NovelToon NovelToon
Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Kejarlah Cinta Sampai Ke Negeri China

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: HaLiAs

Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senyum Iblis x Saksi Bisu 4

‎   Tepat pada detik yang paling rapuh itu, sebuah keributan pecah dari arah pintu utama Teater Lama.

‎

‎Suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggema, diikuti oleh sorotan cahaya senter dari beberapa arah yang menyibak kegelapan gedung tua tersebut.

‎

‎"Dini! Dini, kamu di dalam?!" teriak suara Siska memecah keheningan.

‎

‎"Coba cari ke arah belakang panggung! Senter ke sana!" instruksi suara berat seorang pria, yang tak lain adalah Pak Yanto, salah satu dosen muda FIB yang sedang piket hari itu.

‎

‎Beberapa detik kemudian, sorot lampu senter menembus ruang penyimpanan properti. Cahaya itu menyorot tepat ke arah sudut ruangan, menerangi pemandangan di sana layaknya lampu sorot panggung teater yang menyiarkan sebuah tragedi.

‎

‎Langkah kaki rombongan itu terhenti mendadak.

‎

‎Siska, Maya, Pak Yanto, dan seorang petugas kebersihan kampus yang ikut membantu mencari, berdiri mematung di ambang pintu ruang properti. Napas mereka tercekat melihat pemandangan di depan mata.

‎

‎Di bawah sorot senter, mereka melihat Reza—pemuda dengan wajah babak belur, pakaian berantakan, dan hanya mengenakan kaus oblong—sedang berlutut membungkuk sangat dekat di hadapan Dini. Dan Dini, sang primadona, duduk di lantai dalam keadaan setengah telanjang, bajunya robek berserakan, dan bahunya hanya ditutupi oleh kemeja flanel milik Reza. Wajah Dini yang shock berat dan catatonik semakin menambah kengerian visual tersebut.

‎

‎Otak manusia seringkali bekerja dengan cara yang paling impulsif dan menghakimi saat dihadapkan pada potongan gambar tanpa konteks. Dan bagi mereka yang berdiri di pintu, visual itu hanya menceritakan satu narasi yang sangat jelas dan sangat biadab.

‎

‎Hening sejenak, sebelum akhirnya jeritan histeris Siska merobek keheningan.

‎

‎"DINI!"

‎

‎Siska dan Maya berlari menerjang Reza. Maya mendorong tubuh Reza dengan sekuat tenaga hingga pemuda kurus itu terjengkang ke belakang, punggungnya menabrak tumpukan kayu bekas. Siska langsung memeluk Dini erat-erat, menangis histeris sambil berusaha menutupi tubuh sahabatnya dengan kemeja Reza yang melorot.

‎

‎"Kamu apain teman aku, bajingan?!" teriak Maya histeris, matanya melotot penuh kebencian ke arah Reza, tangannya menunjuk tepat di wajah Reza yang masih kebingungan. "Kamu apain Dini, Reza?! Kamu gila! Kamu monster!"

‎

‎Pak Yanto melangkah maju dengan wajah merah padam karena amarah. Ia menarik kerah kaus Reza dengan kasar, memaksa pemuda itu berdiri. "Reza! Apa yang baru saja kamu lakukan pada temanmu, hah?! Kamu mahasiswa, atau binatang?! Kamu memperkosa dia?!"

‎

‎Reza terbelalak. Otaknya yang baru saja dipenuhi oleh kepanikan mencari Dini, kini mengalami korsleting total. Fitnah yang dituduhkan padanya begitu tiba-tiba, begitu kejam, dan begitu tidak masuk akal.

‎

‎"Enggak, Pak! Sumpah, bukan saya!" Reza akhirnya menemukan suaranya, membalas dengan panik, berusaha melepaskan cengkeraman dosennya. "Saya baru aja sampai di sini! Tadi ada dua preman yang kabur lewat pintu belakang! Saya nemuin Mbak Dini udah... udah dalam keadaan begini, Pak! Saya cuma ngasih kemeja saya buat nutupin badannya!"

‎

‎"Bohong!" pekik Siska dari lantai, memeluk Dini yang masih tidak bergeming. "Dini itu nolak kamu, kan?! Dini cerita sama kita kalau kamu nolak perasaannya! Kamu sakit hati kan, makanya kamu nyerang dia di tempat sepi kayak gini! Kamu dendam sama dia!"

