NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Pagi yang Lebih Hangat dan Rapat yang Membawa Hasil

Matahari pagi di Surabaya kembali menampakkan sinarnya, menyapu lembut gedung pencakar langit Vanesha Group yang berdiri megah di pusat kota. Di lantai sepuluh, suasana kerja di sekitar ruang direksi tampak sibuk seperti biasa. Para staf administrasi berlalu-lalang membawa berkas laporan, sementara suara dering telepon meja saling bersahutan menandai dimulainya jam operasional perusahaan.

Di balik meja kerjanya yang luas, Vanesha duduk dengan pandangan fokus menatap layar komputer jinjing di hadapannya. Tidak ada lagi sisa-sisa ketegangan atau bayang-bayang ancaman dari masa lalu yang sempat mencekam beberapa waktu lalu. Wajah cantiknya tampak jauh lebih segar, dihiasi senyum tipis yang sesekali terukir di bibirnya setiap kali dia mengingat kejadian hangat di Alun-Alun Sidoarjo malam tadi.

Pintu ruangan diketuk tiga kali dengan ritme yang sudah sangat akrab di telinganya.

"Masuk," ucap Vanesha pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

Pintu kayu jati berukir itu terbuka perlahan, menampilkan sosok pria berbadan tegap mengenakan seragam satpam rapi. Dika melangkah masuk dengan nampan kecil di tangan kanannya, membawa secangkir kopi hitam dan sepiring jajanan pasar hangat. Langkah kakinya kali ini jauh lebih hati-hati, tidak lagi diwarnai insiden tahu pentol nyasar yang sempat membuat laporan keuangan berlumuran saus sambal beberapa hari lalu.

"Laporan pagi khusus pengawal pribadi, Nona Bos — eh, ralat... Vanesha," sapa Dika dengan cengiran lebar, meralat panggilannya sendiri sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja kerja Vanesha. "Kondisi lantai bawah aman terkendali, tidak ada tanda-tanda ancaman, dan tukang kopi keliling menyatakan situasi kondusif."

Vanesha mendongak perlahan, menutup layar laptopnya, lalu menatap Dika dengan tatapan geli bercampur gemas. "Kamu ini ya, pagi-pagi sudah mulai bikin ulah dengan sebutan itu," ucap Vanesha sambil melirik cangkir kopi hitam yang diletakkan di depannya.

"Biar nggak kaku, kan kita sudah sepakat semalam di alun-alun," jawab Dika membela diri sambil berdiri tegak dengan gaya prajurit siaga. "Lagian, kalau dipanggil nama aslinya langsung, rasanya ada getaran-getaran romantis gimana gitu di dada."

Vanesha menggelengkan kepalanya pelan, tapi semburat merah muda tampak jelas menghiasi pipinya. Dia meraih cangkir kopi tersebut, menghirup aromanya sejenak, lalu menyeruputnya pelan. "Pas. Takaran gulanya masih tetap satu sendok teh. Kamu beneran punya ingatan setajam intelijen militer ya," ucap Vanesha tulus.

"Jelas dong. Mengingat takaran kopi dan senyuman kamu itu adalah prioritas nomor satu dalam SOP tugas pengawal," sahut Dika cepat dengan nada bangga.

Suasana di ruangan itu mendadak terasa hangat dan ringan. Setelah insiden panjang yang melelahkan bersama Raka dan kunjungan kerja ke Sidoarjo kemarin, kedekatan di antara mereka kini terjalin jauh lebih natural. Tidak ada lagi batasan kaku antara atasan dan bawahan; yang tersisa adalah rasa nyaman dan kepercayaan yang kian mengakar kuat di dalam hati masing-masing.

"Ngomong-ngomong soal jadwal hari ini," ucap Vanesha serius, meletakkan kembali cangkirnya ke atas meja. "Jam sepuluh nanti kita ada agenda rapat pleno bulanan dengan dewan direksi dan para kepala divisi. Semua laporan keuangan dan evaluasi distribusi cabang Sidoarjo kemarin harus dipresentasikan di depan mereka."

Dika mengangguk paham, ekspresinya langsung berubah serius. "Siap laksanakan. Ada dokumen tambahan yang perlu saya bawa ke ruang rapat, atau tugas saya cukup berdiri tegak di belakang kursi sambil pasang muka paling sangar?"

"Cukup bawa diri dan kewaspadaan penuh saja," ucap Vanesha sambil tersenyum lembut. "Meskipun dewan direksi kali ini isinya orang-orang internal yang sudah dikenal baik, tetap saja atmosfer rapat pleno bulanan selalu bikin kepala pusing karena banyak perdebatan angka."

