NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Mau Mati! Masih Mikir Bonus Kinerja?!

Bar Cinta merupakan salah satu pusat pertukaran informasi bawah tanah terbesar di Darsen.

Tempat itu selalu dipenuhi aroma alkohol murahan, keringat, dan sisa asap senjata yang melekat di udara.

Malam itu, suasananya jauh lebih ramai daripada biasanya.

Hampir semua orang membicarakan satu hal yang sama—sebuah misi kelas S yang telah terpampang selama setengah tahun di jaringan bawah tanah, tetapi akhirnya ada seseorang yang berani mengambilnya.

“Dengar-dengar? Ada yang mengambil misi kelas S itu!”

“Yang membasmi Blood Viper?”

“Memangnya ada misi maut lain? Hadiahnya satu juta dolar! Targetnya tiga ratus anggota bersenjata yang terlatih, bahkan mereka punya kendaraan lapis baja!”

“Kelompok tentara bayaran mana yang sudah bosan hidup?”

Seorang pria kekar dengan wajah penuh bekas luka menenggak minumannya sampai tandas.

Ia kemudian membanting gelas ke atas meja.

“Siapa pun dia, kalau berani mengambil pekerjaan itu, dia pasti orang gila atau memang sudah bosan hidup!”

Gelak tawa langsung terdengar dari beberapa meja.

Di tengah riuhnya percakapan, pintu kayu Bar Cinta yang sudah tua tiba-tiba terbuka.

Seorang pemuda Asia melangkah masuk dengan santai.

Ia mengenakan kaos putih, celana pendek bermotif mencolok, dan sandal jepit. Sebuah karung plastik bergaris merah-putih-biru tergantung di pundaknya.

Penampilannya benar-benar tidak cocok dengan suasana tempat itu.

Di sekelilingnya terdapat puluhan tentara bayaran dengan tubuh kekar, wajah penuh bekas luka, serta senjata yang terselip di pinggang atau tergantung di bahu.

Sementara Adrian justru terlihat seperti pemuda biasa yang baru pulang berbelanja.

Beberapa orang bahkan menoleh dua kali untuk memastikan mereka tidak salah melihat.

Suara percakapan di dalam bar perlahan mereda.

Puluhan pasang mata langsung tertuju kepada Adrian. Sebagian dipenuhi rasa penasaran, sementara sebagian lainnya mulai menunjukkan senyum mengejek.

Adrian sama sekali tidak peduli.

Ia berjalan melewati kerumunan menuju sudut bar, tempat sebuah terminal perantara yang terhubung dengan jaringan bawah tanah berdiri di atas meja besi.

Setelah mengambil misi kelas S, penerima tugas memang diwajibkan melakukan verifikasi sidik jari dan pemindaian retina secara langsung sebelum waktu misi resmi dimulai.

Adrian menurunkan karung dari pundaknya.

Ia mengikuti instruksi pada layar terminal, memindai matanya, lalu menempelkan jarinya pada alat pembaca sidik jari.

Beberapa detik kemudian, layar terminal berubah.

[Verifikasi identitas berhasil.]

[Penerima tugas: Asura.]

[Misi Kelas S: Membasmi markas Blood Viper.]

[Waktu misi resmi dimulai: 7 jam 59 menit 59 detik.]

Nama sandi ASURA muncul besar-besar di layar dengan warna merah menyala.

Suara peringatan dari terminal langsung menarik perhatian seluruh bar.

Bar yang sebelumnya dipenuhi suara percakapan mendadak sunyi.

Semua orang menatap layar.

Kemudian mereka menatap Adrian.

“Dia...?”

“Jangan bilang...”

“Mustahil.”

Tatapan mereka berpindah dari wajah Adrian ke karung plastik lusuh di lantai, kemudian kembali ke layar.

Pemuda yang memakai sandal jepit dan membawa karung belanja itu benar-benar orang yang mengambil misi maut tersebut?

Sesaat kemudian, seluruh bar meledak dalam gelak tawa.

“Hahahaha! Apa-apaan ini?! Anak ingusan? Dia Asura?!”

“Bocah ini datang untuk melawak, ya? Jangan-jangan isi karungnya popok!”

“Satu orang mau menghadapi tiga ratus orang? Dia kira sedang bermain gim?”

Tawa semakin keras.

Di tengah kerumunan, seorang pria yang tingginya hampir dua meter bangkit dari kursinya.

Tubuhnya besar dan penuh otot, membuatnya terlihat seperti beruang yang sedang berjalan dengan dua kaki.

Dia adalah wakil pemimpin Wild Lion, salah satu kelompok tentara bayaran lama yang cukup terkenal di Darsen.

Reputasinya tidak kalah buruk dari penampilannya—brutal, kasar, dan tidak pernah ragu menggunakan kekerasan.

Pria itu berjalan menghampiri Adrian.

Setiap langkahnya membuat lantai kayu bar berderit.

Begitu berdiri di hadapan Adrian, tubuh besarnya langsung membuat pemuda itu berada dalam bayangannya.

Ia menundukkan kepala dan menyeringai.

“Bocah, otakmu ditendang keledai?”

Suaranya menggelegar.

“Dengan kemampuan seperti itu, kau berani menyentuh Blood Viper? Kau tahu apa yang akan terjadi kalau kau pergi ke sana?”

