Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Pesawat yang membawa Jovan menuju Australia akhirnya lepas landas. Dari balik jendela kecil pesawat, Jovan memandangi langit yang perlahan berubah menjadi hamparan awan putih. Ia seharusnya memusatkan pikirannya pada perlombaan yang akan datang.
Namun, entah mengapa, wajahnys Farel terus terbayang di benaknya. Senyum polos anak itu. Tawa riangnya ketika menikmati ayam goreng. Dan pelukan hangat saat Farel menyebut dirinya seperti Doraemon.
Jovan tersenyum kecil.
"Jangan nakal selama Om pergi, ya, Farel," gumamnya pelan.
Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, sebuah badai besar mulai menghantam kehidupan Serina.
Beberapa jam setelah pesawat Jovan lepas landas, foto-foto yang diambil oleh paparazi mulai tersebar di media sosial. Salah satu akun berita selebriti mengunggah fotonya Jovan ketika sedang menggendong Farel di depan mobil sport merahnya. Foto lain memperlihatkan Farel memeluk pinggangnya Jovan di dalam mall. Ada pula foto Jovan yang berdiri berdekatan dengan Serina di depan gerbang pabrik garmen. Judul berita yang menyertai foto-foto itu langsung mengundang perhatian banyak orang.
"Jovan Narendra Diduga Diam-Diam Telah Memiliki Anak!"
Berita lain menyusul.
"Siapa Wanita Misterius di Samping Pembalap Tampan Jovan Narendra?"
Dan yang paling membuat heboh adalah sebuah unggahan yang menuliskan:
"Dunia Balap Digemparkan! Jovan Narendra Diduga Menyembunyikan Istri dan Anak dari Publik!"
Dalam waktu singkat, berita itu menyebar luas. Kolom komentar dipenuhi berbagai macam spekulasi.
"Jadi selama ini Jovan sudah menikah?"
"Anaknya lucu banget! Mirip Jovan, ya?"
"Wanita itu siapa? Cantik juga."
"Pantas saja Jovan jarang terlihat dekat dengan perempuan lain."
"Jangan-jangan dia sengaja menyembunyikan keluarganya demi karier."
Sebagian orang bahkan mulai mencari identitas Serina. Nama pabrik tempat Serina bekerja ikut disebut-sebut. Beberapa akun anonim mengunggah foto gerbang pabrik, sementara warga sekitar mulai membicarakan kehidupan pribadi wanita itu.
Serina yang baru saja pulang dari bekerja tidak mengetahui apa pun. Namun, begitu sampai di depan kontrakan, langkahnya langsung terhenti. Beberapa orang berdiri di depan pagar. Ada wartawan yang membawa kamera, reporter dengan mikrofon, dan sejumlah warga yang tampak sibuk berbisik-bisik.
"Bu, apakah benar Anda adalah wanita yang dekat dengan Jovan Narendra?"
"Apakah Farel merupakan anak Jovan?"
"Sejak kapan Anda menjalin hubungan dengan Jovan?"
"Apakah Jovan membiayai kehidupan Anda dan anak Anda?"
"Benarkah kalian sudah menikah secara diam-diam?"
Serina terkejut. Farel yang berada di sampingnya langsung menggenggam tangan ibunya dengan erat.
"Bunda..."
Serina segera menarik Farel ke belakang tubuhnya. "Jangan mendekat!" bentaknya.
Namun para wartawan terus mengajukan pertanyaan.
"Bu, tolong jawab sebentar saja!"
"Apakah benar Jovan sudah memiliki keluarga?"
"Apakah Anda sengaja menyembunyikan hubungan ini dari publik?"
Serina merasakan darahnya mendidih. Ia tidak pernah meminta kehidupan pribadinya disorot. Ia juga tidak pernah menginginkan namanya dikaitkan dengan seorang pembalap terkenal. Terlebih lagi, semua orang seolah-olah bebas membuat cerita sendiri tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Berhenti!" seru Serina dengan suara bergetar karena marah.
Kerumunan itu perlahan terdiam. Serina menatap mereka satu per satu.
"Saya tidak tahu siapa yang menyebarkan berita murahan itu, tetapi jangan pernah menyeret anak saya ke dalam gosip kalian!"
Salah seorang wartawan kembali mengangkat mikrofon.
"Jadi, Anda membantah bahwa Farel adalah anak Jovan?"
