Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sentuhan Adrian di leher Kayna terasa seperti percikan api kecil di tengah musim dingin.
Jantung Kayna berdetak aneh. Bukan detak panik karena mendekati kematian, melainkan detak yang sama sekali tidak ia kenal.
Gawat!.. Ini tidak ada di skrip. Tokoh antagonis tidak seharusnya merasa hangat di bagian dada hanya karena disentuh oleh algojonya sendiri.
Untuk mengatasi kebingungan yang sangat tidak nyaman ini, otak Kayna langsung melakukan mekanisme pertahanan andalannya: memikirkan cara mati.
Dengan gerakan cepat, Kayna mundur selangkah, melepaskan diri dari jangkauan tangan Adrian. Ia menepuk-nepuk perban di lehernya dengan wajah datar.
"Tuan Duke," ucap Kayna, suaranya kembali datar dan tanpa emosi. "Tanganmu dingin. Dan kalau kau benar-benar peduli padaku, tolong jangan sentuh lukaku. Nanti infeksi. Kalau aku mati karena sepsis, dewa reinkarnasi pasti akan menganggapku mati konyol dan melemparku ke tubuh cacing tanah."
Adrian menatap tangannya yang baru saja ditarik kembali. Jemarinya mengatup kosong di udara. Raut wajah pria itu berubah dari lembut menjadi canggung, lalu kembali ke topeng dinginnya, meski telinga pria itu tampak sedikit... memerah?
"Kau..." Adrian menurunkan tangannya, berdeham pelan untuk menutupi kegelisahannya. "Kau selalu bisa merusak suasana."
"Itu adalah keahlianku yang lain, selain mencoba bunuh diri," balas Kayna santai, kembali duduk di tepi dipan kecilnya. "Jadi, apa rencana selanjutnya? Kau mau mengurungku di sini sampai aku mati tua? Karena kalau iya, tolong pesan tempat tidur yang lebih empuk. Punggungku sakit."
Sebelum Adrian sempat menjawab, pintu kamar ketuk dengan sopan. Tidak lama, Rosa mengintip dari balik pintu, wajahnya pucat pasi.
"M-maaf, Yang Mulia... Nona Kayla..." suara Rosa bergetar. "Ada utusan dari Istana Kerajaan. Mereka membawa dekrit dari Raja."
Adrian langsung tegang, postur tubuhnya kembali menjadi seorang bangsawan tinggi. "Masuk."
Rosa masuk dengan baki berisi gulungan kertas berlilin segel kerajaan, diikuti oleh seorang herald kerajaan yang membungkuk dalam.
"Yang Mulia Duke Adrian," ucap herald itu, suaranya bergema di ruangan batu pualam. "Raja mengundang Yang Mulia dan Nona Kayla untuk menghadiri Perjamuan Bulan Purnama besok malam di Istana Kerajaan. Raja ingin melihat langsung calon menantu perempuannya dan memastikan... kesejahteraan Nona Kayla setelah insiden yang menyedihkan."
Kayna yang sedang melamun tiba-tiba menegakkan punggungnya.
Perjamuan Bulan Purnama di Istana Kerajaan?
Otak Kayna langsung bekerja cepat, memvisualisasikan tata ruang istana kerajaan.
Pisau steak perak yang sangat tajam untuk memotong daging panggang. Tangga marmer raksasa yang licin jika disiram air. Lampu gantung kristal seberat satu ton yang menggantung tepat di atas meja makan. Dan yang paling penting... ratusan bangsawan yang bisa dijadikan saksi bahwa kematiannya adalah sebuah 'tragedi kecelakaan', bukan hukuman.
Ini bukan sekadar kesempatan. Ini adalah surga.
"Yang Mulia Raja juga berpesan," lanjut herald itu, "bahwa ketidakhadiran Nona Kayla akan dianggap sebagai penghinaan terhadap Mahkota, dan akan berdampak pada status House Ardent dan House Adrian."
Adrian mengertakkan rahangnya. Otot di pipinya berkedut. "Katakan pada Raja, tunanganku sedang sakit keras. Dia tidak bisa.."
"Adrian," potong Kayna.
Adrian menoleh, alisnya berkerut. "Apa?"
Kayna berdiri, matanya berbinar dengan antusiasme yang jarang terlihat. "Aku akan pergi. Tentu saja aku akan pergi. Bagaimana mungkin aku melewatkan perjamuan kerajaan? Aku bahkan butuh gaun baru. Rosa! Tolong panggil penjahit istana. Aku ingin gaun berwarna putih. Putih pucat. Sangat cocok untuk... suasana duka."
Rosa hampir menjatuhkan baki. "D-duka, Nona?!"
"Maksudku, putih suci," koreksi Kayna cepat, menatap Adrian dengan senyum tipis. "Tuan Duke, kita harus menunjukkan pada Raja bahwa aku baik-baik saja. Bukankah itu yang kau inginkan? Agar reputasimu tetap aman?"
..gagal terus🤣