Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Maaf, Amira. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita.”
Deg!
Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba hati Amira serasa disambar petir mendengar perkataan itu dari kekasihnya.
Padahal selama tiga tahun ini hubungan mereka baik-baik saja. Lantas, kenapa pria yang selama ini ia kenal dengan baik tiba-tiba memutuskannya secara sepihak?
“Putus?” ulang Amira, seolah masih berharap telinganya salah mendengar.
“Iya. Setelah aku pikir-pikir, di antara kita tidak ada kecocokan. Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini secara baik-baik.”
Amira masih belum bisa mencerna ucapan itu. Hatinya bergetar, seolah tidak percaya dengan perkataan pria di hadapannya.
“Mas, serius?”
“Serius, Mira.”
“Lalu selama tiga tahun ini kau anggap apa hubungan kita? Kau bilang tidak ada kecocokan, tapi kenapa tidak sejak dulu kamu bicara seperti ini?” desak Amira.
“Sudah, Mira. Aku tidak mau membahasnya terlalu panjang. Dan kalaupun aku menjelaskannya, aku tidak mau membuatmu jauh lebih sakit dari ini.”
Amira memejamkan mata. Ia menghempaskan napas perlahan, berusaha menelan rasa sakit yang terasa memenuhi dadanya.
Akhirnya, ia mengangguk.
“Baiklah. Kalau memang itu maumu, aku terima.”
“Makasih kamu sudah tidak memperkeruh masalah ini.”
Ricki kemudian pergi meninggalkan Amira tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.
Amira hanya bisa memandangi punggung pria yang dicintainya itu dengan tangan mengepal.
Gadis ceria yang selama ini terlihat kuat akhirnya mengeluarkan air mata juga.
“Tega kamu...” lirihnya.
Air mata mulai membasahi pipinya.
“Padahal selama ini kau sudah kuanggap sebagai orang yang paling baik dan paling mengerti aku. Ternyata kamu sama saja seperti mereka... orang-orang yang tidak pernah menginginkanku.”
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Satu minggu kemudian. Amira tetap berusaha bangkit. Ia tahu menangis pun tidak ada gunanya. Sebab, siapa yang akan menenangkannya? Tidak ada.
Saudaranya tidak pernah benar-benar berada di pihaknya. Ayah kandungnya pun selalu menganggap keberadaannya sebagai aib hanya karena Amira terlahir dari rahim seorang wanita kedua dalam pernikahan ayahnya.
Apalagi ibu sambung dan kakak sedarahnya. Jika mereka tahu bagaimana hancurnya hati Amira setelah ditinggalkan Ricki, mereka mungkin akan menertawakannya.
Karena itu, Amira memilih terlihat baik-baik saja. Setidaknya, selama berada di rumah ini, ia tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya sedang terluka.
Pagi itu Amira berjalan menuruni anak tangga. Keluarga Wijaya sedang sarapan di ruang makan. Amira mengambil tempat duduk paling ujung, seperti biasanya.
Sementara itu, Alika terlihat begitu bahagia. Senyum terus menghiasi wajahnya, seolah ada sesuatu yang sangat menyenangkan terjadi dalam hidupnya.
Namun, Amira tidak ingin tahu. Ia tidak ingin ikut campur dengan urusan kakaknya yang selama ini selalu berhasil membuat dirinya merasa rendah.
“Amira, kamu nggak ke kampus?” tanya Alika.
“Aku ke kampusnya agak siangan.”
“Oh, gitu. Aku kira kamu mau bolos.”
“Bolos? Memangnya aku pernah melakukan itu?” Amira menatap kakaknya.
“Ya, siapa tahu.” Alika terkekeh kecil. “Orang yang sedang putus cinta kan biasanya bisa melakukan segala cara untuk melampiaskan rasa kesalnya.”
Amira menarik napas panjang.
“Aku baik-baik saja.”
“Oh, seperti itu?”
Alika tersenyum.
“Tapi kalau nanti kamu mendengar berita tentang Ricki akan segera menikahi wanita lain, kamu masih bisa bicara seperti ini?”
“Itu bukan urusanku lagi.”
“Jangan sok kuat, deh.”
Amira tidak menjawab.
Tak lama kemudian, kedua orang tua mereka datang.
Ambar dan Ganjar duduk di tempat masing-masing. Akan tetapi seperti biasa, perhatian Ganjar lebih banyak tertuju kepada putri pertamanya.
“Gimana kabarmu, Princess?” tanya Ganjar kepada Alika.
“Baik-baik saja, Pi. Tinggal nunggu pangeran berkuda melamarku.”
Alika terkekeh sambil melirik sekilas ke arah Amira.
“Itu sudah pasti. Anak Papi pasti mendapatkan pria yang baik.”
“Iyalah.” Ambar tersenyum bangga. “Anakku gadis baik-baik. Keturunan wanita baik, bukan anak gundik yang sukanya menjebak dan merebut kebahagiaan orang lain.”
Tangan Amira mengepal di atas pahanya. Ia tahu siapa yang dimaksud Ambar.
Ibunya.
Entah kenapa, dalam kesalahan yang terjadi bertahun-tahun lalu, selalu Amira yang dijadikan korban.
