NovelToon NovelToon
Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:27.9k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.

​Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.

​Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?

​"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengawasan Tanpa Celah

Beberapa hari telah berlalu sejak badai besar yang menghantam mansion megah itu. Namun, bukannya mereda, suasana di rumah justru terasa semakin pekat dan mencekik. Atmosfer hening yang tegang menyelimuti setiap sudut ruangan.

Valerie masih dikurung oleh Zeffan di dalam kamar utama lantai atas—sebuah hukuman dan isolasi dingin yang dipaksakan agar wanita itu bisa mengintrospeksi diri atas tindakannya, sekaligus memastikan pergerakannya berada di bawah kendali mutlak Zeffan.

​"Di mana Syafiya?" tanya Zeffan saat baru saja melangkah turun ke ruang tengah, merapikan kancing lengan kemejanya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.

​Marlina yang sedang menata vas bunga di atas meja ruang tamu menoleh sejenak.

​"Dia sedang membawa Elvano bermain di gazebo halaman belakang," jawab Marlina singkat, lalu menghela napas panjang. "Baguslah anak itu mau menghirup udara segar. Kasihan Syafiya, beberapa hari ini dia kelihatan lebih banyak diam dan murung."

​Zeffan tidak membalas ucapan ibunya. Ia hanya mengangguk tipis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pintu kaca besar yang membatasi ruang tengah dengan taman belakang.

Dari kejauhan, sosok Syafiya terlihat sedang duduk di gazebo kayu, memangku Elvano yang sibuk berceloteh riang seraya mengayunkan mainan plastiknya.

​"Lalu bagaimana dengan Valerie, Zeffan?" tanya Marlina lagi, menatap putranya dengan raut wajah penuh tuntutan. "Sudah berapa hari kamu menguncinya di kamar? Kamu tidak berniat membiarkannya terus-terusan mengurung diri seperti itu, kan?"

​"Biarkan saja, Mom," pangkas Zeffan dingin, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat intimidasinya. "Valerie butuh waktu untuk berpikir dan menyadari di mana posisinya. Lagipula, selama dia di kamar, rumah ini jauh lebih tenang."

​"Tapi Elvano butuh ibunya, Zeffan," tegur Marlina pelan, walau ia sendiri masih menyimpan amarah mendalam pada menantunya itu. "Ibu mana yang tahan dipisahkan dari anaknya sendiri berhari-hari begini?"

​"Elvano aman bersama Syafiya dan Mommy," balas Zeffan datar tanpa sedikit pun niat untuk melunak. "Lagipula, itu konsekuensi yang harus dibayar Valerie atas tindakan impulsif dan kekacauan yang dia buat."

​Marlina menatap putranya dengan helaan napas berat, tak mampu lagi mendebat keputusan tegas Zeffan yang tak tersentuh.

​Sementara itu, Zeffan membalikkan badan dan melangkah pelan menuju pintu belakang. Sepatu kulitnya memukul lantai marmer dengan irama konstan.

Matanya tak lepas menatap lurus ke arah gazebo—menatap gadis muda yang kini terperangkap sepenuhnya dalam lingkaran permainan gelap yang ia ciptakan.

"Kamu sakit?" tanya Zeffan mendadak dari belakang, membuat Syafiya tersentak hingga hampir menjatuhkan mainan Elvano yang dipegangnya.

"T-tidak, Kak," jawab Syafiya terburu-buru. Ia refleks menggeser duduknya, berusaha men jarak dan menundukkan kepala demi menghindari tatapan intim dari pria itu.

Zeffan tidak memedulikan gestur penolakan tersebut. Ia melangkah naik ke gazebo, lalu menundukkan tubuhnya tepat di hadapan Syafiya. Jemari tangannya yang dingin terulur, menyentuh kening dan pipi Syafiya secara protektif namun mengintimidasi.

"Wajahmu sangat pucat, Sayang," desis Zeffan lembut, suaranya pelan dan dalam—hanya ditujukan untuk pendengaran Syafiya semata.

