Di tengah semua kebohongan, kekejaman, dan ancaman yang mengelilinginya, suara polos anak itu terasa begitu asing — sesuatu yang tidak bernoda, sesuatu yang tulus. Namun ia tidak merasa terharu. Ia justru semakin teringat pada keluarganya sendiri yang tak bersalah, yang dirampas tanpa alasan yang wajar.
Bobby tersenyum, lalu berjalan kembali ke arah pelayan. Sampai akhirnya pintu ditutup rapat dan dikunci lagi di belakang mereka.
Laura menatap buah anggur itu di atas nampan, lalu pundaknya perlahan turun.
Ia membiarkan dirinya jatuh ke lantai, bersandar pada tepi tempat tidur, dan menangis. Tidak ada suara yang keluar, namun air matanya menetes deras, membasahi pipi dan pakaiannya. Ia menangis bukan karena terharu, melainkan karena sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk mengubah jalannya nasib yang dipaksakan kepadanya.
...***...
Beberapa Hari Kemudian — Di halaman luas Mansion Marcano. Langit di atas New York tampak kelabu pekat, seakan mendung turun lebih rendah untuk menyambut kedatangannya.
Laura berdiri di samping Kieran dan Eleanor, sembari mengenakan gaun putih yang sederhana namun terbuat dari bahan yang mahal, pas di tubuhnya, menonjolkan bentuk sosoknya tanpa berlebihan. Ia tampak cantik — namun matanya tidak menyala. Wajahnya pucat, tatapannya kosong.
-‘Tempat neraka apalagi yang aku temui kali ini? Tempat yang sangat dingin dan horror.’ batin Laura yang sempat melihat detail.
Di atas pintu masuk utama, tertulis huruf-huruf besar berwarna perak: Marcano Mansion. Bangunan itu begitu luas, kokoh, dan dingin, seakan tidak ada tempat di dalamnya untuk kehangatan sekecil apa pun.
Sampai semuanya pudar saat Kieran berdiri berhadapan dengan seorang pria yang berwibawa, berpenampilan rapi, sorot matanya tajam dan tenang. Itulah Vincenzo Marcano.
Tangan mereka berjabat, lama dan mantap.
"Kami datang untuk mengakhiri pertikaian yang sudah terlalu lama, Tuan Vincenzo," ucap Kieran dengan nada yang penuh kesopanan namun tetap tegas. "Semoga kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak, baik dalam urusan perdagangan maupun bisnis yang kita jalani bersama."
Vincenzo mengangguk pelan. "Semoga ucapanmu sesuai dengan niatmu."
Laura mendengar percakapan itu, dan perlahan ia mengernyit. -‘Bisnis yang sama?’ batinnya.
Ia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya. Ia tidak tahu bahwa di balik pernikahan ini tersembunyi urusan-urusan gelap yang tidak boleh diketahui siapa pun di luar lingkaran mereka.
Saat ia masih berdiri diam mencerna kata-kata itu, Eleanor menyentuh lengannya dengan jari yang dingin dan cengkraman sedikit kasar.
"Lihat ke arah sana," bisik wanita itu tegas. "Pria yang berdiri di depan itu. Itulah Killian Marcano."
Laura menoleh perlahan.
Di sana, berdiri seorang pria yang tingginya menjulang tegap, bahunya lebar, tubuhnya kekar terbalut kemeja hitam dan celana hitam yang rapi. Wajahnya tampan, namun dingin dan tajam. Matanya — biru tua, indah seperti kedalaman lautan — menatap lurus ke arah Laura tanpa sedikit pun tersenyum.
Tatapannya tajam, mengintimidasi, seakan siap menelan siapa pun yang berani melangkah terlalu dekat. Ia menatapnya begitu lekat, seakan sedang menilai setiap inci keberadaan gadis itu.
"Dia yang akan menjadi suamimu," suara Eleanor terdengar lagi di telinganya, rendah namun menekan. "Berhati-hatilah. Meskipun ayahnya yang memegang nama besar keluarga ini, semua orang tahu — Killian Marcano-lah yang paling ditakuti dan disegani di antara mereka."
Napas Laura tertahan, dadanya membusung. Ia menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada.
Pria itu tidak berkedip, tidak mengalihkan pandangan, seakan ia sudah tahu sesuatu yang belum diketahui orang lain. Dan di hadapan tatapan itu, Laura merasa bukan seperti pengantin yang disambut, melainkan seperti mangsa yang baru saja dikirim ke sarang.
Killian tetap diam, menatapnya dari kejauhan, tanpa senyum, tanpa kata.