NovelToon NovelToon
Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Azmira Yang Tak Pernah Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius
Popularitas:34.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?

Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seorang Yang Menuebalkan

Pagi itu, aroma telur dadar dan tumisan kangkung memenuhi rumah sederhana milik Rina. Azmira baru saja keluar dari kamar ketika suara ibunya terdengar dari dapur.

"Mira, sini sarapan!"

Azmira yang sudah mengenakan pakaian kerja menghampiri meja makan. "Sebentar, Bu. Mira mau minum dulu."

"Minum nanti. Duduk."

Azmira menurut. Ia menarik kursi, kemudian duduk di hadapan ibunya. Rina meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk sederhana di depannya.

"Makan."

Azmira menatap piring itu. "Bu, banyak banget."

"Banyak dari mana? Nasinya cuma segitu."

"Mira nggak bisa habis."

"Harus habis."

Azmira terkekeh. "Ibu sekarang galak."

Rina mendengus. "Sejak kapan Ibu tidak galak?"

Azmira tertawa. Beberapa detik kemudian ia mulai menyuapkan nasi ke mulut. Rina memperhatikannya dengan saksama.

"Sudah siap?"

Azmira mengangguk.

"Siap."

"Deg-degan?"

"Sedikit."

Rina tersenyum. "Padahal kemarin berani berdiri di depan banyak orang."

"Itu beda, Bu."

"Bedanya apa?"

"Kalau kemarin cuma berdiri." Azmira menunjuk dirinya sendiri. "Hari ini Mira harus menghadapi pasien."

Rina mengangguk pelan. "Kalau begitu ingat pesan Ibu."

Azmira berhenti makan. "Apa?"

"Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena sekarang kamu memakai jas putih."

Senyum Azmira mengembang. "Iya, Bu."

"Orang yang datang kepadamu mungkin sedang membawa penyakit. Tapi bisa jadi mereka juga membawa ketakutan, kesedihan, dan masalah hidup yang tidak kamu ketahui."

Rina mengusap kepala putrinya. "Obati penyakitnya, tapi jangan lupa manusia yang ada di balik penyakit itu."

Azmira terdiam beberapa saat. Kemudian ia mengangguk. "Insyaallah."

Rina tersenyum. "Sudah. Sekarang habiskan."

Azmira menghela napas. "Ibu ternyata lebih galak daripada dosen."

"Makanya kamu bisa jadi dokter."

Azmira tertawa. Pagi itu terasa sederhana.

Tidak ada kemewahan ataupun perayaan besar, hanya seorang ibu yang menyiapkan sarapan untuk putrinya sebelum bekerja.

Namun bagi Rina, pemandangan itu jauh lebih berharga daripada pesta apa pun. Dulu ia hanya bisa berharap anaknya memiliki masa depan. Sekarang ia melihat sendiri putrinya berangkat dengan jas putih dan kartu identitas dokter yang tergantung di dada.

"Ya Allah terima kasih banyak atas semua perjalanan yang sudah hambamu lalui," ucap Rina sambil menatap punggung sang anak yang terlihat jauh dari pandangannya.

☘️☘️☘️☘️

Rumah sakit sudah ramai ketika Azmira tiba.

Beberapa perawat berlalu-lalang pasien duduk memenuhi ruang tunggu. Suara roda tempat tidur sesekali terdengar melewati lorong.

Azmira berjalan sambil memeriksa sesuatu di ponselnya ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya.

"Mira!"

Azmira menghentikan langkah. Seorang perempuan muda berlari kecil menghampirinya.

"Tania."

Tania langsung tersenyum. "Kamu telat."

Azmira melihat jam tangannya. "Masih lima menit."

"Dokter harusnya datang lebih awal."

"Kamu juga baru datang."

Tania terdiam. Kemudian tersenyum canggung.

"Aku sengaja menunggu kamu."

"Kenapa?"

Tania mendekat. "Aku punya informasi penting."

Azmira mengernyit. "Pasien?"

