NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Cahaya

Malam semakin larut.

Istana yang biasanya dipenuhi suara para pelayan, langkah para penjaga, dan alunan musik dari paviliun-paviliun bangsawan kini terasa jauh lebih sunyi. Angin malam berembus melewati halaman, menggoyangkan lentera-lentera yang tergantung di sepanjang koridor. Cahaya kuningnya bergerak naik turun, membuat bayangan pepohonan tampak seperti sosok-sosok yang sedang mengintai dari kejauhan.

Di kediaman Liān Huā, beberapa pelayan masih berjaga.

Namun tidak seorang pun menyadari bahwa di balik kegelapan taman sebelah timur, sepasang mata sedang mengawasi mereka.

Seorang pria berpakaian gelap berdiri di antara pepohonan. Wajahnya sebagian tertutup kain hitam. Ia tidak bergerak sedikit pun selama beberapa saat, hanya memperhatikan keadaan di sekitar kediaman itu dengan saksama.

Kemudian, dari kejauhan terdengar suara burung malam.

Satu kali.

Dua kali.

Pria itu mengangkat kepalanya.

Sinyal telah diberikan.

Ia segera berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan.

Sementara itu, di dalam ruangan, Liān Huā masih belum tidur. Ia duduk di dekat jendela dengan sebuah buku terbuka di hadapannya, tetapi sejak beberapa saat lalu tidak ada satu pun halaman yang dibacanya.

Perasaannya tidak tenang.

Ia tidak tahu mengapa, tetapi sejak sore tadi hatinya terus merasakan sesuatu yang aneh.

Xiǎo Yàn datang membawa secangkir teh hangat.

“Nona, sebaiknya Anda beristirahat. Sudah larut malam.”

Liān Huā mengangguk kecil.

“Ya. Tapi entah mengapa malam ini terasa berbeda.”

Xiǎo Yàn meletakkan cangkir di atas meja.

“Mungkin karena kejadian tadi siang. Setelah apa yang dilakukan Yang Mulia di hadapan ribuan rakyat, tentu keadaan istana akan menjadi lebih tegang.”

Liān Huā terdiam.

“Bukan hanya itu.”

Ia menatap ke arah jendela.

“Aku merasa seperti sedang diawasi.”

Wajah Xiǎo Yàn langsung berubah serius.

“Nona?”

“Jangan panik.”

Liān Huā bangkit perlahan dan berjalan mendekati jendela. Ia memperhatikan halaman yang tampak kosong.

“Panggil penjaga tambahan. Tapi jangan membuat keadaan terlihat mencurigakan.”

“Baik.”

Xiǎo Yàn segera hendak pergi.

Namun sebelum ia mencapai pintu, terdengar suara langkah dari luar.

Tok.

Tok.

Tok.

Keduanya langsung berhenti.

Xiǎo Yàn memandang Liān Huā.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan terdengar sekali lagi.

Xiǎo Yàn mendekati pintu, tetapi Liān Huā segera mengangkat tangan.

“Tunggu.”

Ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.

“Jangan buka.”

Xiǎo Yàn mundur.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara seorang pelayan dari luar.

“Nona, saya membawa teh tambahan.”

Liān Huā mengerutkan kening.

“Siapa namamu?”

Hening.

Kemudian suara itu menjawab,

“Saya... pelayan baru.”

Liān Huā langsung menatap Xiǎo Yàn.

Tidak ada pelayan baru malam itu.

“Panggil penjaga,” bisiknya.

Xiǎo Yàn segera bergerak.

Namun sebelum ia sempat mencapai pintu samping, suara benda pecah terdengar dari jendela.

Prang!

Sebuah benda kecil jatuh ke lantai.

Liān Huā mundur satu langkah.

Xiǎo Yàn terkejut.

“Nona!”

Mereka memandang benda tersebut dengan hati-hati.

Sebuah anak panah kecil tertancap pada lantai kayu, membawa selembar kertas yang terikat di ujungnya.

Liān Huā tidak langsung mendekat.

“Jangan sentuh.”

Xiǎo Yàn mengangguk.

Di luar, suasana mendadak menjadi kacau.

“Lindungi Nona!”

Suara para penjaga terdengar.

Langkah kaki berlari memenuhi koridor.

Namun di tengah keributan itu, sebuah bayangan bergerak cepat melewati halaman.

Salah seorang penjaga mengejarnya, tetapi sosok tersebut sudah menghilang di balik tembok.

Beberapa saat kemudian, seorang kepala penjaga masuk dan segera membungkuk.

“Nona Liān Huā, apakah Anda baik-baik saja?”

“Ya.”

Ia menunjuk ke arah anak panah.

“Ada seseorang mencoba mengirimkan sesuatu dari luar.”

Kepala penjaga memeriksa benda itu tanpa menyentuhnya.

“Kami akan mengamankannya.”

Liān Huā mengangguk.

Namun hatinya semakin berat.

Ia sudah mengetahui siapa yang kemungkinan berada di balik semua ini.

Paman Agung Zhāng.

Dan Putri Xiǎo Lán.

Sementara itu, di tempat lain, seseorang bergegas memasuki kediaman Paman Agung.

