⚠️ PERINGATAN
Jika pembaca hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab, di hitung sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.
Contoh Fang Ye: 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst
Atau Baca di judul Bab contoh:
[POV FRAGMEN PERTAMA: FANG YE]
[POV FRAGMEN KEDUA: GU MOYUAN]
Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.
Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:
Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.
Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebenc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WARISAN [POV FRAGMEN KELIMA: FANG KUANG]
# BAB 26 — WARISAN YANG LEBIH BERAT DARI TINJU MANA PUN
Fang Zhen memanggil putranya ke tendanya sendiri pada malam ketujuh belas setelah serangan Serigala Bertanduk—sesuatu yang jarang terjadi tanpa alasan penting, mengingat kepala suku itu biasanya lebih suka menyampaikan urusan penting di depan seluruh perkemahan, bukan secara pribadi.
Fang Kuang menemukan ayahnya duduk sendirian, api unggun kecil menerangi wajah yang tampak lebih tua daripada yang pernah ia perhatikan sebelumnya—garis-garis di wajah itu bukan hal baru, tapi kelelahan di baliknya terasa berbeda malam ini.
"Duduklah," Fang Zhen berkata, menunjuk tempat di seberangnya.
---
"Serigala Bertanduk itu bukan serangan biasa," Fang Zhen memulai, tanpa basa-basi yang biasa mendahului percakapan penting suku. "Kawanan sebesar itu belum pernah terlihat dalam dua puluh tahun terakhir. Tabib bilang mungkin ada sesuatu yang mengusik wilayah berburu mereka jauh lebih dalam di utara, mendorong mereka turun mencari wilayah baru."
"Aku sudah dengar itu," Fang Kuang berkata. "Apa hubungannya denganku dipanggil kemari sendirian?"
Fang Zhen menghela napas panjang, menatap api yang mulai mengecil di antara mereka.
"Kalau kawanan sebesar itu bisa muncul sekali, mereka bisa muncul lagi," ia berkata. "Dan aku tidak yakin aku akan cukup kuat untuk memimpin pertahanan kedua kalinya, kalau itu terjadi."
---
Fang Kuang menatap ayahnya, menyadari untuk pertama kalinya betapa jarang ia benar-benar memperhatikan tanda-tanda usia yang mulai terlihat jelas—bahu yang dulu terlihat seperti gunung kini sedikit membungkuk, tangan yang dulu bisa meremukkan tengkorak serigala dengan sekali genggam kini bergetar halus saat mengangkat cangkir arak.
"Kau ingin mengatakan sesuatu," Fang Kuang berkata pelan. "Katakan langsung."
"Aku ingin kau menjadi kepala suku berikutnya," Fang Zhen berkata, tanpa berputar-putar lagi. "Bukan suatu hari nanti yang jauh di masa depan. Aku ingin mulai mempersiapkanmu sekarang, secara resmi, agar suku tahu siapa yang akan memimpin mereka kalau sesuatu terjadi padaku lebih cepat daripada yang kita duga."
---
Ini bukan permintaan yang pernah dibayangkan Fang Kuang akan datang secepat ini, atau dengan bobot seserius ini.
"Aku masih ingin mengejar Heilong," ia berkata, kata-kata keluar sebelum ia sempat memikirkannya dengan lebih hati-hati. "Aku masih ingin menjadi lebih kuat, mencari lawan yang bisa menguji batasku. Menjadi kepala suku berarti tinggal di sini, mengurus perselisihan tanah dan pembagian hasil buruan, bukan mencari pertarungan yang membuatku benar-benar hidup."
"Aku tahu," Fang Zhen berkata, tidak terkejut oleh jawaban itu. "Aku pernah merasakan hal yang sama di usiamu. Aku juga pernah mengejar setiap petarung kuat yang kudengar namanya, sebelum akhirnya harus memilih."
"Bagaimana kau bisa berhenti?" Fang Kuang bertanya, benar-benar ingin tahu, bukan sekadar bertanya basa-basi.
---
"Aku tidak sepenuhnya berhenti," Fang Zhen berkata, senyum kecil muncul di wajahnya yang lelah. "Aku hanya belajar bahwa memimpin suku ini, memastikan setiap anak di sini punya makanan musim dingin ini, memastikan orang-orang seperti Fang Lin punya tempat meski lengannya tidak akan pernah sama lagi—itu juga jenis tantangan, meski tidak pernah membuat darahmu mendidih seperti pertarungan melawan Heilong."
"Itu tidak sama," Fang Kuang berkata, tidak bisa menyembunyikan kekecewaan dalam suaranya.
"Tidak," Fang Zhen setuju. "Tidak sama sekali. Aku tidak akan berbohong padamu tentang itu, atau berpura-pura kau akan menemukan kepuasan yang sama dari memimpin suku seperti yang kau temukan dari mengalahkan lawan yang lebih kuat darimu."
