Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Pembantu di Rumah Sendiri
Aynara menatap mereka satu per satu. "Jangan perlakukan aku seperti pembantu di rumah yang sebenarnya berasal dari keluargaku sendiri."
Ruangan mendadak sunyi.
"Karena kalau kalian terus menganggap aku gak punya hak apa-apa di sini..." Aynara berhenti sejenak. "Aku bisa mulai memperjuangkan hakku."
Tidak ada yang menjawab.
Aynara akhirnya berbalik dan meninggalkan ruang makan.
Caca menatap kepergian kakaknya dengan wajah tidak terima. "Dia keterlaluan."
Cepi segera menyahut, "Iya. Baru sehari menikah dengan keluarga kaya sudah merasa paling tinggi."
Keduanya masih merasa Aynara yang bersalah.
Namun Jayadi tidak ikut menyahut. Ia hanya duduk diam. Ucapan Aynara tentang rumah dan toko tadi terus terngiang di kepalanya.
Selama ini, ia memang terlalu banyak diam. Ia tahu rumah itu milik keluarga mendiang istri pertamanya. Ia tahu toko itu juga berasal dari keluarga Aynara. Dan selama bertahun-tahun, ia membiarkan Cepi dan Caca hidup nyaman di dalamnya.
Jayadi menundukkan wajah. Mungkin selama ini bukan hanya Cepi yang salah. Dirinya juga ikut bersalah karena memilih diam.
Aynara masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia berdiri beberapa saat di belakang pintu sambil menarik napas panjang. Dadanya masih terasa sesak.
Ucapan Cepi tadi terus terngiang. Pengangguran, diusir suami. Mau jadi ratu?
Namun, ada satu ucapan lain yang jauh lebih menyakitkan.
"Dia lebih cocok jadi pembantu daripada jadi istriku."
Aynara memejamkan mata. Ternyata sejak kemarin, kalimat itu masih tertanam begitu dalam di kepalanya.
Ia kemudian mengambil ponsel dan duduk di tepi ranjang. Jarinya mulai membuka berbagai situs dan grup lowongan pekerjaan. Namun sebelum mencari, sebuah foto muncul di layar.
Foto pernikahannya dengan Aksa.
Aynara menatap foto itu cukup lama. Wajahnya di dalam foto tersenyum, mengenakan gaun pengantin dengan Aksa berdiri di sampingnya.
Padahal hanya beberapa jam setelah foto itu diambil, pria tersebut sudah mengatakan bahwa dirinya adalah sebuah kesialan.
Aynara tersenyum pahit. "Percuma."
Dengan satu gerakan, ia menghapus foto tersebut dari layar ponselnya. Setelah itu, ia kembali membuka daftar lowongan pekerjaan.
"Aku harus punya hidupku sendiri." Sorot matanya berubah tegas. "Aku gak akan bergantung kepada Aksa."
Ia terdiam sejenak. "Dan aku juga gak akan bergantung kepada keluarga Wicaksono."
Kali ini Aynara benar-benar ingin membuktikan sesuatu. Bukan kepada Aksa, bukan kepada Cepi, bukan pula kepada siapa pun.
Ia hanya ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa tanpa suami, tanpa keluarga kaya, dan tanpa belas kasihan siapa pun, ia tetap mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.
Sementara itu, Aksa baru saja pulang. Baginya, masalah dengan Aynara sudah selesai. Perempuan itu sudah pergi, dan ia tidak perlu lagi memikirkan pernikahan yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.
Namun, begitu memasuki ruang keluarga, Asti sudah menunggunya. "Kamu keterlaluan sama Nara."
Aksa menjatuhkan tubuhnya ke sofa. "Justru karena aku kasihan sama dia, makanya aku kasih tahu dari awal." Ia menyandarkan kepala. "Aku gak mencintainya. Lebih baik dia tahu sekarang daripada nanti berharap terlalu jauh dan akhirnya sakit hati."
Asti menghela napas.
"Kalau begitu, bukan berarti kamu boleh memperlakukannya kayak sampah."
Aksa menoleh. "Ma, lihat wajahnya saja bikin aku ilfeel. Gimana aku bisa hidup bareng dia?"
Asti mengerutkan dahi. "Dia sedang alergi."
"Alergi atau apa pun itu, tetap saja aku gak tertarik," sahut Aksa angkuh.