"Tentu saja saya membantah!" Suara Serina terdengar tegas. "Farel adalah anak saya dan mendiang suami saya, Riki Sanjaya. Bukan anak Jovan!"
Beberapa orang mulai berbisik.
"Suaminya sudah meninggal?"
"Berarti Jovan memang dekat dengan janda?"
Serina mengepalkan tangan. "Dan satu hal lagi..." lanjutnya dengan tatapan tajam. "Jovan bukan suami saya, bukan kekasih saya, dan bukan ayah dari anak saya!"
Farel menatap ibunya dengan wajah bingung. Serina berusaha menahan emosinya.
"Dia hanya seseorang yang pernah terlibat dalam kecelakaan yang merenggut nyawa suami saya. Kalau sekarang dia berbuat baik kepada Farel, itu bukan berarti kalian berhak membuat cerita seenaknya!"
Wartawan kembali menyerbu dengan pertanyaan.
"Apakah Jovan bertanggung jawab secara finansial?"
"Apakah Anda menerima uang dari Jovan?"
"Apakah hubungan kalian akan berlanjut setelah dia pulang dari Australia?"
Serina tidak mampu lagi menahan amarahnya.
"Cukup!"
Ia menarik Farel masuk ke dalam kontrakan, lalu menutup pintu dengan keras. Suara keributan dari luar masih terdengar. Farel memandang ibunya dengan cemas.
"Bunda marah?"
Serina berlutut di hadapan putranya.
"Iya, Nak. Bunda marah."
"Karena Om Jovan?"
Serina terdiam.
"Karena orang-orang itu berkata bohong," jawabnya akhirnya.
Farel memeluk leher ibunya. "Om Jovan bukan ayah Farel, kan?"
Serina mengusap rambut putranya. "Bukan, Sayang."
"Ayah Farel tetap Ayah Riki?" Mata Serina mulai berkaca-kaca.
"Iya. Ayah Riki akan selalu menjadi ayahmu."
Farel mengangguk kecil. "Kalau begitu, jangan sedih, Bunda."
Pelukan polos itu justru membuat hati Serina semakin sakit. Ia tidak ingin Farel ikut terluka hanya karena orang dewasa tidak bertanggung jawab dengan perkataan mereka.
Malam harinya, Serina duduk di ruang tengah kontrakan dengan wajah muram. Telepon genggamnya tidak berhenti berdering. Pesan dari rekan kerja, tetangga, bahkan nomor tidak dikenal terus masuk.
Sebagian bertanya. Sebagian menghakimi. Dan sebagian lainnya justru menyebarkan gosip yang semakin tidak masuk akal. Serina akhirnya mematikan ponselnya.
"Benar-benar keterlaluan," gumamnya.
Bu Aida yang duduk di dekatnya menghela napas.
"Sabarlah, Serina. Namanya juga orang banyak. Kadang mereka lebih suka mendengar cerita yang heboh daripada mencari kebenaran."
"Tapi mereka sudah datang ke rumah, Bu. Mereka membuat Farel ketakutan."
Bu Aida menatapnya dengan iba. "Kalau begitu, sebaiknya kamu meminta bantuan seseorang."
Serina terdiam sejenak. Satu nama langsung terlintas dalam pikirannya.
"Darren..."
Tidak lama kemudian, Serina menghubungi AKBP Darren Narendra.bDarren yang sedang berada di ruang kerjanya segera mengangkat telepon.
"Halo, Serina?"
"Maaf mengganggu, Darren."
"Ada apa? Suaramu terdengar tidak baik."
Serina menarik napas panjang.
"Berita tentang aku dan Jovan sudah tersebar di mana-mana."
Darren langsung mengernyitkan keningnya "Berita apa?"
"Mereka bilang aku istri Jovan. Mereka juga bilang Farel adalah anaknya."
Darren terdiam. Tangannya mengepal di atas meja.
"Siapa yang menyebarkan berita itu?"
"Aku tidak tahu. Tapi wartawan datang ke kontrakan. Mereka memotret rumahku, bertanya macam-macam, bahkan menyebut nama pabrik tempatku bekerja."
Darren berdiri dari kursinya.
"Serina, apakah kamu dan Farel baik-baik saja?"
"Kami baik-baik saja. Tapi aku sangat marah."
"Aku akan mengusutnya."