‎

‎"Bukan! Siska, lo salah paham! Preman yang nyerang warkop gue semalam yang ngelakuin ini! Poltak lagi ngejar mereka di luar!" Reza berteriak putus asa, matanya memerah menahan tangis ketidakadilan. Ia menoleh ke arah Dini yang ada di pelukan Siska. "Mbak Dini... Mbak, tolong bilang sama mereka, Mbak. Bilang kalau bukan saya yang ngelakuin ini. Tolong, Mbak..."

‎

‎Semua mata menatap Dini, menunggu gadis itu membenarkan atau menyangkal ucapan Reza.

‎

‎Namun, yang terjadi justru memperburuk segalanya. Mendengar bentakan-bentakan keras di sekelilingnya, trauma di dalam kepala Dini kembali terpicu. Mata gadis itu yang tadinya kosong mendadak melebar penuh ketakutan. Ia merapatkan dirinya ke pelukan Siska, menutupi telinganya dengan kedua tangan, dan mulai menjerit histeris. Jeritan panjang tanpa kata-kata, jeritan seorang korban yang jiwanya baru saja dicabik-cabik. Ia menggigil hebat, tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun untuk membela dirinya, apalagi membela Reza.

‎

‎Melihat reaksi histeris Dini yang memilukan, kemarahan Pak Yanto meledak. Ia yakin 100% bahwa Reza adalah pelakunya.

‎

‎PLAK!

‎

‎Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Reza, tepat di atas luka lebamnya semalam. Rasa sakitnya luar biasa, membuat telinga Reza berdenging dan sudut bibirnya kembali berdarah.

‎

‎"Jangan berani-beraninya kamu paksa korban yang trauma untuk bersaksi demi nutupin kelakuan bejatmu!" bentak Pak Yanto dengan suara bergetar karena emosi. "Kamu pikir saya bodoh? Muka kamu babak belur, pakaian kamu berantakan, kamu pasti habis berkelahi maksa dia kan?! Satpam! Bawa anak ini ke pos sekarang! Kita panggil polisi!"

‎

‎Petugas kebersihan yang sejak tadi mematung segera maju dan memegang kedua lengan Reza dari belakang dengan kuat.

‎

‎Di tengah kegelapan Gudang Teater Lama, di bawah tatapan penuh kebencian dari Maya dan Siska, Reza berhenti meronta.

‎

‎Dunia seakan runtuh menimpanya. Rasa perih di pipinya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa perih di dadanya melihat keadaan Dini yang hancur. Ia ingin berteriak membela diri, ia ingin menjelaskan semuanya, tapi lidahnya kelu. Apa gunanya berteriak jika hakim dan jaksa sudah menjatuhkan vonis bahkan sebelum ia duduk di kursi pesakitan? Visual yang tercipta terlalu sempurna untuk menjebaknya.

‎

‎Di sudut ruangan, Dini masih terdiam seperti orang linglung, tenggelam dalam lautan air mata dan trauma yang tak berujung, tak mampu memberikan kesaksian yang bisa menyelamatkan pahlawan malangnya itu.

‎

‎Dan di luar sana, jauh dari jangkauan Teater Lama, Poltak si beruang Batak masih berlari menyusuri stasiun, berteriak-teriak mencari preman yang sudah menghilang ditelan hiruk-pikuk kota, sama sekali tidak menyadari bahwa sahabat terbaiknya baru saja dilemparkan ke dalam lubang fitnah paling keji dan gelap.

‎

‎Reza menundukkan kepalanya, membiarkan dirinya ditarik keluar dari gedung itu. Dalam diamnya yang menyesakkan, tangannya yang terborgol oleh cengkeraman petugas meraba saku celananya secara refleks. Kelereng baret motif pusaran merah-biru itu masih ada di sana, terasa dingin di telapak tangannya. Kompasnya menuju Cina kini terasa seperti lelucon yang sangat kejam. Perjalanannya terancam berakhir di sini, bukan di Guangzhou, melainkan di balik jeruji besi atas dosa yang tak pernah ia lakukan.

‎

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!