Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 16
" ... Sebentar lagi, status mu itu akan lenyap."
Perkataan Jexen penuh dengan tekanan. Bahkan Gani bisa merasakan hasrat ingin membunuh dari pria itu.
Tubuh Gani sedikit goyah. Dia juga memundurkan tubuhnya setengah langkah ke belakang. Ada perasaan yang tidak nyaman saat melihat tatapan mata Jexen yang tajam.
"Kenapa bocah ini punya aura yang menekan begitu kuat?" ucapnya dalam hati.
Selama ini melihat Jexen, baru kali ini Gani merasa tertekan oleh tatapan pemuda itu.
"Jangan suka ngomong sembarangan kamu," pekiknya. Gani menegakkan tubuhnya sambil membusungkan dada. Kedua tangannya mengepal dengan erat.
"ada apa ini ribut begini?"
Rinda keluar dari tempat istirahatnya sambil mengusap wajahnya. Matanya masih melhat dengan sayup-sayup, dan sesekali ia membuang nafasnya kasar.
"Mbak, ganggu tidur kamu ya?" tanya Jexen. Tubuhnya langsung berbalik untuk melihat ke arah Rinda. Namun tangannya tetap menahan pintu agar Gani tak bisa menerobos masuk.
"Tidak masalah. Ada apa Jex?"
"Rinda!"
Mendengar namanya dipanggil membuat Rinda nampak enggang. Terlebih dia tahu betul suara siapa itu di sana.
"Rin, aku mau bicara sama kamu. Aku mohon Rin, biarkan aku masuk. Anak ini, dia sama sekali tidak memperbolehkan aku menemui kamu," ucap Gani. Suaranya sedikit lebih kerasa dari pada tadi nyaris berteriak.
Rinda memutar bola matanya malas, dia merasa enggan untuk menemui Gani. Tak ada yang ingin dibicarakan olehnya sekarang ini darinya kepada orang itu.
Menghadapi Gani sekarang, hanya akan menambah emosinya semakin tidak stabil.
Tapi Rinda juga tidak bisa membiarkan Gani semakin berteriak di sana. Ia enggan menarik perhatian orang kantor. Sehingga, Rinda menganggukkan kepala sebagai tanda kepada Jexen untuk membuka pintu.
Dengan berat hati, Jexen melepaskan cengkeraman tangannya pada pintu sehingga membuat Gani segera masuk ke ruangan.
"Dia masih tidak tega melihat pria itu," ucap Jexen dalam hati. Isi kepalanya setiap melihat Rinda yang memberi celah kepada Gani membuat Jexen berpikir bahwa RInda masih memiliki perasaan kepada sang suami.
Ada rasa tidak terma dari Jexen mengingat Gani yang dengan mudahnya melupakan Rinda untuk menikah dengan sang kakak ipar.
Tapi Jexen tidak menunjukkan rasa tidak sukanya itu. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa akan menunggu Rinda sampai siap.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Rinda. Dia masih berdiri, kali ini sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan tubuhnya menyender pada meja kerja.
"Aku mau bicara berdua sama Rin," ujar Ganii.
"Tidak bisa!"
Jexen melarang keras. Ia memang membiarkan Rinda berbicara dengan Gani, tapi dia tidak akan membiarkan Rinda bicara berdua saja dengan Rinda.
Kondisi Rinda belum sepenuhnya baik, Jexen tidak mau jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya. Atau bisa saja Gani berbuat macam-macam kepada Rinda.
"Kamu ini kenapa, jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga orang," sahut Gani dengan tatapan sengit. Menurutnya, Jexen sudah sangat keterlaluan dalam mencampuri urusan rumah tangga mereka.
"Kalau mau bicara, bicara saja. Jangan membuat keributan. Aku sudah memberimu kesempatan bicara, jadi jangan berulah."
Senyum penuh kemenangan terbit pada bibir Jexen karena mendapat pembelaan dari Rinda. Dia menaikkan kedua alisnya saat Gani melihat ke arahnya. Tak lupa seringai tipis juga menghiasi bibir pria itu.
