Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
"Eh, Jesica sini duduk dekat namboru. " Nam boru nya Jesica yang tadi menyuapi daging babi kecap kepada Albert langsung memanggil Jesica begitu melihat gadis itu keluar dari kamarnya.
"Ada apa Nam boru?" Jesica langsung duduk di samping Nam birunya itu.
"Bagaimana keadaan suamimu itu, apa kata dokter?"
"Kata dokter Albert alergi daging babi dan sejenis makanan yang tinggi lemak. "
"Oh.. " Wajah Nam boru Jesica langsung terlihat lega. Sebelumnya ia sempat merasa was-was takut kalau Albert benar-benar keracunan makanan seperti anggapan sebagian warga. Padahal Nam boru Jesica sudah memasak daging babi itu dengan sangat bersih dan bahan-bahan yang fresh, demi keponakannya itu.
"Jesica apa kamu tidak merasa aneh?" Tanya Nam boru Jesica lagi.
"Apanya yang aneh?"Jesica merasa bingung.
"Nam boru belum pernah dengar kalau ada dari kita yang beragama Kristen alergi terhadap daging babi, apa Jangan-jangan Albert itu seorang muslim?"
"Deh.. " Hati Jesica sedikit tidak nyaman. Dia sama sekali tidak pernah berfikir ke arah sana.
"Jangan berpikir sembarangan deh Nam boru, kata dokter hal seperti ini sering terjadi sama saja seperti yang alergi terhadap udang atau makanan lainnya. Lagi pula di KTP Albert jelas tertulis kalau dia itu beragama Kristen.
"Tapi KTP itu kan sudah rusak fotonya pun sudah tidak terlihat mana kita tau itu miliknya atau bukan!" Nam boru Jesica masih kekeh dengan pendapat nya. "
"Nam boru tentu sana KTP itu miliknya, mana mungkin dia membawa-bawa KTP orang lain di dompet miliknya kan? Sudah lah jangan di bahas lagi aku lelah mau istirahat. " Jesica kembali ke kamarnya dengan persaan sedikit kacau, walaupun hatinya terus menyangkal apa yang di katakan oleh Nam borunya tapi logikanya mengatakan kemungkinan itu bisa saja terjadi.
"Bagaimana perasaan kamu?" Jesica menghampiri Albert yang sedang duduk bersandar pada sandaran ranjang. Wajahnya sudah tidak terlihat terlalu pucat seperti tadi.
"Aku sudah merasa lebih baik, maafkan aku ya sudah merusak hari bahagia kita. "
"Sudahlah yang penting kamu baik-baik saja. "
Jesica duduk di samping Albert seperti ada yang ingin di tanyakan tapi ia ragu.
"Kenapa? Jika ada yang ingin ditanyakan tanyakan saja tidak perlu sungkan begitu kita kan sudah jadi suami istri. " Seperti menyadari perasaan Jesica.
"Apa ada sesuatu yang kamu ingat dari masa lalumu? Bukan apa-apa jangan salah paham, aku ingin jika suatu saat nanti ada hal yang penting yang kamu ingat dari masa lalumu tolong segera beri tahu aku. "
"Kenapa tiba-tiba bahas masalah ini?" Albert menjepit dagu Jesica dengan jarinya memaksa gadis itu menatap wajahnya, membuat Jesica tersipu malu dan ingin memalingkan wajahnya namun Albert bertindak lebih cepat ia segera mencium lembut bibir Jesica.
"Apa yang kamu lakukan lepaskan aku. Ingat tubuhmu masih lemah, ayo cepat istirahat!"
Jesica segera berbaring membelakangi Albert. Jantungnya berdetak sangat kencang wajahnya merah dan terasa sangat panas. Ia benar-benar sangat malu dan tidak berani untuk berbalik menghadap ke arah Albert.
Albert yang sadar kalau istrinya itu sedang merasa malu tidak ingin menggodanya lagi ia hanya ikut berbaring dan memeluk istrinya itu dari belakang hingga akhirnya keduanya pun terlelap dan masuk ke alam mimpi.
