NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Pukul empat pagi di Pasar Matahari. Uap dingin masih membumbung dari permukaan es batu saat Dayang baru saja menerima pasokan ikan segar berlimpah dari Bang Jaka dan menyusunnya rapi di lapak.

Meja sengnya dipenuhi cumi-cumi bening, udang vaname gemuk, hingga ikan barakuda yang berkilat menawan.

Namun, ketenangan subuh itu mendadak menguap saat aura mencekam menerobos kerumunan pedagang.

Empat pria bertubuh kekar dengan tato memenuhi lengan melangkah arogan, membelah keramaian pasar hingga membuat ibu-ibu berbelanja langsung menepi ketakutan.

Dipimpin oleh kepala preman bernama Kobra—pria berwajah sadis dengan luka parut di pipi—mereka berhenti tepat di depan lapak Dayang.

BRAK!

Tanpa tawar-menawar, Kobra menggebrak meja seng Dayang hingga air es menyiprat ke mana-mana.

Ikan-ikan segar yang tersusun rapi sempat bergeser akibat hantaman keras itu.

Kobra melemparkan segulung lembaran dokumen resmi berlogo Suryo Group tepat di atas tumpukan udang.

"Tanda tangani ini sekarang, cewek sok jual mahal!" gertak Kobra dengan suara serak berat yang menggelegar.

"Serahkan seluruh pasokan ikanmu hari ini dan hari-hari berikutnya buat Suryo Group! Kalau kamu nolak atau mencoba ngelawan, detik ini juga lapakmu bakal kami ratakan dan seluruh ikanmu kami sita!"

Anak buah Kobra bersedekap dada di belakangnya, menatap Dayang dengan seringai meremehkan.

Pedagang lain di sekitar langsung terdiam, tak ada yang berani mendekat.

Dayang tidak berkedip sedikit pun. Matanya yang dingin menatap Kobra, lalu perlahan beralih ke lembaran kertas bermaterai di atas mejanya.

Tanpa rasa takut sedikit pun, Dayang meraih dokumen tersebut.

Kobra menyeringai puas, mengira ancamannya berhasil.

Namun, seringai itu seketika membeku saat Dayang dengan tenang mencengkeram kertas tersebut dan..

SRAKK!!

SRAKK!!

Dayang merobek dokumen kontrak kerja sama dari Suryo Group itu menjadi beberapa potongan kecil di hadapan mata Kobra, lalu melemparkan serpihannya tepat ke dada sang kepala preman.

"Mau bosmu itu CEO kaya raya atau raja minyak sekalian, aku nggak peduli," ucap Dayang dengan nada rendah yang menusuk.

"Prinsipku nggak bisa dibeli pakai uang atau gertakan sampah kayak kalian!"

Kobra yang mendengarnya semakin tersulut emosi.

"Kurang ajar!"

Pak Mat yang berada di lapak sebelah tak tega melihat gadis itu dikeroyok.

Dengan tangan gemetar, pedagang daging tua itu melangkah maju mencoba menengahi.

"Mas, Mas, tolong jangan pakai kekerasan di sini. Ini pasar rakyat, kasihan Dayang—"

"Jangan ikut campur, Tua Bangkai!" bentak Kobra murka.

Tanpa belas kasih, lengan kekar Kobra melayang. Pukulan mentah menghantam dada Pak Mat hingga pria tua itu tersungkur keras menabrak tumpukan keranjang ayam, merintih kesakitan di atas lantai pasar yang becek.

Mata Dayang seketika membara. Melihat Pak Mat tergeletak, batas kesabarannya runtuh sepenuhnya.

Preman-preman sewaan Suryo Group itu baru saja membangunkan singa yang salah.

Merasa diremehkan dan murka melihat dokumennya dirobek, Kobra memberi aba-aba kasar.

"Hajar dia! Ambil paksa semua keranjang ikannya!"

Anak buah Kobra langsung bergerak maju serentak, mencoba mengepung dan merampas dagangan Dayang.

Kerusuhan tak terhindarkan. Para pedagang pasar histeris dan ketakutan, berlarian menjauh sembari berteriak meminta tolong. Namun, bukannya gentar, Dayang justru meladeni mereka dengan ketangkasan luar biasa.

Preman pertama mencoba memegang bahu Dayang, tapi dengan cekatan Dayang mengelak ke samping, menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya ke belakang hingga terdengar bunyi gemertak.

Belum sempat preman itu berteriak, satu sikut keras Dayang menghantam rahangnya hingga ia ambruk ke dalam wadah es batu.

Preman kedua dan ketiga maju bersamaan. Dayang melompat kecil, menggunakan kelincahan serta tinju bertangan dinginnya untuk mendaratkan pukulan beruntun ke perut dan pelipis mereka.

Kedua pria kekar itu bertumbangan, jatuh telentang mencium beceknya lantai pasar yang amis.

Melihat ketiga anak buahnya luluh lantak dalam hitungan detik, mata Kobra membelalak tak percaya.

Urat lehernya bertonjolan saat ia menyambar sebuah balok kayu bekas dari tepi lorong.

Kobra yang tersisa mencoba menyerang dengan balok kayu, mengayunkannya sekuat tenaga ke arah kepala Dayang.

Dayang merunduk cepat, membiarkan angin ayunan kayu berhembus melintasi rambutnya.

Saat posisi Kobra hilang keseimbangan, Dayang memanfaatkan momentum itu.

