Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Penghuni yang Tidak Seharusnya Ada

Suara seretan roda koper terdengar nyaring dari ujung jalan, menyebarkan bunyi gemuruh pelan yang memecah keheningan. Langkah kaki yang terasa berat itu terus bergerak mendekat, sesekali tersendat saat roda koper menghantam permukaan jalanan yang tidak rata.

Di halaman sebuah rumah, seorang wanita tua bertubuh sedikit membungkuk sedang sibuk mengayunkan sapunya. Begitu pendengarannya menangkap suara kegaduhan kecil itu, ia menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah sumber suara.

Dugaannya tepat. Cucu kesayangannya berjalan mendekat sambil membawa sebuah koper di tangan kanan, sementara tangan kirinya membawa kantong plastik berukuran besar.

Wajah Rin Tachibana ditekuk dalam-dalam dengan mata yang tampak sedikit memerah. Begitu menyadari keberadaan sang nenek yang berdiri di halaman, Rin mendadak melepaskan grip kopernya di depan pintu. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menghampiri wanita tua itu.

“Obaachan…”

Rin langsung memeluk neneknya dengan erat. Hanya butuh beberapa detik sampai bahunya mulai bergetar hebat.

“Ayah dan Ibu mulai lagi, obaachan…” ucap Rin dengan suara tercekat. “Aku nggak tahan tinggal di rumah.”

Sang nenek menghela napas panjang, lalu perlahan mengusap punggung cucunya lembut untuk memberikan ketenangan.

“Kalau begitu, kenapa tidak kuliah saja?”

Rin perlahan melepaskan pelukannya, kemudian menatap wanita tua di hadapannya dengan mata yang sudah sembap.

“Buat apa?”

“Biar sibuk. Kalau kuliah, setidaknya ayah dan ibumu tidak akan terus menyuruhmu menikah.”

Bukannya tenang, Rin malah makin mengerucutkan bibir mendengarnya.

“Obaachan sama saja…”

“Apa?”

“Obaachan juga menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak mau kulakukan.”

“Daripada kau mengurung diri di kamar dan bermain game seharian.”

Rin mendengus kasar.

“Game juga bisa menghasilkan uang obaachan.”

Neneknya seketika mengangkat sebelah alisnya “Uang dari mana?”

“Ya Dari game..”

“Yang benar saja kau ini”

Dengan perasaan jengkel, Rin berbalik dan menarik koper yang tadi sempat ia jatuhkan begitu saja. Namun, roda koper itu mendadak tersangkut tepat di ambang pintu.

“Ah!”

Rin menariknya jauh lebih kuat secara paksa hingga koper itu terlepas, memicu entakan keras yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan. Kantong plastik besar yang masih ada di tangannya pun ikut terayun ke sana kemari.

Melihat tingkah cucunya, sang nenek hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala pasrah.

***

Menjelang malam, rumah kecil itu mulai dipenuhi aroma harum masakan. Sementara di kamar lantai dua, Rin masih sibuk di depan laptopnya. Kedua telinganya tertutup rapat oleh headset dan matanya fokus menatap layar tanpa berpaling.

“Sedikit lagi…” gumamnya seraya menggerakkan jari-jarinya dengan cepat. Karakter di layar tampak lincah berlari menghindari serangan lawan. “Ah! Jangan ke situ!” Rin mencondongkan tubuhnya ke depan, makin panik. “Jangan mati… jangan mati…”

Di saat yang sama, suara neneknya memanggil dari lantai bawah. “Rin!” Suara itu sama sekali tidak terdengar olehnya. Nenek memanggil sekali lagi, “Rin!” Namun tetap tidak ada sahutan.

Nenek menghela napas panjang lalu menaiki tangga dengan langkah perlahan. Begitu sampai di depan kamar, ia mengetuk pintu.

Tok. Tok.

“Rin, turun makan.”

Tidak ada jawaban. Nenek kembali mengetuk pintu, “Rin.”

Masih tidak ada respons sama sekali. Kesabarannya mulai habis, lalu ia langsung membuka pintu kamar. Rin bahkan tidak menoleh sedikit pun, masih asyik bermain dengan headset terpasang.

Nenek berdiri beberapa detik tepat di belakangnya. “Anak ini…” bisiknya gemas. Ia melangkah mendekat, lalu tangannya langsung menarik headset dari kepala Rin.

“Eh?!” Rin menoleh kaget.

Sebelum ia sempat merebut headset itu kembali, tangan nenek sudah bergerak cepat menutup layar laptopnya. Permainan yang sedang berlangsung sengit pun terputus seketika.

Rin membelalakkan mata tak percaya. “Obaachan!”