---
"Kalau begitu kenapa kau memintaku?" Fang Kuang bertanya. "Kalau kau tahu aku tidak akan pernah sepenuhnya bahagia melakukannya?"
"Karena aku melihat sesuatu di dalam dirimu yang lebih dari sekadar petarung yang haus tantangan," Fang Zhen berkata, menatap putranya lurus. "Aku melihatnya saat kau memilih tidak menghabisi Ao Heng. Aku melihatnya lagi saat kau memutuskan tinggal tiga minggu setelah Fang Lin terluka, melatih anak-anak yang bahkan tidak bisa memberimu tantangan sedikit pun. Kau punya kapasitas untuk peduli pada orang lain lebih dari yang kau akui pada dirimu sendiri, Fang Kuang. Aku tidak ingin kapasitas itu terbuang hanya karena kau terlalu sibuk mengejar pertarungan berikutnya."
---
Fang Kuang tidak punya jawaban cepat untuk itu. Ia duduk dalam diam, mencerna kata-kata ayahnya yang terasa lebih berat daripada pukulan siapa pun yang pernah menghantamnya.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi apa yang kau inginkan," ia akhirnya berkata, jujur dengan cara yang jarang ia gunakan untuk membicarakan dirinya sendiri. "Aku tidak tahu apakah aku ingin menjadi itu."
"Aku tidak memintamu memutuskan malam ini," Fang Zhen berkata. "Aku hanya ingin kau mulai memikirkannya, benar-benar memikirkannya, bukan menolaknya secara refleks karena terdengar seperti kandang bagi seseorang yang selalu ingin bebas berkelana."
---
"Berapa lama aku punya waktu?" Fang Kuang bertanya.
"Aku tidak tahu berapa lama tubuhku akan bertahan sebagai kepala suku yang layak," Fang Zhen berkata jujur. "Bisa lima tahun lagi. Bisa juga jauh lebih cepat, kalau serangan seperti Serigala Bertanduk terjadi lagi sebelum aku cukup pulih. Aku tidak bisa memberimu tenggat waktu yang pasti, karena aku sendiri tidak memilikinya."
Fang Kuang menatap api unggun yang hampir padam di antara mereka, memikirkan undangan yang baru saja diterimanya dari utusan Heilong minggu lalu—kesempatan bergabung dalam kampanye besar melawan ancaman yang mengusik banyak suku sekaligus, kesempatan yang bisa mempercepat pertumbuhannya menuju kekuatan yang ia butuhkan untuk akhirnya mengalahkan Heilong.
Kesempatan yang, kalau ia terima sekarang, berarti pergi lagi, tepat setelah percakapan ini, tepat saat ayahnya baru saja mengungkapkan seberapa rapuh sebenarnya kondisinya.
---
"Aku sudah menerima undangan dari Heilong untuk bergabung dalam kampanye melawan ancaman di utara," ia akhirnya mengaku. "Aku berencana pergi minggu depan."
Fang Zhen tidak terlihat terkejut, hanya lelah dengan cara yang berbeda.
"Aku menduga itu," ia berkata. "Kau akan tetap pergi?"
Fang Kuang tidak menjawab segera, benar-benar mempertimbangkan pertanyaan itu untuk pertama kalinya dengan bobot penuh yang baru saja diberikan ayahnya padanya.
"Aku tidak tahu," ia akhirnya berkata, jawaban yang jarang sekali keluar dari mulutnya tentang keputusan menyangkut pertarungan atau kekuatan. "Aku butuh waktu untuk memikirkannya. Benar-benar memikirkannya, seperti yang kau minta."
---
Fang Zhen mengangguk, tidak mendesaknya lebih jauh, tidak juga terlihat puas sepenuhnya dengan jawaban yang menggantung itu.
"Itu sudah lebih dari yang kuharapkan malam ini," ia berkata. "Aku tidak meminta jawaban sekarang. Aku hanya meminta kau mempertimbangkannya dengan serius, bukan menolaknya sebelum benar-benar memikirkan apa artinya menjadi seseorang yang orang lain bergantung padanya, bukan hanya seseorang yang mereka kagumi dari kejauhan."
Fang Kuang meninggalkan tenda ayahnya malam itu tanpa keputusan, undangan Heilong masih menunggu jawaban, tenggat keberangkatan minggu depan masih berdiri, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pertanyaan tentang apa yang benar-benar ia inginkan tidak lagi punya jawaban yang sesederhana "lawan yang lebih kuat."
Ia berjalan menuju tepi perkemahan, menatap bintang-bintang yang sama yang selalu ia gunakan untuk mengukur seberapa jauh ia harus pergi mencari tantangan berikutnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin arah mana yang seharusnya ia tuju.