Dion Nugroho adalah lelaki yang memiliki segalanya.
Wajah tampan, kehidupan mewah, popularitas, dan nama besar keluarga yang membuat siapa pun mengenalnya. Ia adalah putra tunggal pemilik Anggoro Group, perusahaan obat-obatan medis ternama yang bisnisnya telah menjangkau berbagai penjuru dunia.
Namun, di balik semua kemewahan itu, Dion tumbuh menjadi lelaki yang dingin, cuek, angkuh, dan sulit dikendalikan.
Baginya, perhatian dari perempuan hanyalah sesuatu yang mengganggu.
Berkali-kali wanita datang membawa perasaan tulus, tetapi Dion tak pernah menghargainya. Ia terlalu terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan hingga lupa bahwa hati manusia bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan kekayaan.
Sampai suatu hari...
Seorang mahasiswi baru datang ke kampusnya.
Namanya Alya Andini.
Gadis sederhana yang berasal dari sebuah kampung kecil. Penampilannya jauh berbeda dari mahasiswi lain. Rambutnya selalu dikuncir dua, mengenakan kacamata bulat hitam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Ayunda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 kebucinan Dion pada Alya.
Alya masih duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Dion.
Ruangan itu mulai tenang. Lampu kamar rumah sakit memancarkan cahaya lembut, sementara suara alat monitor terdengar teratur di samping tempat tidur.
Dion membuka mata perlahan.
"Alya..."
"Hmm?" Alya segera menoleh. "Kamu butuh apa? Air minum?"
Dion menggeleng.
"Mau pulang?"
Dion kembali menggeleng.
"Terus mau apa?"
Dion menatap Alya beberapa detik sebelum berkata dengan suara manja.
"Temani aku tidur."
Alya terdiam.
"Temani tidur?"
"Iya."
"Tapi kamu tidur saja. Aku duduk di sini."
Dion langsung mengerutkan kening.
"Jangan duduk."
"Lalu?"
Dion menggeser tubuhnya sedikit ke sisi ranjang.
"Di sini."
Alya membelalakkan mata.
"Kak Dion, ini ranjang rumah sakit. Sempit."
"Nggak apa-apa."
"Tapi..."
Dion menatapnya dengan wajah memelas.
"Aku baru saja hampir kehilangan kesadaran. Masa kamu tega membiarkan aku tidur sendirian?"
Alya terdiam.
Ia tahu Dion sedang memanfaatkan keadaan.
"Kamu memang sengaja, ya?"
Dion tersenyum tipis.
"Sedikit."
Alya menghela napas panjang.
"Dasar manja."
Dion justru tersenyum puas.
Alya akhirnya berdiri dan perlahan duduk di sisi ranjang. Karena tempatnya sempit, tubuh mereka otomatis menjadi sangat berdekatan.
"Sudah. Tidur."
Dion mengangguk.
Namun, baru beberapa detik, ia kembali membuka mata.
"Alya."
"Apa lagi?"
"Lebih dekat."
Alya menatapnya tidak percaya.
"Memangnya kurang dekat?"
Dion mengangguk.
"Kurang."
Alya akhirnya bergeser sedikit.
Dion tersenyum, lalu perlahan melingkarkan lengannya ke pinggang Alya.
Alya langsung membeku.
"Kak Dion!"
"Hmm?"
"Kamu ngapain?"
"Peluk."
"Aku tahu itu peluk!"
"Kalau tahu, kenapa masih bertanya?"
Alya ingin protes, tetapi melihat wajah Dion yang masih pucat membuat hatinya luluh.
"Jangan terlalu erat. Kamu masih sakit."
Dion justru semakin nyaman menyandarkan kepalanya di bahu Alya.
"Begini lebih enak."
Alya mengusap rambutnya pelan.
"Manja sekali."
"Karena sama kamu."
Alya terdiam.
Kalimat sederhana itu membuat wajahnya kembali memerah.
Di sisi lain ruangan, mama dan papa Dion yang sejak tadi memperhatikan hanya bisa saling berpandangan.
Mama Dion menahan tawa.
"Pa..."
"Hmm?"
"Anak kita berubah."
Papa Dion mengangguk pelan.
"Dulu kalau sakit sedikit saja masih sok kuat."
Mama Dion tersenyum sambil melihat putra semata wayangnya yang kini justru memeluk Alya erat.