Ia berlutut di hadapan dua orang yang sedang menunggu dengan gelisah.

“Bagaimana?” tanya Paman Agung Zhāng.

Pria itu menundukkan kepala.

“Gagal.”

Wajah Xiǎo Lán langsung berubah.

“Apa maksudmu gagal?”

“Penjagaan di kediaman Liān Huā jauh lebih ketat daripada yang kami perkirakan. Kami tidak dapat masuk.”

Paman Agung mengepalkan tangan.

“Dan surat itu?”

“Sudah dikirim.”

Xiǎo Lán tersenyum tipis.

“Setidaknya bagian itu berhasil.”

Paman Agung menatapnya.

“Surat itu hanya peringatan. Apa gunanya?”

“Justru itu yang kita butuhkan.”

Xiǎo Lán berjalan menuju jendela.

“Jika Liān Huā mulai takut, dia mungkin akan meminta perlindungan langsung dari kaisar. Jika dia semakin dekat dengan Zhēn, kita akan mengetahui di mana kelemahannya.”

Paman Agung terdiam.

Namun sebelum mereka dapat melanjutkan pembicaraan, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari luar.

Seorang pengawal masuk dengan wajah pucat.

“Paman Agung!”

“Ada apa?”

“Yang Mulia Kaisar sedang menuju kemari.”

Keduanya langsung terdiam.

Xiǎo Lán perlahan menoleh.

“Sekarang?”

“Ya.”

Tidak lama kemudian, suara langkah para pengawal terdengar dari halaman.

Yuán Zhēn memasuki kediaman itu dengan wajah dingin.

Ia tidak membawa banyak pengawal, tetapi tatapannya cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa membeku.

“Paman Agung.”

Zhāng segera berdiri dan membungkuk.

“Yang Mulia.”

“Aku datang karena ada percobaan penyusupan di kediaman Liān Huā malam ini.”

Paman Agung berusaha mempertahankan wajah tenang.

“Saya baru mendengarnya.”

Yuán Zhēn menatapnya lama.

“Begitu?”

“Benar, Yang Mulia.”

Kaisar melangkah mendekat.

“Menarik.”

Paman Agung menelan ludah.

“Apa yang menarik, Yang Mulia?”

“Beberapa jam lalu aku mengatakan bahwa musuh-musuhku mungkin akan mengambil langkah nekat.”

Tatapan Yuán Zhēn menjadi semakin tajam.

“Dan malam ini seseorang mencoba mendekati kediaman Liān Huā.”

Ia berhenti tepat di hadapan Paman Agung.

“Aku belum menuduh siapa pun.”

Ruangan menjadi sunyi.

“Tapi mulai malam ini,” lanjut Yuán Zhēn, “aku akan menganggap setiap orang yang memiliki hubungan dengan rencana ini sebagai tersangka sampai terbukti tidak bersalah.”

Wajah Paman Agung berubah pucat.

Xiǎo Lán yang sejak tadi diam hanya menggenggam ujung lengan bajunya.

Yuán Zhēn kemudian berbalik.

Namun sebelum pergi, ia berhenti.

“Dan satu hal lagi.”

Ia menoleh.

“Jangan pernah mengira aku tidak tahu apa yang sedang kalian lakukan hanya karena aku belum bertindak.”

Setelah itu ia pergi.

Pintu tertutup.

Paman Agung berdiri membeku.

Xiǎo Lán menatapnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak menunjukkan senyum.

“Dia tahu,” bisiknya.

Paman Agung menjawab dengan suara rendah.

“Belum tentu. Tapi kita tidak boleh menganggapnya remeh lagi.”

Jauh di kediaman Liān Huā, Yuán Zhēn akhirnya tiba.

Begitu melihatnya, Liān Huā segera berdiri.

“Zhēn.”

Ia menghampirinya.

“Apa yang terjadi?”

Liān Huā menceritakan semuanya.

Yuán Zhēn mendengarkan tanpa menyela.

Setelah melihat anak panah dan surat yang telah diamankan, wajahnya berubah serius.

“Aku sudah memperingatkanmu.”

Liān Huā mengangguk.

“Dan aku sudah menduga mereka akan melakukan sesuatu.”

“Mulai malam ini, penjagaanmu akan ditambah.”

“Zhēn—”

“Tidak ada perdebatan.”

Untuk sesaat Liān Huā hanya memandangnya.

Kemudian ia mengangguk.

“Baik.”

Yuán Zhēn menatap keluar jendela.

Di luar, angin malam kembali berembus.

Namun kali ini, ia tahu sesuatu telah berubah.

Musuh tidak lagi bersembunyi di balik petisi, rumor, dan permainan politik.

Mereka telah mulai bergerak dalam kegelapan.

Dan jika mereka ingin menjatuhkan Liān Huā untuk menghancurkannya, maka Yuán Zhēn akan memastikan satu hal:

Tidak seorang pun akan menyentuh gadis itu tanpa terlebih dahulu berhadapan dengannya.

Di kejauhan, sebuah lentera tiba-tiba padam.

Kegelapan menelan sudut halaman.

Dan tanpa disadari siapa pun, seseorang masih mengawasi istana dari balik bayangan.

Permainan baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!