“Ibu Ambar...” suara Amira bergetar. “Tolong jangan pernah menjelekkan ibuku lagi.”
Ambar langsung menatap tajam.
“Aku tahu ibuku bersalah. Tapi apa Ibu pernah bertanya kepada suami Ibu sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi?”
“Lancang sekali kau!” Suara Ambar menggema di ruang makan. “Ibumu yang menjebak suamiku!”
Ganjar ikut menatap Amira dengan tatapan tidak suka. “Belajar dari mana kamu bicara seperti itu, hah?”
“Aku hanya tidak suka kalau Ibu terus menjelek-jelekkan ibuku.”
“Tapi memang kenyataannya ibumu seperti itu!” bentak Ganjar. “Dan kamu sama saja seperti dia. Sudah dirawat dari kecil, masih saja berani melawan kami.”
Amira terdiam. Senyum getir muncul di wajahnya. Melihat wajah pria yang seharusnya menjadi rumah ternyaman baginya, tetapi justru menjadi orang pertama yang selalu berhasil melukainya.
“Sudah, Pi.” Alika tiba-tiba angkat bicara.
“Jangan marah. Ini masih pagi. Mungkin Amira hanya sedang mengeluarkan unek-uneknya.”
Nada suaranya lembut. Bahkan terdengar seperti sedang membela Amira.
Ganjar menatap putrinya. “Tuh, dengar. Bahkan orang yang selama ini kau anggap jahat selalu membelamu. Tapi apa? Kau malah tidak menghargai ibunya.”
“Sudah, Pi.” Alika kembali tersenyum lembut. “Aku cuma nggak mau di rumah kita setiap hari terdengar kegaduhan.”
Ganjar akhirnya diam suasana perlahan kembali tenang. Mereka kembali menikmati sarapan. Tapi tidak dengan Amira. Gadis itu kehilangan selera makan.
Setiap kali ia mencoba membela diri, pada akhirnya dialah yang dianggap bersalah. Amira akhirnya menunduk. Ia hanya ingin sekali memiliki keluarga yang bisa mendengarkan dirinya tanpa menghakimi.
Namun sepertinya, keinginan itu terlalu mahal untuknya. Lalu eberapa menit kemudian, Ganjar meletakkan sendoknya. Pria itu mengangkat pandangannya seolah ingin menyampaikan sesuatu penting.
“Ada satu hal yang ingin Papi sampaikan.”
Semua orang menoleh. Termasuk Amira.
Ganjar memandang Alika dengan senyum bangga.
“Minggu depan, Alika akan bertunangan.”
Alika langsung tersenyum malu. “Serius, Pi?”
“Tentu saja serius.”
Ambar tampak begitu bahagia, karena pada akhirnya putrinya itu berhasil memiliki lelaki yang selama ini dicintanya.
“Dengan siapa?” tanya Amira, meski sebenarnya ia tidak terlalu peduli.
Ganjar menjawab santai. “Dengan Ricki.”
Seketika tubuh Amira membeku.
Sendok di tangannya terlepas. Benda itu jatuh mengenai piring. Suara kecil itu membuat seluruh meja makan terdiam. Bagaimana mungkin seorang mantan kekasihnya, pria yang baru satu minggu lalu mengatakan bahwa hubungan mereka harus berakhir.
Ternyata bukan karena tidak ada kecocokan. Melainkan karena pria itu akan bertunangan dengan kakaknya sendiri. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Amira menatap Alika, laku berpindah pada ayahnya, seketika hatinya merasa tercabik. Bagaimana mungkin seorang ayah bisa tersenyum di tengah rasa sakit putrinya yang lain.
Akan tetapi Amira tidak mau memperlihatkan kesedihannya itu pasa siapapun lalu ia berusaha untuk mengatakan sesuatu.
“Selamat...” ucap Amira lirih.
Alika menundukkan wajah, pura-pura malu. “Makasih, Mira.”
Amira mengepalkan tangannya di bawah meja.
Ia tidak ingin menangis. Setidaknya tidak di hadapan mereka. Namun sebelum suasana semakin canggung, Ganjar kembali berbicara.
“Dan kamu, Amira, jangan menyalahkan kakakmu atas kejadian ini.”
Amira mengangkat wajah. “Kenapa?”
“Karena orang tua Ricki sendiri yang memilih Alika.”
Ganjar menatap Amira dengan tegas. “Jadi jangan pernah berpikir bahwa kakakmu merebut Ricki darimu.”
Alika segera menyentuh lengan Ambar, seolah ingin menghentikan pembicaraan.
“Sudahlah, Pi. Aku nggak mau Amira salah paham.”
Lalu ia menatap Amira dengan wajah penuh perhatian. “Lagipula, Mira... aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”
Senyumnya begitu lembut. Begitu tulus. Setidaknya, bagi orang lain. Tetapi hanya Amira yang tahu bahwa ada sesuatu yang terasa salah dari senyum itu.
Karena untuk kali ini, ia menyadari satu hal. Ricki mungkin telah meninggalkannya seminggu lalu. Tetapi hari ini, ia benar-benar kehilangan lelaki yang dicintainya—kepada kakaknya sendiri.
Bersambung ....
Assalamualaikum Kak .... Semoga kalian semua sehat dan tentunya terhibur dengan buku baru dari aku...