Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RASA BERSALAH AKIBAT KEMATIAN RONY
Suasana ruang tamu seketika berubah hening. Doni terdiam memandang lantai, seakan pandangannya menembus masa lalu yang kelam dan penuh luka. Napasnya terhembus panjang, dan dalam kesunyian itu, kenangan perlahan kembali melintas satu per satu di benaknya, seakan baru saja terjadi kemarin.
Beberapa tahun silam, di masa-masa SMP, Doni dan Rony adalah sahabat yang tak terpisahkan. Rony adalah adik kandung Nisa. Saat mereka duduk di kelas satu SMP, Nisa sudah duduk di kelas tiga. Kedua pemuda itu tumbuh bersama, menapaki masa remaja yang penuh semangat namun juga penuh gejolak yang tak terarah. Perlahan, kebersamaan mereka melampaui batas wajar anak seusianya. Terlebih Doni yang sejak awal tinggal seorang diri di rumah besar namun sepi, karena kedua orang tuanya bekerja di luar kota dan jarang pulang. Ia tumbuh tanpa pengawasan, tanpa aturan, merasa bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Tak heran jika Doni kerap terlibat perkelahian dengan anak-anak dari sekolah lain, menjadikan kekerasan sebagai cara membuktikan keberaniannya.
Suatu hari saat berjalan pulang sekolah bersama, Rony bertanya dengan nada sedikit khawatir, "Bagaimana jika musuh-musuh itu mencegat dan memukuli kita saat kita hanya berdua seperti sekarang ini?"
Doni tersenyum penuh percaya diri, menepuk bahu sahabatnya dengan mantap. "Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Selama aku ada di sini, aku akan menghajar mereka semua sampai tak berani menampakkan wajahnya lagi."
Mendengar itu, Rony tersenyum lega. Ia merasa beruntung memiliki sahabat sekuat dan seberani Doni.
Kemudian mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang SMU, dan kebetulan berada di sekolah yang sama serta satu kelas. Nisa pun masih bersekolah di sana, kini duduk di kelas tiga. Namun sayangnya, kebiasaan buruk Doni dan Rony tak kunjung hilang. Mereka semakin sering terlibat tawuran di lingkungan sekolah maupun di luarnya. Melihat hal itu, Nisa yang saat itu aktif dalam kegiatan Pramuka sering mengajak mereka ikut serta berkemah dan berlatih bersama, berharap agar perlahan kedua pemuda itu meninggalkan perkelahian dan menyalurkan tenaga pada hal yang lebih bermanfaat. Doni dan Rony yang memang menyukai petualangan dan alam bebas, tanpa ragu menyambut ajakan Nisa.
Seiring berjalannya waktu, Nisa yang sering menghabiskan waktu bersama Doni dalam kegiatan Pramuka mulai menaruh hati pada pemuda itu. Sikap Doni yang tegas, berani, dan selalu melindungi membuat hatinya terhanyut. Tak lama berselang, di masa-masa remaja itu, mereka pun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Hingga tiba saatnya Nisa menamatkan pendidikan SMU-nya. Doni dan Rony pun baru saja menyelesaikan ujian kenaikan kelas dua. Segalanya tampak berjalan baik, hingga sebuah peristiwa mengerikan terjadi yang memisahkan Rony dari mereka selamanya.
Saat itu, Nisa hendak mengajak Doni berkemah berdua saja di hutan tak jauh dari kota, sebagai hadiah kelulusannya sekaligus perpisahan sebelum melanjutkan ke jenjang kuliah. Doni menyetujui keinginan kekasihnya itu, mengingat sifat Nisa yang memang selalu memaksakan kehendaknya harus terpenuhi. Sebelum berangkat, Rony berpamitan bahwa ia tidak bisa ikut karena hendak mengantar teman perempuannya yang disukainya ke toko buku.
Siang itu, Doni dan Nisa pun berangkat menuju kawasan hutan. Setelah kepergian mereka, Rony berjalan sendirian menuju rumah gadis yang disukainya. Namun nasib berkata lain. Di tengah jalan, ia berpapasan dengan gerombolan geng musuh yang selama ini menjadi lawan mereka. Geng itu masih menyimpan dendam karena sebelumnya kalah telak dari kelompok yang dipimpin Doni. Melihat Rony berjalan sendirian tanpa perlindungan siapa pun, mereka merasa ini adalah hari keberuntungan untuk melampiaskan kekalahan.