"Kakekmu gak mungkin menikahkan kamu dengan gadis sembarangan."
Aksa mendengus. "Ma, aku bahkan gak tahu kenapa Kakek sampai memilih dia."
"Karena Kakekmu pasti punya alasan," tegas Asti.
Aksa mengibaskan tangan. "Mana belum apa-apa sudah melawan lagi."
Asti langsung menatap putranya. "Melawan bagaimana?"
Aksa terdiam sesaat, lalu menirukan sikap Aynara.
"Dia bilang, 'Siapa juga yang mau berlama-lama dengan pria sepertimu.'"
Asti menghela napas. "Itu karena kamu lebih dulu mengusirnya."
"Terus dia juga bilang jangan mengira dia silau dengan kemewahan keluarga kita."
Asti justru terdiam. Kalimat itu membuatnya berpikir.
Namun Aksa masih melanjutkan. "Dia juga bilang sejak namaku disebut di depannya, hidupnya cuma dapat kesialan."
Asti menggeleng pelan. "Aksa, kamu sadar gak? Dari perkataanmu sendiri, justru kelihatannya dia sama sekali gak tertarik sama hartamu."
Aksa mendengus. "Ah, Mama terlalu membelanya."
"Mama bukan membelanya." Asti menatap putranya serius. "Mama hanya gak percaya Nara seperti yang kamu gambarkan."
Aksa mengangkat alis. "Kenapa?"
"Karena Mama melihat sendiri bagaimana dia kemarin. Dia sopan dan lembut. Kalaupun dia keras padamu, itu pasti karena sikap kamu."
Asti mengingat wajah Aynara yang sembab dan kemerahan. "Dia sedang sakit. Wajahnya berubah karena alergi. Bukan karena dia memang seperti itu."
Ia menatap Aksa lekat-lekat. "Dan meskipun kondisinya seperti itu, dia tetap berusaha menahan diri agar tidak menggaruk wajahnya."
Aksa tidak menjawab.
"Kalau kamu mau mengenalnya sebelum menilai, mungkin kamu akan tahu bahwa Nara tidak seperti yang kamu pikirkan."
Aksa mengangkat alisnya. "Mama bicara soal dia seolah Mama sudah lama mengenal dia."
"Feeling Mama mengatakan dia gadis yang baik," kata Asti penuh keyakinan. "Dan feeling Mama jarang meleset."
Aksa berdiri. "Sudahlah, Ma. Aku gak tertarik."
Ia mengambil ponselnya dari meja. "Bagaimanapun juga, satu tahun lagi kami bercerai."
Asti hanya bisa menatap punggung putranya. "Aksa."
Pria itu berhenti.
"Jangan sampai suatu hari nanti kamu menyesal karena terlalu cepat menilai seseorang."
Aksa tidak menjawab, ia terus berjalan meninggalkan ruang keluarga. Bagi Aksa, Aynara hanyalah perempuan yang dipaksakan masuk ke dalam hidupnya.
Ia tidak tahu bahwa perempuan yang menurutnya tidak menarik itu sebenarnya memiliki kecantikan yang belum sempat ia lihat.
Pagi itu, Aynara sudah bersiap untuk mencari pekerjaan. Ia mengenakan blouse sederhana dan celana panjang hitam, rambutnya diikat rapi. Tidak ada perhiasan berlebihan, namun cincin pernikahannya ia biarkan tetap melingkar di jarinya.
Ia memasukkan beberapa lembar dokumen ke dalam tas, kemudian keluar dari kamar. Sesampainya di ruang keluarga, ia menghampiri Jayadi yang sedang duduk menikmati kopinya.
"Yah, aku minta uang."
Jayadi menurunkan cangkirnya. "Buat apa?"
Namun sebelum sempat Aynara menjawab, suara Cepi lebih dahulu terdengar dari arah dapur.
"Tidak boleh!"
Aynara langsung menoleh.
...🔸🔸🔸...
..."Diam bukan berarti seseorang tidak terluka. Kadang, orang yang paling lama mengalah justru akan menjadi orang yang paling tegas ketika kesabarannya habis."...
..."Jangan menganggap kebaikan seseorang sebagai tanda bahwa ia tidak memiliki batas. Sebab ketika batas itu terlewati, orang yang paling sabar pun berhak memilih dirinya sendiri."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
-
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.