Seorang wanita yang bernama Winda sudah lama menikah mencoba bermain api dengan teman sekantornya yang bernama Hendra. Rasa cinta & nyaman yang sebelumnya tidak dirasakan olehnya ditemukan dalam diri Hendra. Setelah sepakat meninggalkan pasangan masing-masing.
Hendra justru memilih kembali kedalam pelukan istrinya. Winda yang sudah terlanjur menggugat cerai suaminya merasa kecewa & marah kepada Hendra.
Apa yang dilakukan Winda setelah Hendra & Suaminya tidak didapati ?
BURUAN KEPOIN ??? JANGAN LUPA BACA YAA KISAH KELANJUTANNYAAA !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nukhbatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Terpuruknya Winda
Sesampainya dirumah kontrakan, Hendra melihat mataku sembab dan legam. Aku bukan menangisi suamiku namun meratapi diriku ini yang gagal dalam mengarungi rumah tangga namun berakhir dengan sia-sia.
Imanku sangat tipis, mudah sekali tergoda dengan mengatasnamakan cinta dan Rindu. Aku pun gampang terlena akan rayuan dan bujukan mulut manis para lelaki.
Hendra memeluk erat tubuhku yang terlihat lemah lunglai, Isak tangisku pun tidak terdengar kian menyayat hati bagi yang melihat diriku ini. Dalam hidupku ini hal yang paling terpuruk kandasnya rumah tanggaku
"Puing-puing hatiku pun berserakan tak terarah. Hendra pun setia menemaniku ia pun ikut larut dalam kenestapaanku ini. Kubenamkan mukaku ini kedalam bak yang berisikan air, dan menarik napas panjang.
Aku yang menceraikannya mengapa justru hatiku yang hancur berkeping-keping, rapuh harusnya aku sudah siap membentengi diriku ini agar tegar dalam mengambil keputusan dalam hidupku ini.
Winda pun berceloteh tidak karuan kepada Hendra yang hanya bisa mendengarkannya saja uneg-uneg dalam hatiku ini yang selama ini tersimpan rapat.
"Sayangg... Sini aku peluk...kamu sudah mengambil keputusan yang terberat dalam hidupmu ini". Ucap Hendra kepada Winda dengan menatap mata dan wajah yang penuh arti dalam-dalam.
"Iya sayang, aku melepaskan semuanya yang sudah aku miliki demi kamu dan juga demi calon anak kita, sayang". Balas Winda memeluk erat pacarnya itu.
Walaupun rumah kontrakan yang sekarang ditempati mereka sangat sempit jauh dari kata mewah, yang hanya berukuran 3 petakan dengan disekat-sekat oleh papan.
Sangat sederhana sekali hidup Winda bersama dengan Hendra, Apakah Winda bisa hidup dan tinggal dirumah kontrakan yang sangat sempit ini. Ia terbiasa hidup mewah bergelimang harta yang diberikan oleh Johan.
Pagi-pagi sekali matanya masih terkantuk-kantuk dan masih mengenakan baju tidur, Ia sudah mulai mengangkat baju kotornya untuk mencuci pakaian dengan menggunakan mesin, bebenah rumah dan juga masak untuk dirinya dan pacar gelapnya itu.
Aku harus membiasakan diri hidup berumah tangga nantinya dengan Hendra seperti ini mengerjakan semuanya sendiri tanpa ada jasa art ataupun jasa laundry.
Belum juga perutnya diisi dengan makanan namun cucian pakaian kotor sudah menumpuknya dimesin cuci, Ia pun melihat Hendra sedang tertidur pulas dengan suara dengkuran yang kencang.
Pagi ini ia harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja. Mencuci pakaian dan memasak..Hal yang tidak perlu ia lakukan jika sedang ada Johan, suaminya itu dirumah.
Winda semakin yakin dengan pilihan dan keputusannya yang ia ambil semalam. Hidup bersama dengan Hendra, tujuan utamanya.
Aroma ikan goreng yang menusuk hidung membuat Hendra terbangun dari tidur pulasnya. Setengah sadar ia mencari-cari kekasihnya itu yang sedang sibuk didapur.
