Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Jubah Kematian di Gerbang Awan Jatuh
Matahari tengah hari di Surga Sembilan Lapis adalah anugerah bagi miliaran manusia fana dan sumber Qi Yang bagi para kultivator aliran lurus. Namun bagi Mo Xie, sinarnya terasa seperti ribuan jarum api yang terus menusuk kulitnya.
Setelah keluar dari mulut Kegelapan, Mo Xie dan Xue Ling’er menempuh perjalanan darat selama dua hari melewati lembah sunyi.
Tanpa perlindungan Racun Yin, sisa tubuh fana Mo Xie yang masih melekat di wajah, leher, dan lengan kanannya perlahan melepuh diterpa matahari.
Namun ia tidak memperlambat langkah.
Rasa perih yang tak kunjung reda justru membuat pikirannya tetap jernih. Baginya, penderitaan itu adalah pengingat bahwa ia masih hidup.
Untuk menyembunyikan wujudnya yang semakin menyerupai iblis, Mo Xie mengambil pakaian dari sekelompok perampok yang mereka bunuh di perjalanan.
Puluhan lapis kain membalut lengan kirinya yang telah berubah menjadi tulang obsidian bercakar, menutupi kilau gelap Tulang Harimau Kegelapan.
Kedua kakinya yang telah menjadi Kaki Jenderal Iblis juga dibungkus kain kasar dan disembunyikan di balik sepatu bot kulit berukuran besar.
Jubah abu-abu lusuh yang lebar kemudian menutupi tubuhnya, termasuk tonjolan Tulang Naga Bumi di punggung.
Di balik jubah itulah Xue Ling’er bersembunyi.
Sang Penenun Darah Yin Agung kini berada dalam kondisi terlemah sepanjang hidupnya.
Tanpa Esensi Darah Jantung, sinar matahari dapat membakar kultivasinya hingga lenyap.
Kedua lengannya yang dingin melingkar di leher Mo Xie, sementara napasnya terdengar lemah di dekat bahu pemuda itu.
"Kita sudah sampai." Suara Mo Xie yang serak memecah keheningan.
Di hadapan mereka berdiri gerbang utama Kota Awan Jatuh.
Tembok marmer putih menjulang puluhan meter dan berkilau diterpa matahari. Di atas gerbang, bendera berhias benang emas berkibar bersama lambang awan.
Itu adalah tanda bahwa kota ini berada di bawah perlindungan sebuah sekte yang berafiliasi dengan Istana Dao Surgawi.
Antrean panjang memenuhi jalan di depan gerbang. Pedagang fana, kultivator pengembara, dan kereta dagang menunggu giliran diperiksa oleh delapan penjaga berjubah putih.
Mo Xie melangkah maju.
Ia telah menyembunyikan wujud aslinya dan menekan aura pembunuhnya. Namun ada sesuatu yang sulit disembunyikan.
Bobot keberadaannya.
Dengan sepasang Kaki Jenderal Iblis Kuno menopang tubuhnya, setiap langkah Mo Xie meninggalkan bekas yang lebih dalam di tanah dibandingkan manusia biasa.
Ketika sampai di depan pos pemeriksaan, bau darah kering dan sisa aura Sembilan Kegelapan masih samar-samar keluar dari balik jubahnya.
Pemimpin penjaga segera menutup hidung.
Pria berwajah tirus itu memiliki kultivasi Pembangunan Fondasi tingkat puncak. Ia menyilangkan pedangnya di depan Mo Xie.
"Berhenti, pengemis busuk."
Suara penjaga itu diperkuat Qi hingga terdengar ke seluruh antrean.
"Ini Kota Awan Jatuh, wilayah yang dilindungi Istana Dao Surgawi. Kami tidak menerima mayat hidup atau pemulung sepertimu."
Mo Xie tidak menjawab.
Dari balik tudung, matanya menatap leher penjaga itu. Tatapannya berhenti pada tempat denyut kehidupan berdetak.
Hanya satu gerakan.
Itulah yang ia perlukan untuk merenggut nyawa pria itu.
"Aku hanya pengembara yang membawa kerabat sakit untuk mencari tabib."
Nada Mo Xie tetap datar.
Penjaga itu mendengus. Matanya bergerak ke arah gundukan aneh di balik jubah Mo Xie. Beberapa helai rambut hitam juga terlihat dari sela kain.
Kemudian ia mencium aroma darah yang samar.
Murni dan pekat.
Aroma seorang kultivator wanita tingkat tinggi.
"Sakit?" Penjaga itu menyeringai. "Atau kau menyelundupkan tawanan aliran sesat?"
Ia melangkah lebih dekat.
"Buka jubahmu. Biar aku lihat kerabatmu. Kalau wajahnya cukup menarik, mungkin aku bisa mencarikan tabib untuknya di kediamanku malam ini."
Para penjaga lain tertawa.
Orang-orang fana di sekitar hanya menundukkan kepala. Tak seorang pun berani ikut campur.
Tangan penjaga itu terulur untuk menarik tudung Mo Xie.
Mo Xie tetap diam.
Di Sembilan Kegelapan, setiap gerakannya harus diperhitungkan agar tidak memicu badai Racun Yin. Namun di dunia atas, tak ada lagi belenggu yang menahannya.
"Kau ingin melihatnya?"
Suara Mo Xie terdengar dingin.
Saat jari penjaga itu hampir menyentuh jubahnya, Mo Xie menginjak tanah.
Domain Penghancur Gunung turun tanpa suara.