Ia menatap neneknya dengan raut wajah tidak percaya sekaligus kesal.

“Obaachan jahat ihh”

PLAK!

Tangan nenek mendarat ringan di atas kepalanya.

“Aduh!” Rin meringis sambil mengusap kepalanya. “Obaachan Kenapa dipukul?”

“Karena dari tadi kau dipanggil tidak menjawab.”

“Aku nggak dengar..!”

“Justru itu masalahnya.” Rin mengembungkan pipinya cemberut. Nenek lalu menunjuk ke arah pintu. “Turun.!!”

“Nanti saja Obaa-.”

PLAK!

“Aduh!” Kali ini Rin refleks mengusap kepalanya dengan kedua tangan. “Obaachan!”

“Sekarang Kau Turun ,,, Ayo Makan..!!”

Rin masih memasang wajah kesal dan menatap protes. “Tolong bawa ke sini saja obaachan, aku Makan di sini saja.”

Nenek menyapu pandangan ke kamar yang berantakan itu.

“Aku sudah susah payah naik ke lantai dua hanya untuk memanggilmu.” Nenek kemudian menjewer telinga Rin tanpa ragu.

“Aduh..Aduh! Sakit!”

“Kalau telingamu bisa mendengar, aku tidak perlu naik.”

Rin buru-buru memegang tangan neneknya di telinga. Gadis itu sebenarnya masih ingin membantah, tapi ia sadar betul satu hal. Ia bisa saja melawan ayahnya atau berdebat dengan ibunya. Tapi kalau sudah berhadapan dengan Obaachan, Rin tahu kapan harus berhenti. Tidak ada tempat lain untuk bersembunyi jika neneknya sudah marah.

“Ya sudah…” Rin akhirnya bangkit berdiri dengan malas.

Nenek berjalan lebih dulu dan Rin mengikutinya dari belakang sambil memasang wajah cemberut.

Mereka berjalan turun ke lantai bawah. Namun begitu Rin sampai di ruang makan, langkahnya mendadak berhenti. Seseorang sudah duduk menunggunya di sana. Rin langsung mengerutkan keningnya rapat-rapat.

“Ayah?”

Pria yang duduk di seberang meja itu menoleh lurus padanya. “Lama sekali ibu ,, cucu ibu buat drama lagi kan ...”

Wajah Rin yang tadinya sudah kesal berubah menjadi semakin masam. “Kenapa Ayah ada di sini?”

Ayahnya mengambil sumpit dengan santai. “Kenapa ?? Ini rumah ibu nya ayah ,, ini juga rumah masa kecil ayah kan "

Rin menarik kursinya lalu duduk dengan enggan. Ayahnya tersenyum tipis.

“Lalu kamu sendiri kenapa ada di sini? Lagi Ngambek? Atau kamu Kabur dari rumah?”

Rin mendengus keras. “Aku cuma nggak mau tinggal di rumah.”

“Karena kami menyuruhmu menikah?”

Rin tidak menjawab. Ia meraih mangkuk nasinya lalu bergumam pelan, “Lah, apa sih… Ini rumah Obaachan. Aku cuma mau tinggal di sini.” Ia kemudian menatap ayahnya berani. “Setidaknya di sini masih ada yang memanusiakan manusia.”

PLAK!

Tangan nenek tiba-tiba mendarat telak di kepala ayah Rin dari belakang Kemudian tangan yang sama berpindah menyasar kepala Rin

PLAK!

“Aduh!”

Keduanya seketika terdiam sambil mengusap kepala masing-masing yang terasa panas. Nenek berdiri tegak di samping meja sambil berkacak pinggang.

“Hei. Diam. Tidak ada yang mengajari kalian? Saat makan malam, kita harus diam..hm”

Ayah dan Rin saling pandang sejenak, lalu kompak menundukkan kepala.

“Anak sama ayahnya sama saja.”

Tidak ada yang berani menjawab. Makan malam pun akhirnya berlangsung dalam keheningan yang kaku. Untuk beberapa saat, tidak ada pembicaraan tentang desakan kuliah, rencana pernikahan, ataupun perdebatan game. Hanya suara benturan sumpit dan mangkuk yang sesekali terdengar memecah sunyi.

Begitu selesai makan, Rin langsung berdiri. Ia membawa mangkuk kotornya ke dapur, mencucinya sendiri, lalu melangkah cepat menaiki tangga. Tanpa menoleh dan tanpa berkata apa-apa, pintu kamarnya kembali tertutup rapat.

---

Beberapa menit kemudian, suara percakapan dari lantai bawah mulai terdengar menembus celah kamarnya. Rin awalnya tidak peduli dan kembali duduk di depan meja belajar. Namun, suara ayahnya perlahan meninggi.

