NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Jeratan Tanpa Jalan Keluar

Itulah sebabnya Vano menghindari tempat ini selama berbulan-bulan. Bukan karena takut pada dirinya sendiri. Bukan karena takut pada teguran Kakek atau nama baik keluarga yang bisa hancur. Melainkan karena ia tak sanggup melihat Damian hancur.

Damian yang selalu ramah, selalu tulus, satu-satunya orang yang sejak kecil menganggapnya saudara, bukan sekadar kerabat yang dijaga nilainya. Jika ia bicara, jika ia membongkar semuanya… senyum itu — senyum yang begitu lebar, begitu polos — akan patah. Kepercayaan yang ia bangun perlahan akan hancur seketika. Dan Vano tak sanggup menjadi tangan yang meruntuhkannya.

"Selamat berbahagia," ucap Vano pelan, matanya terpaku pada Damian — sengaja tak menatap wanita di sampingnya.

Damian tersenyum lebar, begitu tulus hingga hati Vano terasa terkoyak.

"Terima kasih, Vano! Kau adalah saudara terbaik yang kami miliki."

Saudaraku… batinnya meraung getir, menahan jeritan yang nyaris lolos.

Jika kau tahu apa yang telah kulakukan di belakang punggungmu… jika kau tahu siapa yang sebenarnya berdiri di sampingmu…

Ina tersenyum makin lebar, matanya berkilat penuh kemenangan.

"Terima kasih, Vano. Aku berharap kita bisa bertemu lebih sering mulai sekarang."

"Tentu saja!" Damian tertawa renyah, tak menyadari badai di mata sepupunya.

"Ina selalu ingin mengenal keluargaku lebih dekat. Dan kau… kau adalah orang yang paling ingin ia ketahui. Karena kau adikku."

Vano menelan ludah yang terasa pahit seperti empedu. Ia ingin berteriak. Ingin membentak wanita itu agar berhenti berpura-pura, agar berhenti memakai wajah kesetiaan di hadapan pria yang ia khianati. Namun ia mengatupkan rahangnya erat. Demi Damian. Lebih baik ia yang menanggung rasa bersalah ini sendirian, daripada melihat sepupunya hancur mengetahui kenyataan pahit itu.

"Kakek memanggilku," ucapnya akhirnya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya sesak.

"Saya harus menemui beliau."

"Nanti kita makan bersama, ya?" ajak Damian ramah, melambaikan tangan.

"Iya… nanti."

Vano melangkah pergi, punggungnya tegak namun kakinya terasa berat. Di belakangnya, ia tahu Ina tersenyum menang — karena ia sadar Vano tak akan pernah berani bicara. Bukan karena takut. Tapi karena ia tak tega menghancurkan Damian.

Damian… batinnya bergumam perih.

Maafkan aku. Biarlah aku yang menanggung beban ini. Asal kau tetap bahagia… biarlah begitu.

**

Belum jauh ia melangkah, pintu tertutup di belakangnya, dan lorong panjang yang sepi menyambutnya. Namun langkahnya terhenti. Diikuti.

Suara langkah — ringan, berirama, ia kenal betul — mendekat tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"Vano."

Panggilan itu lembut, namun penuh hasrat yang tak disembunyikan, seakan namanya adalah miliknya sendiri. Ia berhenti, tak menoleh. Bahunya menegang, sekujur tubuhnya menolak kehadiran itu.

"Kau tak seharusnya ke sini, Ina," ucapnya dingin, tetap memunggungi.

"Kembalilah. Damian akan mencarimu."

Langkah wanita itu berhenti tepat di belakangnya. Tawa halus terdengar — bukan malu, melainkan penuh kepastian.

"Damian sedang asyik berbicara dengan kerabat lain. Beliau tak akan menyadari ketidakhadiranku sebentar saja." Ina melangkah sejengkal mendekat, suaranya merambat pelan ke telinga Vano, panas dan mendesak.

"Dan kau… kau tak benar-benar menyuruhku pergi, bukan? Bukan setelah apa yang terjadi di antara kita…"

Vano berbalik perlahan. Tatapannya tajam, dingin, tak menyisakan ruang bagi harapan apa pun.

"Katakan maksudmu, lalu pergi."