"A-ah... benarkah?" cicit Syafiya gagap, jantungnya berdegup kencang karena takut ada orang rumah atau pekerja taman yang mendengar panggilan terlarang itu. "Mungkin... mungkin cuma karena kurang tidur saja, Kak."

"Kurang tidur atau karena kamu terus memikirkan cara untuk kabur dariku, hm?" bisik Zeffan tajam, ibu jarinya mengelus bibir Syafiya yang gemetar sebelum akhirnya berpindah mengusap kepala Elvano yang tertawa polos di pangkuan Syafiya.

"Aku tidak memikirkan apa-apa, Kak Zeffan..." bohong Syafiya dengan suara serak, mengalihkan pandangannya ke arah Elvano untuk menutupi kebohongan di matanya. "Tolong jangan panggil aku seperti itu di luar... Kalau Mommy atau orang lain dengar—"

"Tidak ada orang yang berani mencampuri urusanku di rumah ini, Syafiya. Kamu tahu itu," potong Zeffan dingin, menarik dagu Syafiya agar mata mereka saling mengunci. "Termasuk istriku yang sedang membusuk di dalam kamar atas."

"Kak Valerie itu tetap istri Kakak..." cicit Syafiya menahan perih di dadanya, meringis melihat betapa dinginnya pria di hadapannya ini. "Kakak tidak bisa selamanya mengurung Kak Valerie seperti itu..."

"Aku bisa melakukan apa saja yang kumau," pangkas Zeffan tegas, menyunggingkan senyum tipis yang sarat kegelapan. "Termasuk memastikan kamu tetap berada di jangkauanku. Masuklah ke dalam kalau kamu merasa tidak enak badan. Biarkan pengasuh yang menjaga Elvano."

"Aku masih ingin bersama Elvano, Kak," cicit Syafiya pelan, makin mempererat pelukannya pada tubuh mungil keponakannya itu.

Belum sempat Zeffan menjawab, tiba-tiba saja pandangan Syafiya berkunang-kunang. Dunia di sekitarnya mendadak berputar hebat, dan rasa pening yang menusuk menghantam kepalanya secara instan. Tubuh Syafiya kehilangan kendali dengan sendirinya; pegangannya pada Elvano mengendur seketika saat kesadarannya perlahan meredup.

"Syafiya!" pekik Zeffan sigap, refleks menyambar dan menyangga tubuh Syafiya yang terkulai lemas sebelum roboh ke lantai kayu gazebo. Di saat yang bersamaan, tangan kirinya bergerak cepat mengamankan Elvano agar tidak terjatuh.

Elvano yang kaget menangis kencang di lengan Zeffan, menembus keheningan halaman belakang.

"Syafiya! Buka matamu!" panggil Zeffan dengan nada panik yang jarang sekali terpancar dari wajah dinginnya. Ia menepuk pelan pipi Syafiya yang terasa sangat dingin dan pucat pasi.

Marlina yang mendengar tangisan histeris Elvano dari arah dapur segera berlari keluar menuju taman belakang. Matanya membelalak kaget saat melihat anak angkatnya sudah terkulai tak berdaya di dekapan putranya.

"Astaga, Zeffan! Ada apa ini?!" teriak Marlina panik seraya mempercepat langkahnya naik ke gazebo. "Syafiya kenapa?!"

"Dia pingsan, Mom," sahut Zeffan dengan suara berat yang menahan ketegangan, langsung menyerahkan Elvano ke pelukan ibunya. "Tadi dia mengeluh kurang tidur, lalu mendadak hilang kesadaran."

"Ya Tuhan, Syafiya..." tangis Marlina cemas, memegang tangan anak angkatnya yang terkulai lemah. "Kan Mommy sudah bilang, anak ini beberapa hari ini stress dan kurang makan! Tubuhnya tidak kuat menahan semua masalah di rumah ini!"

Zeffan tidak membalas. Tanpa membuang waktu, pria itu merengkuh tubuh Syafiya ke dalam gendongannya, membawanya dengan langkah lebar masuk ke dalam rumah.

"Bawa ke kamarnya, Zeffan! Mommy panggilkan dokter keluarga sekarang!" seru Marlina panik dari belakang sambil berusaha menenangkan Elvano yang masih menangis sesenggukan.