“Bu, Rin tidak bisa terus seperti ini. Dia harus menentukan pilihan.”

Suara neneknya menyahut lebih tenang. “Dia masih muda.”

“Justru karena masih muda, dia harus memikirkan masa depannya! dia menolak kuliah.”

“Kalau begitu biarkan dia bermain game.” nenek menyela

“Apa?!” Ayah Rin terdengar makin kesal. “Game tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa-apa!”

Di dalam kamar, Rin mendengus sinis. “Nah, kan…”

Ia meraih headset-nya kembali. Namun belum sempat memasangnya, suara ayahnya terdengar lagi.

“Kalau dia tidak mau kuliah, lebih baik menikah. Calonnya bagus, keluarganya juga baik.”

Nenek menghela napas. “Dia tidak akan bisa menyukainya.”

“Perasaan bisa tumbuh seiring waktu.” suara ayah kembali

Rin mengepalkan tangannya kuat-kuat. “Tidak akan,” bisiknya tajam. Ia langsung menutup kedua telinganya rapat-rapat menggunakan tangan. “Aku nggak mau…”

Namun kata-kata itu seolah terus bergema memenuhi kepalanya.

Kuliah. Menikah. Kuliah. Menikah.

Ia akhirnya memasang headset ke kepalanya. Laptop dinyalakan kembali dan volume suara dinaikkan hingga maksimal. Suara permainan perlahan menenggelamkan pertengkaran dari lantai bawah. Rin kembali menatap layar dengan tajam.

“Aku nggak mau kedua-duanya.”

Malam itu, Rin bermain game jauh lebih lama dari biasanya. Terus bertarung sampai matanya berat dan tubuhnya benar-benar lelah, hingga akhirnya ia tertidur di lantai dingin. Headset masih menempel di telinga, laptop masih menyala, dan layar permainan terus bergerak sendiri tanpa ada pemain yang mengendalikan.

