Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Kejanggalan
Sekar tidak langsung pergi ke Puncak.
Sebelum membuka jalan keluar, ia harus memastikan orang-orang Danuwijaya tidak dapat menutup jalan di belakangnya.
Seminggu setelah menemui Bambang, ia kembali ke RS Medika Prima dengan alasan kontrol. Bekas obat tidur sudah tidak terasa di tubuhnya, tetapi hasil toksikologi menunjukkan adanya senyawa sedatif dalam sampel yang diambil beberapa jam setelah ia meninggalkan hotel.
Belum cukup untuk menyebut pelaku. Cukup untuk membuktikan bahwa ia tidak berbohong.
dr. Laksmi, Sp.OG menunggunya di ruang konsultasi.
"Saya sudah meminta bagian rekam medis menyiapkan semua berkas Ibu sejak kunjungan pertama," kata dokter itu. "Namun saya perlu tahu, apakah Ibu aman kembali ke rumah itu?"
Sekar menatap map biru di meja. "Untuk sementara. Saya mengunci kamar dan tidak makan apa pun yang ditinggalkan tanpa pengawasan."
"Itu bukan keadaan yang bisa disebut aman."
"Saya tahu. Saya sedang menyiapkan diri untuk keluar."
dr. Laksmi tidak mendesak. Ia hanya mendorong daftar dokumen ke arah Sekar. Catatan pemeriksaan hormon, USG, evaluasi saluran reproduksi, dan konsultasi selama bertahun-tahun tersusun berdasarkan tanggal.
"Semua hasil ini milik Ibu. Simpan salinan digital di tempat yang tidak bisa diakses keluarga suami."
"Apakah pernah ada hasil yang menyatakan saya tidak bisa hamil?"
Dokter itu membuka halaman demi halaman. "Tidak. Kita memang belum pernah memperoleh kehamilan, tetapi tidak ada dasar untuk memberi cap mandul hanya kepada Ibu. Evaluasi infertilitas harus melibatkan pasangan."
"Mas Rendra tidak pernah datang."
"Saya sudah menuliskan anjuran analisis sperma beberapa kali."
Sekar menemukan kalimat tersebut pada catatan tahun kedua, tahun keempat, dan kunjungan terakhir. Selama ini matanya selalu terpaku pada angka-angka miliknya sendiri. Ia begitu sibuk mencari kekurangan dalam tubuhnya sampai tidak memperhatikan satu nama yang terus absen dari pemeriksaan.
Rendra.
"Dok, apakah kehamilan perempuan lain membuktikan seorang laki-laki pasti subur?"
dr. Laksmi mengamati wajahnya sebelum menjawab. "Kehamilan merupakan informasi klinis, tetapi kalau ada pertanyaan khusus tentang fertilitas seseorang, pemeriksaan langsung tetap diperlukan. Kita tidak membuat kesimpulan medis hanya dari pengakuan."
Sekar mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi. Sebuah pertanyaan sudah tumbuh, tetapi belum memiliki cukup akar untuk ditarik keluar.
***
Di kafe rumah sakit, seorang perempuan berblus putih duduk di meja paling belakang. Namanya Ningsih, putri salah satu pegawai lama keluarga Reksonegoro. Sekar mengenalnya sejak remaja, sebelum Bambang memutus hampir semua hubungan Ratih dengan keluarga asalnya.
"Maaf saya baru berani menemui Non sekarang," kata Ningsih. "Bu Ratih menghubungi saya diam-diam."
"Jangan panggil aku Non. Sekar saja."
Ningsih tersenyum gugup. "Sulit mengubah kebiasaan."
Sekar mengeluarkan laptop. "Aku butuh bantuan mengatur salinan dokumen. Bukan mencuri data, bukan menerobos akun siapa pun. Hanya mengumpulkan apa yang secara sah bisa kuakses."
"Saya mengerti."
Mereka bekerja hampir dua jam. Sekar mengunduh mutasi rekening bersama yang selama ini dipakai untuk biaya rumah tangga. Ada beberapa transfer besar menuju rekening perusahaan yang terkait keluarga Wardhani. Tanggal pertama jatuh jauh sebelum Kirana datang membawa perut besarnya.
"Beri tanda, tapi jangan simpulkan dulu," kata Sekar.
Ningsih memasukkan datanya ke tabel. "Jumlahnya naik setiap bulan. Keterangannya biaya konsultasi yayasan."
"Kita catat apa adanya."
Ningsih membuka informasi penerima yang tersedia pada setiap transaksi. Tiga pembayaran memakai nomor rekening berbeda, tetapi alamat surel konfirmasi mengarah ke domain perusahaan yang sama. Nama Kirana tidak muncul. Nama Wardhani juga tidak ditulis penuh. Semuanya dibungkus sebagai biaya acara, konsultasi, dan hubungan publik.