Gani mengepalkan tangannya dengan kencang, ia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Baiklah, Rinda aku akan melakukan pembatalan pernikahan dengan Teani."
Rinda bergeming. Tak ada reaksi apapun yang muncul dari wajah Rinda saat Gani berkata demikian.
"Aku sungguh-sungguh Rin, aku akan melepaskan Teani," ucap Gani lagi. Dia menunjukkan wajah kesungguhannya, akan tetapi Rinda tetap diam.
Gani membuang nafasnya kasar, reaksi Rinda tidak sesuai dengan harapannya. Ia ingin Rinda bersorak atau setidaknya tersenyum lebar dengan apa yang dikatakannya. Tapi wanta yang masih berstatus sebagai istrinya itu hanya diam seribu bahasa.
Melihat Gani yang bingung sendiri seperti itu, merupakan pemandangan yang sangat menyenangkan bagi Jexen. Pria itu tersenyum simpul dengan wajah yang penuh ejekan kepada Gani.
"Rinda, please katakan sesuatu," pinta Gani. Rasanya kesal sekali saat melihat dirinya sebagai bahan olok-olok Jexen. Meski hanya melalui ekspresi saja, namun Gani jelas bisa tahu bahwa Jexen sangat puas dengan diamnya Rinda.
"Terserah, aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan kamu lakukan kepada dia. Mau pembatalan pernikahan, mau bercerai, mau apapun tu aku sama sekali tidak peduli. Karena tidak akan ada yang berubah dari apa yang sudah aku putuskan."
Degh
Tatapan mata yang sangat tajam dari Rinda membuat perasan Gani berkecamuk. Ia langsung memilki pikiran jelek terhadap apa yang dikatakan oleh Rinda.
"Maksud kamu apa, Rind?" tanyanya. Meski Gani takut dengan apa yang akan terlontar dari mulut Rinda, namun dia tetap harus tahu.
"Pisah. Mari kita bercerai. Aku sudah melayangkan gugatan ke pengadilan neger agama, kamu tunggu saja surat itu dan aku harap kamu langsung menandatangani tanpa harus ada drama lebih dulu. Sudah kan yang bicara, sekarang pergi lah."
"Tidak Rinda, aku tidak mau pisah sama kamu. Aku mohon."
Rinda hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Tak lupa dia menggelengkan kepala melihat sikap Gani yang seolah-olah mencintanya.
Rinda tersenyum kecut, dia menyadari betapa bodohnya dia selama ini. Dia baru tahu bahwa selama ini dia sudah ditipu oleh mereka.
"Cinta kamu bilang? Cinta kamu itu omong kosong Gani," ucap Rinda tegas. Ia menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar pada meja. Matanya menatap lurus ke arah Gani dan giginya saling mengerat.
"A-apa maksud kamu Rind?"
Seketka tubuh Gani bergetar hebat. tubuhnya mundur selangkah. Belum pernah dia melhat tatapan Rinda yang menusuk begini.
"Kamu pikir aku bodoh ya, Gan?"
Degh!
Seketika jantung Gani berdegup dengan cepat saat mendengar perkataan Rinda yang baru saja keluar dari mulut. Nafas nya juga terasa lebih cepat dan tubuhnya menjalar rasa panas.
"Maksud kamu apa, Rind?" tanyanya.
"Haah, jangan sok pikun, dan jangan sok suci kamu Gani. Jauh sebelum kita kecelakaan, kamu sudah main gila kan sama Teani."
Jegleeer
Wajah Gani pucat pasi. Tubuhnya limbung, nyaris jatuh. Kepalanya lalu menggeleng cepat.
"Tidak sayang, itu tidak benar. Itu bukan seperti itu. A-aku tidak ... ."
Gani tak bisa melanjutkan ucapannya. Kata-katanya terasa tertahan di tenggorokan.
"Sudahlah, jangan ngeles. Aku sudah tahu semuanya Gani. Di tengah kesibukan pekerjaan yang aku jalani, di balik kata-kata maklum yang kamu ucapkan, ternyata kamu memenuhi hasrat mu dengan kakak ku. Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Pergi dari sini dan bersiap menerima surat perceraian dari ku."
TBC