Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
***
Ketika Aula Kekaisaran dihantam badai skandal yang menghancurkan masa depan Pangeran Ke-4 dan Xiu Mei, suasana di Istana Zhen justru dipenuhi kehangatan yang amat intim. Udara dingin musim dingin yang membeku di luar seolah tak sanggup menembus tebalnya tirai sutra marun dan pendar arang kayu cendana di kamar utama.
Di atas ranjang empuk berlapis beludru tebal, Xiu Ying perlahan bergerak dari balik gumpalan selimut. Rambut hitam panjangnya terurai berantakan di atas bantal. Ketika ia mencoba menegakkan tubuhnya, rasa pegal dan remuk seketika menjalar ke seluruh persendian.
Xiu Ying meringis pelan, menyibak sedikit selimut tipis yang menutupi dadanya. Wajah cantiknya merona merah saat melihat pantulan dirinya di cermin perunggu tak jauh dari ranjang. Dari leher mulusnya, meluncur turun ke bahu hingga permukaan dadanya yang terbuka, dipenuhi bercak-bercak kemerahan dan memar halus—jejak percumbuan panas tanpa ampun dari suaminya sepanjang malam hingga menjelang subuh tadi.
"Pria ini... benar-benar seperti binatang buas jika sudah melepaskan topengnya," gumam Xiu Ying serak, mengusap lehernya yang terasa hangat.
Tiba-tiba, sepasang lengan kekar yang hangat merangkak masuk dari balik selimut, melingkar rapat di pinggang ramping Xiu Ying. Zhen Yu menyusulkan tubuh tegapnya dari belakang, menyandarkan dagu tegasnya di bahu polos Xiu Ying. Pria itu menyusupkan wajah tampannya di ceruk leher sang istri, menghirup aroma alami bunga melati yang amat memabukkan.
"Istriku sudah bangun, hm?" bisik Zhen Yu dengan suara berat, seksi, dan agak serak khas bangun tidur.
Xiu Ying memutar kepalanya sedikit, menatap wajah suaminya yang sangat tampan tanpa penyamaran sedikit pun. Ditatapnya manik mata pekat Zhen Yu yang kini memancarkan pendar cinta murni dan pemujaan yang dalam.
Xiu Ying mendesah pelan, meski bibir manisnya tak bisa menyembunyikan senyuman tipis. "Zhen Yu... bisakah kau membiarkan istrimu ini beristirahat sebentar saja? Seluruh badanku rasanya sudah mau rontok semua."
Zhen Yu terkekeh rendah, suara beratnya menggetarkan dada bidangnya yang menempel pas di punggung telanjang Xiu Ying. Ia menundukkan kepalanya, menyapu pundak polos istrinya dengan kecupan-kecupan lembut nan hangat yang membuat Xiu Ying merinding halus.
"Maafkan aku, Istriku," bisik Zhen Yu parau, meremas lembut jemari lentik Xiu Ying yang bersandar di atas selimut. "Setiap kali melihatmu di sampingku tanpa ada lagi jarak atau rahasia, aku selalu kehilangan kendali. Kau terlalu memikat untuk dibiarkan dingin di musim es ini."
"Tapi kau benar-benar tidak memberi ampun semalam," protes Xiu Ying terkekeh pelan, membalikkan tubuhnya sedikit untuk menatap Zhen Yu. "Ingat, kita masih harus mengurus perluasan jalur obat di Wilayah Utara hari ini."
Zhen Yu tersenyum amat tampan. Ia menarik selimut lebih tinggi, membungkus tubuh mereka berdua dalam kehangatan yang rapat.
"Urusan Wilayah Utara sudah ditangani oleh Jaringan Bayangan sejak fajar tadi, Putri Dermawan Agungku," sahut Zhen Yu manis, membelai pipi merona Xiu Ying dengan ujung jarinya. "Hari ini, tugas utamamu hanyalah manja di dalam pelukanku."
Xiu Ying menyandarkan kepalanya di dada bidang Zhen Yu, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur. Di dalam dinding Istana Zhen, dunia terasa begitu damai, manis, dan aman.
**
Sementara itu, pemandangan yang teramat bertolak belakang terjadi di Kediaman Putra Mahkota.
Suasana di kediaman mewah itu tidak ubahnya seperti neraka yang mengepulkan asap hitam. Keputusan Kaisar yang memaksa Pangeran Ke-4 menikahi Xiu Mei hanya sebagai Selir Tingkat Rendah tanpa pesta kenegaraan, sekaligus pencabutan hak pengawasan militer kota, telah meruntuhkan separuh dari pilar kekuasaan sang Putra Mahkota.
PRANG! BRAK!
Vas porselen giok bernilai ribuan tael emas hancur berantakan menabrak dinding kayu. Pangeran Ke-4 berdiri di tengah ruangan dengan jubah yang acak-acakan dan mata merah padam akibat amarah yang membakar habis akal sehatnya.
