NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - Yes or Yes

Sepanjang perjalanan pulang ke apartemenku, aku dan Liam hanya diam.

Aku juga tidak berniat bertanya apa-apa.

Sepertinya Liam masih begitu terkejut dengan ucapan papanya tadi.

Mama dan neneknya sudah meninggal, dan sekarang papanya malah mengatakan hal seperti itu.

Aku bisa memahami kalau perkataan itu sulit diterima Liam.

Beberapa menit kemudian, kami akhirnya tiba di apartemenku.

Aku kira Liam akan menghentikan mobilnya di depan apartemen, tetapi ternyata dia malah mengarahkan mobilnya masuk ke basement.

Mungkin agar aku bisa langsung naik lift.

Eh?

Namun, Liam justru memosisikan mobilnya untuk parkir.

“Elle...” panggil Liam begitu mesin mobil dimatikan.

Aku menoleh.

“Aku boleh ke apartemen kamu?” lanjutnya.

“Mau ngapain? Kamu mau nginep di apartemenku lagi?” tanyaku.

“Nggak. Aku cuma nggak pengin langsung pulang,” jawab Liam.

Aku terdiam.

Sepertinya Liam memang ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu.

“Oke. Boleh.”

“Makasih, Elle.”

Kami berdua melepaskan sabuk pengaman, keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam lift.

Di dalam lift, kami hanya diam. Hanya suara mesin lift yang terdengar membawa kami menuju lantai apartemenku.

Tak lama kemudian, lift berhenti.

Ting!

Kami berdua keluar dari lift lalu berjalan menuju unitku.

Aku memasukkan kode sandi pintu.

“Kenapa belum kamu ganti kode sandinya?” tanya Liam.

“Ah, iya. Lupa.” Aku menatap tombol di depan pintu. “Ya udah, aku ganti sekarang.”

“Jangan!”

Liam langsung mencegahku ketika tanganku hampir menyentuh tombol.

“Kenapa?” tanyaku.

“Biar kamu inget aku aja,” ucap Liam.

Aku menoleh kepadanya.

“Kita udah nggak punya hubungan apa-apa, lho.”

“Ah, udahlah. Ayo masuk.”

Liam meraih tanganku, memasukkan kode pintu, lalu menarikku masuk ke dalam.

Begitu masuk, dia melepaskan tanganku lalu duduk di sofa.

“Mau minum?” tanyaku.

“Boleh.”

Aku mengambilkan minuman untuknya lalu menyerahkannya kepada Liam. Setelah itu, aku ikut duduk di sampingnya.

Liam meminum minumannya.

Setelah itu, kami kembali diam.

Aku bingung ingin berbicara apa dengannya.

“Elle... maaf, ya. Tadi jadi kayak gitu,” ucap Liam.

“Kenapa kamu malah minta maaf? Aku paham, kok, kenapa Papa kamu sampai bilang kayak gitu. Kita kan nggak tahu sampai kapan kita ada di dunia ini. Urusan mati itu rahasia Tuhan. Jadi mungkin karena itu Papa kamu bilang kayak tadi.”

“Tapi aku nggak mau papa bilang kayak gitu.” Liam menunduk. “Papa kayak pesimis. Kayak nyerah. Aku pengin sama-sama Papa terus. Sampai aku menikah, sampai aku punya anak.”

Ternyata Liam punya impian seperti itu.

“Aku juga punya perasaan yang sama kayak kamu. Aku juga pengin bersama orang tuaku selamanya. Tapi takdir Tuhan nggak bisa kita atur. Aku bukannya nyuruh kamu menyerah. Cuma kita jangan lupa kalau kita manusia biasa yang hanya bisa berencana.”

Liam menatapku.

“Emang kalau kamu nikah sama aku, kamu mau?” tanya Liam.

“Lho, kenapa malah jadi ke arah situ?” tanyaku.

“Kan Papa pengin aku cepat nikah supaya dia bisa lihat aku nikah. Dan yang Papa tahu, kamu itu pacarku. Berarti kalau aku nikah, aku nikahnya sama kamu, dong?”

“Eh! Nggak, nggak! Liam, aku masih nggak percaya sama kamu, ya. Kalau nikah sama kamu, nggak. Nggak. Kamu cari cewek lain aja.”

Liam tiba-tiba mendekat lalu memegang tanganku.

Aku terkejut.

“Elle... maaf. Aku tahu yang aku lakuin ke kamu itu jahat. Dan aku nggak pantas mendapatkan maaf dari kamu, apalagi meminta lebih. Tapi... kalau aku harus memenuhi permintaan Papa, aku maunya sama kamu.”

“Kenapa harus aku?” tanyaku.

“Karena kita udah saling kenal. Karena kita... teman.”

Aku langsung menarik tanganku.

“Nggak! Aku tetap nggak mau. Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu.”