"Sekarang malah tidak malu bermanja."
Papa Dion terkekeh.
"Baguslah."
Mama Dion kemudian mendekat sedikit kepada suaminya dan berbisik.
"Kalau begini terus..."
Papa Dion menoleh.
"Apa?"
Mama Dion tersenyum lebar.
"Apa kita nikahkan saja mereka, Pah?"
Papa Dion menatap istrinya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan kepada Dion dan Alya.
Dion masih memejamkan mata sambil memeluk Alya seolah takut gadis itu pergi.
Papa Dion akhirnya tersenyum.
"Papa setuju."
Mama Dion langsung menahan tawa.
"Tapi bagaimana kalau Dion belum berani melamar?"
Papa Dion mengangkat bahu.
"Kalau begitu, kita tunggu sampai dia sembuh."
Mendengar percakapan itu, Alya langsung menoleh.
"Tante... Om..."
Keduanya pura-pura tidak mendengar.
Sementara Dion membuka sebelah matanya.
"Ma..."
Mama Dion tersenyum polos.
"Iya, Sayang?"
"Tadi Mama ngomong apa?"
"Nggak ada."
Dion menyipitkan mata.
Papa Dion justru tertawa kecil.
"Sudahlah, Dion. Tidur saja."
Dion kembali memejamkan mata.
Namun lengannya masih erat melingkari Alya.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara pelan dari bibirnya.
"Kalau Mama benar-benar mau menikahkan kita..."
Alya langsung menegang.
Dion membuka mata dan menatapnya dengan senyum kecil.
"...aku nggak keberatan."
Wajah Alya seketika memerah.
"Kak Dion!"
Mama dan papa Dion langsung tertawa.
"Anak ini!" seru mama Dion sambil menggeleng.
Dion kembali menyandarkan kepala di bahu Alya.
"Aku serius."
Alya tidak mampu menjawab.
Ia hanya mengusap rambut Dion dengan lembut.
"Sudah. Tidur sana."
Dion tersenyum puas.
"Iya."
Tak lama kemudian, napasnya mulai teratur.
Dion benar-benar tertidur dalam pelukan Alya.
Alya menatap wajahnya yang kini jauh lebih tenang. Tangannya masih menggenggam tangan Dion, sementara lengan pria itu tetap melingkar di pinggangnya.
Di belakang mereka, mama dan papa Dion kembali saling berpandangan.
Mama Dion tersenyum penuh arti.
"Sepertinya kita benar-benar harus menyiapkan rencana pernikahan."
Papa Dion tertawa pelan.
"Pelan-pelan saja, Ma."
"Tapi lihat sendiri. Anak kita sudah tidak mau lepas dari Alya."
Papa Dion mengangguk.
"Dan sepertinya Alya juga tidak ingin melepaskannya."
Keduanya kembali tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka melihat putra semata wayangnya begitu bahagia.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, malam itu menjadi awal dari sebuah keputusan besar yang akan mengubah hubungan Dion dan Alya selamanya.
Pagi itu, suasana kamar rumah sakit terasa jauh lebih hangat.
Dion masih menggenggam tangan Alya, sementara kedua orang tuanya sibuk menyiapkan sarapan di meja kecil dekat jendela.
"Sudah, Alya. Kamu sarapan dulu," kata mama Dion.
Alya menggeleng.
"Nanti saja, Tante. Saya ingin memastikan Kak Dion makan dulu."
Dion yang mendengar itu langsung tersenyum.
"Kalau begitu, suapi aku."
Alya menatapnya tidak percaya.
"Hah?"
"Aku masih sakit."
Papa Dion langsung menoleh.
"Kamu bisa makan sendiri, kan?"
Dion mengangguk.
"Bisa, Pa."
"Lalu?"
Dion menunjuk Alya.
"Tapi aku maunya disuapi Alya."
Alya menutup wajahnya sebentar.
"Kak Dion ini benar-benar memanfaatkan kesempatan."
Mama Dion justru tertawa.
"Sudahlah, Alya. Turuti saja. Sepertinya anak Tante memang sedang kambuh manjanya."
Dion tersenyum puas.
Alya akhirnya mengambil mangkuk bubur dan duduk di sampingnya.
"Buka mulut."
Dion menurut.
"Enak?"
"Enak."