Episodes
1 Penghuni yang Tidak Seharusnya Ada
2 Laptop yang Hilang
3 Berlibur ke hokaido
4 Penghuni yang Seharusnya telah datang
5 Terpaksa Tinggal Serumah
6 Dia tuan rumahnya
7 pertemuan di restoran
8 Sepuluh Aturan Kurosawa-san
9 Poin kesepuluh
10 mengintip dari lantai dua
11 Ayah datang tiba-tiba
12 Pertemuan dengan kiba hotori
13 pertemuan kedua arashi hondo
14 pertemuan ke tiga kyo hideki
15 percakapan takumi dan kyo
16 pagi bersama kyo
17 pangilan takumi dari lapangan
18 Takumi dan makoto
19 Pertemuan di Tengah Malam
20 Pagi yang Berbeda
21 aku akan pulang cepat
22 pertemuan tidak terduga
23 Jalan-jalan ke pantai
24 jalan jalan kepantai berakhir
25 Canggung
26 ke cafe aozora
27 Rin bernyanyi
28 jalan jalan tengah malam
29 pertengkaran rin dan takumi
30 Butuh kejelasan
31 pertemuan dengan kiba di swalayan
32 pertemuan di kasir
33 1000 Alasan Rin
34 rin mabuk
35 pergi survei universitas
36 Masa lalu Rin
37 menuju pertemuan
38 bertemu kiba dipantai
39 ke cafe aozora
40 ingin putus tapi susah
41 konser kecil kecilan
42 suara merdu rin menyanyi lagu di mobil
43 Takumi berangkat
44 Telpon yang akhirnya terjadi
45 aku di nagano
46 Nagano Town Square
47 Sedih tapi ingin tertawa
48 takumi datang
49 Dijemput Takumi
50 Rumah yang berubah
51 Bicara berdua dengan ayah
52 dua sahabat lama bertemu
53 ibu terkejut
54 Pertemuan Tak terduga
55 pelukan takumi dan curahatan isi hati rin
56 pengakuan bibi maru dan bermain game bersama
57 bukan nguping tapi terdengar
58 Besok sidang ibu
59 kejutan yang mengejutkan
60 angkat telephone
61 linggis dan pria hidung belang
62 Rin pulang ke rumah
63 rahasia makoto terbongkar
64 Kyo datang berkunjung
65 Perhatian Rin Mulai terlarih
66 Rin belajar memasak
67 Tujuan berlibur
68 rencana liburan bersama
69 perjalanan dimulai
70 kedatangan di kebun apel
71 makan siang dan kebun apel
72 kepergok
73 perjalanan menuju sungai
74 bibir Rin bengkak
75 isi hati haruto
76 Digodain
77 curhatan tengah malam
78 hukuman dari takumi
79 Rin kalab
80 rin curhat
81 perjalanan pulang
82 sampai halte
83 Pagi Terakhir di Ishikawa
84 Gelang bandul apel
85 keterbukaan takumi didepan ayah rin
86 kejujuran ayah
87 makan malam bersama ayah
88 Malam Pertama di Gifu
89 antara jepang atau inggris
90 Tamu yang diharapkan datang
91 berdua dikamar
92 kemungkinan terbesar
93 Makan siang bersama
94 bicara santai pada ayah di malam hari
95 perjalanan ke rumah ibu
96 tamu ibu bikin Rin syok
97 Tamu tak terduga
98 keputusan ayah kyo dan Ibu rin
99 Pendapat Rin tentang rencana ibu
100 Nasihat takumi di aliran sungai yg jernih
101 Takumi tempat curhat rin terbaik
102 keputusan Rin untuk kuliah
103 selamat tidur rin
104 perpisahan dengan ibu
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Penghuni yang Tidak Seharusnya Ada
2
Laptop yang Hilang
3
Berlibur ke hokaido
4
Penghuni yang Seharusnya telah datang
5
Terpaksa Tinggal Serumah
6
Dia tuan rumahnya
7
pertemuan di restoran
8
Sepuluh Aturan Kurosawa-san
9
Poin kesepuluh
10
mengintip dari lantai dua
11
Ayah datang tiba-tiba
12
Pertemuan dengan kiba hotori
13
pertemuan kedua arashi hondo
14
pertemuan ke tiga kyo hideki
15
percakapan takumi dan kyo
16
pagi bersama kyo
17
pangilan takumi dari lapangan
18
Takumi dan makoto
19
Pertemuan di Tengah Malam
20
Pagi yang Berbeda
21
aku akan pulang cepat
22
pertemuan tidak terduga
23
Jalan-jalan ke pantai
24
jalan jalan kepantai berakhir
25
Canggung
26
ke cafe aozora
27
Rin bernyanyi
28
jalan jalan tengah malam
29
pertengkaran rin dan takumi
30
Butuh kejelasan
31
pertemuan dengan kiba di swalayan
32
pertemuan di kasir
33
1000 Alasan Rin
34
rin mabuk
35
pergi survei universitas
36
Masa lalu Rin
37
menuju pertemuan
38
bertemu kiba dipantai
39
ke cafe aozora
40
ingin putus tapi susah
41
konser kecil kecilan
42
suara merdu rin menyanyi lagu di mobil
43
Takumi berangkat
44
Telpon yang akhirnya terjadi
45
aku di nagano
46
Nagano Town Square
47
Sedih tapi ingin tertawa
48
takumi datang
49
Dijemput Takumi
50
Rumah yang berubah
51
Bicara berdua dengan ayah
52
dua sahabat lama bertemu
53
ibu terkejut
54
Pertemuan Tak terduga
55
pelukan takumi dan curahatan isi hati rin
56
pengakuan bibi maru dan bermain game bersama
57
bukan nguping tapi terdengar
58
Besok sidang ibu
59
kejutan yang mengejutkan
60
angkat telephone
61
linggis dan pria hidung belang
62
Rin pulang ke rumah
63
rahasia makoto terbongkar
64
Kyo datang berkunjung
65
Perhatian Rin Mulai terlarih
66
Rin belajar memasak
67
Tujuan berlibur
68
rencana liburan bersama
69
perjalanan dimulai
70
kedatangan di kebun apel
71
makan siang dan kebun apel
72
kepergok
73
perjalanan menuju sungai
74
bibir Rin bengkak
75
isi hati haruto
76
Digodain
77
curhatan tengah malam
78
hukuman dari takumi
79
Rin kalab
80
rin curhat
81
perjalanan pulang
82
sampai halte
83
Pagi Terakhir di Ishikawa
84
Gelang bandul apel
85
keterbukaan takumi didepan ayah rin
86
kejujuran ayah
87
makan malam bersama ayah
88
Malam Pertama di Gifu
89
antara jepang atau inggris
90
Tamu yang diharapkan datang
91
berdua dikamar
92
kemungkinan terbesar
93
Makan siang bersama
94
bicara santai pada ayah di malam hari
95
perjalanan ke rumah ibu
96
tamu ibu bikin Rin syok
97
Tamu tak terduga
98
keputusan ayah kyo dan Ibu rin
99
Pendapat Rin tentang rencana ibu
100
Nasihat takumi di aliran sungai yg jernih
101
Takumi tempat curhat rin terbaik
102
keputusan Rin untuk kuliah
103
selamat tidur rin
104
perpisahan dengan ibu

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!