NovelToon NovelToon
Jodohku Mas Bule

Jodohku Mas Bule

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: mitha

Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.

Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.

Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.

Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Perseteruan

Arman masih tidak mampu mengalihkan pandangan dari Retna.

Sejak melihat perempuan itu datang bersama seorang pria asing, pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Mengapa Retna ada di sini?

Bagaimana mungkin perempuan yang selama ini ia kira telah meninggalkan kehidupannya justru muncul di hari pernikahannya?

Dan yang paling membuatnya tidak nyaman...

Retna datang bersama pria lain.

Arman mengepalkan tangan.

Ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan bertemu lagi dengan mantan istrinya, apalagi di hari yang seharusnya menjadi momen paling penting dalam hidupnya bersama Claudia.

Sebenarnya, Arman sengaja memilih Bali sebagai tempat pernikahan mereka. Ia ingin acara itu berlangsung jauh dari lingkungan tempat tinggalnya dulu, agar tidak banyak orang yang mengenalnya mengetahui bahwa ia menikah lagi.

Terlebih setelah perceraiannya dengan Retna.

Arman tahu bagaimana orang-orang suka berbicara. Ia tidak ingin Claudia dicap sebagai perempuan yang merebut suami orang. Meskipun hubungannya dengan Retna telah berakhir sebelum ia bersama Claudia, ia sadar banyak orang mungkin tetap memiliki penilaian sendiri.

Karena itu, Bali dipilih.

Tempat yang cukup jauh dari lingkungan mereka, tempat Arman berharap masa lalunya tidak akan muncul di tengah pernikahan barunya.

Namun ternyata semua rencananya gagal.

Masa lalu itu justru datang sendiri dan berdiri tidak jauh darinya.

Beberapa saat kemudian, Mas Bule meninggalkan meja untuk pergi ke toilet.

Retna yang masih duduk sendirian menatap gelas di tangannya. Ia berharap acara itu segera selesai. Ia tidak ingin berada di sana lebih lama.

Namun baru beberapa menit Mas Bule pergi, Arman menghampirinya.

"Retna."

Retna mengangkat wajah. Ia terkejut melihat Arman berdiri di hadapannya.

"Aku ingin bicara."

Retna menggeleng pelan.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan."

"Kenapa kamu datang ke sini?"

Retna terdiam.

"Kamu bahkan tidak diundang."

Dada Retna terasa sesak.

"Aku datang bersama Mas Bule."

"Itu bukan jawaban."

Arman menatapnya tajam.

"Kamu tahu ini pernikahanku."

Retna menunduk.

"Aku baru tahu setelah sampai."

Arman terdiam sejenak.

"Jadi kamu benar-benar tidak tahu?"

Retna menggeleng.

"Mas Bule hanya bilang dia mendapat undangan dari Claudia."

Arman semakin bingung. Ia tahu Claudia mengenal beberapa orang yang bekerja dan tinggal di Bali, tetapi tidak pernah menyangka salah satu tamunya akan membawa Retna.

"Kalau begitu, kenapa kamu tidak langsung pergi setelah tahu?"

Retna menatapnya.

"Karena aku tidak ingin membuat masalah."

Jawaban itu justru membuat Arman semakin tidak nyaman. Sebelum sempat berkata apa-apa, terdengar suara perempuan dari belakang.

"Arman."

Arman menoleh. Ibunya datang menghampiri. Wanita itu tampak terkejut saat melihat Retna, lalu tatapannya berubah tajam.

"Retna?"

Retna berdiri.

"Ibu."

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Saya datang bersama Mas Bule."

Ibu Arman tertawa sinis.

"Datang bersama siapa pun, kamu tetap tidak seharusnya berada di sini."

Retna terdiam.

"Kamu sengaja datang untuk apa?"

"Saya tidak sengaja."

"Jangan berbohong!"

Suara ibu Arman meninggi.

"Kamu tahu anak saya menikah hari ini, lalu sengaja datang untuk membuat keributan?"

Retna menggeleng.

"Saya benar-benar tidak tahu sebelumnya."

"Kalau tidak tahu, kenapa masih bertahan di sini?"

Retna tidak mampu menjawab.

Ibu Arman semakin emosi.

"Setelah gagal mempertahankan rumah tangga, sekarang kamu mau merusak pernikahan Arman?"

Suaranya cukup keras hingga beberapa tamu di meja terdekat menoleh. Percakapan yang semula ramai perlahan mereda.

Seorang pelayan yang sedang membawa nampan bahkan berhenti beberapa langkah dari mereka, lalu memilih berjalan memutar.

Retna merasa seluruh mata tertuju kepadanya.

"Ibu, saya tidak pernah berniat..."

"Sudah!"

Ibu Arman memotong.

"Jangan pura-pura tidak tahu diri."

Retna menggigit bibir, berusaha menahan air mata. Namun semakin ia diam, semakin banyak orang yang memperhatikannya.

