NovelToon NovelToon
Suami Kredit

Suami Kredit

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Nikah Kontrak / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Jangankan barang, bahkan suami pun bisa dibayar kredit!

Ya, itulah yang dialami Tia. Dia nekat membayar seorang lelaki tampan bernama Sam untuk dijadikan suaminya. Namun karena uang Tia belum cukup, dia terpaksa meminta pembayaran sistem kredit. Bagaimana kocaknya kisah cinta mereka?

"Gaji saya cuma staf admin biasa, Mas. Jadi... tiga juta itu mau saya bayar secara kredit. Cicilan sepuluh kali, tiga ratus ribu per bulan, bunga nol persen. Bagaimana?" - Tiana Anjani.

"Hah?! Mbak bercanda ya?!" - Sam alias Samsudin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4 - Menyusun Skenario

Sam meletakkan gelas es teh manisnya dengan dentangan keras di atas meja kayu. Dada lapangnya menabuh genderang perang. Sebagai sesama korban sistem keuangan, yang satu kepalanya mau pecah dijerat cicilan, yang satu lagi sekarat diimpit sandwich generation, Sam merasa sebutan "kredit macet" itu adalah penghinaan tingkat dewa.

"Kurang ajar sekali tunangan adikmu itu, Mbak," cetus Sam sambil mengepal jemarinya yang kekar. "Orang model begitu kalau di tempat kerjaku sudah tak suruh masuk kandang Si Bejo biar paham rasanya di-death roll!"

Tia bertepuk tangan girang, matanya berbinar-binar melihat kobaran semangat dari pawang buaya sewaannya. "Nah! Bagus! Energy dendam itu yang aku butuhkan, Mas Sam! Tapi, sebelum kita melangkah ke medan perang, kita harus merapikan alur cerita kita dulu. Strategi itu nomor satu!"

Tia langsung menarik serbet kertas di meja warteg, mengeluarkan pulpen dari blazernya, dan mulai mencoret-coret dengan cepat.

"Rencanaku begini," ujar Tia sambil menunjuk coretannya dengan pulpen. "Nanti pas arisan keluarga besar di rumah Tante Lies, Mas Sam ngaku saja sebagai pengusaha kaya. Kita bilang Mas Sam ini pemilik jaringan gym eksklusif di ibu kota! Secara, otot badanmu kan sudah mirip binaragawan lepas. Alibi ini sangat masuk akal dibanding ngaku pawang buaya muara!"

Sam langsung menepis kertas serbet itu hingga hampir masuk ke piring tongkol balado. "Gak mau! Aku menolak keras!"

"Lho? Kenapa?! Kan cuma bohong dikit!" protes Tia, membelalakkan matanya yang memakai eyeliner tebal.

"Bohong dikit kepalamu peyang!" semprot Sam tanpa ragu. "Mbak Tia, aku ini memang butuh uang buat bayar token listrik nenek sama berobat bapak di kampung. Tapi aku masih punya martabat! Jadi suami sewaan saja sudah bikin dosaku nambah satu meter, masa aku harus nambah dosa bohongi publik pakai bawa-bawa profesi orang?"

"Aduh, Mas Sam! Ini demi keselamatan nyawaku dari teror Tante Lies dan Tante Mirna!" desak Tia frustrasi. "Kerja di kebun binatang itu tidak terdengar keren di depan keluarga besarku yang gila hormat! Lagian, hubungan kita ini dari awal sudah kebohongan berbayar, Mas! Kenapa sekarang malah sok suci?!"

"Beda cerita, Mbak!" potong Sam tegap, mengusap dadanya yang bidang dengan bangga. "Pawang buaya itu pekerjaan terhormat! Nyawa taruhannya! Kamu kira gampang bikin buaya muara empat ratus kilo nurut tanpa menggigit? Kalau tunangan adikmu yang klimis itu disuruh berdiri satu senti di depan moncong buaya, dijamin langsung ngompol di tempat! Lagian, yang penting kan aku ini tampan, atletis, dan mau dipajang jadi suamimu. Apa urusannya sama pekerjaan?"

Tia terpaku. Ia menatap Sam dari ujung rambut hingga dadanya yang bertelanjang. Dipikir-pikir logika polos pawang buaya ini ada benarnya juga. Keluarga besarnya, terutama ibu dan tante-tantenya selama ini hanya meributkan fakta bahwa Tia jomblo di usia 35 tahun. Mereka tidak peduli suaminya pengusaha atau pegawai negeri, yang penting Tia tidak melajang selamanya. Apalagi jika sosok yang dibawanya memiliki paras setampan aktor laga dengan badan seperti binaragawan.