"Tenang saja," jawab Dika mantap, menepuk dadanya pelan. "Kalau ada direktur yang berani bikin kamu pusing atau ngeyel nggak jelas selama rapat, tinggal beri kode mata ke saya. Nanti langsung saya amankan keluar ruangan dengan teknik kuncian silat."

Vanesha tertawa renyah mendengar lelucon konyol pengawalnya itu. Tawa yang begitu lepas, menunjukkan betapa besar pengaruh kehadiran Dika dalam meredakan beban stres yang kerap menggelayuti hari-hari sibuknya sebagai seorang CEO.

Tepat pukul sepuluh kurang lima menit, Vanesha dan Dika berjalan berdampingan menyusuri koridor lantai sepuluh menuju ruang rapat utama. Ruangan tersebut berukuran sangat besar dengan meja rapat berbentuk oval berlapis kayu mahoni di bagian tengahnya. Puluhan kursi empuk telah diisi oleh para kepala divisi dan anggota dewan direksi yang tampak serius membuka lembaran berkas masing-masing.

Begitu pintu terbuka dan Vanesha melangkah masuk, seluruh peserta rapat langsung berdiri sejenak untuk memberikan penghormatan sebelum kembali duduk begitu Vanesha mempersilakan mereka. Vanesha duduk di kursi utama ujung meja dengan wibawa dan ketegasan yang langsung terpancar dari raut wajahnya — kembali bertransformasi menjadi pimpinan korporat yang disegani.

Dika berdiri tegap di sudut ruangan, tepat di dekat tirai jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Surabaya dari ketinggian. Matanya mengawasi jalannya rapat dengan saksama. Satu persatu kepala divisi mulai memaparkan laporan kinerja bulanan mereka, mulai dari divisi pemasaran, sumber daya manusia, hingga laporan logistik dari cabang Sidoarjo yang sebelumnya sempat dikunjungi.

Meskipun jalannya rapat tampak tegang dan dipenuhi diskusi alot mengenai target laba kuartal berikutnya, Dika melihat bagaimana Vanesha memimpin rapat dengan sangat bijak. Wanita itu mendengarkan setiap masukan, memberikan kritik yang membangun tanpa menjatuhkan bawahannya, serta mengambil keputusan tegas dengan kepala dingin.

"Secara keseluruhan, kinerja cabang Sidoarjo sudah menunjukkan peningkatan yang sangat baik setelah perbaikan jalur distribusi minggu lalu," ucap Vanesha tegas di hadapan seluruh peserta rapat. "Terima kasih kepada Pak Hartono dan tim atas kerjasamanya. Kita pertahankan prestasi ini sampai akhir tahun."

"Baik, Bu Vanesha. Terima kasih atas dukungannya," jawab salah satu direktur mewakili dewan komisaris.

Rapat pleno bulanan yang berlangsung selama hampir dua jam itu akhirnya ditutup dengan hasil yang memuaskan. Satu persatu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan, membereskan berkas-berkas mereka sambil berpamitan kepada sang CEO.

Beberapa saat kemudian, ruang rapat itu kembali sepi. Hanya tinggal Vanesha dan Dika yang masih berada di dalam ruangan. Vanesha merapikan tumpukan kertas di hadapannya, lalu menghela napas panjang tanda lega.

"Huh... selesai juga rapat pleno bulan ini," ucap Vanesha pelan sambil memijat pelipisnya yang sedikit pening. "Setiap kali bahas target laba tahunan, rasanya kepala mau pecah."

Dika melangkah mendekati meja rapat, berdiri di hadapan Vanesha dengan tatapan penuh perhatian. "Makanya, jangan terlalu diforsir pikirannya. Habis ini jadwalnya apa lagi? Kalau sudah nggak ada agenda luar kota, mending kita cari makan siang enak di kantin atau pesan menu spesial."jawab Dika sambil senyum

Vanesha mendongak, menatap Dika dengan senyum tipis yang amat manis. "Kamu ini ya, urusan perut aja nomor satu di kepala," ucap Vanesha lembut. "Tapi boleh juga. Saya mulai lapar setelah dua jam duduk dengerin perdebatan angka tadi."

"Siap laksanakan, Vanesha!" seru Dika bersemangat. "Mari kita kawal kamu menuju istana makanan siang demi mengembalikan energi dan kewarasan jiwa."

Keduanya tertawa bersamaan di ruang rapat yang kini terasa begitu hangat. Melangkah keluar menuju ruang kerja pribadi, perjalanan hari itu membuktikan bahwa di balik segala tekanan dunia korporat yang melelahkan, selalu ada tempat bersandar yang paling nyaman — sebuah ikatan sederhana namun tulus yang tumbuh perlahan di antara seorang prajurit pengawal dan CEO cantik berhati lembut.

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!