Ina tersenyum miring, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka nyaris tak tersisa. Matanya meneliti wajah pria itu, penuh kerinduan yang membara.

"Kau tak menyadari betapa aku menunggumu, Vano. Malam itu… tak pernah bisa kulupakan." Ia mengangkat tangan, menyentuh lengan jasnya perlahan, seakan mengusap benda yang sudah ia miliki.

"Cara kau memelukku, menciumku, mengusapku… begitu penuh gairah, begitu mendambakan, seakan tak ada yang lain di dunia ini. Kau melakukannya dengan begitu intens, begitu hangat, seakan kau mencintaiku — meski matamu tak melihatku."

Vano menepis tangan wanita itu dengan tegas, tanpa sedikit pun melembut.

"Itu bukan kau. Aku tak melihatmu. Aku melihat orang lain."

"Namamu tetap terucap, tubuhmu tetap merespons, dan kau tetap menginginkanku berkali-kali," potong Ina, suaranya makin bergetar penuh hasrat yang tak terpadamkan.

"Aku merasakannya. Dan aku menginginkannya lagi. Seutuhnya kali ini — sadar, di siang bolong, tanpa keraguan sedikit pun."

Ia mendekatkan wajahnya, napasnya memburu pelan.

"Biarkan aku menjadi wanita yang kau inginkan, Vano. Ulangi malam itu bersamaku. Kali ini… tak ada bayangan orang lain. Hanya aku dan kau. Seperti yang seharusnya terjadi."

Vano menatapnya dingin, tanpa sedikit pun tergoda.

"Kau bermimpi. Itu tak akan pernah terjadi."

"Tentu saja akan terjadi." Senyum Ina tak pudar, justru kini bercampur ancaman yang tak bisa disembunyikan. Ia mencondongkan tubuh sedikit, berbisik tajam.

"Atau kau lebih suka Damian mendengar bagaimana kau memelukku erat-erat, memohon agar aku tak pergi, lalu mengulanginya lagi… lima kali, Vano? Lima kali berturut-turut, seakan tak pernah cukup?"

Wajah Vano memucat, namun suaranya tetap teguh.

"Aku tak memanggil namamu."

"Siapa yang akan mempercayaimu?" Ina tertawa pelan, tak gentar sedikit pun.

"Bagi semua orang, aku ada di sana. Kau mabuk, kau kesepian, dan kau bersamaku. Tak ada bukti, tak ada saksi. Kau hanya bisa memilih: membiarkanku menjadi milikmu… atau membiarkan Damian mengetahui siapa yang sebenarnya menghancurkan kepercayaannya."

Ia menyentuh dada Vano pelan, menatapnya lekat-lekat.

"Ulangi malam itu bersamaku. Berikan dirimu padaku. Dan aku akan menjaga rahasiamu. Selamanya."

Vano menarik napas panjang, menahan rasa jijik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu dingin, begitu jauh, seakan menatap orang asing yang tak pernah ia kenal.

"Kau tak akan pernah mendapatkannya, Ina. Yang kau inginkan itu tak ada. Malam itu sudah berakhir, dan yang kau bayangkan tak pernah benar-benar milikmu."

Ina terdiam sesaat, lalu tersenyum makin licik.

"Kita lihat saja. Kau akan berubah pikiran. Kau tak punya pilihan lain." Ia menepuk dada Vano pelan, berbalik perlahan.

"Besok aku akan menantimu. Pintu kamarmu… dan hatimu… akan kubuka lebar-lebar untukmu."

Ia pergi, langkahnya anggun namun meninggalkan jejak ancaman yang menancap di setiap langkah.

Vano berdiri terpaku sendirian di lorong itu. Dingin. Kosong. Terperangkap di antara kebenaran yang tak bisa ia ucapkan dan kebohongan yang terus memakannya dari dalam.

Damian… batinnya bergumam getir, menunduk berat.

Maafkan aku… dia tak akan berhenti. Dan aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa melindungimu dari kebenaran ini.

^^^Bersambung...^^^

1
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
naws
hih bangga bgt pasti dia bisa deket2 sama vano 😖
naws
kalopun tau, harusnya elona gaboleh marah. mereka kan gak ada komitmen.
naws
dia napsunya bukan sama kamu mbak
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!