"Ya sudah, ya sudah!" mengalah Tia akhirnya, menepuk jidatnya sendiri. "Pawang buaya, pawang buaya deh! Tapi tolong ya, Mas Sam, istilahnya diperhalus sedikit kalau ditanya! Bilang saja Spesialis Konservasi Reptil Senior. Kedengarannya agak berpendidikan dikit!"

"Terserah Mbak saja. Asal jangan disuruh mengaku punya gym," gumam Sam sambil melahap tongkol baladonya dengan nikmat.

"Nah, sekarang masalah terbesar kita..." Tia menyapu pandangannya dari atas sampai bawah, meneliti penampilan Sam yang sangat memprihatinkan. Kaus oblong yang tadi dilepas Sam masih tersangkut di bahunya, celana jinsnya sudah pudar dan robek di bagian lutut, ditambah bau amis campur keringat terik matahari yang menyengat. "Penampilanmu ini! Kalau kamu datang ke arisan bentukannya begini, keluarga besar bukannya mengira kamu calon suamiku, tapi malah mengira kamu tukang kebun yang mau minta sumbangan!"

"Ya terus aju harus bagaimana? Uangku cuma sisa lima puluh ribu, Mbak. Ini DP lima ratus ribu juga mau tak transfer semua ke kampung," bela Sam jujur.

"Tenang. Investasi penampilan ini tanggung jawabku," ujar Tia mantap, melirik sisa limit kartu kreditnya yang sekarat. "Habis makan ini, ikut aku ke salon dan mal!"

Satu jam kemudian, sebuah salon kecantikan menengah di lantai dasar mal lokal mendadak geger.

Pegawai salon yang semuanya pria gemulai menjerit kecil saat Tia menyeret seorang pria bertubuh atletis, bertelanjang dada, dan berbau kombinasi amis lumpur ke dalam ruangan ber-AC dingin tersebut.

"Aduh, Jeng Tia! Ini bawa spesies dari mana lagi?! Bau amisnya mengalahkan pasar ikan subuh!" seru Mas Riki, kapster langganan Tia, sambil menutup hidungnya memakai selendang sutra.

"Mas Riki, tolong ubah pria ini dari bentuk buaya rawa jadi pangeran berkuda putih!" perintah Tia tegas sambil menyodorkan kartu kreditnya. "Potong rambutnya yang gondrong tak beraturan itu, facial wajahnya sampai bening, dan tolong kasih parfum paling wangi yang salon ini punya!"

Proses perombakan Samsudin dimulai dan langsung menjelma jadi adegan komedi tragis.

Saat wajah Sam diolesi krim masker dingin dan disinari lampu aroma terapi, pria perkasa penakluk buaya itu malah menjerit ketakutan. "Mbak Tia! Ini mukaku mau diapain?! Kok kayak ditempel adonan kue kering?! Pedih Mbak, pedih!"

"Diam, Mas Sam! Itu namanya peeling charcoal! Biar komedomu yang seukuran biji pepaya itu hilang!" teriak Tia dari kursi tunggu sambil membaca majalah.

"Aduh, Mas! Jangan ditarik alisku! Nanti buaya aku tidak kenal lagi sama wajah sendiri!" raung Sam saat Mas Riki mulai merapikan alis tebalnya memakai pinset.

"Duh, Mas Sam ini badannya saja manly, dicabut bulu alis satu biji saja jeritannya kayak emak-emak kehilangan dompet!" ledek Mas Riki gemes.

Setelah perang dunia di meja salon selesai, rambut Sam kini tertata rapi dengan gaya undercut modern yang makin menonjolkan rahang tegasnya. Wajahnya yang bersih dari minyak dan debu kebun binatang memancarkan pesona ketampanan yang sanggup membuat pengunjung salon wanita menahan napas.

Selanjutnya, Tia menyeret Sam ke toko pakaian pria. Di sana, komedi kembali berlanjut. Tia memilihkan kemeja slim-fit berwarna putih bersih dan celana bahan berwarna navy.

Namun saat Sam mencoba memasukinya di kamar ganti, masalah baru muncul. Otot dada dan bisep Sam yang terlalu tebal akibat sering bergulat dengan buaya membuat kancing kemeja di bagian dada meregang ekstrem, hampir meletup.

Ptek!

Satu kancing atas kemeja contoh meluncur terbang dan mengenai dahi pegawai toko.

"Aduh! Maaf, Mbak! Ini bajunya yang kekecilan atau otot saya yang kebanyakan?!" seru Sam panik dari balik tirai.

"Pakai ukuran XL, Mas Sam! Jangan gaya-gayaan pakai ukuran M!" jerit Tia sambil memegangi kepalanya yang makin pening.

Setelah bongkar pasang ukuran, akhirnya Sam keluar dengan setelan yang pas. Kemeja putih yang sedikit digulung sampai siku memperlihatkan lengan berototnya, dipadukan dengan celana bahan yang membuat kakinya kelihatan makin jenjang. Penampilan Sam benar-benar berubah 180 derajat. Dia terlihat seperti eksekutif muda atau model papan atas yang baru turun dari panggung catwalk.