Tanpa peringatan, Rony langsung dikeroyok. Meski jumlah lawannya banyak, Rony tidak tinggal diam. Ia melawan sekuat tenaganya dan sempat melayangkan pukulan keras hingga wajah ketua geng musuh itu memerah. Merasa dipermalukan di depan anak buahnya sendiri, ketua geng itu mengeluarkan pisau tajam dan tanpa ragu menikam perut Rony bertubi-tubi sebanyak tiga kali. Rony yang tak menyangka lawan akan menggunakan senjata tajam, perlahan kehilangan kekuatannya. Tubuhnya terjatuh ke tanah, dan napasnya berhenti di tempat itu. Gerombolan itu pun segera melarikan diri, meninggalkan Rony yang terbaring tak berdaya di pinggir jalan sepi.
Tak lama berselang, warga yang melintas menemukan tubuh Rony dan segera menghubungi nomor yang tersimpan di ponselnya. Panggilan itu diterima Nisa. Saat itu Doni dan Nisa baru saja tiba di pos perbatasan hutan. Mendengar kabar mengerikan itu, mereka seketika memutar balik kendaraan dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Di rumah sakit, Doni tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa kepergian Rony adalah akibat keputusannya pergi berkemah bersama Nisa, meninggalkan sahabatnya sendirian di jalan yang berbahaya.
"Ini semua salahku... seharusnya aku tidak meninggalkannya..." gumam Doni berulang kali dengan mata berkaca-kaca. Nisa berusaha membujuknya, memeluk lengan kekasihnya erat-erat sambil berkata dengan lembut, "Doni... tenangkan dirimu. Ini bukan kesalahanmu. Tak ada yang menginginkan hal ini terjadi."
Namun Doni tak dapat menenangkan hatinya. Ia teringat semua hal sejak awal pertemanan mereka. Seharusnya ia tidak pernah melibatkan Rony dalam dunia kekerasan dan tawuran itu. Rony menjadi korban hanya karena ingin bersahabat dengannya. Rony yang tak pernah benar-benar menginginkan perkelahian, akhirnya harus membayar dengan nyawanya sendiri karena perilaku buruk yang ditularkan oleh Doni. Rasa bersalah yang mendalam menghimpit dada Doni hingga sesak.
Beberapa hari setelah pemakaman Rony, Doni datang menghadap Nisa. Dengan mata yang sembab dan wajah yang tampak jauh lebih dewasa namun dingin, ia berpamitan dan mengakhiri hubungan mereka tanpa memberi penjelasan panjang. Sejak hari itu, Doni menutup hatinya rapat-rapat, menjauhkan diri dari siapa pun, dan membiarkan rasa bersalah itu menjadi hukuman abadi bagi dirinya sendiri.
Kini, bertahun telah berlalu. Di ruang tamu rumah Doni, keheningan masih menyelimuti mereka. Doni perlahan mengembalikan kesadarannya ke masa kini. Ia telah menghabiskan seluruh makanan yang dibawakan Nisa. Perlahan ia merogoh saku jaketnya, mengambil sebatang rokok, lalu menyalakannya. Asap putih mengepul perlahan dari mulutnya seiring dengan tarikan napas panjang yang ia hembuskan. Matanya menatap lurus ke arah jendela yang gelap, seakan melihat bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi.
Doni lalu menoleh kepada Nisa dengan nada bicara yang tetap sopan namun menyisakan jarak yang tak kasat mata. "Sudah cukup larut malam. Sebaiknya kau pulang sekarang."
Nisa menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan lebih sedikit. Ia menatap punggung Doni yang tampak lelah, lalu berkata dengan nada lembut, "Malam sudah terlalu jauh. Aku takut pulang sendirian di jam seperti ini. Bolehkah aku bermalam di kamar kosong yang ada di rumahmu?"
Doni terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan tanpa menatap wajah Nisa. "Baiklah... istirahatlah kau di kamar itu. Aku sendiri hendak beristirahat lebih dulu. Kepalaku masih terasa berdenyut dan pening."
Doni pun berdiri perlahan, berjalan meninggalkan Nisa menuju kamarnya. Di balik pintu yang tertutup itu, ia kembali terjatuh ke dalam kesunyian yang panjang, ditemani bayangan sahabat yang telah tiada dan rasa bersalah yang tak pernah lelah menghantui setiap detik kehidupannya. Nisa yang tertinggal di ruang tamu hanya bisa menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Ia tahu, meski bertahun telah berlalu, ada sesuatu yang dalam hati Doni tak pernah benar-benar sempat ia tinggalkan di masa lalu.