"Bukan."

"Dokter baru?"

"Bukan."

"Terus?"

Tania melihat ke kanan dan kiri sebelum berbisik. "Anak pemilik rumah sakit datang."

Azmira mengangkat alis.

"Terus kenapa?"

Tania terlihat tidak percaya. "Kamu nggak penasaran?"

"Nggak."

"Katanya ganteng."

"Terus?"

"Dan katanya bakal bekerja di sini."

Azmira mengangkat bahu. "Bagus."

Tania menghela napas panjang. "Kamu memang tidak punya rasa ingin tahu."

Azmira tertawa kecil. "Aku datang ke rumah sakit untuk bekerja, bukan mencari jodoh."

Belum sempat Tania menjawab, seseorang berjalan dari arah berlawanan. Seorang pria muda dengan pakaian formal, berjalan ke arah mereka, langkahnya cepat. Wajahnya tampak serius.

Tania yang tadi masih berceloteh langsung menutup mulut. Azmira tidak terlalu memperhatikan hingga pria itu hampir menabraknya.

Azmira segera menyingkir. Namun pria tersebut berhenti. Tatapannya tertuju kepada Azmira.

"Kalau berjalan lihat depan."

Azmira terdiam. Tania membelalakkan mata.

Beberapa detik kemudian Azmira menjawab tenang.

"Kalau terburu-buru juga lihat depan."

Pria itu menatapnya. Azmira balas menatap tanpa rasa takut.

"Sudah?"

Pria itu mengerutkan kening. Kemudian pergi begitu saja.

Sementara Tania yang melihat kejadian itu langsung menahan tawa. "Astaga..."

Azmira menoleh heran. "Apa?"

"Itu orangnya."

"Orang apa?"

"Anak pemilik rumah sakit."

Azmira langsung menatap punggung pria itu.

"Serius?"

Tania mengangguk. "Iya beneran itu orangnya."

Azmira menghela napas. "Pantasan."

"Pantasan apa?"

"Pantasan menyebalkan."

Tania langsung tertawa, namun Azmira langsung menutup mulut rekan kerjanya itu. "Sudah ketawanya, saatnya kerja."

Tania menampakkan wajah masamnya. "Iya deh, Bu dokter."

☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa jam kemudian, Azmira duduk di ruang pemeriksaan. Seorang perempuan bersama anak laki-lakinya masuk dengan wajah penuh kekhawatiran.

Azmira mempersilakan mereka duduk.

"Selamat pagi, Bu."

"Pagi, Dok."

Azmira tersenyum ramah, dan memperhatikan ibu dan anak laki-lakinya itu.

"Apa keluhannya?"

Perempuan itu mulai menjelaskan keadaan anaknya. Azmira mendengarkan dengan teliti.

Sesekali ia mengajukan pertanyaan. Setelah selesai memeriksa, Azmira menjelaskan kondisi anak tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami.

Perempuan itu mengangguk berkali-kali.

Namun sebelum keluar, ia tiba-tiba bertanya dengan suara pelan.

"Dok..."

"Iya, Bu?"

"Kami pakai BPJS."

Azmira sedikit mengernyit. "Iya."

"Jadi... tidak masalah, kan?"

Azmira terdiam. Ia menatap perempuan di hadapannya. Ada rasa sungkan yang begitu jelas di wajah itu. Dan entah mengapa, sesuatu di dalam diri Azmira terasa tersentuh.

Dulu, ia juga pernah hidup dengan perasaan serba kekurangan. Pernah merasa malu karena tidak memiliki sesuatu seperti orang lain. Pernah takut dianggap berbeda hanya karena keadaan ekonomi.

Azmira tersenyum. "Tidak ada yang masalah, Bu."

Perempuan itu menatapnya, dengan mata yang berbinar.

"Ibu datang ke sini untuk berobat, bukan untuk merepotkan siapa-siapa."

Mata perempuan itu mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Dok."

Azmira mengangguk. "Sama-sama Ibu."