Zeffan menatap wajah pucat Syafiya yang terpejam rapat di dadanya. Cengkeramannya pada tubuh gadis itu mengerat, memancarkan rasa obsesi dan kepemilikan yang teramat pekat di tengah kepanikan yang menyelimuti mansion tersebut.

1
Anisa Dwi riona
zeffran terlalu lamban.cepat nikahin syafiyah nya
Lilik Juhariah
aku baca sampe mrebes Miki, mungkin kl aku di posisi Fiya , pasti itu yg kulakukan, buat apa marah dendam bikin penyakit baru, lanjutkan Fiya, nanti kl Ka Zeffan marah jelasin pake tampang imut pasti luluh deh
Lilik Juhariah
makasih dah up lagi kak, Fiya kamu sudah menang dari dulu , kak Zeffan begitu mencintaimu , egois kerasnya pasti akan takluk di depan wanita yg dicintainya, Valeri stres kan Krn sikap Zeffan juga
Chenyu Wang
mangkin kesini mangkin suka ceritanya update nya yg byk ya thor🙏🤭
Lilik Juhariah
gitu dong menghadapi laki laki yg jelas inginkan kita itu mudah bangeeet
Lilik Juhariah
syukurlah ada langkah yg lebih maju , Fiya manja manja galak pasti Zeffan akan tertawa , dan bucin
Lilik Juhariah
naaah kan gitu kak , gak usah marah marah, biar Fiya gak takut, Fiya juga gitu tatap lurus kedepan dunia ini Fiya jgn menangis dan menunduk,
Lilik Juhariah
sekali kali.sehari up 2 bab kak🤣
Lilik Juhariah
yuuops gitu kan enak , Valeri kan sudah diceraikan scr agama tinggal scr hukum , Zeffan tarik nafas dan coba duduk , menangislah jika mau menangis Krn penghiatan, Valeri kamu SDH dimaafkan , selesai kan , Krn wanita yg sudah menolak suaminya dua tahun dan hamil anak orang sudah gak pantas dibersamai lagi , aaaah lega , skrng Zeffan dah gak ada alasan marah marah lagi yaaa, Krn cintamu memang untuk Fiya
Lilik Juhariah
kak Zeffan itu baik sebenarnya , cobalah bicara pakai hati Fiya , mungkin dg didikan Zeffan kamu akan menatap dunia dg bahu tegak, lembut sederhana boleh tapi harus tegas , sifat Fiya lembek dan suka nangis
Lilik Juhariah
baguslah punya temen sprt Karin yg mengatakan salah kalau itu salah, kok bisa selevel Zeffan ditolak
Aditya hp/ bunda Lia: bener banget
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
fatal kamu Valerie ... yakin zeffan gak akan maafin kamu dan Karin ayo terus ingetin si Val buat ngaku terus terang ajah ke zeffan
falea sezi
safi yanti kayak pret blooooooooon
Lilik Juhariah
berpikir lah logis , jangan kayak di novel novel DNA palsu , suap , punya orang dalam , Karin haruslah jadi Sahabat yg tidak menjerumuskan , katakan salah dan Buruk sesuai perbuatannya, dah salah kan Valeri , ya udah , lah elvaro itu anak siapa , jebakan atau gimana
Lilik Juhariah
agak gemes juga baca karakter Fiya , kebanyakan tanya , terlalu penakut, terlalu polos ,
Aditya hp/ bunda Lia: bener
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
👍👍👍👍👍
Lilik Juhariah
coba Fiya sekali kali bilang , kenapa sih kak gak bisa nahan emosi , Fiya kl kakak gitu malah takut 🤣🤣jangan diem menyerah , perasaan itu hrs diubgkapin Fiya , Kak Zeffan itu cinta kamu dari dulu
Aditya hp/ bunda Lia: bener tuh
total 1 replies
Lilik Juhariah
banyakin dong kak , jangan sehari satu🤣
Lilik Juhariah
Fiya yg bodoh , kan bawa hp kenapa GK langsung Tlp Zeffan
Dinda Putri
lanjuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!