NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: KILAT MATA SANG PENGUASA

suara detak jantung terus berbunyi dengan ritme yang semakin cepat , memutus keheningan kamar perawatan nomor 104 yang sangat terasa begitu genting. Nasya seketika menegakkan posisi duduknya, dengan wajah lesu akibat menangis terus sepanjang Nasya menemani Eksan.gerakan perlahan dari tangan kanan Eksan yang berada di dalam genggamannya.

Perlahan namun pasti mata yang mulai berusaha membuka mata dengan perlahan, Eksan Prasetya akhirnya berhasil tersadar kembali setelah melewati ambang maut yang luar biasa panjang. Begitu dia terdaftar dengan tatapan kebingungan akibat dari koma setelah kejadian itu seketika kembali memancar dengan sangat kuat, seolah-olah kesadaran jiwa pemuda itu langsung pulih seutuhnya tanpa melewati proses pemulihan medis yang normal.

Pandangan mata Eksan yang semula agak kabur akibat efek sisa obat bius operasi langsung bergerak cepat, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya tepat pada sosok Nasya yang sedang duduk bersimpuh di samping ranjangnya.

"Nasya..." suara Eksan terdengar sangat rendah, dan bergetar hebat di dalam tenggorokannya yang kering.

Meskipun seluruh tubuh masih terasa begitu lemas dan perut kirinya luar biasa perih akibat luka robek yang baru saja selesai dijahit ulang, Eksan memaksakan tangan kanannya bergerak naik dengan gerakan kasar. Ia langsung memegang erat-erat pergelangan tangan Nasya, mengunci jari-jemari mereka bersama dalam sebuah cengkeraman kepemilikan yang absolut dan sangat kuat, seolah-olah ia sedang memastikan bahwa cahaya hidup tersucinya itu tidak akan pernah bisa melangkah pergi melarikan diri ke mana pun lagi dari sisinya.

"Eksan, jangan banyak bergerak dulu! Kau baru saja melewati operasi besar yang sangat berbahaya!" seru Nasya panik, kedua tangannya bergerak refleks menahan pundak kekar Eksan saat melihat pemuda itu mencoba memaksa tubuh bidangnya untuk bangkit duduk di atas ranjang. Air mata baru kembali mengalir melewati pipinya yang pucat, namun kali ini ada gurat kelegaan yang teramat sangat besar di balik tangisnya.

Eksan sama sekali tidak memedulikan peringatan Nasya ataupun rasa sakit luar biasa yang seolah membakar habis seluruh dinding otot perut kirinya. Mata yang tajam menatap lurus ke arah wajah Nasya dengan penuh harap seakan menggelapkan akal sehatnya.

"Kau... tidak membohongiku, kan, Nasya?" tanya Eksan dengan nada suara yang memberat, penuh dengan penekanan intimidasi mutlak yang membuat suasana di dalam kamar intensif itu mendadak terasa begitu menyesakkan dada. "Sebelum aku membuka mata... aku mendengar suaramu. Kau berjanji tidak akan pernah pergi dari sisiku. Kau berjanji akan tetap tinggal di duniaku... bersamaku di tempat itu. Jawab aku, Nasya! Kau tidak berniat melarikan diri dariku, kan?!"

Nasya menahan napasnya selama beberapa detik, merasakan getaran emosional yang luar biasa besar dan menakutkan dari setiap bait kalimat yang keluar dari bibir pucat sang pemimpin Black Cobra. Sisi protektif Eksan yang kembali muncul sesaat setelah ia sadar dari koma klinis membuktikan bahwa keberadaan Nasya telah bergeser menjadi sebuah harga diri tertinggi yang tidak akan pernah bisa ditawar oleh siapa pun.

"Aku tidak bohong, Eksan. Aku ada di sini... aku berjanji akan tetap tinggal bersamamu," jawab Nasya dengan suara yang lembut namun terdengar sangat tegas dan pasrah, menerima sepenuhnya belenggu emas perlindungan ekstrem yang disediakan oleh pemuda di hadapannya.