Tia sampai tertegun sejenak. Matanya melotot tanpa berkedip. 'Ternyata dengan modal baju rapi dan sabun cuci muka, pawang buaya ini memang gantengnya kebangetan,' batin Tia mengakui dalam hati.

Tahap terakhir adalah stan parfum merek ternama. Tia menyemprotkan aroma woody-citrus berkelas ke leher dan pergelangan tangan Sam.

Sam mengendus lengannya sendiri, lalu membelalakkan mata heran. "Wah, Mbak... aromanya enak banget. Beda jauh sama bau ketiak Si Bejo."

"Ya jelas lah! Ini parfum mahal!" sahut Tia sambil meringis melihat struk pembayaran kartu kreditnya yang makin membengkak. "Ingat ya, Mas Sam! Mulai hari ini sampai acara arisan bulan depan, penampilan dan baumu harus tetap seperti ini! Jangan sampai pas ketemu keluargaku, kamu mendadak bau pakan ular lagi!"

Sam mengangguk pasrah sambil memegangi kantong belanjaan barunya. Meski badannya terasa agak kaku dibungkus pakaian rapi, melihat dompetnya yang kini terisi uang muka tunai dan membayangkan raut muka tunangan adik Tia yang belagu, semangat bertarung Samsudin kembali menyala.

"Siap, Mbak Tia. Pawang buaya siap beraksi di sarang keluarga besar!"

1
ˢ⍣⃟ₛ ERti ˢ⍣⃟ₛ.
tambahin up dong tor lagi seru lo torr
sampai ikut nangis er baca tadi malam kasihan tia diposisinya nyesek banget gitu

udah dipecat, hutang banyak, barang² dirumah habis, suami kreditnya kalau g mau menerima keadaan lalu kabur apa gak tambah nelangsa Tia
bayangin aja melasssssss bener
Ass Yfa
Sam...kalo belum mau jujur...bilang sja ke Tia...aku siap nafkahi mb tiSd. lahir batin🤭🤭
Ass Yfa
mereka itu miskom..belum ada kejujuran diantara mereka
Ardan
Sam kamu lelaki sejati, tambahin dong kalimat, "aku sudah ada rasa ama Mba Tia" 😍
dan selain membuka hati, juga sampaikan juga bahwa kamu sekarang yang akan menafkahi,
tapi jangan dulu terbuka Sam yang Miliuner, bisa² Mba Tia pingsan sambil melotot, wkwkwk 🤣
Arin
Hayo..... mau cari alasan apa Mas Sam?? Sudah diterima kerja kantoran??? Tapi dalam hati bilang dengan gaji milyaran🤣🤣🤣🤣
Hary Nengsih
lom tau suami nya sultan
Arin
Cobalah saling terbuka, biarpun hanya suami-istri kontrak sementara.
Ida Khalifah: lanjut Thor 💪
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Khaira Almahendra
lanjoot thoor...mkn gregetan ni cerita nya😄,,,💪💪💪othor
Faidah Ida
lucu dan gemes thor,... 🤣🤣🤣

turunin gengsi nya dong Tia agar sam gercep,
tidak sabar liat mereka bucin akut thor... 😄
Ass Yfa
Samsudi...gara2 grogi..mlh bikin dapur berantakan🤭
Ass Yfa
mb Tia suruh nglamar ditempat Sam
Ardan
sing sabar mbar, bojo mu si pawang buaya, udah jadi milyader loh, utang mu wis pasti dilunasin
Rommy Wasini Khumaidi
ini pasti mimpi,gk mungkin mereka secepat kilat melakukanya
❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ
itu akibatnya main nikah² an jadi serbasalah kalau ada adegan dewasa dikit udah tegang😁
ini baru sehari lohhh kalau tiap hari apa gak tambah bingung ularnya.
er yakin kalau sering ada godaan gini gak akan lama mereka udah praktek malam pertama beneran
Ardan
makin lucu aja tingkah berdua🤣
Arin
Hayo lo..... Mba Tia. Sampai umur 35 baru ngelihat bentuk "ular ponton"?? 🤣🤣🤣 Apa lagi punya Mas Sam sang suami " kredit" Apa gak pengin di cicil dulu coba-coba kenalan dulu biar akrab🤭🤭🤭🤭
Hary Nengsih
ada2 ajs🤣🤣
Ass Yfa
😄😄😄😄ular piton...besar ya Tia...nggk pengin kamu🤭🤭
Rommy Wasini Khumaidi
sayang udah disewain kamar kalau dianggurin mas Sam,gas aja daripada nanggung,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!