Adrian baru saja menyelesaikan verifikasi.

Ia menarik tangannya dari terminal, lalu memasukkan kembali tangannya ke saku celana pendek.

Bahkan ia tidak melihat pria besar di depannya.

Sebaliknya, Adrian justru mengalihkan pandangan kepada pemilik bar yang berdiri di belakang meja.

“Bos, saya mau tanya sesuatu.”

Pemilik bar yang sejak tadi tegang langsung tersentak.

“Y-ya?”

“Kalau saya menyelesaikan misi ini lebih cepat dari batas waktu, ada bonus kinerja?”

Pemilik bar terdiam.

Adrian menunggu sebentar.

“Kalau tidak ada bonus kinerja, mungkin ada bonus kehadiran?”

“Atau tunjangan lainnya?”

Seluruh bar kembali sunyi.

Wajah orang-orang di sekelilingnya tampak aneh.

Mereka pernah melihat orang sombong.

Mereka juga pernah melihat orang yang tidak takut mati.

Bahkan beberapa di antara mereka pernah menyaksikan orang gila menerima pekerjaan yang mustahil diselesaikan.

Namun belum pernah ada yang seperti Adrian.

Orang ini baru saja menerima misi untuk menghadapi tiga ratus anggota Blood Viper.

Tetapi bukannya bertanya tentang jumlah pasukan, persenjataan, atau jalur pelarian, dia malah sibuk menanyakan bonus kinerja.

Wakil pemimpin Wild Lion sampai berkedut.

Ia merasa dirinya baru saja dipermalukan tanpa melakukan apa pun.

“Bonus kinerja?”

Tangannya mengepal.

“Sekarang juga akan kukirim kau menemui Tuhan untuk menerima uang santunan!”

Tinju sebesar mangkuk melesat menuju kepala Adrian.

Namun Adrian hanya mengernyit.

“Tidak ada?”

Ia menghela napas kecil.

“Kalau begitu, ya sudah.”

Tanpa sedikit pun memperhatikan tinju yang sedang melayang ke arahnya, Adrian membungkuk mengambil karungnya.

Ia menyampirkannya kembali ke pundak, lalu berbalik menuju pintu.

“Para kapitalis memang semakin lama semakin pelit.”

Pria besar itu membeku.

Tinju yang tadi hendak menghantam Adrian berhenti di udara.

Wajahnya perlahan berubah merah padam.

Ia belum pernah diperlakukan seperti itu.

Bukan dilawan.

Bukan ditakuti.

Bahkan bukan dihina.

Dia benar-benar diabaikan.

“Bocah sialan!”

Wakil pemimpin Wild Lion hendak mengejar.

Namun seorang anak buah buru-buru menarik lengannya.

“Wakil Pemimpin, jangan gegabah.”

Pria itu menoleh.

Anak buahnya menurunkan suara sambil menyeringai.

“Biarkan saja dia pergi.”

“Kita ikuti dari belakang. Begitu Blood Viper mengubahnya menjadi mayat, kita tinggal mengambil jasadnya.”

Wakil pemimpin Wild Lion perlahan menyeringai.

“Benar.”

Suasana bar kembali ramai.

“Ayo pasang taruhan!”

Seorang tentara bayaran bahkan berdiri di atas kursinya.

“Aku bertaruh dia tidak akan bertahan lima menit! Sepuluh banding satu!”

“Tiga menit!”

“Aku bertaruh dia bahkan tidak akan berhasil menyentuh gerbang Organisasi Blood Viper!”

Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.

Adrian sama sekali tidak memperdulikan semua itu.

Ia sudah keluar dari Bar Cinta dan berjalan menyusuri jalanan Darsen dengan santai.

Dua orang anak buah Wild Lion segera menyelinap keluar untuk mengikutinya.

Mereka yakin pemuda bernama Asura itu pasti akan menuju pasar senjata bawah tanah untuk membeli persenjataan berat.

Mungkin peluncur roket, senapan mesin, atau bahkan bahan peledak.

Namun dugaan mereka ternyata salah.

Setelah melewati dua blok jalan, Adrian justru berbelok ke sebuah jalan kecil.

Kedua penguntit itu mengikuti dari kejauhan.

Lalu langkah mereka berhenti.

Di depan sana, Adrian berdiri di depan sebuah minimarket kecil milik warga keturunan Tionghoa.

Dua lentera merah yang warnanya sudah memudar tergantung di atas pintu masuk.

Adrian menatap papan nama toko itu sebentar.

Kemudian ia mendorong pintunya dan masuk.

Kedua penguntit saling berpandangan.

“...”

“Dia mau beli apa?”

Mereka benar-benar tidak mengerti.

Sementara di dalam toko, Adrian mengambil sebuah keranjang belanja.

Ia melihat-lihat rak makanan dengan ekspresi serius.

“Kalau mau perang, perut juga harus kenyang.”

Ia mengambil beberapa bungkus mi instan, air mineral, biskuit, roti, dan berbagai makanan ringan.

Semuanya dimasukkan ke dalam keranjang.

Bagi Adrian, sebelum berangkat menjalankan misi bernilai satu juta dolar, ada satu persiapan yang jauh lebih penting daripada membeli senjata.

Mengisi bekal.

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!