Mendengar jawaban langsung yang keluar dari bibir mungil Nasya, ketegangan di urat-urat wajah tegas Eksan perlahan mulai sedikit mengendur, meskipun pegangan tangannya di pergelangan tangan Nasya sama sekali tidak melonggar sedikit pun. Sebuah seringai tipis yang sarat akan rasa kepuasan yang pekat merayap di sudut bibirnya yang terluka.

Pintu kamar perawatan mendadak terbuka dengan sentakan cepat, menampilkan sosok Rangga yang masuk dengan raut wajah yang sangat tegang dan napas yang terengah-engah. Di belakangnya, Dokter Surya tampak ikut melangkah masuk dengan koper medis darurat di tangannya.

"Bos! Kau sudah sadar?!" saut Rangga, ada binar kelegaan yang luar biasa di matanya melihat sang ketua tertinggi sudah bisa membuka mata. Namun, ekspresi wajahnya kembali berubah serius dalam sekejap. "Maaf mengganggu momenmu, Bos. Tapi kita harus segera melakukan evakuasi darurat dari rumah sakit ini sekarang juga."

Eksan menolehkan kepalanya perlahan, menatap Rangga dengan pandangan mata yang tajam yang kembali sedingin es. "Ada kekacauan apa lagi di luar, Rangga?"

"Bara baru saja mengirimkan laporan melalui radio panggil, Bos," jawab Rangga. "Pasukan bantuan dari faksi kota sebelah yang menjadi sekutu rahasia Rian si Belut ternyata sudah bergerak menembus batas wilayah barat sejak sepuluh menit yang lalu. Mereka membawa puluhan mobil dan motor bersenjata lengkap, dan saat ini mereka sedang mencoba menjebol barikade pintu gerbang luar bawah gedung rumah sakit rahasia ini!"

Rangga melirik sejenak ke arah Nasya yang kembali gemetar ketakutan di samping ranjang, lalu kembali menatap Eksan. "Mereka tahu kau sedang dalam kondisi kritis akibat duel di dermaga, dan tujuan utama mereka datang ke sini adalah untuk membunuhmu serta merebut Nasya dari tangan kita demi menghancurkan sisa kejayaan Black Cobra!"

Mendengar kalimat bahwa musuh kembali datang untuk merebut Nasya, amarah kembali memuncak di dalam dada Eksan seketika meledak hebat untuk kesekian kalinya malam itu. Seluruh rasa lemas dan lelah akibat kehilangan banyak darah seolah lenyap menguap begitu saja, digantikan oleh insting bertarung seorang monster jalanan yang harga dirinya kembali diusik oleh serigala luar.

Eksan mencopot paksa selang oksigen transparan yang terpasang di hidungnya dengan satu sentakan tangan yang kasar, lalu menggeser tubuh tegapnya untuk menurunkan kedua kaki lebarnya ke atas lantai semen ruangan, mengabaikan teriakan larangan dari Dokter Surya yang panik ketakutan di sudut meja medis.

"Rangga! Siapkan seluruh sisa pasukan inti yang ada di dalam gedung ini!" perintah Eksan dengan suara kencang, berat, namun menggelegar penuh dengan getaran intimidasi yang menggema mematikan ke setiap sudut kamar. Tangan kanannya bergerak menarik tubuh Nasya agar merapat sempurna di balik punggung bidangnya yang kokoh, menyembunyikan gadis itu di bawah perlindungan tubuhnya sendiri.

"Bawa pipa besi cadanganku ke sini sekarang juga," lanjut Eksan sembari menatap lurus ke arah pintu kamar yang mulai bergetar akibat suara dentuman pertempuran yang mulai terdengar dari arah lantai bawah gedung. "Malam ini... aku sendiri yang akan memimpin pasukan Black Cobra untuk memotong seluruh kepala tikus kota sebelah itu tepat di atas halaman rumah sakit ini tanpa sisa!" kita harus menghancurkan semuanya tanpa menyisakan anggota mereka,yang telah berani dan menginjak harga diri ku terutama Black Cobra. Eksan berkata "Berapa jumlah mereka Rangga?" Rangga dengan bicara terbatas bata ,menjawab pertanyaan ketua nya .

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
wah keren jujur . apa lagi di akhir cerita nya 👍 lanjut
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!