“Baiklah. Kayaknya memang aku harus cari cewek lain.”

“Iya, betul. Pasti banyak di luar sana cewek yang mau sama kamu. Kamu kan kaya.”

“Kenapa kamu ngomong itu terus sih? Aku kaya.”

“Lha, kamu kan memang kaya.”

“Kamu kayak nggak suka sama aku yang sekarang.”

“Emang kapan aku suka sama kamu?”

“Kamu udah lupain kebersamaan kita dulu, ya?”

“Kenapa aku harus mengingat kenangan buruk?”

“Tapi sebelum kenangan buruk itu, kamu pernah suka sama aku.”

“Itu adalah kebodohan terbesarku.” Aku menatap Liam. “Seharusnya aku nggak percaya sama kamu. Seharusnya aku dengerin Ayahku. Seharusnya waktu di sekolah dulu aku nggak pakai hatiku. Aku seharusnya pakai otakku aja supaya hal itu nggak terjadi.”

Liam terdiam.

Tiba-tiba ponsel Liam berdering.

Liam mengambil ponselnya lalu mengangkat telepon itu.

“Halo, Pak Andi?”

Aku memperhatikannya.

“Apa?!”

Ekspresi Liam langsung berubah.

“Papa drop?”

Apa?

Papa Liam drop?

“Baik, Pak. Saya akan segera ke sana.”

Liam langsung mengakhiri panggilan.

“Papa kamu drop?” tanyaku.

“Iya. Aku harus ke rumah sakit sekarang.”

Liam berdiri.

“Aku ikut,” ucapku.

Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin tahu keadaan Papa Liam.

Liam terdiam sejenak sambil menatapku.

“Ya udah, ayo.”

Kami berdua keluar dari apartemenku dan menuju basement.

Setelah masuk ke mobil dan meninggalkan apartemenku, kami hanya diam.

Liam menyetir begitu cepat seperti sedang mengejar waktu.

Beberapa menit kemudian, kami sampai di rumah sakit.

Liam langsung mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Pak Andi lagi.

“Halo, Pak Andi. Sekarang Papa di ruangan apa?”

Aku mendengar Liam beberapa saat berbicara dengan Pak Andi.

“Baik, Pak.”

Liam mematikan teleponnya.

“Ayo, kita turun.”

Kami pun turun dari mobil lalu masuk ke rumah sakit.

Begitu masuk, kami langsung menuju lift.

Tak lama kemudian, lift berhenti di salah satu lantai.

Kami keluar dari lift.

Di lantai itu terdapat area rawat inap VIP.

Setelah melewati beberapa ruangan, kami berhenti di sebuah ruangan yang letaknya hampir di ujung lorong.

Kami pun masuk.

Kulihat Pak Andi sudah berada di dalam.

Sementara Papa Liam terbaring di tempat tidur dengan mata tertutup dan infus terpasang di tangannya.

“Bagaimana bisa seperti ini, Pak?” tanya Liam.

“Setelah Mas Liam dan Mbak Elle pergi, Bapak tiba-tiba drop,” jawab Pak Andi.

“Lalu apa kata dokter?”

“Dokter bilang kondisi beliau sudah stabil. Tapi beliau masih belum sadar. Dokter menduga jantung beliau kembali bermasalah dan masih melakukan pemeriksaan. Untuk sementara, beliau harus dirawat dan dipantau.”

Liam mengangguk.

Dia lalu duduk di samping tempat tidur dan menggenggam tangan papanya.

“Maafin aku, ya, Papa. Gara-gara aku, Papa jadi kayak gini. Tadi seharusnya aku nggak ngomong kayak gitu ke Papa. Seharusnya aku dengerin apa kata Papa.”

Liam terdiam sejenak.

Dia lalu menatapku sebentar sebelum kembali menatap papanya.

“Aku akan ikut apa kata Papa. Aku akan segera menikah.”

Eh?

“Jadi bangun, ya, Papa. Biar Papa bisa lihat aku menikah.”

Aku hanya bisa diam melihat Liam.

Ternyata sesayang itu Liam kepada papanya.

Tak lama kemudian, Liam berdiri.

“Pak, saya keluar dulu sebentar.”

“Iya, Mas.”

Liam berjalan ke arahku lalu meraih tanganku.

“Ayo, kita bicara sebentar.”

“Eh!”

Liam membawaku keluar dari ruangan lalu menarikku ke salah satu sudut lorong. Dari sana, aku bisa melihat pemandangan di luar melalui jendela besar di ujung lorong.

Liam kemudian melepaskan tanganku.

“Elle...”

Aku menatapnya.

“Aku tahu kamu masih belum percaya sama aku, tapi aku nggak punya pilihan lain.”

Aku terdiam.

Apa yang sebenarnya ingin Liam katakan?