Ia melayangkan satu tendangan telak tepat ke dada Kobra, disusul satu pukulan keras yang menggelegar menghantam tulang pipi sang kepala preman.

BOM!

Hantaman dahsyat itu membuat Kobra melayang mundur dan tersungkur babak belur di bawah meja seng. Darah segar mengalir dari hidung dan bibirnya.

Sebelum Kobra sempat merangkak bangkit, SREK!—

Dayang menyambar pisau pemotong ikan berukuran besar yang mengilap tajam, lalu menusukkannya ke meja seng, hanya berjarak satu senti dari jemari Kobra yang gemetar.

Dayang mengancam mereka dengan pisau pemotong ikan, matanya menyala tajam bak belati.

"Bilang sama bosmu yang sok berkuasa itu! Sekali lagi kirim sampah kayak kalian ke pasarku, pisau ini yang bakal bicara!"

Melihat aura membunuh dari Dayang dan ketajaman pisau di depannya, nyali Kobra ciut seketika.

Dengan wajah pucat pasi dan tubuh babak belur, ia merangkak ketakutan menyambar anak buahnya yang erang kesakitan.

Keempatnya lari terbirit-birit dalam keadaan luluh lantak, menembus lorong pasar tanpa berani menoleh lagi ke belakang.

Dayang langsung berlutut di samping Pak Mat, membantu pria tua itu duduk perlahan.

Wajah Pak Mat pucat meringis menahan sakit di bagian dadanya akibat hantaman Kobra tadi.

"Pak Mat, ayo kita ke rumah sakit!" ucap Dayang tegas dengan nada cemas yang tak bisa ia tutupi.

Ia memapah lengan Pak Mat yang gemetar untuk berdiri.

Sebelum melangkah keluar dari lapaknya, Dayang menoleh ke arah lorong.

Matanya menangkap sosok tukang parkir berlangganan yang sejak tadi menyaksikan perkelahian itu dari jarak aman.

"Titip daganganku ya, Mal!" seru Dayang pada Jamal tukang parkir.

Jamal menganggukkan kepalanya dengan sigap, menyilangkan dada sembari mengacungkan jempol.

"Aman, Mbak Dayang! Biar saya sama anak-anak yang jaga lapak sampai Mbak kembali!"

Tanpa membuang waktu lagi, Dayang menuntun Pak Mat menuju parkiran, memapahnya naik ke atas becak motor langganan pasar untuk segera membawa pria tua itu ke UGD terdekat.

Di dalam dadanya, amarah Dayang pada sosok "bos besar" yang mengirim para preman itu kini sudah membakar sampai ke ubun-ubun.

Suasana Instalasi Gawat Darurat (UGD) terasa begitu kontras dengan keriuhan Pasar Matahari yang becek.

Bau karbol yang menyengat dan uap pendingin udara menyambut Dayang saat ia memapah Pak Mat melewati pintu kaca yang bergeser otomatis.

Seorang perawat dengan sigap mendorong kursi roda mendekat.

"Kenapa ini, Mbak?"

"Kena pukul di dada, Sus. Tolong diperiksa, kasihan beliau dari tadi meringis kesakitan," sahut Dayang cepat, napasnya masih sedikit memburu akibat luapan emosi dan kepanikan.

Pak Mat dipindahkan ke atas tempat tidur pemeriksaan di balik tirai hijau.

Dokter jaga langsung melakukan pemeriksaan fisik, menekan pelan bagian rusuk Pak Mat yang dibalas dengan ringisan pelan pria tua itu.

Sementara dokter memeriksa, Dayang berdiri di samping bed, melipat lengan di dada dengan wajah tegang.

Beberapa saat kemudian, dokter menghela napas lega dan menatap Dayang.

"Hasil pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada tulang rusuk yang patah atau retak. Hanya memar cukup hebat pada otot dada akibat benturan tumpul. Kami berikan pereda nyeri dan salep memar, setelah ini Pak Mat sudah boleh pulang untuk istirahat total selama beberapa hari."

Mendengar penjelasan dokter, ketegangan di bahu Dayang mendadak meluruh. Ia menghembuskan napas panjang.

"Alhamdulillah.Terima kasih banyak, Dok."

Dayang kemudian menyelesaikan administrasi dan menebus obat di apotek rumah sakit tanpa ragu merogoh uang simpanannya sendiri.

Setelah memastikan Pak Mat mendapatkan obatnya, ia memesan taksi online untuk mengantar pria tua itu pulang sampai ke depan pintu rumahnya.

"Maafkan saya ya, Pak Mat. Gara-gara preman-preman brengsek itu, Pak Mat jadi ikut kena sasaran," ucap Dayang penuh penyesalan saat memapah Pak Mat masuk ke dalam taksi.

Pak Mat memegang lembut tangan Dayang yang terulur.

"Sudah, Nduk. Bukan salahmu. Justru Pak Mat yang bangga sama kamu. Tapi ingat, hati-hati. Petinggi perusahaan itu sepertinya bukan orang sembarangan kalau sampai mengutus orang-orang kasar begitu."

Dayang tersenyum tipis, menyembunyikan kilat amarah yang masih membara di matanya.

"Tenang saja, Pak Mat. Mau seberapa kaya atau berkuasanya orang itu, saya nggak akan pernah takut."

Setelah taksi Pak Mat berlalu, Dayang berdiri sendirian di pelataran rumah sakit. Ia mengepalkan tangannya erat-erat.

Nama "Suryo Group" yang tertera di dokumen robek tadi pagi kini mengendap rapat di pikirannya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!