Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi bersama kyo
Takumi masih menatap layar ponselnya setelah mengirimkan satu angka. Singkat seperti biasa.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali memeriksa dokumen yang sejak tadi terbuka di hadapannya.
Belum sempat ia membaca halaman berikutnya, Shubaki datang menghampiri mejanya sambil membawa beberapa lembar gambar teknis.
“Takumi, sudah selesai memeriksa laporan kemarin?”
“Sebagian.” Takumi menerima berkas tersebut.
“Ada beberapa bagian rangka yang perlu kita cek langsung di lapangan.”
“Bagian tanah?”
“Ya. Terutama sisi timur lokasi, sudah mulai pemasangan baja penyangga ”
Shubaki menarik kursi di depan meja.
“Kalau begitu kita sekalian cek ulang hari ini. Genji dan Kiba sudah siap.”
Takumi mengangguk. “Baik. Kita ayo berangkat.”
Beberapa menit kemudian, mereka mulai bersiap.
mereka mengganti pakaian kerjanya dengan pakaian lapangan dan mengenakan perlengkapan keselamatan. Helm proyek, rompi, sarung tangan, serta sepatu keselamatan sudah disiapkan.
Koper berisi alat ukur dan perlengkapan pemeriksaan lokasi dimasukkan ke dalam mobil.
Makoto juga ikut bersama mereka karena ia terlibat dalam perancangan proyek tersebut.
Akhirnya, lima orang berangkat bersama.Takumi berada di balik kemudi. Di kursi penumpang depan duduk Shubaki, sementara Kiba, Genji, dan Makoto berada di belakang.
Sepanjang perjalanan, pembicaraan mereka lebih banyak membahas pekerjaan.
“Kalau hasil pengukuran hari ini sesuai, kita bisa lanjut ke tahap berikutnya,” ujar Shubaki sambil melihat dokumen.
“Untuk struktur pondasi, kita masih harus menunggu hasil pemeriksaan tanah,” jawab Takumi.
Kiba ikut menyahut dari kursi belakang.
“Kalau begitu semoga hari ini tidak ada masalah lagi. Aku tidak mau pulang sore hanya gara-gara satu titik tanah.”
Genji tertawa. “Bukannya kau memang selalu pulang sore?”
“Itu beda kali inu aku ingin bermain game dengan seseorang.”
Takumi hanya mendengarkan percakapan mereka sambil fokus menyetir. Sampai beberapa menit kemudian, mobil mereka memasuki jalan yang tidak jauh dari rumah yang ia sewa.
Takumi secara refleks melirik ke arah rumah tersebut. Lalu matanya langsung menangkap sesuatu. Sebuah motor besar terparkir di depan rumah.
Takumi mengenal motor itu.
Kyo.
Tangannya yang memegang kemudi sedikit mengencang.
Dia ada di sana?
Takumi kembali menatap jalan di depannya. Dari kejauhan, Kiba tiba-tiba bersuara. “Eh, itu motor siapa?”
Genji ikut melihat ke arah yang sama. “Motor besar banget.”
“Jangan-jangan ada orang di rumahmu, Takumi?” tambah Shubaki.
Takumi menjawab dengan nada santai. “Itu motor tetangga.”
Kiba masih memperhatikan motor tersebut. “Serius? Bukannya rumah di sebelah sana punya tempat parkir?”
Takumi tidak mengubah ekspresinya.
“biarlah, hanya numpang parkir.”
Makoto yang duduk di belakang ikut melihat ke luar jendela.
Jawaban Takumi terdengar datar. Untungnya, mereka tidak bertanya lebih jauh. Mobil terus melaju meninggalkan rumah.
Namun setelah rumah itu tidak lagi terlihat, pikiran Takumi justru tertinggal di sana.
Kyo bersama Rin.
Ia menatap lurus ke jalan.
Takumi mengerutkan kening. Ia mencoba mengabaikannya.
Di belakang, Kiba kembali membicarakan pekerjaan.
“Takumi, nanti setelah pemeriksaan tanah kita langsung ke lokasi kedua?”
“Ya.”
Jawabannya otomatis. Pikirannya tetap berada di rumah.
Takumi mengembuskan napas pelan.Tangannya kembali mengencang di kemudi.
Dan kenapa dia membiarkan pria itu masuk ketika tidak ada siapa-siapa di rumah? Rin seharusnya istirahat.
Takumi langsung mengerutkan dahi.
Ia tahu Rin memang ceroboh tapi Membiarkan seorang pria yang baru dikenalnya masuk ke rumah saat hanya mereka berdua...
Dasar tidak waspada.
Takumi menghela napas.
“Kenapa kau menghela napas?” Suara Shubaki membuatnya tersadar.
“Tidak apa-apa.”