"Karisa nanti sore bisa temani umi belanja?" Humaira beberapa hari ini terlihat sangat sibuk mengurus persiapan pertunangan Aisyah putrinya.
"Bisa kok umi. Nanti selesai mengajar Karisa bakal langsung pulang biar bisa nemenin umi belanja." Ucap Karisa.
"Syukur lah kalau begitu, umi sudah sangat lelah mengurus acara ini sendiri, lihatlah Aisyah sudah umi bilang untuk ambil cuti tapi dia bilang sedang banyak pasien. Huh, umi jadi pusing?" Keluh Humaira.
Karisa hanya tersenyum menanggapi keluhan mertuanya itu.
"Karisa pergi dulu umi. " Karisa salim kepada mertuanya itu lalu pergi untuk mengajar.
"Pagi?" Jesica masuk ke kamar dan membawakan sarapan untuk Albert.
"Ini sarapan dulu habis itu minum obat. "
"Aku udah baikan kok, nggak perlu minum obat lagi. " Albert bangkit dari ranjang lalu memeluk pinggang istrinya yang sedang membelakanginya karena meletakkan sarapan yang tadi ia bawa di meja kamar.
"Jangan begini nanti di lihat ibu, malu. " Wajah Jesica kembali memerah. Karena hingga saat ini Jesica sama sekali belum pernah dekat dengan pria manapun apa lagi berpacaran. Albert adalah pria pertama yang pernah dekat dengan Jesica dan langsung berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Aku menginginkan kamu. " Bisik Albert dan langsung menggendong Jesica ke atas ranjang.
"Huh lelah sekali. " Keluh humaira.
"Karisa coba kamu cek apa semua yang ada di catatan sudah kita beli."
saat ini mereka sedang duduk di depan sebuah pusat perbelanjaan, sedang menunggu sopir datang untuk menjemput mereka.
"Sudah umi, semuanya sudah di beli. " Ucap Karisa setelah selesai mengecek daftar belanjaan mereka.
"Bagus lah berarti kita sudah biasa pulang, umi sudah lelah sekali pingin tidur." Ucapnya sambil terkekeh.
"Tapi bagaimana dengan semangka pesanan Aisyah umi?"
"Oh, kalau semangka kata langganan umi dia hari lagi baru akan di antar oleh petaninya. Itu pak Samin sudah datang ayo kita pulang. "
Humaira menunjuk kearah mobil yang datang menjemput mereka.
"Jesica dua hari lagi semangka kita bakal panen aku mau ke kota buat antar sendiri semangka semangka itu ke pedagang langganan kita. Kalau kamu butuh sesuatu yang mau di beli di kota bilang saja nanti biar aku belikan. "
"Sepertinya tidak ada." Ucap Jesica setelah berpikir beberapa saat.
"Tapi aku ada mau membelikan sesuatu pasti sangat cantik kalau kamu pakai. " Albert menaik turunkan alisnya.
"Apa?" Perasaan Jesica mulai tidak enak. Pasti suaminya mau jahil lagi.
Albert pun menyodorkan handphone nya yang di pegangnya sejak tadi. Dan di layar handphone itu terpampang sebuah lingerie berwarna merah terang yang terlihat sangat tipis dan menerawang.
"Albert..... " Jesica langsung mencubiti perut Albert karena merasa kesal dengan tingkah Albert.
"Aduh... aduh... aduh... ampun sayang, ampun. "
"Awas kalau berani jahil lagi. " Jesica melotot sambil berkecak pinggang.
"Tapi bener lo sayang kamu pasti cantik sekali kalau pake itu. "
"Aku nggak mau dengar. " Jesica langsung pergi meninggalkan Albert sambil menutup telinganya.
"Lihat saja nanti pasti aku belikan. " Gumam Albert sambil tersenyum jahil.
"Kok lari-lari nanti jatuh. " Ucap bu Maria yang baru saja pulang dari pasar dan melihat putrinya berlari keluar dari rumah.
"Ngga apa-apa kok bu, cuma buru-buru mau nyapu halaman. " Dalih Jesica.
Maria hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang sudah menikah tapi masih seperti anak kecil.