"Darren, aku tidak mau masalah ini semakin besar."
"Aku mengerti," jawab Darren tenang. "Justru karena itu, aku harus mencari tahu dari mana berita ini berasal dan siapa yang pertama kali menyebarkannya."
Serina terdiam. Darren melanjutkan, "Kamu jangan menghadapi wartawan sendirian. Kalau mereka datang lagi, segera hubungi aku."
"Terima kasih."
"Dan satu lagi, Serina..."
"Apa?"
"Jangan hapus pesan atau unggahan apa pun yang masuk. Simpan semua bukti. Foto, tautan, nomor telepon, dan rekaman jika ada."
"Baik."
"Aku akan menghubungi timku."
Setelah telepon berakhir, Darren menatap layar komputernya dengan serius. Ia segera meminta anak buahnya menelusuri sumber pertama foto-foto tersebut, akun yang mengunggahnya, serta pihak-pihak yang menyebarkan informasi pribadi Serina dan Farel. Darren tahu, gosip semacam itu tidak selalu muncul secara kebetulan.
Apalagi jika seseorang sengaja membuntuti Jovan dan mengambil foto tanpa sepengetahuan pria itu.
"Siapa pun yang melakukan ini..." gumam Darren, "kalian sudah melibatkan orang yang tidak bersalah."
*
*
Sementara itu, di Australia, Jovan sama sekali belum mengetahui kehebohan yang terjadi di Indonesia. Ia sedang bersiap mengikuti sesi latihan terakhir sebelum perlombaan. Suasana sirkuit dipenuhi suara mesin mobil balap yang meraung. Para mekanik sibuk memeriksa kendaraan, sementara Jovan mengenakan pakaian balapnya. Leo datang menghampirinya sambil membawa telepon genggam.
"Jo..."
"Apa?"
"Lo sudah lihat berita?"
Jovan menggeleng. "Belum. Kenapa?"
Leo tampak ragu. "Kayaknya ada masalah."
Jovan menoleh. "Masalah apa?"
Leo menyerahkan telepon genggamnya. Begitu melihat judul berita yang terpampang di layar, wajah Jovan langsung berubah.
"Jovan Narendra Diam-Diam Telah Memiliki Anak?"
Di bawah judul itu terdapat foto dirinya bersama Farel.
Ada pula foto Serina di depan pabrik. Jovan membaca beberapa komentar dengan rahang mengeras.
"Mereka gila?" gumamnya.
Leo menghela napas.
"Beritanya sudah menyebar ke mana-mana. Bahkan ada yang bilang lo sengaja menyembunyikan keluarga demi karier."
Jovan menggulir layar dengan cepat. Ketika melihat foto Serina dan Farel dikerumuni wartawan, ekspresinya berubah menjadi cemas.
"Ini diambil di depan kontrakan Serina?"
"Iya."
"Brengsek!"
Jovan langsung mengambil telepon genggamnya sendiri. Ia mencoba menghubungi Serina. Namun panggilannya tidak dijawab.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap tidak ada jawaban.
Jovan kemudian menghubungi Bu Aida, tetapi wanita itu juga tidak segera mengangkat telepon.
"Dia pasti marah," ucap Jovan pelan.
Leo menatapnya.
"Lo mau pulang?"
Jovan terdiam.
Di satu sisi, perlombaan besar sudah menunggunya.
Di sisi lain, Serina dan Farel sedang menghadapi masalah yang muncul akibat dirinya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana," kata Jovan.
Leo menepuk bahunya."Lo tidak melakukan ini dengan sengaja."
"Tapi mereka tetap menyeret Serina dan Farel."
Jovan menatap foto Farel yang sedang tersenyum di layar. "Aku cuma ingin membuat anak itu bahagia. Aku tidak pernah berpikir kebaikan kecilku malah membuat hidup mereka semakin sulit."
Leo terdiam. Jovan kemudian menarik napas panjang.
"Setelah perlombaan selesai, aku akan pulang secepatnya."
Beberapa hari kemudian, hari perlombaan akhirnya tiba. Sirkuit Australia dipenuhi penonton.
Sorak-sorai terdengar dari berbagai penjuru ketika mobil-mobil balap mulai memasuki lintasan.
Di Indonesia, Serina sedang duduk di ruang tengah kontrakan bersama Farel dan Darren.