“Kau terlihat sedang memikirkan sesuatu..?”
“Hanya Pekerjaan Kita”
Shubaki mengangguk dan kembali melihat dokumen.
Takumi kembali fokus pada jalan. Namun beberapa detik kemudian, pikirannya kembali melayang.
Seharusnya aku pulang saja setelah pemeriksaan selesai.
Ia sendiri terdiam dengan pikirannya.Takumi menggeleng kecil. Ia mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal yang membuat dia gelisah.
Satu hal yang jelas, pikirannya benar-benar terganggu sejak melihat motor besar milik Kyo terparkir di depan rumah.
Dasar...
Takumi menatap jalan di depannya.
Bukan istirahat malah bukain pintu untuk orang lain.
***
Kembali ke rumah kediaman Rin,
Di balik bantal yang sejak tadi dipeluk, ternyata masih terselip sebuah map. Ketika Kyo hendak merapikan bantal sofa, tangannya tidak sengaja menyentuh benda tersebut lalu menariknya keluar.
“Eh?” Kyo melihat sampul map yang menyembulkan beberapa lembar kertas dari dalamnya. “Oh... ini punya kamu?”
Rin melirik. “Iya, dari ayahku.”
Kyo membuka sedikit bagian depannya, mendapati berbagai brosur universitas. “Kau ingin kuliah S2?”
Rin langsung terkekeh. “S1 saja belum mulai.”
Kyo terdiam sebentar, lalu menutup map tersebut. “Oh... jadi kau memang tidak kuliah?..Kenapa?”
Rin mengangkat bahunya. “Entahlah, belum kepikiran saja saat itu.” Ia mengambil kembali map tersebut. “Mungkin... aku baru akan mulai mencari sekarang. Mungkin, sih.”
Kyo tersenyum kecil. “Setidaknya sudah mulai terpikir.”
Tatapannya kemudian berpindah ke map lain di dekat sofa. Begitu mengambil dan membukanya, beberapa lembar foto pria langsung terlihat beserta informasi yang tertera di bawahnya. Kyo terkekeh. “Kalau ini punya ayahmu juga?”
Rin mengangguk.
Kyo mengamati foto-foto itu satu per satu. “Coba aku tebak,” katanya mengangkat salah satu lembar. “Kau diberi dua pilihan: kuliah atau menikah. Lalu ayahmu yang memilihkan calon untukmu.”
“Betul.”
Kyo melihat ketiga foto tersebut lagi, lalu menunjuk dirinya sendiri sambil berseloroh, “Berarti dari tiga ini... pasti aku yang masuk pilihan pertama.”
Rin tertawa kecil. “Jangan percaya diri dulu.”
Kyo membandingkan dua foto lainnya, mengerutkan kening, lalu tertawa. “Kalau yang dua ini... terlalu tua untukmu, Tachibana-san.”
Rin hanya terkekeh. “Aku sendiri belum memutuskan untuk menikah.” Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Aku cuma ingin berhenti ribut dengan ayah.”
“Begitu rupanya.”
Kyo baru saja hendak melanjutkan percakapan ketika ponselnya berbunyi. Ting! Ia melirik layar sebentar lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku. “Ah... baiklah, Tachibana-san. Aku harus kembali.”
“Baik,” sahut Rin mengangguk, lalu berdiri mengantar Kyo menuju pintu depan.
Sesampainya di genkan, Kyo mengenakan sepatunya sementara Rin berdiri di dekat pintu. “Panggil aku Rin saja.”
Tangan Kyo yang sedang merapikan jaket mendadak berhenti. Ia menatap Rin. “Rin?”
“Iya.”
Senyum Kyo langsung terlihat lebih cerah. “Baiklah, Rin. Kalau begitu, kau juga cukup panggil aku Kyo.”
Rin mengangguk. “Baik, Kyo.”
Kyo berjalan keluar, namun sebelum naik ke motornya, ia menoleh kembali. “Kau masuklah. Aku akan pergi kalau kau sudah masuk.”
Rin tersenyum kecil. “Baik. Hati-hati.”
Suara mesin motor langsung menyala keras hingga ucapan Rin hampir tak terdengar, namun Kyo tetap mengangkat tangannya sebagai tanda mendengar. Rin menutup pintu, dan tak lama kemudian suara motor Kyo perlahan menjauh.
Rin berdiri beberapa detik di balik pintu, menghela napas pelan. “Pertemuan terakhir ternyata tidak seburuk yang kukira.”
Ia berbalik menuju ruang tengah. Dari tiga pria yang ditemuinya, Kyo adalah orang yang paling mudah membuatnya merasa nyaman. Dan sekarang, Rin hanya perlu menunggu keputusan ayahnya setelah seluruh rangkaian pertemuan ini selesai.