Bisikan mulai terdengar dari beberapa meja.

"Siapa perempuan itu?"

"Katanya mantan istrinya Arman."

"Serius?"

"Aku kira mereka sudah lama selesai."

Retna mendengar semuanya. Setiap bisikan terasa menambah beban di dadanya.

Ia ingin pergi, tetapi kakinya seolah tertanam di lantai.

Kemudian Claudia datang. Melihat situasi itu, ia segera menghampiri.

"Ada apa?"

Ibu Arman langsung menjawab.

"Dia datang ke sini."

Claudia menatap Retna.

"Retna?"

Retna hanya diam.

Claudia menghela napas.

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kamu datang."

"Saya sudah bilang, saya tidak tahu siapa pengantinnya."

Claudia tersenyum tipis.

"Tapi sekarang kamu sudah tahu."

Retna menunduk.

"Aku akan pulang setelah ini."

"Bagus."

Claudia mengangguk.

"Kalau begitu, jangan membuat suasana semakin tidak nyaman."

Retna menatapnya.

"Aku tidak melakukan apa-apa."

Claudia tertawa kecil.

"Justru kehadiranmu saja sudah cukup membuat orang bertanya-tanya."

Beberapa tamu kembali saling pandang. Ada yang pura-pura tidak memperhatikan, tetapi jelas memasang telinga.

Retna semakin merasa terpojok.

"Arman sudah menikah lagi. Seharusnya kamu tahu diri dan tidak muncul di hari seperti ini."

Retna mengepalkan tangan.

"Saya benar-benar tidak tahu..."

"Tidak tahu?"

Claudia memotong.

"Kamu datang bersama seorang pria ke pernikahan mantan suamimu, lalu bilang tidak tahu apa-apa?"

Nada Claudia membuat beberapa tamu kembali berbisik.

Retna menahan napas.

"Aku tidak datang untuk Arman."

Claudia tersenyum.

"Kalau begitu, untuk apa?"

Retna terdiam. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya datang karena memenuhi permintaan Mas Bule, terlebih di depan semua orang dalam keadaan seperti ini.

Claudia menatapnya dengan senyum tipis.

"Atau mungkin kamu ingin menunjukkan kepada Arman bahwa kamu sudah punya kehidupan baru?"

"Claudia, cukup."

Suara Arman terdengar.

Namun Claudia justru menoleh kepadanya.

"Aku hanya mengatakan kenyataan."

Retna semakin menunduk.

Ibu Arman kembali menyela.

"Seharusnya sejak awal dia tidak datang."

"Bu..."

Arman mulai terlihat tidak nyaman.

Tetapi ibunya terus berbicara.

"Perceraian kalian sudah selesai. Jangan sampai hari pernikahanmu dirusak oleh masa lalu."

Kali ini beberapa tamu yang berada paling dekat mulai memperhatikan secara terang-terangan. Suasana yang sebelumnya dipenuhi tawa dan musik berubah canggung.

Musik masih terdengar dari panggung, tetapi percakapan para tamu perlahan mereda. Seolah-olah semua orang sedang menunggu apa yang akan terjadi.

Retna merasa air matanya hampir jatuh. Ia menunduk semakin dalam.

"Saya akan pergi."

Ia hendak melangkah, tetapi Claudia berkata,

"Memang sebaiknya begitu."

Retna berhenti.

"Jangan sampai orang-orang mengira kamu datang untuk merebut perhatian pengantin."

Kalimat itu membuat beberapa tamu terdiam.

Retna menggigit bibir. Ia tidak mampu lagi membalas.

Namun tanpa mereka sadari, Mas Bule sudah kembali.

Pria itu berdiri beberapa meter dari mereka. Ia melihat Retna yang berdiri dengan kepala tertunduk, ibu Arman yang masih menghadapinya, serta Claudia yang mengenakan gaun pengantin tetapi justru mempermalukan seseorang di depan para tamu.

Rahangnya mengeras ketika mendengar kalimat terakhir Claudia.

"Jangan sampai orang-orang mengira kamu datang untuk merebut perhatian pengantin."

Mas Bule berjalan mendekat.

"Maaf."

Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh.

Claudia terdiam. Ibu Arman ikut menatapnya.

Mas Bule berhenti di samping Retna.

"Ada masalah apa?"

Tidak ada yang langsung menjawab. Beberapa tamu bahkan mulai saling pandang.

Mas Bule menatap Retna. Perempuan itu terlihat pucat dengan mata berkaca-kaca. Ia langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

"Aku hanya meminta Retna agar tidak membuat suasana menjadi tidak nyaman," jelas Claudia.

Mas Bule menoleh kepadanya.

"Kalau begitu, kenapa dia terlihat seperti baru saja dipermalukan?"

Claudia terdiam.

Ibu Arman kemudian menyela.