Setelah pasien itu keluar, Azmira bersandar sebentar di kursinya. Matanya menatap jas putih yang dikenakannya. Jas yang dahulu hanya menjadi bayangan dalam sebuah mimpi seorang anak kecil.

Kini ia benar-benar memakainya. Dan ternyata... menjadi dokter bukan hanya tentang menyembuhkan penyakit. Kadang, satu kalimat sederhana pun bisa membuat seseorang merasa bahwa dirinya masih berharga.

Azmira kembali membuka berkas pasien berikutnya. Ia pikir hari pertamanya sebagai dokter akan berjalan biasa saja.

Ternyata ia salah.

Karena sejak pagi itu, seorang pria menyebalkan mulai masuk ke dalam kehidupannya. Dan Azmira belum tahu...

pria itu akan menjadi seseorang yang jauh lebih sulit ia hindari daripada yang ia bayangkan.

Bersambung . ..

1
kiky
kapan up Thor 🤔🤔
Fenty
kok lama g up thot
kiky
Loom up y
Marini Suhendar
thor kapan up lagi
Yeni Astriani
kapan update lagi Author, penasaran nihhhh kelanjutan ceritanya
ceuceu
Dika tetep harta hak shiren ga di ganggu gugat,pdhl bukan anak kandung,azmira dari kecil ga merasakan kasih sayang ga ada harta dari dika tapi dika ga mikirin hak azmira,puck lah dika
falea sezi
jangan mau menerima maafin boleh menerima ogah bgt🤣 di jadiin serep saat si seren bukan anak nya enak bgt si bangsat🤣
Yeni Astriani
memaafkan boleh tapi bukan berarti harus menerima apalagi Azmira sudah terbiasa hidup mandiri tanpa bantuan dari Pak Dika ☺☺☺
Nar Sih
makasih udh up lgi kak🙏
Ilham
berarti sirhen bukan anak kandung Dika yang dia rawat 25 tahun
Sari Nilam
gimana rasanya dika....sakittttt kan
tp tidak lebih sakit apa yang pernah azmira lalui tanpa tahu ayahnya dendiri tdak mengakuinya
Sari Nilam
masih belum sebanding de gan luja yang azmira dan ibunya rasakan
azmira yang malang tapi tangguh
azmira yang cerdas tapu tak pernah diakui
🤣🤣penyesalanmu terlambat kaunmerawat anak yang bukan darah dagingmu. dan darah dagingmu kau abaikan
Ilham
aku mau bertanya,,katanya si Dika pengin anak laki2 buat penerusnya...tapi knapa sama anak selingkuhan nya perempuan juga si Dika mau saja menerimanya...sedangkan anak kadung nya sendiri perempuan juga tapi dia ngk mau menerimanya kan aneh
Ilham
aku ketawa sendiri membawa kata jawaban Mira...aku berharap ceritanya Mira di bantu sama orang kaya
Ilham
buat lah cerita Mira ini sebenarnya enak mungkin...aku suka cerita anak kecil tapi ada juga penolong Mira
Rohmi Yatun
gak ada gunanya kehadiran Dika disaat Azmira sudah sukses.. kalo q jadi Azmira Big No untuk Dika.. gak akan ada istilah anak durhaka untuk seorang ayah seperti Dika.. 👎
Nar Sih
dulu rina yg sdh setiya dan sabar dgn tangisan azmira ,kini saat nya kmu terima kemarahan putri mu dika🤣
ceuceu
Kesalahanmu terlalu fatal dika
Tengku Nafisa
maafmu tdk berlaku dika. sibuk membesarkan anak org. anak sendiri kau telantarkan.
Rohmi Yatun
jujur kalo q jd Azmira.. tidak bisa menerima kehadiran Ayahnya.. untuk apa hadir skrg.. mau tanggung jawab katanya, tanggung jawab dlm hal apa?.. 👎👎👎👎 tidak masuk akal.. kedatangan mu sudah sgt terlambat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!