Di atas lantai dingin yang dipenuhi pecahan keramik, Xiu Mei berlutut gemetaran. Jubah mewahnya berantakan, wajah cantiknya sembab oleh air mata, dan lengannya memar akibat cengkeraman kasar.
"Gadis tidak tahu diri!" bentak Pangeran Ke-4 dengan suara menggelegar, melangkah lebar dan mencengkeram rahang Xiu Mei hingga wanita itu mendongak paksa. "Kau dan orang tuamu yang tidak tahu malu itu sengaja menjebakku di hadapan Ayahanda Kaisar, kan?!"
"T-Tidak, Yang Mulia! Hamba tidak berniat menjebak Yang Mulia!" jerit Xiu Mei histeris, air matanya bercucuran membasahi jemari Pangeran Ke-4. "Hamba sungguh-sungguh mengandung anak Yang Mulia! Hamba hanya ingin menyelamatkan janin ini dari penderitaan!"
"Menyelamatkan janin?!" Pangeran Ke-4 tertawa dingin, sebuah tawa mengerikan yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia menghempaskan rahang Xiu Mei hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"Gara-gara anak haram di dalam perutmu itu, hak militer kotaku dicabut! Aku dipermalukan di hadapan seluruh menteri! Dan kau... kau berpikir bisa menjadi Permaisuri Utama dengan cara menjijikkan ini?!" gertak Pangeran Ke-4 mematikan.
Xiu Mei memegang perut bagian bawahnya yang masih rata, menangis tersedu-sedu di atas lantai. "Yang Mulia... anak ini adalah darah daging Anda... calon cucu Kekaisaran..."
Pangeran Ke-4 melangkah mendekat, membungkuk dan berbisik tepat di samping telinga Xiu Mei dengan nada suara yang membeku laksana es di dasar telaga:
"Dengar baik-baik, Xiu Mei. Kau mungkin berhasil masuk ke kediamanku dengan membawa janin ini sebagai tameng. Tapi jangan pernah bermimpi untuk hidup tenang di tempat ini," desis Pangeran Ke-4 tajam. "Mulai hari ini, kau hanya akan tinggal di Halaman Belakang yang terpencil. Jangan pernah menampakkan wajah bahagiamu di depanku, atau aku sendiri yang akan memastikan anak di dalam perutmu itu tidak pernah melihat indahnya dunia!"
Xiu Mei terperanjat, matanya membelalak horor menatap calon suaminya yang kini memandangnya bagaikan musuh bebuyutan.
"Seraf! Seret wanita ini ke Halaman Belakang!" perintah Pangeran Ke-4 dingin kepada para pengawalnya tanpa menoleh lagi. "Jangan biarkan dia melangkah keluar dari paviliun terpencil itu tanpa izin tertuliskum!"
Dua pengawal bertubuh tegap segera memapah dan menyeret Xiu Mei yang menangis histeris keluar dari ruangan utama.
Di luar lorong kediaman, para pelayan dan dayang istana berdiri berderet di balik pilar-pilar kayu, berbisik-bisik penuh cemooh sambil menyaksikan Xiu Mei diseret bagaikan pesakitan.
"Lihatlah Nona Ketiga dari Keluarga Xiu itu," bisik seorang pelayan wanita dengan nada meremehkan. "Dulu dia begitu sombong memamerkan cincin pertunangan, berakting seolah-olah dia adalah Calon Permaisuri Kerajaan."
"Benar sekali," timpal dayang di sebelahnya sambil terkekeh sinis. "Sekarang jangankan jadi Permaisuri, pesta pernikahan pun tidak ada. Dia hanya dijadikan Selir Tingkat Rendah dan dibuang ke Halaman Belakang yang dingin!"
"Sungguh berbeda jauh dengan Kakak Tirinya, Nyonya Xiu Ying," sahut pelayan lain dengan Binar kagum. "Nyonya Xiu Ying kini menjadi Putri Dermawan Agung, dicintai rakyat, disayang Ibu Suri, dan dimanjakan luar biasa oleh Pangeran Ke-7 di Istana Zhen."
"Memang benar kata pepatah, roda kehidupan itu berputar. Orang yang licik pada akhirnya akan tenggelam dalam kehancurannya sendiri."
Bisikan-bisikan tajam itu masuk ke telinga Xiu Mei yang terus diseret menyusuri lorong salju. Wajah cantiknya yang dulu dipenuhi keangkuhan kini dipenuhi keputusasaan, kemarahan, dan rasa malu yang tiada tara.
Ancamannya terhadap Xiu Ying di masa lalu berbalik menghantam dirinya sendiri dengan seribu kali lebih kejam. Ambisinya untuk bertakhta di puncak kekuasaan telah hancur lebur, menyisakannya terkurung di dalam dinding istana yang dingin bersama kebencian dari pria yang dicintainya.
( Bersambung)