Ia hanya membatasi kekuatannya pada tanah seluas satu zhang di bawah kaki penjaga.
Brak!
Tubuh penjaga itu mendadak tertekan ke bawah.
Seolah gunung besar jatuh dari langit, kedua bahunya remuk dalam sekejap. Tulang selangkanya patah. Lututnya menghantam jalan batu hingga retak.
"Argh!"
Darah menyembur dari mulutnya.
"A-Apa yang kau lakukan?!"
Tujuh penjaga lainnya tersentak.
"Serangan iblis! Bunuh dia!"
Pedang-pedang mereka terhunus. Cahaya Yang menyilaukan memenuhi gerbang ketika mereka menyerbu Mo Xie dari berbagai arah.
Mo Xie tidak bergerak.
Pedang pertama menebas lehernya.
Ia hanya mengangkat lengan kiri.
Ting!
Bilah pedang menghantam kain pembalut dan Tulang Harimau Kegelapan di baliknya. Pedang spiritual itu patah menjadi dua.
Penjaga yang memegangnya membeku.
Mo Xie mengulurkan tangan.
Cakar obsidian menerobos kain pembalut yang berlumuran darah. Aura kematian yang pekat menyebar ketika lengan iblis itu menghantam dada penjaga.
Krak!
Cakar menembus tulang rusuk dan meremukkan jantungnya dalam sekali cengkeram.
Mo Xie menarik tangannya.
Darah menyembur ke udara.
Tiga penjaga di sisi kanan langsung berhenti. Wajah mereka dipenuhi ketakutan ketika melihat lengan kiri sang pengemis berubah menjadi cakar iblis.
"K-Kultivator iblis!"
Salah seorang berbalik dan berlari menuju gerbang menuju lonceng peringatan, tetapi terlambat."
Mo Xie melangkah.
Gravitasi di bawah kakinya meledak.
Tubuhnya melesat seperti bayangan dan dalam sekejap sudah berada di belakang ketiga penjaga itu.
Cakar obsidian menyapu mendatar.
Tiga kepala terlempar bersamaan.
Darah menyembur tinggi dan membasahi tembok marmer putih dengan warna merah pekat.
Jeritan pecah di seluruh gerbang.
Para manusia fana berlarian meninggalkan kereta dan barang bawaan mereka. Dalam beberapa tarikan napas, delapan penjaga yang sebelumnya berdiri angkuh telah berubah menjadi mayat.
Hanya pemimpin penjaga yang masih hidup.
Ia berlutut dengan tubuh gemetar. Lututnya masih tertekan oleh Domain Penghancur Gunung. Wajahnya basah oleh darah dan air mata.
Mo Xie berdiri di hadapannya.
Jubah abu-abunya tersingkap, memperlihatkan lengan iblis yang masih meneteskan darah.
"S-Siapa kau?"
Suara penjaga itu bergetar.
"Istana Dao Surgawi tidak akan membiarkanmu hidup!"
Mo Xie mengabaikannya.
Ia membungkuk dan mencengkeram tenggorokan pria itu dengan tangan bercakar. Tubuh penjaga tersebut terangkat dari tanah seperti kelinci yang tak berdaya.
Mo Xie menoleh sedikit ke arah bahunya.
"Ling’er."
Suaranya tiba-tiba menjadi lembut.
"Darah mereka mungkin tidak sebaik darah kultivator Inti Emas, tetapi Qi Yang mereka masih murni. Makanlah."
Dari balik tudung jubah, sepasang mata merah perlahan terbuka.
Tangan pucat menyusup keluar dari kerah Mo Xie.
Puluhan benang darah merah melesat seperti ular lapar. Benang-benang itu menembus leher, dada, dan mata penjaga yang masih berada dalam cengkeraman Mo Xie.
Tubuh pria itu menegang.
Ia meronta, tetapi tak mampu mengeluarkan suara. Cengkeraman Mo Xie telah menghancurkan tenggorokannya.
Xue Ling’er menarik napas panjang.
Darah segar mengalir melalui benang-benang merah dan masuk ke tubuhnya.
Kulitnya yang sebelumnya pucat seperti mayat mulai kembali berwarna. Hawa dingin yang menggerogoti jantungnya perlahan mereda.
Beberapa saat kemudian, tubuh penjaga itu mengering.
Dagingnya menyusut dan kulitnya mengeriput hingga hanya tersisa tulang layaknya mayat yang telah terkubur selama bertahun-tahun.
Mo Xie melepaskan tangannya.
Mayat kering itu jatuh ke tanah.
"Lebih baik?"
"Lumayan." Suara Xue Ling’er terdengar lebih kuat dari sebelumnya.
"Hanya cukup untuk membasahi tenggorokan. Kalau kau ingin aku kembali menenun formasi pembunuh, kita harus mencari beberapa kultivator Inti Emas."
Mo Xie tersenyum tipis.
Ia mengambil perban dari salah satu mayat penjaga dan kembali membalut lengan kirinya. Cakar obsidian itu perlahan menghilang di balik kain.
Penyamaran kembali sempurna.
Mo Xie kemudian berjalan melewati mayat-mayat yang berserakan di depan gerbang.
Di balik tembok kota, Kota Awan Jatuh tampak begitu damai. Lampion bergantung di sepanjang jalan, paviliun berdiri megah, dan para penduduk masih menjalani kehidupan mereka tanpa mengetahui apa yang baru saja terjadi di gerbang.
Namun di mata Mo Xie, kota itu bukan tempat yang damai.
Ini adalah ladang luas yang dipenuhi kehidupan.