“Elle... aku mohon bantu aku. Aku mohon... nikah sama aku.”

“Apa?!” seruku terkejut. "Liam, aku kan tadi udah bilang aku nggak mau nikah sama kamu.”

Liam memegang kedua tanganku.

“Aku mohon, Elle. Demi Papa aku. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi.”

Kenapa jadi seperti ini?

Aku bertemu Liam kembali.

Liam menjadi klienku.

Sekarang, Liam memintaku untuk menikah dengannya.

Aku tidak pernah menyangka pertemuan kami kembali akan membawa kami sejauh ini.

Dan sekarang aku harus memberikan jawaban.

“Aku nggak mau nikah sama orang yang belum bisa aku percaya,” ucapku.

“Kamu nggak perlu percaya sama aku. Karena kita hanya akan menikah, bukan menjadi suami-istri.”

“Menikah tapi nggak jadi suami-istri? Maksudnya?”

“Kita akan menikah secara sah menurut agama dan negara, tapi kita nggak akan melakukan hal-hal yang dilakukan suami-istri. Kita tetap kayak biasanya. Kita cuma akan tinggal satu atap.”

Hah?

Bagaimana bisa Liam terpikirkan hal seperti itu?

“Kita cuma tinggal satu atap dan nggak melakukan hal layaknya suami-istri?” tanyaku memastikan.

“Iya.”

“Sampai kapan?”

“Hah?”

“Sampai kapan pernikahan kita? Aku nggak mau selamanya menikah sama kamu.”

“Untuk sampai kapan... aku nggak tahu.”

“Hah? Kok nggak tahu?”

“Aku nggak mau Papa drop lagi karena mikirin aku.”

Aku menghela napas.

Bagaimana ini?

Aku kasihan melihat Papa Liam, tapi aku juga tidak mau kembali berurusan dengan Liam.

Ah...

Pasti Papa Liam hanya ingin melihat anaknya menikah. Jadi, berapa lama kami menjalani pernikahan ini sepertinya tidak terlalu penting.

“Gini aja... yang penting Papa kamu bisa lihat kamu menikah, kan? Kita menikah enam bulan aja. Aku rasa enam bulan cukup,” ucapku.

“Enam bulan? Kamu pikir kita lagi menjalani masa perkuliahan?” ucap Liam.

“Tapi aku nggak mau lama-lama sama kamu.”

Liam terdiam, seperti sedang berpikir.

“Dua tahun. Kita akan menikah selama dua tahun. Aku rasa bercerai setelah dua tahun pernikahan adalah waktu yang wajar.”

“Dua tahun? Hei... perpanjangan kontrak kerja aja setiap satu tahun sekali.”

Liam menatapku beberapa saat.

“Ya udah. Satu tahun.”

Aku mengangguk.

“Oke. Satu tahun.”

Aku lalu teringat sesuatu.

“Oh iya... harus ada kontrak yang mengikat kita. Biar kita nggak ikut campur urusan masing-masing dan biar kamu nggak macam-macam.”

“Hei! Aku bukan cowok yang suka memanfaatkan keadaan, ya!”

“Ya, itu sekarang. Siapa tahu nanti setelah kita menikah kamu melakukan sesuatu yang merugikan aku.”

“Nggak! Aku nggak akan kayak gitu. Dan sebaiknya kita nggak perlu pakai kontrak-kontrak. Nanti kalau ada yang tahu, apalagi Papa, malah jadi ribet.”

“Tapi aku nggak percaya sama kamu, Liam!”

“Aku nggak akan macem-macem sama kamu. Kalau aku orang yang suka memanfaatkan keadaan, waktu aku nginep di apartemen kamu dan kamu belum bangun, mungkin kamu udah aku apa-apain. Tapi ternyata nggak, kan?”

Benar juga.

Tapi...

“Untuk hal ini, percaya sama aku, Elle.”

Aku menghela napas.

Kenapa jadi seperti ini?

Menikah dengan mantan?

Benar-benar tidak pernah ada dalam bayanganku.

“Kamu janji nggak akan memanfaatkan keadaan?” tanyaku.

“Iya. Aku janji.”

Aku kembali menghela napas.

“Oke. Aku akan menikah sama kamu.”

Wajah Liam langsung terlihat senang.

Lalu tiba-tiba dia memelukku.

Aku terkejut.

“Makasih, Elle. Makasih, Elle,” ucap Liam.

Aku hanya bisa mematung.

Setelah sekian lama, Liam kembali memelukku.

Dan entah kenapa, jantungku berdetak begitu cepat.

Apa karena sudah lama aku tidak dipeluk seorang laki-laki?

Atau karena sesuatu yang lain?

Aku tidak tahu.

Yang pasti, setelah ini hidupku akan berubah.

Aku akan menikah dengan mantanku sendiri.

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!