Televisi menampilkan siaran langsung perlombaan tersebut. Farel duduk paling depan dengan mata berbinar.
Begitu mobil balap merah yang dikendarai Jovan muncul di layar, Farel langsung berdiri.
"Itu Om Jovan!"
Ia menunjuk layar dengan penuh semangat.
Darren yang duduk di sofa menoleh kepada anak kecil itu.
"Farel tahu mobil Om Jovan yang mana?"
"Tahu dong, Om Jovan hebat!"
Serina duduk di samping Darren sambil memperhatikan putranya. Wajahnya masih menyimpan kekesalan akibat gosip beberapa hari terakhir.
Namun melihat kebahagiaan Farel, amarah itu perlahan mereda.
Perlombaan dimulai.
Suara mesin mobil memenuhi ruang tengah.
Farel bertepuk tangan setiap kali mobil Jovan berhasil menyalip lawan.
"Ayo, Om Jovan! Cepat!"
Darren tersenyum tipis. Ia tidak menyangka kebaikan Jovan selama ini telah membuat Farel merasa begitu dekat dengan pria itu. Jovan bukan hanya seseorang yang pernah hadir dalam masa sulit Farel. Bagi anak kecil itu, Jovan telah menjadi sosok yang membawa warna baru dalam kehidupannya.
Tiba-tiba Farel menoleh kepada Serina.
"Bunda..."
"Iya, Sayang?"
"Sudah besar nanti, Farel ingin menjadi seperti Om Jovan."
Serina tersenyum kecil.
"Seperti apa?"
"Menjadi pembalap yang hebat!" Farel kembali memandangi layar televisi dengan mata berbinar.
"Farel mau punya mobil balap. Farel mau menang lomba. Terus nanti Farel bisa beliin Bunda rumah besar dan tas baru."
Serina terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri. Ia mengusap kepala Farel.
"Kalau kamu ingin menjadi pembalap, kamu harus rajin belajar, rajin berlatih, dan selalu mendengarkan nasihat Bunda."
Farel mengangguk cepat. "Farel janji!"
Darren memandangi keduanya dalam diam. Kemudian ia melirik layar televisi, tempat Jovan sedang melaju kencang di lintasan. Dalam hati, Darren mengakui bahwa adiknya telah memberikan pengaruh besar kepada Farel. Jovan mungkin datang ke dalam kehidupan Serina dan Farel melalui sebuah tragedi.
Namun tanpa disadari, perlahan ia juga membawa harapan baru. Darren menghela napas pelan.
"Semoga kau tahu, Jo..." gumamnya dalam hati. "Apa yang sudah kau tanamkan di hati anak itu."
Di layar televisi, mobil Jovan memasuki tikungan terakhir. Farel berteriak penuh semangat.
"Ayo, Om Jovan! Menang!"
Serina dan Darren sama-sama menatap layar.
Sementara jauh di Australia, Jovan menginjak pedal gas lebih dalam, berjuang menyelesaikan perlombaan.
Ia tidak tahu bahwa di sebuah kontrakan sederhana di Indonesia, seorang anak kecil sedang menyaksikan perjuangannya dengan penuh kekaguman.
Dan ia juga tidak tahu, setelah perlombaan itu berakhir, dirinya harus kembali menghadapi persoalan yang jauh lebih rumit daripada lintasan balap mana pun.
Bersambung...
dia tidak pernah minta untuk dilahirkan di keluarga narendra...
mungkin blm karma menghampiri kamu jika seuatu saat nanti kebenaran tentang masal lalu narendra, mama kandung jovan dan kau marcella ada terkaitannya tidak mungkin jovan akan menutup mata dia pasti akan membalas perbuatan itu entah apa yg dilakukan
jovan setelah menikahi serina adakah kejutan buat keluarga narendra atau tentang masa lalu yang blm usai🤔🤔🤔🤔
benar kata leo bahwa kamu sudah mulai mencintai serina dan farel sebagai orang tercinta🤭🤭🤭🤭
mungkin setelah kamu menikah dengan serina adakah nanti kamu akan menggantikan mendiang riki🤔🤔🤔🤔🤔
untuk darren hatimu sakit wanita yang menjadi cinta pertama akan menikah dengan saudara kandung sendiri namun dirimu kuat untuk tidak mengahancurkan adik kamu.
nanti apa kebenaran tentang masa lalu
Awal cerita sudah sedih .... 😭