Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. 13 TAHUN KEMUDIAN
Setelah mencuci wajah cemong mereka dari sisa bedak bayi, ketiga bocah itu berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana, suasana terasa sedikit sepi karena Bara sedang keluar mengurus urusan penting. Hanya ada Liam yang sibuk menata meja, dan Leo yang sedang duduk bersandar santai di kursi dengan kemeja kasualnya.
Melihat Leo, Vellora langsung mengerucutkan bibirnya, melipat tangan di dada dengan gaya merajuk andalannya. "Hee, Kak Leo! Ih, Kak Leo semalam ke mana sih? Kok tidak ada di rumah? Terus pagi-pagi pas aku mau berangkat sekolah, Kakak juga menghilang begitu saja!" protes gadis kecil itu cemberut.
Leo tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang membuat wajah kakunya terlihat jauh lebih hangat. Ia mengulurkan tangan besarnya dan menepuk lembut puncak kepala Vellora. "Kakak ada urusan bisnis sebentar, anak kecil," jawabnya singkat.
Di sebelah Vellora, Luna menatap Leo tanpa berkedip. "Wah... dia siapa, Vell? Ganteng juga!" bisik Luna dengan mata berbinar-binar, aura centilnya kembali keluar.
Kenzi yang mendengar itu langsung memutar bola matanya malas, lalu memilih duduk di kursi dekat Kakek Liam meski bulu kuduknya sedikit merinding berdekatan dengan pria tua itu. "Jangan bilang kamu mau menjadikan dia suami masa depanmu juga, Lun? Dasar maruk," sindir Kenzi tajam.
"Enak saja! Tidak, kok!" balas Luna seraya memegangi dadanya dengan dramatis. "Aku hanya takjub, kenapa laki-laki di rumah ini tampan-tampan semua?" Luna lalu menarik kursi dan duduk manis di sebelah Kenzi.
Liam terkekeh pelan melihat tingkah mereka. "Oh iya, Kenzi. Tadi Kakek sudah menelepon ayahmu. Kebetulan sekali, Kakek kenal baik dengan kakekmu dari dulu. Jadi Kakek menyuruh ayahmu untuk menjemput kalian setelah makan malam usai," ujar Liam memecah suasana.
"Oh? Jadi Kakek kenal ayahku?" tanya Kenzi dengan mata membulat terkejut.
"Iya, kakekmu itu teman lama Kakek. Ya sudah, ayo kita makan," ujar Liam seraya mengambilkan porsi makanan yang melimpah untuk mereka bertiga.
Malam itu, Liam menghidangkan bistik daging sapi. Luna memotong daging itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Seketika, matanya berbinar terang benderang. "Wah! Enak sekaliiii, Kakek! Kakek sungguh jago masak, benar kata Vellora!" puji Luna antusias, lalu menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Sementara itu, Kenzi masih menatap ragu daging di piringnya. Namun, melihat Luna makan dengan rakus, ia akhirnya memberanikan diri mencicipi. Matanya sedikit melebar meresapi bumbu lada hitam yang sempurna. "Emm... tidak terlalu buruk," gumam Kenzi sok keren, menyembunyikan rasa takjubnya. Liam yang mendengarnya hanya tersenyum maklum.
Malam semakin larut. Setelah jamuan makan malam itu selesai, ayah Kenzi, Kenzo, akhirnya tiba di depan gerbang untuk menjemput.
"Dadaaah, Luna! Dadaaah, Kenzi!" teriak Vellora dari ambang pintu rumah, melambaikan tangan melihat kedua temannya masuk ke dalam mobil.
"Dadaaah, Vellora!" senyum Luna balas melambai.
Setelah kepergian mereka, suasana rumah kembali hening. Mata Vellora mulai meredup diserang kantuk. Ia pun berbalik menuju kamarnya untuk tidur, diikuti oleh Leo yang juga melangkah ke kamarnya di ujung lorong.
Namun, ketenangan malam itu tiba-tiba terkoyak. Hujan deras mengguyur bumi tanpa ampun, diiringi kilatan petir yang menyambar di langit bagaikan cambuk cahaya.
BLAAARRR!
Vellora terbangun dengan napas memburu. Ketakutan yang amat sangat membuatnya meraih selimut tebalnya. Dengan langkah gemetar, gadis kecil itu berlari menerobos lorong menuju kamar Leo. Tanpa ragu, ia menyusup ke atas tempat tidur dan langsung memeluk erat punggung pemuda itu.
