NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Tabrakan di Depan Restoran Cendana

Suara benturan keras mengguncang depan Restoran Cendana.

Range Rover Reno menghantam sisi belakang Kijang dan mendorongnya hampir satu meter. Alarm mobil di sepanjang jalan menjerit. Meja warung bergoyang, gelas jatuh, dan orang-orang berlari menjauh dari bahu jalan.

Arya sudah berdiri sebelum serpihan lampu belakang menyentuh aspal.

"Tidak ada yang terluka?" tanyanya kepada penjual.

"Tidak, Mas."

Bara memeriksa dua pelanggan yang tadi duduk dekat jalan. Setelah memastikan mereka aman, ia berbalik kepada Reno. Otot di rahangnya bergerak.

"Cak, cukup satu kata."

"Belum."

Reno keluar dari mobil sambil tertawa. Bumper Range Rover lecet dan satu sensor parkir menggantung. Kerusakan Kijang jauh lebih parah: panel belakang penyok, lampu pecah, dan pintu bagasi miring.

"Maaf," katanya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Kaki gue terpeleset. Mobil tua begini pasti enggak ada asuransi, kan?"

Ia mengambil beberapa lembar uang dari dompet dan melemparkannya ke kap Kijang.

"Buat ongkos derek."

Rina dan para teman lama berdiri membeku. Bella mendekati Reno dengan wajah pucat.

"Kamu sengaja."

"Jangan ikut campur. Gue cuma membantu dia ganti rongsokan."

Dedi mengangkat ponsel, merekam. "Gila. Ini bakal ramai."

Reno justru menyukai penonton. Ia menunjuk Arya. "Biar semua orang tahu, ini orang yang sok jadi pemilik PE. Dia musuh gue, dan dia mantan suami tunangan gue. Sekarang dia menikah dengan Anindya cuma untuk pegang saham perusahaan."

Kerumunan bergumam. Informasi pernikahan yang semula hanya beredar di lingkungan bisnis kini direkam banyak ponsel.

Bella menatap Reno. "Aku belum jadi tunanganmu."

"Semua orang sudah tahu kita akan menikah."

"Kita bahkan tidak jadi mencatatkan perkawinan."

Wajah Reno mengeras. "Bukan waktunya membahas itu."

Arya mengambil lembar uang dari kap mobil dan menyerahkannya kepada penjual warung. "Untuk gelas yang pecah dan pelanggan yang terganggu. Catat nama serta nomor mereka sebagai saksi."

"Mas, ini terlalu banyak."

"Simpan."

Ia berjalan mengelilingi Kijang. Benturan membuka celah pada panel belakang. Di sela logam, sebuah cahaya hijau kecil berkedip lalu mati.

Arya melihatnya.

Sejak tiba di Puri Adiwangsa, Kevin beberapa kali mendeteksi transmisi pendek yang mengikuti rute Kijang. Perangkat itu terlalu jarang aktif untuk ditemukan dengan pemindai biasa. Benturan Reno baru saja menggeser tempat persembunyiannya.

"Panggil polisi," kata Rina kepada Bella.

"Tidak perlu," sahut Reno. "Kami selesaikan kekeluargaan."

"Kamu menabrak mobil orang di depan saksi," balas Bella.

Arya membuka pintu pengemudi Kijang. Mesin masih dapat menyala.

Reno mengangkat alis. "Mau pulang? Bagus. Bawa rongsokan lo sebelum menghalangi jalan."

Arya memasukkan gigi mundur.

Bara melihat arah ban dan langsung memahami. Ia mengangkat kedua tangan kepada kerumunan. "Semua mundur dari jalan! Jangan berdiri dekat mobil!"

Orang-orang menepi.

Kijang bergerak mundur dua meter, lalu melaju pendek.

Brak!

Bumper depannya menghantam sisi Range Rover. Pintu kendaraan mewah itu melengkung ke dalam.

Tawa Reno hilang.

"Lo gila?!"

Arya mundur lagi.

Brak!

Benturan kedua mengenai roda belakang. Pelek mahal tergores dan ban miring. Di saat yang sama, getaran merontokkan bagian panel Kijang yang sudah longgar. Arya melirik kaca spion, mencari kedipan hijau.

"Berhenti!" Reno berlari mendekat.

Bara berdiri di jalurnya. "Mobil sedang bergerak. Kalau mau selamat, mundur."

Reno hendak mendorongnya. Bara hanya menggeser bahu. Reno terpental setengah langkah seolah menabrak dinding.

