Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Sadar
Udara di halaman belakang tiba-tiba terasa sesak.
Maya bergerak secepat kilat. Ia langsung menyambar Yumna ke dalam gendongannya sebelum amarah Lucian meledak. Lalu ia membungkuk dalam-dalam di hadapan pria itu.
“Maafkan anak ini, Tuan Lucian! Dia putriku dan juga sepupu Annabella!” ucap Maya terburu-buru, napasnya tersengal. “Dia masih kecil, bicaranya ngawur karena belum paham situasi. Mohon maaf kalau ucapannya menyinggung Anda!”
Annabella hanya melongo di sampingnya. Ia sama sekali tidak mengerti sandiwara apa yang sedang dimainkan sahabatnya itu.
Melihat kebingungan Annabella, Maya bergeser mendekat dan berbisik cepat, nyaris tak terdengar,
“Tenang. Ini taktik supaya Yumna aman, Bel.”
Ia lalu menunduk, berbisik pada Yumna dengan wajah cemas yang dibuat-buat, “Yumna, jangan bilang siapa kamu sebenarnya ya. Ayahmu sekarang belum percaya sama kita. Tujuan kita sekarang bantu Ibu lepas dari Ayah dulu.”
Yumna mengerjap. Matanya membesar, berkaca-kaca karena takut. Ia berbisik balik dengan suara bergetar dan cadel khasnya, “Tapi... kalau Mama pelgi dali Papa, belalti Yumna ndak akan lahil, Onty...”
Maya tersenyum lembut, mengelus punggung bocah itu untuk menenangkannya. “Kamu tetap akan lahir. Hanya saja... ayahnya bukan pria yang ada di depan kita ini.”
Di hadapan mereka, hidung Lucian mendengus keras. Tatapannya yang dingin menusuk Maya penuh curiga.
“Apakah sandiwara kalian sudah selesai?” Suara datar Lucian membelah keheningan malam. Ia menunjuk pintu mobil hitam di belakangnya yang sudah terbuka lebar. “Annabella, masuk.”
Annabella menggeleng kuat-kuat dan mundur selangkah. Wajahnya pias.
“Aku tidak mau! Aku takut sama Lucky! Aku takut dikirim ke Rumah Sakit Jiwa lagi!”
Maya langsung menimpali, seolah mendapat panggung, “Tuh kan, Tuan Muda! Coba tegur adik Anda itu! Adik Anda sudah berbuat buruk pada Annabella!”
Lucian menoleh tajam ke arah Maya.
“Buruk? Kau bilang adikku yang jahat? Lihat wanita di sampingmu itu!” Ia menunjuk Annabella dengan kasar. “Dialah yang menculik adikku dan membuat seluruh keluargaku kacau balau!”
Wajah Annabella memucat pasi seketika. Suaranya parau dan hampir hilang, “Maaf...”
Sebelum bentakan Lucian selanjutnya keluar, Yumna meronta-ronta hingga turun dari gendongan Maya. Dengan tubuh kecilnya ia berdiri di depan Annabella.
“Belhenti!” teriaknya lantang, meski suaranya masih cadel. “Om jangan calahkan Onty Bel, ya. Onty Bel ndak jahat, Onty Bel cudah beltobat, kok.”
Maya mengangguk-angguk cepat, membenarkan.
“Betul, Tuan!”
Lucian tertegun. Napasnya terengah sejenak, ia menarik napas panjang untuk menahan amarahnya yang hampir meledak. Melihat ketakutan yang tulus di mata istrinya, tatapannya yang semula keras perlahan melunak.
“Dengar, Annabella,” ucapnya, kali ini suaranya lebih rendah. “Hal itu tidak akan terjadi lagi. Lucky tidak akan mengirimmu ke sana lagi. Aku sendiri yang menjamin keselamatanmu.”
Faisal yang berdiri di belakang mengerjap, dahinya berkernyit. Sejak kapan atasannya bicara selembut itu? Apa karena kehadiran anak kecil ini?
Menyadari tidak ada jalan untuk melarikan diri sambil tetap melindungi Yumna, Annabella akhirnya pasrah. Ia mengepalkan tangannya erat.
“Baiklah... aku ikut pulang. Tapi ada syaratnya, Maya harus ikut bersamaku.”
Lucian mengangguk singkat. “Boleh. Tapi ingat,” tatapannya kembali menajam, penuh peringatan, “jika kau berani kabur lagi, aku tidak akan memberi kesempatan untuk menyelamatkan Pamanmu.”
Annabella menggigit bibir bawahnya sampai memutih.
Kabur? Siapa juga yang kabur? Jelas-jelas aku diusir oleh orang tuamu, Tuan Es!
Ia menggerutu dalam hati.
Tepat saat mereka akan masuk ke mobil, dering ponsel di saku jas Faisal menghentikan semuanya. Ia segera mengangkat panggilan itu. Hanya dalam beberapa detik, wajah sang asisten berubah drastis.
Sambungan terputus. Faisal menatap Lucian sambil menahan napas, suaranya bergetar menahan haru.
“Tuan... kabar dari rumah sakit. Pak Aditya sudah sadar.”
Mendengar itu, air mata Annabella yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah begitu saja. Tanpa berpikir panjang, ia memohon, kedua tangannya bertaut.
“Tuan, kumohon, izinkan aku menemui Paman sekarang.”
Lucian menatap mata Annabella yang penuh kesedihan itu. Kali ini, ia mengangguk dan membukakan pintu mobil lebar-lebar.
Aroma antiseptik langsung menyergap begitu pintu ruang rawat VIP terbuka.
Di atas ranjang, Paman Aditya bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya masih pucat, namun matanya sudah terbuka jernih.
Melihat pelindungnya telah sadar, Annabella berlari kecil dan langsung memeluk pria paruh baya itu dengan erat, menumpahkan semua ketakutan yang selama ini ia pendam.
“Paman...” isaknya merasa lega.
Aditya tertegun, napasnya tercekat karena kaget. Dengan gerakan yang masih kaku, tangan tuanya terangkat dan menepuk-nepuk punggung Annabella perlahan.
“Annabella... nak? Kau sudah bebas?” Suaranya serak, penuh kelegaan yang tak terkira. Ia tidak menyangka keponakannya bisa berdiri di depannya dengan selamat setelah sekian lama hidup di bawah bayang-bayang keluarga Winston.
Namun, keterkejutan Aditya tidak berhenti di situ.
Saat ia mendongak, pandangannya bertemu dengan sosok jangkung yang berdiri tegak di dekat pintu. Lucian Winston. Pria dingin yang selama ini seolah menjadi algojo dalam kehidupan Annabella.
Mata Aditya membesar. Tubuhnya menegang kaku. Tatapannya bolak-balik antara Lucian dan Annabella dengan ribuan pertanyaan yang berputar di kepalanya. Terlebih lagi adanya seorang anak perempuan yang terus menatapnya.
"Sebenarnya... apa yang sedang terjadi?"
__
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???