Leo tersentak bangun dari tidurnya. "Vellora? Ada apa?" tanyanya terkejut melihat gadis kecil itu gemetaran.
"Ada guntur, Kakak... aku takut," cicit Vellora sambil menutupi kedua telinganya.
Mendengar suara parau itu, raut wajah Leo seketika melembut. Ia membalikkan badan dan membalas pelukan Vellora dengan dekapan hangat yang melindungi. "Sudah, tidurlah. Jangan takut, ada aku di sini," bisik Leo. Di bawah dekapan yang menenangkan itu, Vellora akhirnya kembali tertidur lelap.
Tiga belas tahun kemudian.
Waktu berlalu bagai embusan angin. Vellora kini bukan lagi anak TK yang cengeng. Di usianya yang menginjak 18 tahun, ia tumbuh mekar menjadi seorang gadis yang luar biasa menawan. Rambut hitam pekatnya terurai indah hingga sepinggang, sangat kontras dengan kulit putih pulamnya. Proporsi tubuhnya yang bak gitar Spanyol membuatnya menjadi primadona, memikat hati banyak lelaki di sekitarnya. Saat ini, Vellora duduk di kelas tiga SMA Atlantis 3, masih satu sekolah dan bersahabat erat dengan Luna dan Kenzi.
Di sisi lain, waktu seakan membeku bagi Leo. Di usianya yang ke-31 tahun, Tuan Muda itu tak kunjung menikah. Hatinya masih tertutup, waktunya habis tersita untuk memburu pembunuh keluarganya yang hingga kini masih menjadi misteri. Bara, yang kini berusia 29 tahun, tetap menjadi tangan kanan sekaligus pengikut setia Leo yang tak pernah goyah. Sementara Kakek Liam kini sudah sangat renta, menua ditelan usia meski fisiknya masih tetap kokoh tak terkalahkan.
Pagi itu menunjukkan pukul 07.00. Ini adalah hari-hari pertama Vellora duduk di bangku kelas tiga SMA. Karena jarak sekolahnya memakan waktu 45 menit dari rumah, ia selalu merengek minta diantar oleh Leo setiap harinya.
Dengan tergesa-gesa, Vellora yang sudah rapi mengenakan seragam SMA—rok rempel pendek yang pas di badan dipadukan dengan jaket kasual di luar kemejanya—berlari menerobos masuk ke kamar Leo.
Tanpa memikirkan apa pun, kebiasaan masa kecilnya mengambil alih. Vellora melompat naik ke atas ranjang dan dengan santainya menduduki perut Leo yang masih tertidur lelap.
"Kak Leo, banguuun! Ayo cepat bangun, aku sudah hampir telat ini!" teriak Vellora sambil mengguncang dada bidang Leo.
Leo mengerang, matanya terbuka perlahan, mengusap pandangannya yang kabur. Namun, saat ia menoleh dan menyadari siapa—dan bagaimana posisi sosok yang mendudukinya itu—matanya seketika terbelalak sempurna!
"Astaga! Vellora, apa yang kau lakukan?! Turun dari sana!" pekik Leo kaget setengah mati. Wajahnya menegang seketika. "Tidak pantas seorang anak gadis duduk seperti ini di atas laki-laki! Sadarlah, kau itu bukan anak kecil lagi!"
Dengan gerakan refleks yang cepat dan sedikit panik, Leo meraih pinggang Vellora dan menurunkannya paksa dari atas tubuhnya. Jantungnya berdetak tak karuan menyadari adik kecilnya benar-benar telah menjadi wanita dewasa yang berbahaya bagi kewarasan.
Vellora mengerucutkan bibirnya, mendengus kesal merasa dimarahi pagi-pagi buta. "Ihhh, sudahlah! Ayo cepat berangkat, Kak! Aku sudah mau terlambat nih!" omelnya sambil berkacak pinggang.
"Iya, iya! Beri aku waktu sebentar, aku cuci muka dulu!" seru Leo gelagapan, langsung melompat dari kasur dan berlari menuju kamar mandi layaknya menghindari granat aktif.
"Ya sudah, aku tunggu Kakak di depan gerbang! Awas kalau lama!" ancam Vellora dari ambang pintu.
"Iyaaaa!" teriak Leo pasrah dari dalam kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin sambil menghela napas panjang, meratapi hari-harinya yang kini dipenuhi oleh omelan gadis remaja.