Kijang mengambil jarak untuk ketiga kali.

Arya menekan pedal.

Brak!

Kali ini kap Range Rover terangkat sedikit dan lampu depannya pecah. Kijang juga berhenti total. Asap tipis keluar dari radiator, tetapi tak ada kendaraan lain atau pejalan kaki yang tersentuh.

Arya mematikan mesin dan turun.

"Tiga kali," katanya. "Satu untuk mobil saya. Satu untuk uang yang kamu lempar. Satu untuk memastikan kamu ingat."

Reno hampir menerjang, tetapi puluhan kamera mengarah kepadanya. Ia memaksa diri berhenti.

"Mobil itu harganya lebih mahal daripada hidup lo!"

"Ajukan tagihan. Rekaman menunjukkan kamu memulai, dan rekaman juga menunjukkan saya membalas. Kita masing-masing tanggung konsekuensi hukum."

Reno terdiam. Ia mengharapkan Arya ketakutan setelah menyadari harga kerusakan, bukan secara terbuka menerima pertanggungjawaban.

Pintu restoran terbuka. Anindya keluar bersama Yanto dan pengacaranya. Pertemuan berakhir setelah ia menolak seluruh syarat. Ketika melihat dua mobil rusak, langkahnya terhenti.

"Apa yang terjadi?"

"Suamimu gila!" bentak Reno. "Dia menghancurkan mobil gue!"

Anindya melihat Kijang yang lebih dulu tertabrak, uang di tangan penjual, dan ponsel saksi yang merekam. "Saya akan mendengar dari semua pihak, bukan hanya Anda."

Yanto mencoba mundur diam-diam. Bara mengangkat ponsel dan memotret wajahnya bersama fotografer palsu yang keluar dari pintu servis.

"Pertemuan selesai?" tanya Arya kepada Anindya.

"Saya menolak kontrak lima tahun. Dan Anda seharusnya tidak berada di sini."

"Kebetulan."

Anindya menatap warung, Bara, lalu Kijang. "Kebetulan Anda sangat terorganisasi."

Sirene patroli terdengar dari kejauhan. Salah satu warga telah menghubungi polisi lalu lintas. Arya meminta semua orang menunggu dan menyerahkan rekaman asli, bukan potongan yang sudah diedit.

Dua petugas tiba dan segera memasang kerucut agar jalan tidak makin macet. Mereka memeriksa kondisi pengemudi, mencatat kerusakan, serta meminta surat kendaraan. Reno berulang kali menyebut nama Halim, tetapi petugas hanya mengarahkan semua pihak membuat keterangan.

"Rekaman awal menunjukkan mobil Anda membentur kendaraan yang terparkir lebih dulu," kata petugas kepada Reno. "Balasan Pak Arya juga tetap kami catat sebagai tindakan terpisah. Keduanya akan diproses berdasarkan bukti."

Arya menyerahkan identitas tanpa protes. "Saya siap memberi keterangan dan menanggung keputusan atas tindakan saya."

Anindya berdiri di sampingnya. "Tim legal PE akan memastikan bukti dari kamera restoran, warung, dan ponsel saksi disalin utuh. Tidak ada unggahan yang memakai wajah orang tanpa izin sebelum proses awal selesai."

Cara mereka menerima konsekuensi membuat Reno kehilangan satu lagi senjata. Ia tak bisa lagi menggambarkan Arya sebagai pengecut yang merusak mobil lalu berlindung di balik nama keluarga.

"Kenapa tidak pergi?" bisik Reno.

"Karena saya tidak perlu lari."

Sebelum petugas tiba, Arya berjongkok di belakang Kijang. Ia menyelipkan tangan ke panel yang terbuka dan menarik kabel tipis. Sebuah kotak hitam sebesar dua ruas jari terlepas bersama magnet dan kartu penyimpanan mini.

Kevin benar.

Perangkat itu bukan hanya pelacak GPS. Lubang kecil di sisinya menunjukkan mikrofon.

Arya menutup benda tersebut dalam saputangan agar sidik jari tetap terjaga. Semua suara di sekitarnya terasa menjauh.

Reno melihat kotak itu. "Apa itu?"

Arya tidak menjawab. Ia menatap kode seri yang digores pada sisi perangkat, format inventaris yang pernah ia lihat pada kendaraan operasional milik Wisnu.

Kerusakan dua mobil mendadak bukan masalah terbesar malam itu.

Arya berdiri dengan pelacak dan perekam hitam di telapak tangan. Tatapannya berubah dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!