"Kami hanya memintanya meninggalkan acara ini."

Mas Bule mengangguk.

"Itu hak kalian."

Retna menatapnya.

Namun Mas Bule melanjutkan,

"Tapi tidak ada yang berhak menghina dia."

Suasana kembali hening. Bahkan para tamu yang sebelumnya berbisik langsung diam.

Ibu Arman mengerutkan kening.

"Anda siapa?"

"Saya datang bersama Retna."

Claudia menyela,

"Dia hanya bekerja sebagai pembantu, bukan? Atau perempuan simpananmu?"

Beberapa tamu langsung saling pandang. Ada yang tampak terkejut mendengar ucapan itu.

Retna mengangkat wajah.

"Claudia..."

Mas Bule perlahan menoleh kepadanya. Tatapannya berubah dingin.

"Kamu mengenal Retna dari masa lalu. Aku mengenal Retna dari kehidupannya sekarang."

Claudia terdiam.

"Dan aku tidak menilai Retna dari pekerjaannya."

Mas Bule melangkah setengah langkah mendekat.

"Jadi, tolong jaga ucapanmu."

Nada suaranya tetap rendah. Justru karena itu, suasana terasa semakin menekan.

"Apa kamu berhak menyebutnya seperti itu?"

Claudia membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Mas Bule melanjutkan,

"Kalau kamu tidak menyukai kehadirannya, kamu bisa memintanya pergi dengan cara yang baik. Tidak perlu merendahkan martabatnya di depan para tamu."

Salah satu tamu yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari mereka bahkan memilih menyingkir perlahan.

Tidak ada yang berani ikut campur. Semua hanya diam memperhatikan.

Arman sendiri terlihat semakin tegang.

"Sudah, Claudia."

Namun Claudia tidak menjawab.

Ibu Arman justru kembali bertanya,

"Kalau begitu, apa hubungan Anda dengan Retna?"

Mas Bule diam sejenak, lalu menatap Retna. Perempuan itu tampak gugup, jemarinya gemetar.

Kemudian Mas Bule berkata dengan tenang,

"Hubunganku dengan Retna bukan urusan siapa pun."

Ibu Arman mencibir.

"Kalau begitu, jangan ikut campur!"

Mas Bule menarik napas.

"Aku memang tidak ingin ikut campur dalam masa lalu Retna."

Ia berhenti, lalu mengalihkan pandangan kepada Arman.

"Tapi ketika seseorang menghina perempuan yang akan menjadi istriku, aku rasa aku memang harus bicara."

Retna langsung membeku.

Claudia membelalakkan mata. Arman pun terdiam, sementara ibu Arman seperti kehilangan kata-kata.

"Apa?"

Mas Bule menatap mereka semua.

"Retna adalah calon istriku."

Seisi ruangan seolah kehilangan suara.

Beberapa tamu yang sejak tadi hanya menjadi penonton kini saling menatap dengan ekspresi terkejut. Ada yang bahkan menutup mulut karena tidak menyangka.

Retna menatap Mas Bule dengan mata melebar.

"Mas..."

Mas Bule hanya menatapnya. Tidak ada keraguan di wajahnya.

Arman terlihat sangat terkejut.

"Calon istri?"

Suaranya hampir seperti bisikan.

Claudia menatap Retna dari ujung kepala hingga kaki, seolah tidak percaya perempuan yang baru saja ia hina ternyata akan menikah dengan pria seperti Mas Bule.

Ibu Arman pun tidak mampu berkata-kata.

Selama beberapa detik, tidak seorang pun berbicara. Bahkan pembawa acara di atas panggung tampak melirik ke arah kerumunan karena suasana di ruangan berubah begitu tegang.

Mas Bule kemudian berdiri lebih dekat di samping Retna.

"Aku tidak peduli apa yang terjadi antara Retna dan Arman di masa lalu."

Tatapannya beralih kepada Arman.

"Itu sudah selesai."

Kemudian ia kembali menatap Claudia dan ibunya.

"Jadi, jangan gunakan masa lalu itu untuk merendahkannya."

Retna menahan air mata. Ia tidak tahu mengapa Mas Bule menyebutnya sebagai calon istri. Ia sadar mungkin itu hanya cara pria tersebut melindunginya.

Namun mendengar kalimat itu diucapkan di depan semua orang membuat hatinya bergetar hebat.

Sementara itu, Arman hanya bisa berdiri diam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Retna bukan sebagai mantan istrinya, melainkan sebagai perempuan yang kini berdiri di samping pria lain.

Dan di tengah puluhan tamu yang menyaksikan semuanya, Arman tidak tahu harus berkata apa.

Sebab untuk pertama kalinya malam itu, bukan Retna yang terlihat kehilangan tempat.

Justru dirinya yang berdiri tanpa mampu menemukan satu pun kalimat untuk membalas.

1
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!