"Mereka sengaja membuatnya terlihat biasa," ujar Ningsih.
"Atau memang biasa bagi mereka," balas Sekar. "Kita belum tahu."
Ia mengunduh dokumen langsung dari aplikasi bank agar berkas memiliki penanda waktu, bukan sekadar tangkapan layar yang mudah dituduh telah diubah. Ningsih membuat daftar sumber untuk setiap file: akun pemilik, tanggal unduh, format asli, dan lokasi salinan.
"Kalau nanti dipakai di pengadilan, pengacara masih perlu meminta data resmi dari bank," jelas Ningsih. "Tapi setidaknya mereka tidak bisa bilang Mbak baru mengarang setelah perkara dimulai."
Sekar menatap perempuan itu. "Dari mana kamu belajar semua ini?"
"Pak Djoyo mengajari pegawai lama menyimpan jejak. Katanya, orang yang ingin mencuri perusahaan selalu mulai dengan menghilangkan arsip."
Nama Pak Djoyo muncul lagi, kali ini bersama sebuah peringatan yang terasa terlalu dekat dengan hidup Sekar.
Berikutnya mereka menyimpan tangkapan layar grup keluarga, pesan pemaksaan surat persetujuan, dan unggahan pertama foto hotel. Sekar menyusun garis waktu mulai dari cangkir madu jahe pukul 20.43, lift ke lantai sebelas, kartu akses kamar 1108, sampai unggahan akun gosip menjelang tengah malam.
Ningsih menyerahkan sebuah perangkat penyimpanan kecil. "Ini terenkripsi. Saya buat dua salinan. Satu untuk Mbak, satu saya simpan di tempat lain."
"Kalau ada yang menanyakan, kamu tidak tahu apa-apa."
"Tuti juga pasti bilang begitu kalau masih di sini."
Nama itu membuat Sekar berhenti mengetik.
"Kamu mengenalnya?"
"Kami pernah bertemu. Dia menghubungi saya beberapa hari sebelum hilang. Katanya ada sesuatu yang aneh dengan obat-obatan di rumah Danuwijaya. Belum sempat menjelaskan."
Sekar mengeluarkan potongan blister bertanda `RD` dari dompet kecil.
"Pernah melihat ini?"
Ningsih memotretnya tanpa menyentuh. "Tidak. Jangan dibawa ke apotek sembarangan. Kita cari laboratorium atau ahli yang bisa memeriksa kode produksi secara resmi."
Sekar menyimpannya kembali. Ia teringat Tuti diterkam ketakutan saat mencoba menyelesaikan kalimat terakhir.
Obat itu bukan untuk Kirana?
Atau serbuk dalam bubur hanya dibuat untuk mengalihkan perhatian dari obat lain?
Ia menahan pertanyaan tersebut. Belum ada bukti.
***
Malam itu, Paviliun Sekar sepi. Rendra kembali menginap di kamar Kirana. Wida mengirim pesan bahwa Sekar tidak perlu hadir saat sarapan selama belum bersedia meminta maaf.
Kesunyian yang dimaksudkan sebagai hukuman justru memberinya ruang.
Sekar membuka panel kecil di belakang deretan gaun lama. Di dalamnya ada rongga yang dulu dibuat untuk menyimpan kotak perhiasan. Ia memasukkan map berisi salinan hasil pemeriksaan, data transfer, kronologi hotel, dan cetakan percakapan keluarga. Perangkat penyimpanan terenkripsi diletakkan di bawah lapisan kain kotak liontin.
Satu dokumen terakhir tertinggal di meja.
Catatan dr. Laksmi dari empat tahun lalu berbunyi, `Disarankan evaluasi faktor pria melalui analisis sperma.`
Anjuran yang sama muncul berulang kali.
Rendra selalu menolak. Keluarga Danuwijaya selalu menganggap pemeriksaan itu penghinaan. Lalu Kirana datang membawa sebuah kehamilan, dan semua orang memperlakukannya sebagai jawaban tanpa pernah memeriksa pertanyaannya.
Sekar menatap bayangannya di cermin.
"Sabar dulu," bisiknya.
Dulu kalimat itu dipakai Rendra untuk membuatnya diam. Sekarang Sekar mengucapkannya kepada diri sendiri dengan arti berbeda.
Ia akan bersabar karena sedang menyusun bukti.
Ia akan diam karena belum waktunya menyerang.
Namun satu pertanyaan tidak mau lagi tenggelam.
Enam tahun lamanya, mengapa tidak seorang pun pernah memeriksa Rendra?