"Padahal biasa saja."
"Karena kamu yang menyuapi."
Alya langsung terdiam.
Mama Dion menahan tawa, sedangkan papa Dion hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Sejak kapan anak kita pandai merayu?" gumamnya.
Mama Dion menjawab pelan.
"Sejak menemukan orang yang tepat."
Dion kembali membuka mulut meminta suapan berikutnya.
Alya menurut sambil tersenyum kecil.
Namun, ketika beberapa suapan sudah masuk, Dion tiba-tiba menggeleng.
"Sudah."
"Kenapa?"
"Aku kenyang."
Alya mengernyit.
"Baru setengah mangkuk."
Dion menatapnya manja.
"Kalau kamu duduk lebih dekat, mungkin aku bisa menghabiskannya."
Alya langsung memukul pelan bahunya.
"Jangan cari alasan."
Dion tertawa.
Mama dan papa Dion kembali saling berpandangan.
"Pa," bisik mama Dion.
"Hmm?"
"Kalau setiap hari begini, Mama bisa cepat punya menantu."
Papa Dion tersenyum.
"Sepertinya bukan kita yang harus mengejar."
Keduanya melirik Dion.
"Dia sendiri yang sudah mengejar Alya."
Alya yang mendengar percakapan itu langsung salah tingkah.
"Tante, Om, jangan menggoda saya terus."
Mama Dion mendekat lalu menggenggam tangannya.
"Tante bukan menggoda, Sayang."
Ia tersenyum hangat.
"Tante justru bahagia melihat Dion seperti ini."
Alya terdiam.
Mama Dion melanjutkan.
"Selama ini Dion selalu menyimpan semuanya sendiri. Bahkan ketika sedang sakit, dia tidak pernah mau terlihat lemah di depan kami."
Tatapannya beralih kepada putranya.
"Tapi di depanmu, dia bisa menjadi dirinya sendiri."
Dion terdiam.
Alya menatapnya.
Untuk sesaat, tidak ada yang bercanda.
Kemudian Dion menggenggam tangan Alya.
"Karena aku percaya sama dia."
Alya tersenyum.
"Aku juga percaya sama kamu."
Dion menatapnya cukup lama.
Lalu senyumnya muncul kembali.
"Kalau begitu, jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi."
"Janji?"
"Janji."
Dion mengangguk puas.
Mama Dion menghela napas panjang dengan wajah bahagia.
"Pa..."
"Iya?"
"Sepertinya benar-benar harus mulai cari gedung."
Papa Dion tertawa.
"Jangan terburu-buru."
"Kenapa?"
"Biarkan Dion sembuh dulu. Kalau sudah sehat, baru kita tanyakan kapan dia mau menikah."
Dion langsung menyahut dari ranjang.
"Secepatnya."
Alya membelalakkan mata.
"Kak!"
Dion terkekeh.
"Apa? Aku sudah bilang serius."
Mama dan papa Dion tertawa.
Pagi itu, kamar rumah sakit yang seharusnya dipenuhi kecemasan justru berubah menjadi tempat penuh tawa.
Dan di tengah semua itu, Alya diam-diam menyadari satu hal.
Ia sudah jatuh terlalu dalam.
Bukan hanya karena takut kehilangan Dion.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia bisa membayangkan masa depan bersama pria yang kini menggenggam tangannya erat.
Sementara Dion, tanpa sedikit pun rasa malu, kembali menarik tangan Alya mendekat.
"Temani aku sampai pulang."
Alya tersenyum.
"Iya."
"Setelah itu?"
"Apa?"
Dion menatapnya dengan senyum penuh arti.
"Temani aku selamanya."
Alya menunduk, menyembunyikan wajah merahnya.
Namun senyum kecil di bibirnya sudah cukup menjadi jawaban.
Di belakang mereka, mama dan papa Dion kembali saling berpandangan.
Mama Dion berbisik,
"Jadi... benar-benar kita nikahkan saja mereka, Pah?"
Papa Dion tertawa pelan.
"Sepertinya pertanyaan itu bukan lagi pertanyaan."
Mama Dion mengangguk.
"Kenapa?"
"Karena jawabannya sudah jelas."
Keduanya menatap Dion dan Alya yang masih saling menggenggam tangan.
"Anak kita sudah menemukan orang yang ingin dia bawa sampai akhir hidupnya."