Dengan hanya mengenakan baju tidur yang sangat minim bahan ini, membuat Hendra ingin memadu kasih dengan pacarnya itu sebelum dirinya memulai sarapan.
Hendra pun membisikan lembut ke telinga Winda dengan membenamkan kepalanya kedalam dada sang pacar itu. Winda pun mengusap rambut Hendra dengan mengacak-acaknya.
Pagi ini Winda merasakan perutnya mual-mual. ia merasakan juga seperti yang teman kantornya rasakan mengalami sick morning. Hendra pun tidak tega meninggalkannya sendirian didalam kontrakan namun ia harus berangkat kerja ada rapat pagi ini yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
"Sayang, maaf aku pagi ini ada rapat dengan Pak Handoko jadi aku tidak bisa menemani kamu disini. Kalau ada apa-apa, kamu hubungi aku saja ya". Ucap Hendra dengan penuh sayang dan perhatian kepada Winda.
Winda pun terkapar lemas setelah beberapa kali mual dan juga muntah-muntah. Ia hanya ingin rebahan dikasur dan berisitirahat penuh tanpa ada yang mengganggunya.
"Gapapa sayang, aku baik-baik saja kok. Kamu berangkat kerja saja". Balas Winda dengan penuh ketenangan supaya pacarnya itu tidak khawatir terhadap dirinya.
Setelah berisitirahat penuh, tubuhnya sudah mulai bisa diajak kerjasama lagi. Ia dapat melakukan aktifitas seperti biasanya. Setelah 2 jam didalam kamar kontrakan. Ia mulai bosan. Handphone nya pun berdering. Ia lihat kalau Alex menghubunginya.
"Halo ada apa Lex, Masih pagi udah ganggu gue aja". Ucap Winda dengan nada ketus kepada Alex.
"Loe sendirian ya dikontrakan, gue kesana ya". Ucap Alex Kepada Winda dengan segera menghampirinya.
Ia pun belum menjawabnya namun Alex sudah memutus handphone nya lebih dulu.
"Kenapa Alex tau kalau gue sekarang ngontrak dan buat apa juga ia mau kesini". Batin Winda kesal merasa istirahatnya ada yang menganggu.
Tok...tok.. Prita langsung membukakan pintu kontrakannya. Ia kaget kalau Alex akan kesini secepat itu menghampiri dirinya ini.
Alex memakai topi dan masker serta mengenakan jaket agar tidak mudah dikenali dengan orang lain.
"Buat apa sih loe kesini, Lex?". Ucap Winda kesal ke Alex dengan menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Gue kesini karena gue kangen ma loe, Sayang... Gue pingin memadu kasih sama loe lagi". Balas Alex dengan nada memuji dan merayu.
"Lex, loe tau dari mana gue ngontrak disini. Bukannya loe lagi kerja". Balas Winda singkat.
"Apapun tentang loe gue tau,sayang. Gue tadi udah ijin ko pas gue tau Lo sakit dan sendirian disini makanya gue kemari". Balas Alex pelan.
"Gue rasa loe udah paham maksud kedatangan gue kesini untuk apa". Ujar Alex to the point.
Alex pun segera berhenti bercinta sejenak karena Hendra menghubungi Winda. Karena mengkhawatirkan keadaannya yang sedang sakit pada saat hamil muda.
"Sayang, gimana keadaan kamu sekarang, masih mual atau gimana?". Tanya Hendra kepadaku penuh perhatian.
"Alhamdulillah aku udah sehat sayang. Kamu jangan khawatir ya. Udah kamu kerja saja dengan tenang". Balasku meyakinkan Hendra.
Walau kondisi kesehatan Winda sedang sakit namun tak menyurutkan dirinya untuk tidak memadu kasih dengan Alex. Sekarang tak perlu lagi ke gudang kosong hanya untuk menyalurkan hasrat mereka berdua.
"Sekarang loe tinggal bareng sama Hendra, sayang". Tanya Hendra pelan kepada Winda.
"Iya... Dia harus bertanggung jawab karena gue sudah hamil". Jawab Winda pelan membenarkan rambut dan juga bajunya yang berserakan dilantai kontrakannya.