Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar rara
Sesampainya di rumah seusai acara arisan yang penuh perang dingin di rumah Bu Jubaidah, Bu Rika melangkah masuk dengan wajah yang masih sedikit terlipat. Santi yang merasa lelah dipuji-puji seharian langsung berpamitan untuk masuk ke kamar atas demi meluruskan kakinya.
Namun, begitu melintasi ruang tamu, langkah Bu Rika terhenti. Di atas sofa, Rara tampak sedang duduk berdampingan dengan seorang pemuda berpenampilan necis dengan jam tangan berkilau.
"Eh, Ibu sudah pulang?" sapa Rara dengan wajah berbinar seraya berdiri. "Bu, perkenalkan... ini Dimas, pacar Rara yang pernah Rara ceritakan itu."
Dimas berdiri santai dari duduknya, mengangguk sekilas tanpa sedikit pun menundukkan badan atau mengulurkan tangan dengan sopan. "Siang, Bu," ucapnya singkat.
"Aduh, ini Dimas?" Bu Rika seketika mengubah raut wajahnya menjadi sangat ramah, matanya meneliti pakaian bermerek yang dikenakan pemuda itu dari atas sampai bawah.
"Iya, Bu. Dimas ini orang berada, Bu. Orang tuanya punya bisnis cabang di mana-mana, dari properti sampai kuliner," sela Rara dengan nada membanggakan, sengaja memamerkan latar belakang kekasihnya.
Mendengar kata 'bisnis di mana-mana', dada Bu Rika seketika membusung penuh kebanggaan. Senyum lebar mengembang di wajah tua itu, membayangkan betapa gemparnya kompleks ini jika Rara nanti menyusul menikah dengan pria kaya raya. Senjata barunya untuk membantai Bu Jubaidah sudah di depan mata!
"Aduh, tampan sekali... Mari duduk, Dimas, anggap saja rumah sendiri!" puji Bu Rika manis seraya ikut duduk di sofa sebelah.
Maya yang baru saja menyandarkan tubuhnya yang terasa kaku dan mual di ambang pintu dapur, langsung dipanggil dengan nada ketus.
"Maya! Cepat buatkan minum yang enak buat tamunya Rara! Jangan bikin malu!" perintah Bu Rika tanpa menoleh.
"Iya, Bu," sahut Maya pelan. Mengabaikan rasa berputar di kepalanya yang makin menjadi-jadi, ia membalikkan badan menuju dapur untuk menyeduh minuman.
Di ruang tamu, Dimas kembali mendaratkan tubuhnya di sofa empuk. Tanpa rasa canggung apalagi sopan santun, pria itu langsung menyandarkan punggungnya dengan santai, lalu mengangkat satu kakinya dan menumpangkannya ke atas paha, tepat di hadapan Bu Rika yang duduk di sebelahnya.
Sebuah gestur yang sangat tidak beradab dan tidak memiliki tata krama di hadapan orang tua.
Rara sempat melirik kaki kekasihnya, namun ia justru tersenyum bangga, menganggap sikap asal-asalan Dimas sebagai simbol "gaya anak kaya yang bebas".
Bu Rika pun sama sekali tidak keberatan. Bagi wanita tua yang matanya sudah dibutakan oleh kilauan harta itu, adab dan kesopanan tidak ada harganya. Selama pria di hadapannya punya uang berlimpah dan mobil mewah yang terparkir di depan rumah, kaki yang diangkat ke atas meja pun akan ia maklumi dengan senang hati.
"Dimas ini sibuk sekali ya jadi baru bisa mampir hari ini? Orang tuanya punya bisnis di kota mana saja?" tanya Bu Rika dengan raut wajah berbinar-binar, mengabaikan kenyataan bahwa calon menantu barunya itu bahkan tidak berniat menurunkan kakinya sama sekali saat berbicara dengannya.
Maya kembali dari dapur membawa nampan berisi cangkir teh hangat. Saat meletakkannya di atas meja, matanya sempat menangkap posisi duduk Dimas yang sangat tidak sopan itu.
Maya hanya menghela napas tipis di dalam hati, lalu melangkah mundur tanpa bersuara. Benar-benar pasangan yang pas, batin Maya dingin sebelum berlalu menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak dari rasa tidak enak badan yang terus menggerogoti tubuhnya.